Aku bukan mandul, tapi ada yang memasang IUD tanpa sepengetahuanku!
MISTERI IUD DI RAHIM HANA
"Anda memakai IUD, masa Anda gak sadar? Wajar lah gak bisa hamil," ujar dokter pada wanita yang tengah berbaring di atas ranjang periksa.
"Apa IUD? Spiral?" tanya wanita itu terkejut dan menoleh ke arah layar USG di hadapannya.
"Iya, ini, terlihat jelas. Memang tidak merasa memasangnya? Atau gak merasa ada yang memasangkannya? Ini sulit dipercaya," jawab dokter itu menatap Hana, wanita yang datang padanya karena sebuah keluhan.
Hana, tidak kunjung hami juga selama menikah dengan lelaki bernama Hanif. Suami yang sangat mencintainya, seorang penerus keluarga terpandang. Sementara itu, Hana adalah anak dari seorang guru ngaji.
Hanif Adimarta, adalah anak lelaki satu-satunya dari keluarga Adimarta. Dia hidup dengan seorang ibu, serta kakak dan adik perempuannya pasca ayahnya meninggal enam tahun lalu. Dia seorang kepala keluarga yang sangat mencintai keluarganya. Bahkan sangat patuh pada ibunya.
Namun, cintanya pada Hana telah menjadikan ia membangkang. Ibunya berharap dia menikah dengan wanita lain yang sederajat, tapi Hanif terlanjut jatuh cinta dengan keluguan dan keanggunan Hana yang dibesarkan dengan agama yang baik.
Baginya, seorang ibu harulah yang memiliki pemahaman agama yang baik, karena akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Di bulan ke tiga pernikahan mereka, Hana pun hamil dan semua orang akhirnya bahagia. Berharap yang lahir adalah anak laki-laki, karena keturunan Adimarta ini kebanyak perempuan.
Sayang, saat usia kandungan dua belas minggu, Hana mengalami pendarahan dan dia terpaksa melakukan kuretasi. Saat itu dia dibius total, sehingga baru sadar setelah proses kuret terjadi.
"Saya pernah keguguran lalu dikuret, apa mungkin dipasang saat gak sadar?" tanya Hana pada dr. Diah yang menanganinya. "Selama ini, saya hanya periksa pada dr. Maria Dasinta, Sp.OG, dokter langganan keluarga Adimarta."
"Saya tidak mau menuduh, tapi semua bisa saja mungkin. Kalau benar, maka pelakunya tidak jauh dari orang-orang yang ada di sekitar ibu sendiri." Dr. Diah, Sp.OG menatap Hana yang hampir menangis karena fakta yang sangat mengejutkan.
Ia bukan tidak bisa hamil, tapi dia dibuat tidak bisa hamil. Jahat sekali.
Apa tujuan mereka sebenarnya?
Kenapa mereka selalu mengolok Hana tidak bisa hamil? Menganggapnya percuma memiliki rahim tapi tidak bisa beranak, toh nyatanya dia bisa hamil tapi ada yang mencegahnya. Tangannya kini gemetar, menahan amarah di hatinya.
"Astaghfirullah ... kenapa ada orang sejahat ini padaku? Apa salahku?" gumam Hana dengan menunduk tajam dan terisak.
"Menangislah dulu, agar terpuaskan rasa sakit itu. Setelah puas menangis, keringkan air mata dan carilah siapa pelakunya," ujar dr. Diah merasa iba.
"Seharusnya saya sejak lama ganti dokter, kenapa saya begitu bodoh tetap bertahan dengan dokter yang sama? Dan setiap kali saya mengeluh sakit perut bawah selalu bilang saya memang punya masalah rahim, bahkan saya gak bisa punya anak. Jahat sekali dia." Hana menangis tersedu pada akhirnya. Dia terus menumpahkan rasa sedih yang sangat mendera di hatinya.
"Kumpulkan bukti-bukti, tuntut mereka semua atas kejahatan terorganisir ini. Ibu harus pura-pura baik-baik saja, jangan langsung ngegas dan menuduh mereka. Mainlah yang cantik," ujar sang dokter dengan tersenyum. "Saya siap bersaksi, jika nanti bukti sudah terkumpul."
"Dok ...."
"Kita tidak boleh membiarkan kejahatan semacam ini sukses. Kejahatan sekecil apa pun harus dibayar. Ingat, ini masalah nama baik dan masa depan Anda," ujar dokter yang terlihat geram dengan kejadian ini, dan gemas dengan Hana yang terlihat pasrah.
"Hari ini ... suami saya menikah. Saya harus menghentikannya. Dia harus tahu bahwa saya dipasang IUD dan itu yang bikin saya gak bisa hamil."
Hana turun dari ranjang dan membersihkan perutnya dibantu suster.
"Bagaimana kalau pelakunya adalah suami ibu sendiri?" tanya suster membuat Hana tercekat. "Maaf. Hanya memberikan opini. Bukan apa, kadang orang yang paling dekat yang harus dicurigai. Apalagi suami Anda punya hak dan tanggung jawab ketika di rumah sakit untuk menentukan tindakan apa yang boleh diambil dokter."
Bumi seperti berputar dan Hana rubuh, membayangkan jika pelakunya adalah suaminya sendiri, agar bisa menikah lagi?
Bukankah selama ini dia suami yang manis dan baik?
Hanif adalah lelaki romantis yang bahkan selalu sabar dengan tidak kunjung datangnya anak darinya.
Mungkinkah dia pelakunya?
"Dengan siapa Anda tinggal di rumah?" tanya dokter merasa iba. "Mereka semua bisa dicurigai. Tapi saya tidak mau mengompori Ibu. Baiknya selidiki dengan hati-hati. Jangan salah langkah, karena bisa saja malah membuat Anda tak mendapatkan apa-apa setelah kerugian ini."
Hana terdiam dan menatap kosong. Dia ingat semua perlakuan keluarga suaminya yang tak pernah ramah padanya.
Ibu mertuanya, Fatma, jelas tidak menyukainya sejak pertemuan pertama. Namun, dia akhirnya luluh dengan permintaan Hanif dan menikahkan mereka.
Antika, kakaknya Hanif, wanita yang sudah memiliki satu orang putri ini juga sangat ketus dan sinis padanya. Tidak pernah bersahabat sama sekali.
Andini, adiknya Hanif, wanita ini juga memiliki anak perempuan. Namun, dia sangat baik pada Hana dan selalu menemani Hana ke dokter kandungan saat dia sakit.
Lainnya, adalah suaminya sendiri yang begitu romantis dan penuh cinta. Rasanya mustahil Hanif berbuat jahat padanya. Toh, kalau sudah tidak cinta, seharusnya ceraikan saja dia. Bukan dengan cara berbuat jahat seperti ini padanya.
Namun, yang ingin dia kejar hari ini adalah menggagalkan pernikahan suaminya dengan Sinta, gadis yang dibawa oleh keluarga Adimarta untuk suaminya. Mereka akan melangsungkan ijab kabul di sebuah aula mewah di kota ini.
Hana pun berpamitan pada dokter dan berjanji akan datang untuk berbicara lagi. Namun, hari ini dia ingin mencegah pernikahan suaminya lebih dulu. Dia melajukan motornya dengan cepat. Berharap masih bisa memberitahu suaminya bahwa dia bisa punya anak dan ternyata ada yang jahat kepadanya.
Meskipun ia membenarkan perkataan suster, bahwa bisa saja pelakunya adalah suaminya sendiri. Namun, dia ingin percaya penuh pada suaminya.
Kesalahannya selama ini adalah tidak curiga pada siapa pun dan selalu menganggap semua orang baik. Selalu menganggap mereka adalah orang-orang yang kelak pasti mencintainya. Menerimanya.
Sayang, ternyata mereka sangat jahat dan benar-benar tidak bisa dimaafkan karena telah membuat Hana jatuh pada keadaan yang mengerikan. Ini sebuah kejahatan terorganisir.
Hana terus melajukan motornya hingga tiba di gedung Istana Muara, gedung serba guna yang dijadikan tempat ijab kabul sekaligus resepsi pernikahan kedua Hanif dengan wanita pilihan keluarganya, Sinta.
Meskipun gemetar, dia tetap memacu motor hingga tiba di halaman gedung dan memarkir motor sembarang lalu lari ke arah pintu utama. Semua orang menoleh padanya, karena mereka tahu Hana adalah istri pertama Hanif.
"Kok dia gak di dalam?" bisik orang-orang.
"Gak mau dipoligami kali. Atau baru datang mau menghentikan pernikahan?"
Satu kaki Hana memasuki aula dan terdengar ucapan, "Saya terima nikah dan kawinya Sinta Diandra Purnama binti H. Rahmat Wijaya, MBA dengan mas kawin seperangkat alat salat dan emas 20 gram dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah!"
Hana langsung mundur kembali satu langkah, dalam pandangan orang-orang yang iba padanya, dia mundur perlahan dan membalikkan badan.
Terlambat, suaminya telah resmi menikahi wanita itu dan membiarkannya sendirian dalam pertarungannya ini. Dia pun terisak dan keluar dari Istana Muara berjalan ke parkiran dengan gontai.
"Selamat, Hanif, akhirnya kamu akan punya anak dari istri barumu, dan membiarkan aku menjadi bahan olokan semua orang," isak Hana dengan mengepalkan tangannya.
Tubuhnya bergoncang hebat, dia pun menangis tersedu di dekat taman. Menoleh ke arah gedung di mana doa-doa telah dibacakan.
"Baiklah, sekarang aku gak butuh lagi siapa pun untuk menolongku, selain diriku sendiri. Aku harus menemukan para pelaku, membuat mereka membayar kejahatannya. Setelah itu, aku akan melepaskanmu, Hanif. Aku akan melepaskanmu. Aku tidak mau berbagi dengan siapa pun. Tidak sudi," isak Hana dengan menahan bobot tubuhnya agar tidak rubuh. "Aku tidak sudi berbagi barang yang sama dengan orang lain."
Hana memejamkan mata, membayangkan suaminya bersanding dengan Sinta di pelaminan, lalu melakukan bulan madu yang indah.
"Hanif ... kenapa kamu lakukan ini padaku? Kenapa kamu gak pernah bisa menentang keluargamu?" Hana terus meracau sendirian.
Dia menoleh lagi ke gedung di mana acara terdengar dilanjutkan dengan musik pengantar sungkemn, tak beda jauh dengan dirinya di masa silam.
"Aku berjanji, Demi Allah, demi rahimku yang tak berisi anak karena kalian. Aku akan menuntut keadilan. Aku akan membuat kalian menyesal seumur hidup, karena telah menyakitiku." Hana mengepalkan tangannya. "Siapa pun pelakunya, Fatma, Antika, Andini atau bahkan kamu sendiri Hanif. Aku akan membalas kalian semua."
Hana berjalan cepat ke arah motornya, tak peduli orang-orang memperhatikan dan iba padanya. Dia pun melajukan motornya menuju rumah mewah suaminya. Memasuki kembali penjara berlapis emas tersebut. Menatap dengan penuh kemarahan.
"Di sini, kalian siksa aku secara batin," gumamnya melangkah ke dalam rumah.
Semua orang menatapnya iba karena mereka tahu, wanita ini baru saja memiliki madu.
"Teh Hana," panggil seorang pekerja di sana.
"Aku gak papa, Mbak. Kembali kerja saja," kata Hana dengan tersenyum.
Dia pun melangkah menatap megahnya rumah yang sesungguhnya seperti neraka baginya. Dia pun menatap foto pernikahannya, yang mungkin setelah ini akan diganti foto yang lain. Kakinya mulai meniti satu anak tangga ... hingga akhirnya ada di tengah-tengah dan ia membalikan badan, menatap rumah itu dari sana.
"Hari ini aku bersumpah, aku gak akan menangis lagi karena kejahatan kalian, tapi aku akan membuat kalian menangis karena telah berbuat jahat," gumamnya sambil menatap setiap sudut istana suaminya. "Hanif, haram tubuhku kamu sentuh. Haram kulitku kamu sentuh. Kamu telah kuharamkan bagiku."
Tubuh Hana bergetar menahan amarah di hatinya. Ia pun mempersiapkan diri untuk menghadapi para pecundang yang mungkin akan pulang malam ini setelah pernikahan.
"Tunggu pembalasanku."
Bersambung
Ini adalah novel best seller karya Majarani. Bisa dibaca di aplikasi KBM App.
Kisah perjuangan Hana melawan orang2 yang licik dan curang. Seorang perempuan yang dianggap lemah padahal ... baca di aplikasi KBM App.
Comments
Post a Comment