Diary of Love ending..

Geeta membuka lembar berikutnya...

Hai Geeta..
Tersenyum.. jangan tegang.. hehehe, ya.. aku mencintaimu.. entah sejak kapan
Sejak lama mungkin, tapi tak bisa menyadarinya.. aku tahu kau menjodohkan aku pada temanmu Alisha.. tapi sayang dia bukan tipeku, kaulah tipeku..
Gadis dinamis, santai, periang, serius dalam pekerjaan dan benar-benar memahami orang-orang disekitarmu.. ntahlah.. kau benar-benar sempurna...

Aku takut.. takut kau menolakku, dan sudah pasti menolakku karena kau inginkan aku dengan Alisha kan? Hmmmm please Geeta.. setelah membaca diary ini.. pikirkan lagi..
Ini diary cinta yang aku tulis hanya untukmu.. aku tak suka menulis.. tapi karenamu aku jadi menulis..

Dan tanggal 7 Mei nanti.. temui aku di Simla, aku akan kesana.. please.. jika kau mencintaiku.. kau akan datang kan..... ingat.. stasiun Simla.. jam 17.00 tanggal 7 mei..

Datanglah kekasihku.. datanglah ... aku akan setia menantimu...

Love you.. Ritesh...

Geeta menahan nafas membaca diary itu. Dia melihat ke arah kalender dan...
“ What??? Hari ini 7 Mei... “ tiba-tiba dia panik. Antara bingung haruskah dia datang atau tidak. Jika datang Ritesh akan mengira dia mencintainya.. jika tak datang.... dia ingin datang.. Geeta memegang kepalanya dan berfikir keras.

30 menit dia terdiam, akhirnya dia bangkit dan mengemas dua pakaian untuk ganti lalu dimasukan ke tas tangan yang aga besar yang di dalamnya sudah tersedia keperluan dia yang biasa dia bawa pergi. Dia langsung menuju stasiun.

Geeta berlari ke arah penjaga tiket, kereta ke Simla akan segera berangkat. Dia lari menuju lajur lima dimana kereta akan berangkat menuju Simla. Kereta bergerak perlahan, Geeta nekat memegang besi penopang dan melompat ke atas. Beruntung ada yang menarik tangan kirinya dan tasnya dari atas kereta.
“ Sepertinya itu berbahaya...” ujar pria yang membantu Geeta (Varun Dhawan). Geeta menoleh dengan nafas terengah-engah.
“ Terima kasih..” ujar Geeta menyeka keringatnya. Pria muda tadi menyerahkan tisu dari jaketnya. Geeta tersenyum dan menerima tissue lalu menyeka keringatnya. Geeta lalu berpamitan untuk masuk ke dalam gerbong dan duduk. Pria tadi terlihat masuk juga dan duduk dua kursi dari tempat Geeta. Mereka hanya saling melempar senyum.

Kereta istirahat sejenak di stasiun pertengahan antara Mumbai dan Simla. Geeta tampak gelisah. Berulang kali dia melihat jam tangannya. Sudah jam dua siang.
“ Sedang terburu-buru?” tanya pria tadi menghampiri Geeta dan duduk di depannya yang kebetulan kosong. Geeta mengangguk sambil terus nafasnya terlihat cepat.
“ Namaku Neil.. anda?” kata Neil lagi.
“ Geeta...” jawab Geeta terpaksa melayani pria muda ini karena sudah ditolong tadi.
“ Cinta memang bisa membawa orang untuk berbuat nekat. Cinta juga bisa membuat orang gelisah.. cinta membuat waktu terasa lama.. “ ujar Neil sambil memainkan phonselnya. Geeta tersenyum.
“ Kau mau menemui kekasihmu di Simla?” tanya Geeta.
“ Bukan aku, tapi kau...” Neil tersenyum manis. Geeta menggeleng dan dia mulai terlihat tenang.

Kereta kembali berjalan dan Geeta semakin tenang. Neil terus mengajaknya mengobrol banyak hal. Dia adalah mahasiswa di Mumbai yang hendak pulang kampung ke Simla untuk liburan. Mereka asik mengobrol hingga tiba-tiba kereta berhenti di tengah jalan. Semua bingung dan melongo keluar kereta. Ternyata ada perbaikan rel rusak. Dan posisi kereta tepat di tengah jembatan.
“ Geeta... lihat sungainya indah ya?” ujar Neil mengejutkan Geeta yang gelisah.
“ Neil.. apa stasiun Simla masih jauh?” tanya Geeta.
“ Sebenarnya sudah dekat.” Jawab Neil. Geeta tak berfikir panjang, dia turun dan menyusuri rel.
“ Hey kau mau kemana?”
“ Waktu ku tak banyak... 30menit aku harus sampai stasiun.” Teriak Geeta. Neil hanya menggeleng-gelengkan kepala. Tapi dia tak tega melihat Geeta berjalan sendiri. Dia turun dengan tas ranselnya dan mengejar Geeta.
“ Ini sore, bukan mumbai pula. Bisa bahaya kau berjalan sendirian di rel seperti ini.” Ujar Neil.
“ Apa aman jika aku berjalan dengan orang asing sepertimu?” tanya geeta tertawa kecil. Neil tersenyum dan mengangguk-angguk.
“ Benar juga.. bagaimana jika aku merampokmu atau....”
“ Atau???” Geeta menoleh.. mereka berpandangan..
“ Nothing...” Neil tersenyum manis. Wajahnya terus berseri dan sesekali terus menoleh ke arah Geeta yang tampak tak merasa lelah sama sekali.

“ Mataharinya indah.. tapi tak seindah mata yang kulihat tadi..” ujar Neil. Geeta menoleh dan tersenyum.
“ Berapa mahasiswi yang sudah kau taklukan.?” Tanya Geeta.
“ Belum ada. Aku tak gampang mengumbar rayuan.. hanya jika melihat pemandangan indah atau apapun yang indah.. lidahku tak akan diam berpuisi..” katanya. Geeta kembali tertawa kecil.
Stasiun Simla sudah terlihat dari jauh, saat itu tepat jam lima sore. Geeta terlihat gelisah, ingin rasanya dia segera tiba disana dan menemui Ritesh. Tapi sayang masih amat jauh. Kereta yang tadi mereka tumpangi melintas begitu saja.
“ Shit, andai aku tidak turun.” Keluh Geeta. Neil tersenyum dan mengajaknya lomba lari mengejar kereta. Geeta bilang sudah tak sanggup, dia menyerah.
“ Hey.. kejar cintamu.. anggaplah ada pria yang akan kau temui disana sedang merentangkan tangannya menyambutmu.” Lanjut Neil.
“ Kata siapa aku akan menemui orang yang aku cinta?”
“ Tidak mungkin kau berkorban seperti ini jika bukan karena cinta Geeta...” Neil tersenyum. Entah kenapa Geeta merasakan sosok hangat pada diri Neil. Geeta tersenyum dan meraih uluran tangan Neil. Mereka berlari di bebatuan menuju stasiun yang sudah terlihat. Geeta terus berusaha sekuat tenaga...
“ Aku datang Ritesh...” ujarnya dalam hati.. sementara Neil tersenyum memandang wanita cantik di sampingnya.

Tiba di stasiun sudah pukul lima lebih lima menit. Geeta menoleh ke sekeliling stasiun yang sudah tampak sepi. Nafasnya terengah-engah dan matanya terus menyoroti setiap sudut tempat itu.
“ Kau cari siapa?” tanya Neil. Geeta terlihat sedih dan menyeka sudut matanya.
“ Temanku. Dia memintaku menemuinya jam lima hari ini disini.” Ujar Geeta terlihat kecewa.
“ Teman atau kekasihmu?” tanya Neil lagi. geeta tersenyum tanpa menoleh pada Neil.
“ Ntahlah... setelah membaca diary yang dia berikan padaku... aku merasa aku harus menemuinya..” ujar Geeta duduk di kursi stasiun.
“ Pertanyaannya kau mencintainya atau tidak?” tanya Neil terdengar serius. Geeta menoleh pada Neil dan menatapnya.
“ Haruskah kujawab?” tanya Geeta terdengar keberatan. Neil mengangguk dengan senyuman namun tampak tegang. Geeta terdiam dan mengeluarkan buku diary nya.
“ Katakan Geeta.. kau mencintainya atau tidak?” tanya Neil seolah amat penasaran.

Angin terasa semilir, jam sudah menunjukkan pukul lima tiga puluh. Tapi Geeta masih diam memandang buku diary itu. Neil tetap mematung menanti jawaban Geeta.
“ Ya... aku mencintainya... aku mencintai Ritesh...” ujar Geeta dengan mata berkaca-kaca.
“ Tapi dia sudah meninggalkanku.. aku terlambat menemuinya..” ujar Geeta lagi dengan wajah sedih.
“ Dia disini.. selalu menantimu...” ujar Neil. Geeta terperanjat dan menatap Neil yang seolah bercahaya. Ya, tubuh Neil berubah menjadi sosok Ritesh dalam sekejap. Geeta melotot ketakutan, dia terlihat gemetar dan berdiri menjauh.
“ Kenapa? Bukankah kau mencintaiku?” tanya Ritesh. Geeta menggeleng dan ketakutan. Buku diary dia jatuhkan dan terus mundur menjauh dari Ritesh.

Ritesh mengambil buku diary dan mendekat dengan senyuman termanisnya pada Geeta yang semakin terdesak dan merapat ke dinding. Ritesh semakin dekat dan dekat hingga tangannya dia letakkan di dinding seolah mengunci Geeta.
“ Siapa kau?” Geeta ketakutan. Ritesh mengangkat tangannya lalu menutup mata Geeta yang ketakutan....
"aku melihat ada manusia lebih indah dari bidadari, karena itu aku turun ke bumi. Berharap aku dpt menyentuh relung hatinya..."

Geeta melihat langit ketika matanya tertutup. Dia melihat dirinya tengah bersama Alisha di stasiun menunggu kedatangan boss mereka yaitu Ritesh. Dan dia melihat sosok Neil di langit. Ya, Neil bukan manusia. Dia melihat sosok Geeta di stasiun, dan dia jatuh cinta saat itu juga. Dia turun dan duduk di samping Geeta dan Alisha. Dia tahu, bahwa kedua gadis ini tengah menunggu bossnya.
Dengan kekuatannya, dia melihat foto Ritesh di tas Geeta. Lalu dia mencari tahu pria tersebut. Naas, sebuah kecelakaan telah merenggutnya ketika menuju stasiun. Dan demi dekat dengan Geeta, dia masuk ke dalam jasad Ritesh dan menjadi bossnya.

Hari demi hari dia makin mengagumi sosok Geeta, meski Alisha lah yang jatuh cinta padanya. Dan di hari dimana dia pergi kembali ke Simla. Dia disuruh memilih, jadi manusia atau tetap peri? Neil dengan tegas ingin menjadi manusia, tapi jika Geeta tak mencintainya, maka dia akan selamanya jadi manusia dan hidup sia-sia tanpa cinta. Akhirnya dia menulis setiap bait di diary dan diberikan pada Geeta. Lalu setiap saaat menunggunya di stasiun, berharap Geeta datang untuk menemuinya di Simla. Dan ketika Geeta muncul, dia segera menjadi Neil menemani dan menolong Geeta agar tiba tepat waktu sebelum jam enam, maka itu dia meminta Geeta datang jam lima.

“ Sekarang kau faham?” Ritesh melepaskan tangannya dari mata Geeta. Geeta menarik nafas dan memandang Ritesh dengan dalam. Dia mengangguk walau masih dengan wajah pucat dan ketakutan.
“ Sekarang kau bebas memilih... aku menjadi Neil.. atau Ritesh... ingat .. jam enam. Jika kau tak menerimaku dengan wujud manapun, aku akan jadi manusia dan menjadi pria paling menderita karena cinta...” ujarnya yang kembali bercahaya. Geeta benar-benar kalut dia tak tahu harus menjawab apa.
“ tanyakan pada hatimu Geeta.. kau mencintai Ritesh.. apa kau mencintai Neil?” tanya neil yang terus berubah-rubah wajahnya membuat Geeta semakin syok dan ketakutan.
“ Aku tidak tahu...” Geeta mendorong tubuh pria itu dan lari dari tempat itu sejauh mungkin. Dia menangis, dia tak menyangka akan mengalami hal ini. Bahkan berulang kali dia mencubit wajahnya berharap ini adalah mimpi buruk.

Hari semakin gelap. Sebentar lagi jam enam. Dia masih berusaha menenangkan diri. Kata-kata Neil ataupun Ritesh terus terngiang. Siapa yang kau cintai? Neil atau Ritesh?
Geeta berbalik dan kembali ke stasiun. Dia mencari pria yang telah membuatnya takut tadi.
“ Neil....!!!!!!!!!!” teriak Geeta keras memecah sunyi. Tapi sosok Neil maupun Ritesh tak dia temukan. Hanya sebuah buku diary yang tergeletak di lantai stasiun. Geeta meraihnya dan memandangnya dengan penuh rasa bersalah. Dia buka halaman per halaman dan tiba di halaman akhir.
“ Aku mencintaimu Geeta... sekarang aku manusia biasa... yang berusaha mendapatkan cinta yang sesungguhnya.. berharap itu kau.. tapi aku telah dikutuk..untuk menderita sebagai manusia tanpa cinta...”
Geeta menarik nafas dan menitikkan airmata.
“ maafkan aku...” Geeta berjalan gontai... kereta terakhir ke Mumbai tiba. Dia naik ke atas kereta dan seseorang mengulurkan tangannya...
Geeta memandang pria itu.
“ Kenapa nona? Tidak mau kubantu???” tanya pria itu. Geeta terdiam.. apakah ini wujud Neil atau Ritesh? Atau pria lain yang hanya sekedar menolongnya...????

The end....

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Majarani

Aku bukan mandul, tapi ada yang memasang IUD tanpa sepengetahuanku!