CINTA SEJATI


Rintik hujan membasahi sebuah desa di selatan India. Seorang gadis kecil menangis di tengah kerumunan orang berbaju putih. Ya, ayah gadis itu baru saja pergi untuk selamanya. Dia kini tak punya siapapun lagi. teman bermainnya meraih tangannya dan memeluknya, kedua gadis itu menangis bersama. Ayah sang gadis langsung memeluk mereka.
“ Jangan sedih, bukankah ada kami..” katanya memeluk gadis itu.
“ Iya Kiran.. kau akan tinggal dengan kami..” ujar teman sang gadis. Gadis bernama Kiran itu mengangguk.

Ya, sejak ayahnya meninggal, Kiran hidup sebatang kara. Dia sekarang tinggal dengan pamannya yang merupakan ayah dari sahabatnya. Setiap hari Kiran sangat tau diri, membantu ibu dan ayahnya Sanju menyiapkan dagangan mereka. Lalu setelah selesai, pergi sekolah bersama Sanju. Setiap hari mereka melakukan itu. Hingga mereka dewasa.

20 tahun kemudian....
Kiran (Rani Mukerji) tumbuh jadi gadis yang manis dan sederhana. Di usianya ke 28 ini dia terlihat berdoa di kuil.
“ Aku akan melakukan apapun untuk keluarga Sanju. Merekalah yang menjadikan aku masih hidup hingga sekarang...” ujarnya sambil tersenyum. Sanju (Kareena Kapoor) terlihat malah asik memakan camilan di bawah kuil. Dengan dandanan modernnya, dia menunggu Kiran dengan tidak sabar. Kiran menoleh dan turun dengan penuh senyuman.

“ Lama sekali berdoanya..” ujar Sanju kesal.
“ Aku mendoakanmu paling lama..” ujar Kiran tersenyum.
“ Apa yang kau doakan dari aku?” Sanju terlihat dengan gaya khas angkuh tapi manisnya.
“ Segera menikah..”
“ Hey.. kau saja duluan.. aku masih ingin bersenang-senang. Lagipula Raju belum akan melamarku.” Jawab Sanju enteng.
“ Ayah belum cerita?” tanya Kiran. Sanju menoleh dan menggeleng. Kiran menarik nafas.
“ Bukan Raju.. tapi ada lamaran untukmu dari kota. Dia pengusaha kaya dan katanya tampan. Dia mleihatmu ketika menghadiri pernikahan di Mumbai. Nah akhirnya mereka mengirim lamaran untukmu pada ayah.” Ujar Kiran panjang lebar. Ya, kini usaha mereka lebih baik dan memiliki kedai yang cukup besar.
“ Tunggu.. apa itu benar?” Sanju terlihat keberatan. Kiran mengangguk. Sanju langsung terlihat tidak senang. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat itu.

Tiba di rumah, ayah dan ibunya benar saja menceritakan perihal lamaran itu. Tapi Sanju menolak kaerna dia mencintai Raju. Orang tuanya tentu tidak setuju, selain Raju berandalan di mata mereka, pria yang melamar ini kalangan jet set. Tapi Sanju tetap menolak. Bahkan ketika diberi tahu besok mereka harus ke Mumbai untuk memenuhi undangan mereka.

Semalaman Sanju mencari cara agar bisa menolak dan lepas dari semua ini. Tapi Kiran tak punya ide dan dia tak berani memberi ide gila. Turuti saja, selalu itu nasihat Kiran. Sanju benar-benar kecewa. Dia terus mengirim pesan dengan wajah cemas pada Raju. Kiran hanya diam saja, karena dia tak tahu harus bagaimana.

************
Pagi menjelang, mereka berkemas dan berangkat ke stasiun. Sanju terus gelisah seperti menunggu seseorang. Kiran berulang kali memberi isyarat bertanya siapa yang dia tunggu. Tapi Sanju tak mau buka suara. Kereta pun tiba, mereka naik dan duduk di ruangan yang sama. Orang tuanya terus menceritakan pria yang akan menikahi Sanju.
“ Namanya Rahul Danraj, dia pengusaha yang kaya. Dia tertarik padamu ketika kita menghadiri pernikahan dua minggu lalu. Dia sangat pemilih, karena kebanyakan gadis hanya mencintai hartanya.” Papar ayahnya begitu bangga. Dia tak sadar Sanju tak mendengarkannya sama sekali. Tiba di stasiun untuk beristirahat, mereka mencari makan dulu. Sanju masih cemberut bukan main. Mereka asik memilih roti untuk dibawa ke kereta.
“ Sanju..” Raju (Saif Ali Khan) muncul diam-diam. Mereka langsung berniat kabur.
“ Hey... apa yang harus aku katakan pada ayah dan ibu?” Kiran bingung.
“ Katakan saja apa adanya.. oke.. byeeee..” teriak Sanju. Kiran benar-benar tak bisa mencegahnya.

Dan ya, ayah marah besar. Mereka tidak tahu harus bagaimana menceritakan semua ini pada keluarga Danraj. Apalagi mereka terlanjur menerima lamaran itu. Mereka melanjutkan perjalanan sambil berfikir. Dan tiba di stasiun Mumbai, keluarga Danraj menyambut mereka. Mereka menanyakan sAnju, ayah masih diam dan terus berbasa basi. Hingga tiba di rumah, ayah benar-benar bersimpuh meminta maaf karena anaknya telah lari dengan pria lain. Mendengar itu keluarga Danraj jelas murka. Mereka tak mau tahu, karena mereka telah terlanjur menyebar undangan.
“ Kalian telah mempermalukan kami..” ujar ayah Rahul (Amitab Bachchan). Ayah terus meminta maaf dan dia rela dipenjarakan jika itu adalah jalan terbaik.

“ Apa dia anakmu juga?” tanya ibu Rahul (Rekha) pada Kiran yang sedari tadi diam saja. Kiran tersentak dan menatap ayahnya.
“ Benar, dia putri angkatku..” jawab Ayah dengan sedih.
“ Dariapada kita terlanjur malu. Nikahkan saja Rahul dengan gadis ini. Dan setelah itu bisa diceraikan.” Ujar ibu Rahul kejam sekali kederangarannya. Kiran langsung menarik nafas kaget dan berusaha tenang. Perdebatan terus bergulir, hingga akhirnya demi menyelamatkan muka keluarga mereka juga demi ayah Sanju, Kiran bersedia. Meski dia tak tahu calon suaminya itu seperti apa.
*********
Malamnya mobil Rahul terlihat tiba. Kiran mendengar teriakan Rahul yang kesal dengan kejadian ini.
“ Kalian pikir aku pria macam apa dinikahkan dengan wanita sembarangan?” tanyanya dengan geram. Ayahnya berusaha menenangkan Rahul yang memang sedikit tempramen. Mereka meminta Kiran turun dari kamarnya. Dan mereka pun bertemu. Mata teduh Kiran menatap pria yang akan jadi suaminya itu, dan dia terlihat angkuh dan sombong (Shah Rukh Khan).

Ada desiran angin di hati Kiran. Dia menyukai pria itu, meski jelas Rahul terlihat tidak menyukainya. Hanya sekali menoleh dan tak pernah memandangnya lagi. akhirnya Rahul setuju setelah ayahnya mengatakan dia bebas menceraikan Kiran kapan saja. Tak terasa airmata kiran menetes di pipinya. Dia berusaha tegar. Meski sadar itu sangat menyakitkan. Bahkan jauh lebih menyakitkan dari apapun..

Pernikahan digelar. Dengan senyuman Kiran terllihat anggun menuju altar. Lalu mereka mengikat janji suci pernikahan. Dan airmata Kiran deras mengalir ketika ayahnya yaitu ayah Sanju melepasnya dan berpamitan pergi. Dia memeluk erat ayah dan ibu angkatnya itu.
“ Maafkan kami nak.. kami hanya berharap kau bahagia...” ujar Ayahnya. Kiran hanya mengangguk, mengingat janjinya, akan melakukan apapun untuk mereka.

Dan malamnya dengan pesta yang mewah, dia bersanding bersama Rahul yang dingin tapi penuh senyuman pada setiap orang. Kiran berusaha tersenyum meski hatinya kelu dan bingung. Dan ketika pesta usai, dia masuk ke kamar menemui Rahul, yang kini suaminya.
Kiran duduk di tempat tidur memandang Rahul yang juga tak membuka kerudungnya, dan hanya asik memainkan iPhone nya.
“ Kau tidur di sofa. “ kata-kata Rahul mengejutkannya. Tapi Kiran segera sadar, ya, dia hanya istri pengganti yang tak diharapkan Rahul. Kiran membuka kerudungnya sendiri dan melepas perhiasan lalu duduk di sofa. Dia hanya diam berharap Rahul berubah pikiran. Tapi Rahul malah langsung menuju tempat tidur dan mematikan lampu. Kiran menarik nafas dan memandang langit yang cerah dari jendela.
*****
Pagi pertamanya sebagai istri pun tak indah. Keluarga Rahul terlihat sangat ketus padanya. Kiran tetap melayani Rahul layaknya seorang istri, menyiapkan pakaian, sarapan dan banyak bertanya pada pelayan tentang kebiasaan Rahul agar dapat menyesuaikan diri. Tapi tetap saja Rahul tak peduli padanya. Melihatpun tidak, dan hanya sesekali melirik dengan cuek.

Lain Rahul, lain orang tuanya. Mereka mulai simpati kepada Kiran yang memang sangat baik. Benar-benar menantu idaman dan istri idaman, hanya Rahul tak mau tahu itu.
“ Kau harus sabar, suatu saat nanti Rahul akan sadar dan akan memberikan cintanya padamu..” ujar ibu Rahul. Kiran tersenyum manis. Kini Kiran lebih bisa tersenyum ketika Rahul bekerja, dia bisa mengobrol dengan ibu mertuanya. Bahkan ayah pun mulai membujuk Rahul untuk bersikap baik dan menerima kiran.
“ Tidak.. aku tak mau tahu soal wanita itu. Aku akan segera menceraikannya.” Ujar Rahul emosi. Ayah hanya menarik nafas tak mampu menentangnya.

Setiap malam Kiran selalu menunggu Rahul pulang, membukakan pintu dengan senyuman manis. Meski menemani Rahul makan, tapi tak ada dialog diantara mereka. Baru malam ini Kiran mencoba bicara.
“ Kau suka masakanku?” tanya Kiran dengan tersenyum memandang suaminya.
“ Ya..” jawab Rahul singkat tanpa memandang atau melihat ke arah Kiran. Kiran tersenyum senang.
“ Kau ingin aku membuat sesuatu untukmu besok?” tanya Kiran penuh harap. Tapi rupanya itu membuat Rahul jengkel.
“ Aku sedang makan, dan tidak suka bicara ketika makan.” Rahul membersihkan mulutnya dan pergi meninggalkan Kiran yang terdiam sendiri. Tapi bagi Kiran sudah ada lampu hijau Rahul menyukai masakannya saja sudah bagus. Dia merapikan meja dan menuju kamar. Rahul terlihat meminum bir di tangannya sambil menonton televisi. Kiran tak berani mencegah meski sadar itu tidak baik.

“ Kau ada masalah?” tanya Kiran mencoba menyelami hati suaminya.
“ Bukan urusanmu.. “ jawab Rahul. Dia terus saja meminum birnya. Kiran menuju sofa yang menjadi tempat tidurnya dan tak disangka Rahul menariknya dalam pelukan.
“ Rahul??” bisik Kiran tak percaya. Rahul yang dalam keadaan mabuk menatap Kiran.
“ Kau istriku kan?” tanyanya. Kiran mengangguk polos dan membalas pelukan Rahul. Kiran memang jatuh cinta pada suaminya meski cinta itu tak pernah terbalas.
Mata Kiran begitu berbinar memandang suaminya....

**********
Rahul terbangun di pagi hari, dia terkejut karena masih memeluk Kiran di sofa.
“ Kau?” rahul panik bukan main. Kiran berharap Rahul mengingat kejadian semalam dan berubah, tapi sepertinya tidak. Dia malah langsung bangun dan menuju kamar mandi. Kiran meraih luaran lingerinya dan memakainya.
“ Rahul....” bisiknya memeluk Rahul dari belakang. Rahul diam saja, seperti dilema antara nyaman dan ego yang besar. Sesaat mereka diam hingga Rahul melepaskan tangan Kiran dan segera memakain kemejanya untuk bekerja.
“ Kita bicara nanti.” Katanya langsung menuju keluar dan naik ke mobil yang telah menunggunya karena kesiangan. Kiran hanya tersenyum bahagia, dia memandang mobil Rahul yang keluar dari gerbang.

“ rahul tidak sarapan dan tumben dia terlamat bangun..” ujar ibunya pada suaminya. Mereka saling memandang, dan tak lama Kiran turun. Mereka tersenyum dan Kiran hanya tersipu malu.
“ Ibu bilang juga apa kan? Dia lama-lama akan luluh dan mencintaimu..” ujar ibu. Kiran menggangguk malu. Kiran pun bisa makan dengan tenang dan lahap.

Malamnya Rahul pulang kiran seperti biasanya menyambutnya dan tak ragu memberikan pelukan dan ciuman. Rahul tak menolak atau marah, tapi masih dingin dan tak mau melihat wajah istrinya.
“ Maafkan aku semalam..” ujar Rahul buka suara setelah makan.
“ Aku istrimu..” ujar Kiran tenang. Rahul mengangguk. Kiran bahagia bukan main, dia benar-benar senang, apalagi kini diapun bisa tidur di tempat tidur dengan suaminya. Tapi tetap saja Rahul dingin dan tak terlalu memperdulikannya. Sesekali mereka mengobrol tentang pribadi masing-masing, Kiran bercerita tentang hidupnya yang sebatang kara. Karena itulah dia rela melakukan apapun demi keluarga Sanju. Rahul hanya diam sambil bermain dengan iPhone nya.
“ Dan aku yakin.. pada akhirnya kau juga akan mencintaiku kan Rahul?” tanya Kiran. Tapi tak ada jawaban dari Rahul. Ternyata dia tertidur pulas. Kiran tersenyum seolah selesai membacakan dongeng. Dia mengelus rambut suaminya dan mentap wajahnya.
“ cintaku benar-benar tulus. Aku yakin ini adalah cinta sejatiku... dan aku harap kau pun demikian. Suatu hari nanti akan menatapku.. menyebut namaku.. “ ujar Kiran tersenyum dan berkaca-kaca. Ya, selama ini Rahul hampir tak pernah menyebut namanya. Hanya kau atau dia dan lainnya.

*****
Kehidupan yang dijalani Kiran memang antara dua rasa. Manis dan pahit. Dia menemukan cinta, tapi cinta yang tak terbalas. Meski begitu dia tetap melayani suaminya dengan suka cita. Setiap malam dia menatap mata suaminya dengan senyum terindah, meski suaminya hanya menjadikannya pelampiasan semata.
“ Kau suka sekali memamerkan matamu yang indah.” Ujar Rahul malam itu. Kiran tersenyum merapikan selimutnya.
“ Seorang istri harus selalu terlihat indah untuk suaminya.. kau akan merindukan mataku kelak jika tak melihatnya..” canda Kiran. Rahul hanya tersenyum terpaksa.
“ Terima kasih..” ujar Kiran.
“ Untuk apa?” tanya Rahul.
“ Untuk setiap saat yang kita lalui.. aku mencintaimu...” ujar Kiran memeluk Rahul dari belakang. Rahul diam saja dan memejamkan mata seolah mencari jawaban dari hatinya.
*****

Seiring berjalannya waktu, akhirnya Kiran hamil. Keluarga Rahul sangat bahagia karena ini adalah cucu idaman dan cucu pertama. Ayah dan ibu Rahul memperlakukan Kiran bak ratu. Tapi Rahul terlihat tidak menganggap itu istimewa, dia biasa saja. Berulang kali orang tuanya mengatakan pada Kiran bahwa Rahul akan mencintainya jika anak ini lahir. Kiran hanya tersenyum tak berarti. Sebagai seorang istri yang mengandung pertama kali, dia ingin sekali mendapat perhatian dan kasih sayang suaminya. Tapi suaminya malah semakin lebih sering di kantor daripada bersamanya.

Waktu terus berjalan, Kiran terus menghitung detik demi detik cinta itu akan hadir. Dia yakin, Rahul akan menerimanya dan mencintainya setelah anaknya lahir. Sedang Rahul, baginya pernikahan ini hanya sebuah cara menyenangkan orang tuanya. Agar mereka segera memiliki keturunan dan tak terus mengatur hidupnya.

Jam menunjukkan jam sembilan pagi. Rahul baru saja berangkat ke kantor, dan tak lama mertuanya pun pergi ke acara pernikahan anak temannya. Rahul tidak mau datang, tentu Kiran pun memilih di rumah karena tengah hamil besar.
Dan tiba di kantor Rahul sadar laptopnya tertinggal. Disana lah data-data untuk meeting hari ini dengan rekan bisnisnya. Dia kelabakan dan segera menelpon ke rumah. Hanya ada Kiran disana.
“ Semalam kau taruh dimana laptopku?” tanya Rahul dengan kesal.
“ Aku merapikannya ketika kau tertidur di sofa. Masih kusimpan di laci.” Ujar Kiran lembut.
“ Bodoh.. harusnya kau biarkan saja di meja agar aku tak lupa. Kau selalu memindahkan barang-barang yang kutaruh. Kau pikir kau siapa di rumahku hah!” Rahul emosi bukan main. Ya, Kiran sering sekali memindahkan barang-barang Rahul dengan tujuan merapikannya, tapi Rahul selalu tidak senang karena dia jadi sulit menemukannya dan malas bertanya pada istrinya.
“ Suruh sopir mengantarnya ke kantor.” Ujar Rahul kesal.
“ Sopir mengantar ayah dan ibu. Aku hanya sendiri di rumah.”
“ Kau bisa naik taksi kan? Sudahlah.. jangan banyak alasan. Aku bisa kehilangan milyaran dollar .. faham?” ujarnya kesal bukan main. Kiran mengangguk dan segera ke kamar mengambil laptop dan pergi mengantarnya.

Rahul kembali ke ruang meeting. Dia minta waktu 30 menit sambil menunggu datanya diantar Kiran. Mereka tetap membahas bisnis dan kerjasama mereka ke depan. Waktu terus berjalan tapi Kiran tak kunjung datang. Rahul kesal bukan main. Dia menelepon ke rumah tidak ada yang mengangkat, dan menelepon Kiran katanya masih di jalan terjebak macet.

Rahul semakin gelisah dan merasa tidak enak dengan rekan-rekan bisinsnya. Dia berusaha tenang meski amarahnya sangat meledak-ledak. Dia kembali menelepon Kiran.
“ Kau dimana?” katanya dengan kesal.
“ Tuan Rahul danraj? Saya dari Rumah sakit umum, istri anda kecelakaan.. tolong segera datang.” Ujar suster yang ternyata memegang phonsel Kiran. Rahul terkejut bukan main. Dia langsung berpamitan dan menuju rumah sakit. Ayah dan ibunya pun baru tiba setelah dihubungi suster yang sama. Ya, Kiran hanya menyimpan nomor keluarga Danraj saja di phonselnya yang hampir tak pernah dia gunakan.
“ kau ini ceroboh sekali.” Ujar Rahul kesal ketika masuk ruang perawatan.
“ Rahul... harusnya kau tanyakan kondisinya juga anakmu..” ujar ayah kesal. Dia diam saja dan langsung mengambil laptopnya.
“ Dia baik-baik saja kan. Ada kalian juga disini. Aku harus menyelesaikan urusanku dulu.” Ujar Rahul langsung keluar dari ruang perawatan. Kiran menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Tak sedikitpun pria itu peduli padanya. Dia lebih memikirkan laptopnya. Tak terasa air matanya menetes, dan dia berusaha terus menyekanya, hingga mertuanya sadar dia bersedih.
“ Sudahlah nak.. dia akan berubah ketika anaknya lahir. Aku yakin itu.” Ujar ibu. Kiran mengangguk.

Dua jam dari kejadian itu, Kiran merasakan kontraksi amat kuat di perutnya. Dia meraung-raung merasakan sakit dan dokter langsung mengisyaratkan dia akan melahirkan. Ibu menghubungi Rahul, tapi telponnya tidak aktif. Akhirnya dia hanya dikirim sms bahwa Kiran akan melahirkan. Tiga jam Kiran berjuang di ruang bersalin sendirian. Segala rasa sakit dia tahan sendiri tanpa ada yang memberikan dukungan dan sentuhan kasih sayang. Wajahnya pucat menatap anak pertamanya lahir dengan sehat. Dia mencium anaknya sebelum dimandikan.

“ selamat nak... “ ujar ibunya.
“ Rahul mana bu?” tanyanya..
“ dia belum datang. Sebentar lagi mungkin di jalan.” Ujar ibu berbohong demi menenangkan Kiran. Tapi Kiran sadar, ibu mertuanya berbohong. Dia hanya tersenyum dan tergolek lemas. Ya, dokter mengatakan dia mengalami pendarahan dan masih harus dirawat intensip.

****
Tiga jam dari melahirkan Rahul masih belum terlihat. Ibunya memberikan banyak alasan agar Kiran tenang. Kiran tersenyum agar mertuanya tidak kecewa dan pura-pura percaya. Mereka mengobrol tentang bagaimana mengurus anak dan sebagainya.
“ Maaf, sudah waktunya diperiksa lagi.” ujar suster. Ibu langsung keluar dan segera menghubungi Rahul. Kali ini tersambung dan Rahul terus kena marah. Rahul pun segera menuju rumah sakit.
“ Kondisi anda baik-baik saja.. “ ujar suster pada Kiran.
“ Suster, boleh saya minta kertas dan pulpen?” ujar Kiran. Suster mengangguk dan memberikannya. Kiran memandang bayi yang ada disampingnya dengan berkaca-kaca.
“ Jika aku pergi, apa kau akan baik-baik saja nak? Apa ayahmu akan mencintaimu? Atau mengabaikanmu seperti padaku?” ujar Kiran. Suster menoleh dan menatapnya.
“ Nyonya.. anda bicara apa?” suster berusaha menghibur Kiran.
“ Inilah realita kehidupan.. cinta tak terbalas itu biasa.. tapi jika hasil dari cinta yang tertindas itu sangat tidak adil..” ujar Kiran mencium kening bayinya. Suster terus menenangkannya.

Suster keluar dan mengatakan Kiran tengah tidur. Mereka pun tak berani mengganggu dan menunggu Rahul diluar. Tak lama Rahul tiba dan ibunya terus memarahinya. Ayahnya berusaha menengahi dan akhirnya mereka masuk.
“ Nak..lihat siapa yang datang?” ujar ibu. Tapi kiran masih tertidur pulas. Senyum di bibirnya yang pucat memang tampak terlihat. Begitu juga bayinya yang masih dia peluk.
“ Nak...” ibu menyentuh dahi Kiran. Seketika dia menarik kembali tangannya.
“ Ada apa?” teriak suaminya kaget, dan Rahul yang dari tadi hanya memainkan iPhonenya lagnsung menoleh.
“ Tidak...” ibunya sedikit histeris dan gugup. Dia memegang leher Kiran untuk memastikan detak jantungnya.
“ Dokter...!!!” teriak ibu histeris. Suster langsung berlarian dan memeriksa Kiran. Tak lama dokter datang dan memeriksanya. Sedang Rahul masih tampak bingung dan kikuk.

“ Maaf... nyonya Kiran sepertinya...telah tiada..” ujar dokter. Ibu langsung histeris memeluk menantunya. Sedang suster segera mengambil bayi dari pelukan Kiran.
“ Dokter.. bayinya...” suster terdiam. Dokter menarik nafas dan memastikan bahwa bayinya pun ternyata telah meninggal. Ibu semakin histeris, sedang Rahul bengong seolah tak percaya dan bingung. Rahul justru malah sibuk menenangkan ibunya yang syok berat. Bagaimana tidak, menantu dan cucunya meninggal dalam pengawasannya. Dan mereka adalah kesayangannya. Rahul memang tampak biasa saja mengetahui hal itu. Entahlah.. apa yanga ada dalam pikirannya.

Jasad Kiran dan anaknya dibawa ke rumah. Banyak orang berdatangan turut berduka. Semua memeluk Rahul dan memintanya sabar. Mereka tidak tahu, Rahul bahkan malah terlihat seperti orang kebingungan daripada berduka.

Pendeta datang dan mengatakan upacara akan segera dimulai. Rahul duduk disamping Kiran yang kin itak lagi bergerak. Dia diam saja ketika semua orang membacakan doa. Dia menatap wajah Kiran yang terlihat pucat. Dia terkesiap tatkala merasa Kiran tersenyum padanya. Tapi kemudian dia tersadar Kiran telah tiada.
“ Kiran...” bisiknya untuk pertama kali menyebut nama itu. Dia mulai merasakan sesuatu. Menatap wajah Kiran yang selama ini tak pernah dia pandang dengan tulus. Wajah itu kini diam, tak lagi tersenyum atau menggodanya. Wajah itu kini kaku, tak peduli pada pria yang dicintainya yang kini duduk disampingnya.
“ Kiran.. buka matamu..” bisiknya lagi menyentuh erat tangan Kiran. Dia kembali ke masa dimana kiran begitu erat menggenggam tangannya malam itu. Kini ketika Rahul menggenggamnya, justru Kiran tak meresponnya.
“ Kiran.. hey.. kau menang...aku merindukan tatapan indah matamu.. bukalah matamu sekarang....” bisiknya mulai terdengar sesak. Dia terus menatap wajah dan mata istrinya yang tak lagi memandangnya, mata yang selama ini dia puji tetapi dia abaikan juga.

Orang-orang saling memandang melihat tingkah laku Rahul. Ibunya langsung mendekatinya dan mengingatkan bahwa Kiran telah tiada.
“ Tidak.. dia baik-baik saja. Dia hanya sedang marah padaku..” rahul terlihat panik.
“ Sadarlah aku mohon.. kau tiadk boleh pergi begitu saja.. lihat.. lihat aku menggendong anak kita.. dia sangat tampan..seperti aku..” ujar Rahul bagai orang gila menggendong anaknya. Semua langsung terkejut dan berusaha menenangkan Rahul dan mengambil bayinya.
“ Kiran.. ayolah sayang... Kiran bangun!.” Rahul langsung memeluk erat jasad istrinya. Jasad wanita yang selama ini dia abaikan dan tak pernah mau membalas pelukannya. Kini ketika dia tak lagi melakukan semua kebiasaannya, justru Rahul yang melakukan kebiasaan-kebiasaan itu.

Rahul langsung rubuh dan menyesali setiap perbuatannya. Kenapa cinta itu hadir disaat yang dicintai pergi? Kenapa dia meninggalkan cinta dan tak membawanya?
“ Kenapa kau pergi dengan membawa seluruh hatiku Kiran...? kenapa? Kenapa kau begitu mencintaiku... kenapa aku baru menyadari cintaku.. kenapa” Rahul terus memandang wajah Kiran.
“ Tuan.. istri anda menitipkan ini sesaat sebelum dia pergi..” ujar suster dengan berat hati. Dia datang untuk meneruskan amanat Kiran. Memberikan surat itu jika dia pergi. Rahul menerimanya dan membukanya perslahan...

“ hai Rahul... senyumlah.. aku sangat ingin melihat kau tersenyum padaku.. heheh sudahlah.. lupakan. Rahul.. aku sangat mencintaimu. Ntahlah, tapi aku selalu ingin melihatmu, aku bahagia jadi milikmu. Dan kau tahu? Setiap malam aku menatap wajahmu.. mengelus wajahmu.. itu sangat menyenangkan.. kau adalah segalanya bagiku...

Rahul, pernikahan kita mungkin bukan yang kau harapkan. Tapi aku yakin Tuhan mengaturnya sedemikian rupa. Aku selalu menanti.. menanti kau menyadari itu.. menyadari kita telah disatukan Tuhan.. bukan kebetulan.

Rahul.. ketika aku hamil, aku selalu berdoa agar kau akan segera menyadari cinta sejatiku. Tapi tidak. Tapi aku terus menunggu hingga kelahiran putra kita. Tapi ternyata masih tidak.. kau tak bisa mencintaiku.. dan aku pun takut.. takut kau tak bisa mencintai anakku.. maksudku..anak kita..
Sesaat aku begitu takut.. takut meninggalkannya.. akankah dia mengalami hal sepertiku? Akankah kau mengabaikannya? Tidak, aku ingin anakku bahagia.. aku ingin anak kita mendapatkan kasih sayangmu.. tapi aku takut.. takut kau tak peduli padanya..

Maafkan aku jika selama jadi istrimu tak pernah membahagiakanmu.. maafkan aku jika tak bisa menjadi yang kau inginkan.. yaitu pergi dari hidupmu. Aku tidak bisa Rahul.. aku mencintaimu.. sangat mencintaimu...
O ya, biasakan menaruh barang dengan rapi.. jangan seperti anak kecil. Kau itu pria tampan dan gagah.. dan hentikan kebiasaanmu marah-marah.. Nanti tidak ada gadis yang mau menikah denganmu lagi..

Apapun adanya kau setelah aku pergi. Aku berharap kau menemukan cinta sejatimu, sama seperti aku menemukannya pada sosok dirimu.. meski itu tak terbala.. tapi bagiku kaulah cinta yang selama ini aku impikan...
Terakhir.. bisakah kau tersenyum padaku?? Dan katakan kau mencintaiku...
berbahagialah.. tanpaku..
Kiran...”

Rahul terlihat merasakan sakit yang sangat di hatinya. Dia sudah tak berani mengeluarkan suaranya. Bibirnya kelu. Dia begitu merasakan sakit yang amat sangat. Dia terlambat menyadari cinta sejatinya. Dia tak sanggup melanjutkan ritual. Bahkan dia rubuh ketika harus menaburkan kedua abu orang yang dia cintai dan pernah dia abaikan.

Semua pergi meninggalkan Rahul di tepi sungai. Dia masih tak percaya dengan apa yang dia alami. Dia baru beranjak ketika mulai gelap. Dia membuka pintu rumah, dia menoleh ke arah kiri dimana biasa Kiran tersenyum menyambutnya. Dia berjalan melewati meja makan, dimana Kiran biasa tersenyum menyiapkan makan malamnya. Rahul hanya menyentuh kursi dimana Kiran selalu duduk menemaninya. Dia masuk ke dalam kamar, memandang sofa tempat Kiran dulu biasa tidur. Dia duduk dan menoleh ke kiri, dimana biasa ada senyuman seseorang yang terus bertanya padanya dan tak mendapatkan jawabannya. Rahul kembali menangis menyentuh selendang milik Kiran.... hanya kepiluan yang kini menemaninya.

Waktu terus berlalu. Tapi kenangan Kiran tak pernah bisa dia hapuskan. Bahkan ketika orang tuanya memintanya menikah lagi.
“ Bagaimana aku bisa menikah? Aku sudah tak memiliki hati dan jiwa.. aku yang sekarang adalah mayat hidup yang sedang dalam perjalanan menemui kekasih hatinya disana..” ujar Rahul memandang kosong.
“ Kiran adalah cinta pertama dan terakhirku. Wanita pertama dan terakhir yang kusakiti dan juga kucintai.. Jika kalian memikirkan akan dikemanakan harta ini? Banyak anak-anak terlantar disana yang akan menerimanya. Dengan begitu anakku disana akan merasa ayahnya sangat baik.. “ ujar Rahul.
“ Kenapa Tuhan bagitu lama menghukumku...? kapan aku dipertemukan dengan cinta sejatiku.. Kiranku.. anakku...” bisiknya dengan kelu.

Rahul beranjak dan kembali ke kamarnya. Dia mengambil selendang kiran dan ada kertas di dalamnya terselip.. sebuah ungkapan cinta Kiran pada Rahul yang tak pernah dia sampaikan.. sebuah ungkapan cinta yang semakin menjadikan hukuman dalam penantian panjangnya agar segera dipertemukan dengan cintanya...

Kenakalanmu ada dalam mabukmu...
Semua kisah indah itu terlihat suram..
Tapi bagiku ibarat lautan madu...

Hey pria jahat...
Nafasku setiap saat menyebut namamu..
Bahkan tidurpun menyebut namamu...
Dan mata ini setiap saat hanya menatap wajahmu..
Jeritan hatiku hanya menyebut satu nama.. yaitu dirimu..

Kau yang jahat padaku.. dengarlah isi hatiku
Kau yang sombong dan kucintai..
Lautan ini akan senantiasa pasang di dekatmu
Dan kau akan segera tenggelam di dalamnya..
kau ... akan.......

the end...

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Majarani

Aku bukan mandul, tapi ada yang memasang IUD tanpa sepengetahuanku!