The Love Story.. Urvasi



Kerajaan besar dari sebuah dinasti berdiri kokoh diantara pegunungan dan lautan lepas.  Keperkasaannya membuat kerajaan-kerajaan lain bertekuk lutut dan tunduk pada sang Maha Raja Tirta Soma (Arpit Ranka). Selain penakluk banyak kerajaan lain, sang raja terkenal sebagai penakluk para wanita. Wajahnya yang tampan dan lembut membuatnya dapat dengan mudah menaklukan setiap hati para puteri raja yang ditaklukannya. Tanpa harus memaksa, semua putri akan bersedia diperistrinya. Meski terhitung memiliki tujuh orang istri dari berbagai kerajaan, sang raja belum juga dikaruniai putra mahkota maupun putri kerajaan. Dan dia pun memutuskan belum mengangkat ratu permaisurinya.

Dia berjaya tak seorang diri, seorang panglima perang yang setia dan amat tangguh selalu ada bersamanya. Kesetiaannya benar-benar tak terbatas, bahkan dia rela nyawanya sebagai taruhan dalam tiap peperangan demi menyenangkan hati sang raja. Dia sangat cekatan dan bak busur panah sang raja yang bisa melesat kemana saja sesuai keinginan tuannya. Dia adalah Jendral Sanjaya (Shaheer Sheikh).

Kesaktian dan kekuatannya dalam menggunakan semua senjata tak tertandingi. Bahkan dia bisa membidik sasaran dengan panah dalam jarak yang tak bisa dijangkau mata. Keahliannya dalam pedang pun bagai lesatan bayangan. Singkat kata, dia benar-benar tak terkalahkan. Dia sangat patuh pada sang raja karena ayahnya pun jendral dan setia pada ayahnya Raja Tirta. Hingga dia telah bersumpah pada ayahnya dan mendiang raja, akan selalu menjaga dan menuruti keinginan raja Tirta Soma.

Di sisi lain, ada sebuah kerajaan yang masih bersikukuh untuk mandiri dan independen tanpa menjadi bawahan kerajaan Tirta. Rajanya yang renta tidak memiliki putra mahkota, hanya seorang puteri cantik jelita yang tak mampu berperang. Dia adalah putri Namrata (Sonam Kapoor). Meski sadar tak akan mampu melawan kerajaan Tirta, tapi dia sangat tidak ingin kerajaannya jatuh begitu saja. Terlebih mereka memiliki kekayaan emas dan berlian yang melimpah.
Putri namrata memiliki pelayan setia yang terlihat lembut dan bijaksana. Dia bisa menjadi sahabat, kakak bahkan pengawal pribadi. Sang putri tak pernah dikawal banyak pengawal seperti putri lainnya. Baginya bersama sang pelayan Urvasi (rani mukerji) dia sudah merasa aman dan nyaman.

“ Kau sudah dengar kabar kerajaan tirta ingin menjadikan kita dibawah kekuasannya?” tanya Raja Nimrat ayah putri Namrata. Namrata mengangguk dan menoleh pada pelayan setianya.
“ Apa yang harus kita lakukan? Aku tak ingin ada peperangan. Sudah pasti kita kalah..” ujar sang raja.
“ Maaf yang mulia.. jika tak merugikan, tidak ada salahnya kita menjadi bawahannya. Tentu harus tetap mengajukan syarat sebagai negara yang berdaulat.” Ujar Urvasi memberi hormat. Raja mengangguk.
“ Besok utusannya akan datang. Aku harap kau sebagai ratu selanjutnya bisa mengambil tindakan Namrata.” Ujar sang Raja. Putri Namrata mengangguk berat, lagi-lagi dia menoleh pada pelayannya yang memberi isyarat siap menghadapinya.
****

Utusan kerajaan Tirta tiba. Dan Ratu namrata bersedia menjadi bawahan dengan syarat pajak kerajaan ditentukan oleh mereka, dan tidak ada pengambil alihan tambang emas milik mereka. Tak lama berada disana, utusan kerajaan Tirta langsung kembali dan memberi kabar pada sang raja.
“ Hmmm bagaimana rupa sang ratu Nimrat itu?” katanya sedikit berbeda arah.
“ Dia sangat cantik dan benar-benar anggun yang mulia.” Jawab utusannya sambil tersenyum penuh arti.
“ Benarkah? Bisa kau lukiskan?” lanjut sang raja. Utusannya yang memang dikenal pandai melukis baik area wilayah maupun isi tata letak kerajaan juga wajah seseorang dengan sigap menggambarkan sosok putri Namrata yang disebut ratu hari itu. Raja Tirta sungguh terpesona melihat kecantikannya. Dia pun berniat melamar sang putri untuk menjadi istrinya yang ke delapan. Utusannya kembali dan mengutarakan keinginannya. Tuan putri meminta waktu untuk menjawab lamaran itu.

“ Aku memang pernah mendengar dia sangat tampan dan gagah. Tapi rasanya begitu tak berarti jika aku hanya seorang selir.” Ujarnya meminta pendapat Urvasi.
“ Bagaimana jika dia harus mengalahkan kau dulu? baru dia bisa memperistrimu.” Jawab Urvasi pasti. Putri Namrata memandang tak percaya.
“ Kau yakin?” tanya puteri Namrata. Urvasi mengangguk pasti dengan senyuman. Dan mereka kembali ke ruang tamu kerajaan. Ayahnya harap-harap cemas dengan jawaban sang putri karena takut menolak dan mereka diserang. Putri Namrata berdiri di singgasananya dan menatap utusan kerajaan tirta.
“ Aku akan bersedia diperistri jika rajamu bisa mengalahkan pelayanku.. Urvasi.” Katanya dengan lantang. Semua terkejut bukan main termasuk sang raja Nimrat dan utusan kerajaan Tirta. Mereka saling memandang dan tampak keberatan di wajah si utusan.
“ Itu semacam penghinaan untuk raja kami ..ratu..” jawab si utusan.
“ Jika rajamu terhina.. maka dia bisa menurunkanmu atau siapa saja yang dia anggap bisa mengalahkanku. Ingat.. hanya satu orang.” Ujar Urvasi tenang dengan senyuman yang tak lebar. Sang utusan pun mengangguk dan menyetujui lalu berpamitan.

Raja Tirta tertawa lebar mendengar tantangan dari putri Namrata. Dia benar-benar merasa lucu karena harus melawan wanita.
“ Hamba dengar putri Namrata kemana-mana tanpa pengawalan, hanya dengan pelayannya saja. Itu bisa dipastikan pelayannya bukan orang biasa.” Ujar Jendral Sanjaya.
“ Kau benar, tapi jika aku mengalahkannya.. dimana harga diriku? Dan jika aku kalah...lebih hancur harga diriku.” Jawab Raja.
“ Ijinkan hamba yang turun yang mulia..” ujar Jendral Sanjaya tersenyum manis. Raja menatapnya dan menepuk pundaknya.
“ kau benar-benar mengerti isi hatiku.” Katanya dengan bangga. Jendral Sanjaya menunduk memberi hormat tanda terim kasih. Maka mereka pun berniat datang langsung ke kerajaan Nimrat dengan membawa tandu pernikahan, karena mereka amat yakin akan menang. Ya, semua tahu, jendral Sanjaya tak  pernah kalah dari siapapun.

*****

Raja nimrat dan putrinya terkejut melihat tandu pernikahan yang dibawa raja Tirta. Sang raja yang tampan turun dan tersenyum menyapa raja Nimrat, sedang putri Namrata berdiri di belakang ayahnya. Dan Urvasi selalu di sampingnya. Setelah berbasa basi, keduanya sepakat bertanding hari itu juga.

Jendral Sanjaya maju dan memperkenalkan diri. Begitu juga Urvasi yang telah dengan pakaian perang maju. Sungguh semua orang tak biasa melihatnya dalam pakaian kesatria seperti itu.

Pertandingan pertama adalah memanah ikan yang ada di laut lepas. Itu adalah tantangan yang sangat mudah mengingat jendral Sanjaya mampu membidik mangsa tanpa melihatnya. Keduanya mengangkat busur mereka dan mengarahkannya ke lautan. Mata Urvasi terlihat bersinar terkena matahari siang. Dan dalam hitungan detik keduanya melepaskan panah mereka. Disana para utusan dari kedua negara tengah menunggu dan terkejut melihat lesatan dua panah yang hampir bersamaan mengenai ikan yang sama. Merekapun segera melaporkan dan membawa bukti ikan yang terpanah. Jendral Sanjaya sangat kagum dan tersenyum manis melihat ke arah Urvasi yang tak mau menoleh padanya sedikitpun. Urvasi memang dikenal tak pernah mau melihat ke arah pria dan tak pernah mau bicara dengan pria selain atas perintah tuannya.

“ Aku tak menyangka ada lawan yang sangat tangguh di dunia ini.” Puji Sanjaya. Urvasi hanya melirik sejurus mata dan tersenyum hampir setengah senti saja. Rambutnya berkibar dan tak jarang menutupi wajahnya yang sendu. Sanjaya merasakan rasa yang tak biasa. Meski bertubuh mungil dan tak tinggi, Urvasi memiliki kemampuan luar biasa. Dan kali ini mereka harus batle dengan pedang. Jendral Sanjaya mencabut pedangnya yang terkenal dengan kilatan cahayanya. Semua hampir menutup mata melihat pedang jendral Sanjaya. Urvasi tersenyum sinis.
“ aku siap.” Katanya tanpa membawa pedang.
“ ini tak adil.. mana pedangmu?” sanjaya penasaran. Sedang raja tirta tidak fokus pada pertempuran melainkan hanya saling curi pandang dengan putri namrata yang akhirnya jatuh cinta dan sangat berharap Urvasi kalah.

Urvasi yang selalu melihat kebawah mengulurkan selendangnya dan seketika berubah jadi pedang lalu bergerak menyerang Sanjaya. Sanjaya terkejut tapi dia dengan gesit menghindar. Lalu pedang mereka beradu mengeluarkan suara yang cukup keras. pertarungan sengit dan sama-sama kuat. Sekarang semua orang faham kenapa sang putri hanya selalu ditemani Urvasi kemanapun dia pergi.
Karena sama-sama kuat, mereka diijinkan beristirahat sejenak. Urvasi mendekati sang putri dan berharap sang putri memujinya.
“ Apa kau bisa mengalah?” ujar sang putri mengejutkan Urvasi.
“ Apa??” dia menatap tak percaya.
“ Aku jatuh cinta pda raja Tirta. Dia sangat tampan dan membuatku tak berdaya dengan pandangannya..” ujar sang putri sambil melirik ke arah raja tirta. Urvasi memandang Raja Tirta yang terus memandang Namrata.
“ Apapun perintahmu yang mulia..” Urvasi menunduk memberi hormat. Sanjaya memahami situasi yang terjadi.
“ apa masih akan dilanjutkan atau anda sudah membuat keputusan?” tanya Sanjaya pada putri Namrata. Dia gelagapan dan memandang Urvasi yang tetap tak mau melihat ke arah Sanjaya.
“ Lanjutkan...” ujar Raja Tirta seolah hanya ingin memamerkan kekuatan panglima perangnya.

Sanjaya kembali maju ke arena. Urvasi pun turun dan memejamkan matanya.
“kau benar-benar telah mengalah.. senjatamu adalah keindahan matamu. Aku hampir tak bisa konsentrasi setiap melihat mata indahmu.” Ujar Sanjaya penuh rayu. Urvasi terkejut dan dia menahan tak melihat Sanjaya. Seberapa kuat dia menahan dia semakin penasaran dengan pria yang baru kali ini dapat menyadar keindahan matanya. Akhirnya dia menoleh dan matanya beradu ketajaman dengan Sanjaya.
Sanjaya tersenyum dan menundukkan sedikit kepalanya tanda memberi hormat dan kagum. Urvasi berdegup kencang dan segera menutup matanya dan menunduk lagi sambil menggelengkan kepalanya. Dia mendengar angin serangan dari Sanjaya dan seketika menghindar lalu hampir saja menusuk perut Sanjaya yang dapat dengan mudah dia serang. Tapi dia ingat kata-kata Namrata agar mengalah. Dia melesatkan senjata rahasianya ke arah raja Tirta yang dia anggap hanya menjadikan dirinya dan Sanjaya sebagai tontonan.
“ Yang mulia..” teriak Sanjaya panik. Raja Tirta tersenyum dan dengan santai menangkap pisau Urvasi. Lalu dia berjalan dan menyerahkannya pada putri Namrata. Mereka saling tersenyum dan semua pasukan juga rakyat bersorak menyambut mereka.
Merekapun menikah, dan sang putri ikut ke kerajaan tirta sebagai selir dan istri baru. Dan tentu Urvasi selau bersamanya.

********
Pernikahan besar diadakan dan rakyat semakin bersuka cita menyambut sang raja. Di sisi lain mata Sanjaya tak pernah lepas dari sosok wanita yang dia anggap misterius karena begtu jarang tersenyum. Dia pun mengikrarkan diri jatuh cinta pada Urvasi. Dan memikirkan cara agar bisa mendapatkannya.

Kebagahagiaan putri Namrata adalah kebahagiaan Urvasi. Dia selalu menemani putri Namrata kemana saja, kecuali jika sang putri sedang bersama raja Tirta, maka dia akan berjalan sendirian di taman menikmati keindahan langit dan kerajaan.
“ Pantas kupu-kupu berterbangan ke taman. Ternyata ada sekuntum bunga yang sangat indah.” Ujar Sanjaya yang sudah diketahui kedatangannya oleh Urvasi.
“ Rupanya raja dan panglima sama-sama penakluk wanita.” Jawab Urvasi. Sanjaya tersenyum bahagia karena ternyata Urvasi menjawab dan tidak seperti bayangannya yang mengira tak pernah bicara kecuali dengan putri Namrata.
“ Aku rasa sebentar lagi burung-burung akan memenuhi taman ini karena mendengar suara yang amat indah.” Lanjut Sanjaya, membuat Urvasi tersenyum walau terus menunduk tak pernah mau bertatap mata.
“ Berapa orang istri anda?” tanya Urvasi penasaran.
“ Akhirnya anda penasaran tentangku.” Sanjaya tersenyum manis.
“ Aku belum menikah.” Jawabnya semi promosi. Urvasi mengangguk dan kemudian asik memainkan rumput di dekatnya.
“ Kau sendiri kenapa belum menikah?” tanya Sanjaya penuh harap.
“ Aku adalah abdi sang putri. Selamanya akan menjadi pelayannya. Kecuali dia memintaku menikah.” Jawab Urvasi santai.
“ Aku telah bersumpah akan menjaganya dan hanya akan menuruti setiap keinginannya.” Lanjut Urvasi. Sanjaya mengangguk dan dia mengatakan itu tak jauh beda dengan dirinya. Mereka berdua adalah sama-sama orang yang terikat dengan janji akan setia seumur hidup mereka. Tapi Sanjaya memliki harapan lain.

“ Andaipun aku menikah.. aku hanya ingin menikah dengan pria yang hanya mencintaiku dan bisa menjagaku. Memiliki ilmu melebihi kekuatanku.” Lanjut Urvasi lagi.
“ Syarat yang sulit ..” ujar Jendral Sanjaya. Ya, di masa itu siapa saja bisa memiliki istri berapapun terlebih jika dia seorang raja.
“ hmmmmm sepertinya tidak lagi.” goda putri Namrata yang sedari tadi menguping mereka. Mereka langsung memberi hormat. Putri Namrata berjanji akan membantu mereka agar menikah dengan memberitahu raja tirta. Tapi keduanya terus mengelak dan malu-malu.

****
Pesta perayaan diselenggarakan untuk menghormati para pendiri kerajaan. Tepatnya hari ini hari peringatan berdirinya kerajaan ini. Semua berpesta pora dan semua kerajaan bawahannya hadir. Para  istri Tirta Soma hadir dan  mereka terlihat bahagia. Semua memberikan doa dan menyerahkan hadiah berupa kekayaan alam tiap kerajaan.
“ Salam sejahtera untuk rajaku..” ujar seorang pria tua mengejutkan semua.
“ Guru..” raja tirta soma langsung turun dari singgasan dan memberi hormat serta sujud pada gurunya. Raja Tirta mendampinginya ke tempat duduk yang telah dia siapkan.
“ Aku pikir kedatanganku kali ini akan disambut oleh putra mahkota.” Sindir gurunya sambil melirik ke arah para istri raja.
“ Nanti aku akan meminta petunjukmu guru..” ujar raja Tirta sambil berpamitan. Semua terlihat bahagia termasuk Urvasi yang sedari tadi berdiri di belakang putri Namrata.

Maha Guru melihat ke arah Urvasi dan memandangnya dengan dalam. Lalu dia tersenyum dan Urvasi menyadari sedang diperhatikan. Dia memberi hormat jarak jauh dengan menundukkan kepalanya. Maha guru memberinya restu dengan mengangkat tangan kanannya.
Di sisi lain jendral Sanjaya terus memandang Urvasi yang tak tertarik sedikitpun dengan tontonan yang disiapkan. Dia mengambil ranting dari pohon hias yang didekatnya, lalu dengan ilmu tingginya dia lemparkan ke arah Urvasi melewati para penari dan penjaga juga sang putri. Urvasi yang memiliki kekuatan mendengar suara diatas dan dibawah normal. Dia langsung menangkap ranting itu dan menoleh ke arah jendral Sanjaya yang memberinya isyarat untuk keluar. Tapi Urvasi menggeleng karena dia harus menjaga tuan putri. Sanjaya terus memberi isyarat. Tapi Urvasi benar-benar menolak dan hanya diam hingga acara selesai.

Terlihat maha guru dan raja tirta soma pergi ke ruangan khusus. Sedang para putri, istri dari sang raja kembali  ke istana masing-masing. urvasi melihat jendral Sanjaya masih berdiri di taman dan tetap memintanya turun.
“ Putri.. bisakah aku pergi sebentar?” tanya Urvasi memberanikan diri.
“ tentu..” putri Namrata faham dan membiarkan Urvasi menemui jendral Sanjaya.
Rambut urvasi yang selalu terurai membuatnya tampak semakin indah ketika tertiup angin malam. jendral Sanjaya sangat senang ketika melihat Urvasi berjalan ke arahnya. Tapi aneh, tiba-tiba saja malam gelap dan turun hujan. Mereka berhadapan berdua di taman saling memandang. Mata urvasi kini lebih berani memandang si lawan jenis, tidak seperti sebelumnya.

Di ruang khusus Raja dan gurunya sedang terjadi perbincangan menarik. Maha guru mendapat pesan lewat mimpinya bahwa berapapun istri Raja Tirta Soma, dia tidak akan mendapatkan anak. Sungguh sang raja jadi amat gundah dan sedih jika ini benar adanya.
“ kau harus menikahi gadis biasa.” Ujar maha guru. Raj Tirta Soma memandang maha guru dengan pandangan tak percaya.
“ itu sangat mudah.. tapi bukankah peraturan yang ada mengharuskan putra mahkota dari keturunan kerajaan juga. Dalam arti harus dari wanita kerajaan?” tanya raja dengan penuh kebingungan.
“ Kau benar. Tapi wanita yang kumaksud adalah wanita biasa yang tak biasa.” Jawabnya sambil berjalan keluar berniat kembali ke gunung tempatnya bertapa. Raja tirta soma mengikutinya dan memberi hormat.
“ Ingat.. dan ketahuilah.. selain kau akan dapat putra mahkota, kau juga akan dapat cinta sejati.. tapi itu jika kau mampu melewati rintangan yang ada. Rintangan ini amat berat. Jika kau salah ambil keputusan, maka ada dua kemungkinan, kau kehilangan penerusmu, atau kehilangan cintamu. Tapi jika kau mengambil keputusan benar.. kau akan memperoleh kebahagiaan yang hakiki.” Ujar maha guru sambil memberi restu dan doa. Lalu menghilang di tengah kegelapan malam.

“ Wanita biasa tapi tidak biasa.. apa maksudnya?” raja Tirta Soma menuju balkon kamarnya dan memandang rintik hujan yang turun. Lalu dia keluar kamar dengan siraman hujan yang seolah tak akan berhenti. Dia berniat menemui putri Namrata, dan ketika melewati taman istana putri dia melihat Urvasi berjalan menuju koridor sama menuju ke kamar tuan putrinya. Sementara Jendral Sanjaya telah pergi lebih dulu.
“ Salam hormat yang mulia..” Urvasi yang dalam keadaan sedikit basah menundukkan badannya memberi hormaat. Raja Tirta Soma merasakan getaran luar biasa ketika melihatnya tampak basah dan rambut menempel di beberapa bagian kulitnya yang tak tertutup pakaiannya. Dia malah terdiam memandang tubuh Urvasi, hingga Urvasi mengangkat wajahnya dan menyadari sang raja seperti tersihir olehnya.
bersambung

Dia kembali memberi salam dan hormat lalu berbalik ke arah lain tidak menuju kamar sang putri. Raja Tirta soma tersadar dan memanggilnya.
“ Tunggu... aku lupa siapa namamu?” tanyanya dengan suara penuh wibawa. Urvasi berhenti dan menoleh sambil tetap menunduk.
“ Urvasi..” jawabnya singkat. Sang raja tersenyum dan mengangguk. Lalu dia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar salah satu istrinya.

Tiba di kamar putri Namrata, dia disambut seperti biasa oleh kecantikan dan sikap manja sang putri. Tak jarang sang putri duduk di pangkuan sang raja sambil menggoda mesra. Beberapa kali sang raja mengelus rambut putri namrata dan terus saling bicara.
“ Kau tahu.. aku sangat ingin mendapatkan putra mahkota. Dan siapapun dari istriku yang bisa memberiku putra mahkota, dia akan menjadi permaisuri.” Ujar Raja Tirta.
“ Aku pun berharap segera memberikan anda keturunan.. percayalah.. secepatnya akan kita dapatkan..” ujar Putri namrata malu-malu. Raja tirta soma tersenyum dan dia teringat kata-kata gurunya, lalu wajah Urvasi muncul begitu saja. Bukan hanya itu, bayangan ketika Urvasi melawan jendral Sanjaya kembali teringat. “wanita biasa tapi tidak biasa..” terus terngiang.
Raja berdiri dan memandang langit yang masih gerimis.
“ Tapi aku tidak bisa menunggu lama.” Ujar sang Raja tegas. Putri Namrata terkejut dan panik.
“ Kita baru menikah tiga bulan saja. Masih banyak waktu untuk memiliki anak..” katanya dengan kepanikan.
“ Semua istriku aku beri waktu yang sama. Dan semuanya hasilnya tidak berbeda.” Katanya dengan penuh kekecewaan. Putri Namrata hanya diam, sesungguhnya dia optimis akan menjadi permaisuri ke kerajaan ini. Selain berparas paling cantik, juga raja tirta soma dipandang paling mencintainya oleh istri-istrinya juga oleh seluruh penghuni istana. Tapi kini Raja seolah ingin mengatakan dia gagal dan akan mencintai wanita lain.

“ Kau bisa tetap menjadi permaisuri ..jika..”
“ Jika?” putri Namrata sumringah.
“ Jika kau ijinkah aku mendapatkan anak dari pelayanmu. Sebagai penggantimu. Kau gagal.. maka pelayanmu yang merupakan bagian dari hidupmu pun.. harus menjadi milikku..” ujar sang raja. Bagai disambar petir putri Namrata mendengarnya. Dia gugup dan tak bisa bicara apapun. Maksud dari perkataan raja adalah, Urvasi adalah pelayan dan dianggap bagian dari kehidupan Namrata, maka dia pun punya hak atas Urvasi dan bisa menggantikan tuannya untuk hamil. Jika Urvasi hamil dan memberikan pangeran mahkota, maka tetap Namrata yang akan menjadi permaisurinya, dan anak itu dianggap anak Namrata.
“ Bagaimana?” tanya Raja Tirta Soma. Putri Namrata masih gelagapan dan gugup.
“ Dia hanya akan menuruti perintahmu bukan?” bisik sang raja di telinga putri Namrata yang tertekan dan sedih. Dia hanya mengangguk meski hatinya hancur lebur.

Di sisi lain, Urvasi kembal ke taman karena tahu Rajanya sedang bersama tuan putrinya. Dia duduk di sebuah pondok untuk berteduh. Dia memandang kedua tangannya yang terdapat lambang bulan berwarna emas.
“ Kenapa kembali?” tanya suara yang tak asing.
“ Dan anda kenapa kembali?” Urvasi balas bertanya.
“ Karena malam mengatakan ada rembulan sendirian..” jawab jendral Sanjaya mesra. Urvasi tersipu malu.
“ Kau belum menjawab pertanyaanku tadi.. juga pertanyaan sebelum kau lari di tengah hujan tadi.” Lanjut jendral Sanjaya. Urvasi menoleh dan matanya memandang jendral Sanjaya.
“ Maukah kau... menikah denganku?” suara jendral Sanjaya terdengar pelan. Urvasi terus memandang telapak tangannya.
“ Aku...aku akan meminta ijin pada sang putri terlebih dulu..” jawab Urvasi. Jendral Sanjaya tersenyum senang. Dia yakin putri Namrata akan merestui mereka. Tangan jendral Sanjaya mulai bergerilya mencari cara agar bisa memegang tangan Urvasi, meski mata mereka saling melihat ke arah berbeda. Angin begitu dingin ketika akhirnya tangan jendral Sanjaya terasa hangat menggenggam tangan Urvasi yang kebasahan tadi. Putri Namrata menyaksikan itu dan dia sangat dilematis.

Paginya, Putri Namrata memanggil Urvasi dan menceritakan semuanya. Betapa terkejutnya Urvasi mendengar semua itu. Dia ingin sekali menolak tapi dia sudah terikat sumpah akan menuruti keinginan putrinya.
“ Anda harusnya menolak. Aku bukan budak dan hanya pelayan setia yang menjagamu.” Urvasi sedikit tak bisa mendendalikan perasaannya.
“ Aku faham.. tapi aku pun sangat ingin menjadi seorang permaisuri. Dan satu-satunya yang bisa mewujudkan impianku adalah dirimu.”
“ Lau bagaimana jika dia malah jatuh cinta padaku dan membuang anda? Pikirkan. Dia hanya ingin putra mahkota. Janjinya adalah siapapun yang memberinya putra mahkota akan menjadi permaisuri.” Urvasi berusaha memperngaruhi sang putri. Putri benar-benar bingung dan pikirannya tertutup ambisinya. Dia tak peduli terlebih dengan janji sang raja semalam bahwa jika Urvasi memberikan anak, maka akan dianggap anak dari putri Namrata. Maka dia pun meminta Urvasi memenuhi keinginan Raja Tirta Soma.
“ andai aku bisa berkata tidak.” bisik Urvasi sedih.
“ Ini perintahku. Dan kau bersumpah akan menuruti semua perintahku.”
“ Tapi putri... jika itu terjadi maka aku akan ....maksudku..guruku bilang.....”
“ Aku tak peduli.. kau hanya harus memenuhi keinginanku dan permintaanku Urvasi.” Potong putri Namrata. Urvasi untuk pertama kalinya menangis dan terlihat gugup dan ketakutan. Putri Namrata langsung keluar dan diapun menangis di tempat yang lain. Sedang Urvasi berlari menemui jendral Sanjaya.

Jendral Sanjaya tersenyum manis saat melihat wanita idamannya lari ke arahnya dengan selendang merahnya berkibar dan rambut seolah ikut menghambur hendak memeluknya.
“ Datanglah padaku..” bisiknya memandang Urvasi yang terlihat gundah ke arahnya.
“ Aku menerima lamaranmu...” ujar Urvasi seketika. Jendral Sanjaya malah heran dan dia terdiam bukannya senang. Karena meski semalam bergenggaman tangan, Urvasi tak pernah menjawab ya.
“Ada apa? Ini tak seperti yang aku bayangkan. Kau seperti terpaksa.” Ujar jendral Sanjaya. Urvasi menangis dan menceritakan apa yang menimpanya. Tentu saja jendral Sanjaya amat terkejut dan tak menyangka dengan apa yang dia dengar. Dia memejamkan mata karena merasa tak tahu harus bagaimana.
“ Kita pergi... kita akan menikah. Aku mohon.. aku hanya mencintaimu..” ujar Urvasi menyeka airmatanya yang untuk pertama kali jadi sering keluar. Jendral Sanjaya menarik nafas dan menahan airmatanya. Dia diam tak berkata apapun. hatinya sangat hancur, dia sangat mencintai Urvasi, tapi dia pun telah bersumpah hidupnya hanya milik sang raja dan akan memenuhi apapun keinginan rajanya.
“ Aku tidak mungkin menghianati rajaku.” Jawab jendral Sanjaya dengan suara lantang. Seketika hati Urvasi hancur berantakan. Dia tersenyum, dia juga sadar, jendral Sanjaya sama dengan dirinya yang terikat sumpah untuk setia. Perlahan Urvasi mundur meninggalkan jendral Sanjaya, meski matanya masih menatapnya dengan tetesan airmata, namun wajahnya telah kembali seperti sedia kala, tegas dan penuh keberanian. Dan ketika dia semakin jauh, Jendral Sanjaya berusaha menoleh, tapi terus dia tahan. Dia tak ingin jika menoleh maka Urvasi malah berlari padanya dan dia tak akan bisa menolak lagi. urvasi masih menunggu sang pujaan hati menoleh, tapi dia tetap membelakanginya. Urvasi menghapus airmatanya dan meninggalkan tempat itu. Seketika jendral Sanjaya menoleh dan setengah berlari ke arah pintu tempat Urvasi dari tadi menunggunya.
“ Maafkan aku...” ujarnya rubuh dan menjatuhkan busur serta panahnya. Tangannya lemas dan dia begitu menyesali cinta yang tak tepat terjadi.

****
Malam tiba, dan Urvasi masih berharap putri Namrata yang sedari tadi tak bersuara, mengurungkan keinginannya.
“ Yang mulia raja Tirta Soma tiba...” teriak pengawal. Urvasi menutup matanya rapat-rapat menahan perasaannya. Sedang putri Namrata berdiri tanpa menoleh padanya, lalu keluar meninggalkan Urvasi di dalam. Putri Namrata berpapasan dengan raja Tirta, dia hanya memandang sang raja, memberi hormat lalu keluar dari kamarnya sendiri.

Raja Tirta hanya tersenyum dan meminta para pengawal keluar dari kamar itu. Urvasi memejamkan mata dan dia dapat merasakan langkah demi langkah sang Raja semakin dekat. Tangannya mengepal dan ada rasa dia bersiap lebih baik mati.
“ Kau kuhadiahkan pada sang putri.. maka hidupmu ada di tangannya..” kata-kata sang guru terngiang. Tangannya melemah dan matanya terbuka. Raja Tirta Soma hanya memandangnya dari belakang. Sungguh indah, ketika Urvasi berdiri di dekat jendela, seolah sedang berdampingan dengan bulan purnama di langit. Rambut terurai dan selendang merahnya ikut melambai tertiup angin. Menambah keindahan dirinya yang baru disadari sang raja.
“ kau tidak memberi hormat padaku.?” Ujar raja Tirta Soma tersenyum. Urvasi menoleh pelan-pelan dan menundukan kepalanya memberi hormat, namun mulutnya kelu tak mampu bersuara.
“ Aku pikir aku akan mendapat sambutan hangat dari suara yang sangat indah.. atau sebuah atraksi keindahan bela diri..” ujar sang Raja yang tangannya mulai membetulkan rambut Urvasi yang tertiup angin. Terlihat bibir Urvasi bergetar karena gugup dan hatinya terus berperang dengan pikirannya.

“ Santai saja.. aku tahu kau pasti gugup.” Raja Tirta berjalan dan meminum minuman yang telah disediakan.
“ Ceritakan tentang dirimu.. aku ingin tahu, bagaimana kau bisa menjadi pelayan setia putri Namrata.” Lanjutnya. Urvasi menarik nafas dan berjalan ke jendela. Lama dia terdiam dan mencoba menguasai dirinya.
“ Sejak kecil aku hanya hidup dengan guruku. Dia menjadi ibu juga bagiku. Dia mengajarkan segalanya, hingga ilmu yang kini kumiliki...” ujar Urvasi dengan sedikit terkenang masa lalu. Sedang Raja Tirta tersenyum dan mulai berjalan mendekati Urvasi.
“ Suatu hari raja Nimrat menemuinya dan gelisah karena tak memiliki keturunana laki-laki. Karena beliau pun murid guruku, maka dia berikan aku sebagai penjaga putri Namrata. Dan aku disumpah untuk selalu setia dan hanya menggunakan kemampuanku untuknya.. juga hidupku...” Urvasi mulai bergejolak ketika menyadari tangan sang Raja membelai rambutnya.
“ Teruskan.. ceritakan saja...” bisik Raja Tirta. Urvasi kembali gugup dan ketakutan.
“ Dan... kekuatanku...” nafas Urvasi mulai tak terkendali dan dia mencoba menahan airmatanya yang berontak keluar. Ingatannya kembali ke masa kecilnya. Dimana dia belajar segala hal dari gurunya, mulai dari hal sederhana seperti memasak hingga ilmu kesaktian yang luar biasa.
Dia sangat cerdas dan mudah hafal setiap ilmu yang diturunkan. Bahkan semua kekuatan gurunya diturunkan padanya. Hingga suatu hari, raja Nimrat datang dan berkeluh kesah.
Urvasi yang berusia 15 tahun dberikan pada raja nimrat untuk menjadi nyawa pertama bagi putrinya Namrata. Dan mereka pun sangat akrab ketika bertemu pertama kali.

“ Dan harus kau ingat.. kekuatanmu tak akan ada yang bisa mengalahkan.. kecuali jika kau jatuh cinta..” kata-kata terakhir gurunya terngiang disaat dia berada dalam pelukan sang raja.
“ Dua tanda bulan emas di tanganmu akan menghilang seiring dengan kekuatanmu juga akan menghilang.. “
Urvasi memandang telapak tangannya yang terdapat dua bulan emas, dan keduanya tampak memudar. Dia terus meneteskan airmata. Hatinya semakin bergejolak, ingin rasanya dia gunakan sisa kesaktiannya untuk melepaskan diri dan membunuh sang raja. Tapi dia teringat pada sang putri.
“ Dan itu hanya akan terjadi jika... kau kehilangan kesucianmu..” ujar sang guru. Tangan Urvasi terhempas seiring menghilangnya dua bulan emas di tangannya. Airmatanya semakin deras dan dia menutup rapat matanya dan berharap inipun akhir hidupnya.

*****
Putri Namrata hanya terdiam di taman sedari tadi. Dan jendral sanjaya melihatnya berada disana, dia langsung pergi ke luar istana dan dengan kekutannya dia mencapai puncak gunung tertinggi. Dia berteriak sekuat tenaga hingga membangunkan semua orang dan mereka menganggap itu pertanda bencana. Dia tancapkan mata panahnya ke tanah di atas gunung hingga air memancar deras. Matanya tampak menahan amarah dan ketidak puasan yang amat dahsyat. Matanya antara berkobar kemarahan dan kesedihan jadi satu. Lama dia hanya berlutut di depan panah yang dia tancapkan. Air terus mengalir dan seolah menjadi anak sungai baru disana. Setelah dia merasa lebih tenang dia kembali turun dan masuk ke istana.

Urvasi duduk di tepi tempat tidur dengan pandangan kosong. Putri Namrata masuk dan memandangnya dengan perasaan sedih.
“ Raja mengajak kita berburu. Hanya berempat.” Ujar putri Namrata mengejutkan Urvasi yang tengah melamun. Dia hanya mengangguk dan mengambil pedang dari tempat tidurnya. Diluar Raja Tirta dan Jndral Sanjaya telah menunggu mereka. Setelah putri Namrata datang mereka langsung menuju hutan dengan menunggangi kuda. Beberapa kali baik Raja Tirta maupun jendral Sanjaya mencuri pandang pada Urvasi. Tapi Urvasi hanya konsentrasi dengan kudanya dan mengawal putri Namrata. Dua pria itu hanya tersenyum karena merasa hati mereka semakin bersemi sedang Urvasi merasa dirinya hancur.
Mereka berhenti di hutan yang amat lebat.
“ Katakan putri.. kau ingin kami menangkap apa?” tanya Raja Tirta.
“ Aku ingin burung yang indah dan dalam keadaan hidup. Kita lihat siapa yang lebih dulu  menangkapnya diantara tiga orang sakti ini.” Ujar putri Namrata. Dua pria itu sepakat, sedang Urvasi hanya diam dan memegang panah dan busurnya. Mereka mulai membidik menggunakan insting mereka mencari burung yang bisa dipanah. Jendral Sanjaya yang pertama melesatkan panahnya disusul raja Tirta, Urvasi terakhir. Anak panah jendral Sanjaya kembali dan membawa seekor burung berwarna keemasan, sedang raja Tirta membawa burung berwarna kemerahan. Hanya panah Urvasi yang tak kembali.

Belum mereka bertanya kenapa pada Urvasi, tiba-tiba saja mereka dikepung oleh ratusan penjahat dengan senjata lengkap. Putri Namrata amat ketakutan dan dia bersembunyi di belakang Urvasi.
“ Ini kesempatan kita membunuh raja Tirta. Serang!” teriak salah satu dari mereka. Mereka adalah para tahanan perang dari kerajaan lain yang menolak mengabdi. Raja Tirta melepaskan panah dan menyerang mereka, begitu juga jendral Sanjaya. Urvasi mati-matian melawan mereka dengan pedang tanpa kesaktiannya melindungi sang putri. Beberapa kali putri Namrata terjatuh ketika lari karena turun dari kuda dan meminta Urvasi menggunakan kesaktiannya. Dan itu membuat Urvasi amat menderita. Dia berusaha mencoba menggunakan kesaktian tapi sudah benar-benar tak ada.
“ Bersembunyilah putri.. aku sudah tak memiliki kesaktian lagi.” ujar Urvasi ketika yang mengejarnya mulai sedikit dan jauh. Putri Namrata panik dan merasa bersalah telah membuat Urvasi jadi wanita biasa. Urvasi kembali ke pertempuran sementara putri Namrata bersembunyi di bebatuan. Tak cukup waktu lama akhirnya semua dikalahkan karena raja dan jendral sanjaya menggunakan pedang cahaya mereka. Urvasi sendiri terlihat terluka di tangan, perut dan punggungnya. Tapi dia seperti tak kesakitan. Putri Namrata keluar dar persembunyian dan memeluknya dengan erat. Jendral Sanjaya dan raja Tirta heran.
“ Maafkan aku Urvasi...” isak sang putri. Urvasi tersenyum.
“ Aku akan tetap melindungi anda. Aku masih memliki lima panca indra dan dua kaki dan tangan. Semuanya bisa kugunakan untukmu.” Katanya tersenyum manis.
“ Ada apa?” tanya Raja Tirta menghampiri mereka. Jendral Sanjaya langsung mengeluarkan obat-obatan dari kantong diatas kudanya. Urvasi menolak diobati tapi jendral memaksa dan mengobati setiap luka di tubuh Urvasi. Bukan luka-luka bekas perang yang sakit, tapi justru hati mereka yang sakit tak terhingga. Urvasi memandang jendral Sanjaya dengan berkaca-kaca. Tangannya bergerak hendak mengelus wajah sang jendral tapi dia tersadar bahwa dia sudah tak layak baginya. Urvasi pun segera menghindar dan menuntun kudanya dan kuda sang putri. Mereka segera kembali ke istana.
****
Kabar bahagia itu tiba. Tabib menyampaikan Urvasi tengah mengandung. Dan maha guru berkata bayi itu laki-laki. Semua bahagia kecuali para istri raja. Mereka amat cemburu dan iri pada putri Namrata. Putri Namrata merasa dirinyalah yang akan jadi permaisuri, hingga selalu merawat Urvasi, tak peduli dia adalah pelayannya. Sedang jendral Sanjaya sering melamun dan tak seceria dulu. panah yang dulu dia pakai bertarung dengan Urvasi lah yang selalu dia genggam dikala rindu melanda.
“ Lapor Jendral.. sungai di hulu terus mengalirkan air cukup deras. Sepertinya ada mata air baru dan sulit tertampung. Bendungan kita seperti tak kuat menahan arusnya.” Ujar anak buah jendral Sanjaya.
“ lakukan perbaikan. Kumpulkan batu-batu terbaik dari seluruh kerajaan bawahan. Dan minta tentara mereka untuk terlibat juga warganya.” Kata Jendral Sanjaya merasa ada firasat buruk. Dia pun segera melapor pada Raja. Tak lupa dia ucapkan selamat atas keturunan yang ada dalam perut wanita yang dicintainya.
“ Aku berfikir akan menjadikan Urvasi permaisuri..” pernyataan sang raja lagi-lagi mengejutkan jendral Sanjaya.
“ Itu sudah selayaknya.. dialah yang memberi anda putra mahkota.” Jawab jendral Sanjaya tabah. Raja tirta soma tersenyum bahagia.
“ Kau memang selalu sehati denganku.” Ujarnya menepuk pundak sang jendral.
“ Aku ingin istana permaisuri yang telah lama kusiapkan diperbaiki. Ubah seindah mungkin. Dan buatkan aku patung Urvasi yang sangat indah.. sebagai lambang dialah permaisuri abadi kerajaan ini. Sekaligus bukti aku sangat mencintainya.. dan setelah itu.. siapkan upacara pernikahan disana.” Perintahnya.
“ Laksanakan yang mulia..” jendral Sanjaya memberi hormat dan tersenyum pahit. Dia keluar dari ruang sang raja dan berjalan menuju istana putri dan istana permaisuri. Dia perintahkan para tukang khusus untuk merenovasi istana permaisuri. Semua penasaran siapakah yang akan tinggal disana.

Dengan kesaktiannya, jendral Sanjaya membuat patung Urvasi dengan sangat indah. Goresan tangan penuh cinta dia tuangkan dalam tiap lekuk, sudut dan sisi dari wanita yang dicintainya. Bahkan patung itu tampak sangat indah dan menggambarkan kekuatan serta kesucian seorang wanita. Raja Tirta Soma yang melihat patung itu benar-benar takjub. Berulang kali dia mengelus patung itu. Benar-benar sangat indah.
“ Kau sangat mengerti keinginanku. Ini patung yang sangat indah. Kau seperti bisa merasakan cintaku padanya.” Ujarnya. Jendral Sanjaya tersenyum, ya.. karena perasaan yang sama yang dia tuangkan disana.
Dan hari itupun tiba, di kehamilan urvasi yang ke tujuh bulan, raja Tirta Soma mengumumkan bahwa Urvasi akan menjadi permaisurinya. Sontak saja itu membuat putri Namrata terkejut dan tak percaya dengan yang dia dengar. Begitu juga Urvasi yang benar-benar tak menyangka. Putri Namrata langsung lari ke istananya dan Urvasi ingin mengejarnya tapi dia tak kuasa untuk berlari. Raja Tirta Soma kemudian menemui putri Namrata dan menjelaskan semuanya.
Dia mengatakan bahwa ini sangat adil untuk Urvasi karena telah banyak berkorban untuk putri Namrata. Dan dia berjanji tidak akan meninggalkan putri Namrata meski hanya seorang selir kelak. Tapi sang putri tetap gelisah karena dia tahu Urvasi tak kan mau berbadi suami, seperti kata-katanya selama ini. Maka sang raja berjanji akan meyakinkan Urvasi. Putri tak bisa menolak atau memberontak lagi, dia tak memliki kuasa apapun saat ini di hadapan raja. Bahkan kecantikan yang selama ini menjadi senjata paling kuat diantara istri-istri yang lain sudah tak bertaji.

 “ Aku tidak bisa menerima ini.” Urvasi membuka obrolan ketika berada di kamar sang raja.
“ Maksudmu..?”
“ Aku tidak akan pernah membiarkan putri Namrata bersedih.”
“ Dia baik-baik saja. Dan mengatakan kau pantas mendapatkan ini. Itu mungkin tidak tulus.. tapi dia sudah mencoba membalas pengorbananmu selama ini.”
“ Dia tak harus membayarnya.. itu karena sumpahku.” Ujar Urvasi terlihat merasa bersalah. Raja tersenyum dan memandang Urvasi yang tetap dengan wajah tak bersahabat apalagi penuh cinta.
“ Kau semakin membuatku jatuh cinta padamu Urvasi.. “ ujar sang Raja dan terus memandangnya. Urvasi menarik nafas dalam dan sang raja menuntunnya ke tempat tidurnya. Namun dia menolak, akhirnya dia malah memilih tidur di lantai beralaskan karpet. Sang raja tersenyum dan dia pun merebahkan dirinya di samping Urvasi. Urvasi menoleh dan baru kali ini dia memandang mata sang raja. Sang raja mengangkat kepala Urvasi dan menjadkan lengannya yang kekar sebagai penyangga kepala Urvasi.
“ tidurlah...” ujar sang raja lembut. Urvasi tak bereaksi apapun dan berusaha memejamkan matanya. Sedang sang raja terus memandangnya dengan penuh kekaguman. Urvasi menarik selendangnya dan menutup wajahnya. Raja Tirta tertawa melihat gelagat lucu Urvasi yang semakin membuatnya gemas. Urvasi berbaring ke kanan karena perutnya sudah semakin besar, dan sang raja menggenggam erat jari jemarinya sepanjang malam.

****
Istana permaisuri sudah berdri megah. Pesta pernikahan akan digelar disana. Segala persiapan tengah diselesaikan oleh semua pekerja istana. Begitupun bendungan yang akan dijadikan bagian dari tempat peristirahatan raja dengan dibangun sebuah pemondokan terapung di atasnya. Urvasi kini tak pernah lagi bertemu dengan putri Namrata. Bahkan putri Namrata terus didesak oleh putri-putri yang lain agar menolak keinginan Raja menikahi Urvasi. Ya, putri pun sadar, Urvasi hanya ingin menjadi istri satu-satunya dan itu berarti dia akan dikembalikan ke kerajaan Nimrat.

Di tengah kegalauannya, putri Namrata berniat menemui raja tirta soma di istananya. Namun sang raja tengah meninjau persiapan pernikahannya. Sedang hanya Urvasi disana dengan kehamilannya yang mulai membesar. Ketika hendak masuk dia melihat jendral Sanjaya masuk lebih dulu. dia pun berniat menguping apa yang terjadi. Dari balik tirai dia memperhatikan kedua insan yang dulu saling jatuh cinta itu.
“ Salaam ..” jendra Sanjaya menyapa Urvasi yang tengah menghias bunga-bunga. Matanya berbinar namun mencoba bersikap biasa.
“ Mungkin ini terakhir kalinya aku menemuimu sebagai orang biasa. Setelah ini kau adalah tuanku yang mulia ratu.” Ujar sanjaya kelu. Sedang Urvasi diam membisu.
“ Tapi cintaku akan tetap sama.”
Urvas menarik nafas dan menoleh memandang jendral Sanjaya yang menunduk. Perasaan itu kembali bergelora di hatinya.
“ Aku berjanji, akan selalu melindungimu. Sama seperti aku melindungi sang raja.” Mata mereka beradu dan getar-getar cinta masih terasa membara meski kondisi sudah tak memungkinkan. Urvasi mendekat dan memandang wajah Sanjaya dengan dalam.
“ Aku hanya bisa mencintaimu.. aku berharap setelah melahirkan kita akan pergi berdua.. hanya kita.” Ujar Urvasi setengah memohon. Jendral Sanjaya terdiam dan mencoba bertanya pada hatinya. Dia menggeleng karena dia adalah milik sang raja. Urvasi kecewa.
“ Seharusnya kau tak datang kemari jika hanya untuk mempermainkan perasaanku.” Ujar Urvasi dengan suara tegas dan wajah kembali seperti pertama kali bertemu, sinis, cuek dan penuh ketidakpercayaan. Jendral Sanjaya mendekat dan memandang Urvasi. Mereka berpandangan dan semakin dekat. Kecupan hangat mendarat di pipi Urvasi yang dialiri airmata. Jendral sanjaya lalu berlari keluar, antara menyesali dan merasa bersalah pada tuannya. Sedang Urvasi menangis tapi seketika dia hapus airmatanya. Sedang putri Namrata menyaksikan itu langsung kembal ke istananya.

****

Pesta pernikahan akbar digelar. Urvasi berdiri di tengah istana dan segera dinobatkan sebagai permaisuri. Semua istri tirta soma amat iri dan kesal. Termasuk putri Namrata mulai tak kuat menahan egonya, terlebih ketika mahkota sang ratu dipasangkan pada Urvasi diiringi sorak dan teriakan rakyat dan pasukan kerajaan. Urvasi dipakaikan selendang emas oleh sang raja dan digandeng menuju singgasana mereka. Riuh teriakan semakin memekakan telinga putri Namrata.
“ Aku ucapkan selamat pada anda berdua yang mulia.” Putri Namrata memecah kehingaran jadi keheningan.
“ semua sangat bahagia dengan terpilihnya sang ratu yang sudah dipastikan akan memberikan pangeran mahkota. Tapi apakah sudah yakin dia putra  anda yang mulia raja?” pertanyaan putri Namrata mengejutkan raja tirta soma, Urvasi, jendral Sanjaya juga semua yang hadir di istana.
“ Apa maksudmu?”
“ hhhhh .. ini sebua cerita klasik. Seroang pelayan jatuh cinta pada sang jendral.. dan setiap saat aku ijinkan dia menemui pria yang dcintainya. dialah Urvasi dan jendral Sanjaya. Mereka menjalin kisah ini sebelum yang mulia memutuskan untuk memilih Urvasi sebagai penggantiku. Dan kita tidak pernah tahu apa yang telah terjadi dengan mereka. Terkadang orang jatuh cinta ingin menyerahkan apapun lebih dulu untuk yang dicintainya.” Ujar putri Namrata berapi-api.
“ Kau bohong! Kau sadar jika mempermainkanku apa hukumannya?” mata raja tirta soma terlihat marah besar. Urvasi benar-benar terkejut dengan sikap putri Namrata.
“ Itu tidak benar yang mulia. Urvasi wanita yang suci dan tidak pernah menghianati anda.” Jendral Sanjaya membela diri juga Urvasi.
“ aku berani ambil sumpah.. dan yang mulia bisa tanyakan sendiri pada mereka.” Uajr putri Namrata pasti.

Raja tirta soma yang penuh amarah langsung memandang Urvasi dan bertanya padanya.
“ Apa kau benar mencintai jendral Sanjaya?”
Urvasi terdiam dan memandang jendral Sanjaya yang berharap dia menjawab tidak. Agar semua baik-baik saja. Urvasi yang kesal pada jendral Sanjaya terlihat sudah siap menjawab dengan optimis.
“ benar.” Jawab Urvasi. Jendral sanjaya memejamkan mata menyesali jawaban itu. Raja langsung murka dan memecahkan gelas-gelas di singgasananya.
“ Berani sekali kalian mempermainkan aku?”
“ Tapi ini ini anak kita. Karena aku dan jendral sanjaya hanya saling mencintai tanpa saling memiliki.” Ujar Urvasi masih dengan ketegasan dan tak takut apapun.
“ lalu bagaimana dengan ciuman yang aku lihat kemarin?” tanya Putri Namrata mengejutkan Urvasi dan jendral Sanjaya.
“ Jika di kamar sang raja saja kalian bisa seperti itu. Apalagi diluar itu?” lanjut putri Namrata.
Raja benar-benar murka dan dengan kesakitkannya dia hancurkan semua yang ada disana. Jendral Sanjaya berusah meredam namun sang raja yang mudah marah tak lagi bisa dikendalikan. Dia pamerkan kesaktiannya dengan menghancurkan semua benda yang ada disana. Dia menghunus pedangnya dan dia lemparkan ke arah patung Urvasi yang dibuat jendral Sanjaya. Jendral Sanjaya melepaskan panahnya dan membelokkan arah pedang raja Tirta.

“ Berani sekali kau melawanku!” raja semakin murka dan cemburu melihat jendral Sanjaya tak mau patung Urvas hancur. Sedang Urvasi malah tersenyum, seolah puas melihat kedua pria yang mencintainya berhadapan.
“ Tidak yang mulia. Aku hanya ingin anda tidak salah mengambil keputusan. Kami saling mencintai tapi kami tidak pernah menghianatimu.. aku bersumpah tuanku..” Sanjaya berusaha tenang. Tapi raja sudah termakan emosi dan lupa kata-kata maha gurunya agar jangan salah mengambil keputusan.
“ Hukuman bagi penghianat adalah hukuman mati!” teriaknya menunjuk jendral Sanjaya. Mendengar itu Urvasi benar-benar tak menyangka dan dia mulai membela diri dengan menyatakan tak terjadi apa-apa antara jendral sanjaya dan dirinya. Dia berusaha menggunakan kekuatannya untuk bisa masuk ke dalam pikiran raja Tirta tapi gagal, karena dia sudah tak memiliki ilmu apapun.
“ Kau layak dipenggal. Dan kau akan kumasukan dalam penjara bawah tanah seumur hidupmu. Tidak akan kubiarkan kalian bahagia dan bersatu.” Ujar Raja tirta soma. Semua istri raja sangat senang dengan apa yang terjadi. Dia memerintahkan pengawal membawa jendral Sanjaya ke pemancungan dan melupakan jasa-jasanya. Urvasi yang kesal berjalan ke hadapan raja Tirta dan terlihat emosi juga marah.
“ Kau sungguh-sungguh melupakan bagaimana aku hilang kesaktian saat bersamamu? Jika bukan karenamu aku sudah menghabisimu saat ini...” Urvasi geram, meski dalam keadaan hamil besar dia masih berani dan gagah.
“ Itu bisa saja rekayasa. Pengawal!!!! Bawa dia dan hukum pancung!” teriaknya menunjuk jendral Sanjaya. Sang jendral langsung mencabut pedang cahayanya dan semua pengawal mundur karena tahu betapa dahsyatnya pedang itu.
“ Berani kau mengangkat senjata dan melawanku?” raja bersiap mengeluarkan senjatanya juga.
“ Bukan yang mulia. Atas nama kesetiaanku padaku, kesalahan terberatku adalah aku tidak akan pernah bisa berhenti mencintai sang ratu,dan itu layak mati. Tapi aku tidak suka kau menghukukm Urvasi yang tak bersalah.” Ujar Jendral Sanjaya. Raja malah semakin marah  dan memerintahkan pengawal menangkap jendral Sanjaya. Sang jendral membuat para pengawal terpental
“ Demi kesetiaanku padamu yang mulia... aku akan menghukum diriku sendiri..” jendral sanjaya menutup ucapannya dengan menghujamkan pedangnya ke tubuhnya sendiri. Dia bunuh diri karena tidak mau mati di tangan orang lain.
“ Tidaaaaaaaaaaaaaak...” teriak urvasi tak percaya melihat pria yang dicintainya mengakhiri hidupnya. Dia berlari ke arah Sanjaya yang masih bernafas dan matanya berkaca-kaca.
“ Maafkan aku..” bisik Urvasi kelu. Jendral Sanjaya hanya tersenyum, lalu menutup matanya dalam keadaan duduk dan pedang di perutnya. Urvasi terlihat gemetar dan penuh dendam.

“ Aku terima hukumanku di penjara bawah tanah. Tapi kau harus ingat.. kau telah menghina kesetiaan kami pada kalian, maka aku tidak akan membiarkan kalian tenang. Dan Anak ini ...akan tetap menjadi raja kelak, itu adalah janjiku” teriak Urvasi yang langsung diseret pengawal kerajaan.
“ Kalian akan menderita seumur hidup kalian! Hidup dalam penyesalan! Seumur hidup kalian!” teriak Urvasi sambil terus memandang sang raja dengan kebencian. Raja tirta soma tak peduli dengan cacian dan sumpah serapah Urvasi. Putri Namrata mendadak panik dan ketakutan. Dia ingin membantah tapi dia takut dia yang akan diberi hukuman karena telah membuat sanjaya bunuh diri dan menuduh Urvasi selingkuh. Dia terlihat tegang dan terus memegangi dadanya. Dia benar-benar menyesali semua tindakannya yang berujung pada petaka.

****
Urvasi ditempatkan di penjara bawah tanah yang sedikit penerangan, bersama para penjahat tak terampuni lainnya. Dia duduk dan mengelus perutnya yang semakin besar. Dia bayangkan jendral Sanjaya yang selalu tersenyum manis.
Di sisi lain raja tirta soma amat tersiksa batin. Dia sedih karena telah membuat jendral kesayangannya bunuh diri dan mati, juga karena orang yang dicintainya dia anggap menghianatinya. Dan putri Namrata terus diam tak mau bicara karena ketakutan dan rasa bersalahnya.
“ Maafkan aku Urvasi.. apa yang aku lakukan padamu?” dia menangis ketika melamun seorang diri. Kembali teringat bagaimana wanita itu mengorbankan diri sendiri untuk melindungi sang putri.Dia berdiri berniat memberitahu raja yang sesungguhnya. Tapi dia kembali ketakutan karena mungkin dia yang akan menggantikan Urvasi di penjara bawah tanah.

Amarah raja kemarin membuat bumi bergetar ketika itu. Hingga menimbulkan retak pada bendungan yang sedang diperbaiki. Beberapa pekerja melihat bendungan seperti tak akan lama mampu menahan tekanan air di dalamnya yang mana berasal dari air kesedihan jendral Sanjaya. Mereka segera melaporkan pada raja dan meminta rakyat agar segera mengevakuasi diri ke hutan dan gunung yang tinggi, karena air bah akan menghancurkan mereka.

Persiapan darurat bencana sudah dimulai. Rakyat diminta naik ke gunung atau bukit dan semua tentara juga penghuni istana memilih naik ke benteng istana yang cukup tinggi dan aman dari air bah.
“ yang mulia.. bagaimana dengan para tahanan?” tanya penasihat istana.
“ Bebaskan saja mereka.” Jawab raja Tirta soma singkat.
“ Tahanan bawah tanah?” lanjut sang menteri lainnya.
“ Mereka tak terampuni.” Katanya singkat dan jelas.
“ Dan.. yang mulia ratu?” penasihat sedikit gugup. Raja terdiam dan memejamkan matanya seolah meminta jawaban. Dia membuka mata dan menarik nafas dalam.
“ Berikan saja kuncinya, siapa yang bisa membebaskan diri maka dia selamat.” Katanya enteng.

Air mulai mengalir deras ke pemukiman rakyat. Dan retakan bendungan maha besar itu semakin terlihat dan melebar. Raja melihatnya dari jarak jauh dan dia pun tak akan sanggup menggunakan ilmunya untuk menahannya.

Para pengawal tahanan bawah tanah panik ketka melihat air mulai masuk. Mereka segera menyelamatkan diri. Para tahanan berteriak meminta pertolongan dan pengampunan. Semua ketakutan. Tapi pengawal tak peduli pada mereka, sesuai perintah raja mereka hanya melemparkan kunci-kunci ke tiap sel. Ada yang terbebas dan ada yang kesulitan menemukan kunci sel mereka.
Urvasi panik dan terus mengelus perutnya yang mula kontraksi. Dia yang sendirian dalam sel tak mendapatkan lemparan kunci. Dia ingin selamat agar anaknya bisa lahir dan membuktikan bahwa itu adalah anak raja Tirta Soma. Matanya terus mencari pengawal yang mungkin masih ada, tapi hanya tinggal para tahanan yang ketakutan dan saling tak peduli satu sama lain. Kontraksi semakin kuat seiring air semakin meninggi. Dia benar-benar kebingungan dan ketakutan, tapi tak mau menyerah dan berusaha meminta siapa saja yang lewat dan selamat untuk menolongnya.

Semua semakin panik karena air semakin deras dan sudah sepinggang mereka. Seorang tahanan melhat Urvasi yang kesakitan, dia iba melihat kehamilannya. Dia mencoba membuka sel Urvasi dengan kunci-kunci yang dia pegang tapi tak ada yang cocok. Urvasi terharu dan menatapnya lembut. Denga sisa tenaga yang ada dia menyentuh tangan si tahanan.
“ Hentikan..” katanya dengan lembut.
“ Selamatkan dirimu. Aku bisa merasakan air maha dahsyat sedang menuju kemari dalam beberapa menit. Tapi tolong sampaikan pada rajamu..” Urvasi menarik nafas.
“ Putra mahkota telah lahir... “ katanya dengan menahan perutnya yang mulai kontraksi. Si tahanan itu pucat dan bingung, dia mengangguk dan dengan beberapa kali menoleh ke arah Urvasi dia akhirnya mencoba menyelematkan diri.
“ Keinginanku hanya satu.. anakku menjadi raja.. berikan aku kekuatan..” bisiknya dengan memegang kuat besi dan matanya terpejam. Dia mulai merasakan gemuruh air yang masuk ke bawah tanah. Para tahanan yang tak bisa keluar semakin histeris dan dia tidak tega. Tiba-tiba saja perutnya amat sakit menandakan anaknya akan keluar.
****

Sementara itu bendungan terdengar roboh dan air bah meluluhlantahkan apa saja yang ada di hadapannya. Raja Tirta Soma meminta semua mundur dan dengan panah-panahnya dia berusaha menahan derasnya air. Andai saja jendral Sanjaya masih hidup, maka kekuatan mereka berdua akan mampu menahan semua itu dan tidak ada bencana. Tapi takdir sudah tertulis beda.

Setelah itu dia memejamkan mata dan dari tangannya keluar cahaya yang juga menahan laju derasnya air. Setidaknya istana masih berdiri kokoh meski air terus memporak porandakan bangunan bangunan lain, dan mulai mendesak masuk ke ruang-ruang bawah tanah.
“ Putra mahkota telah lahir.. putra mahkota telah lahir.” Teriak seorang pria dari bawah benteng. Raja tirta soma tersentak dan segera turun menemui orang itu.
“ Aku tahanan bawah tanah yang lolos.. mengabarkan sang putra mahkota telah lahir.” Katanya dengan penuh ketakutan. Putri Namrata langsung berlari ke arahnya.
“ Mana ratu Urvasi? Dia selamat?” katanya dengan panik dan haru.
“ Tidak putri.. dia hanya memintaku keluar ketika berusaha membantunya. Dan dia dalam proses persalinan seorang diri.” Katanya pilu. Putri Namrata histeris dan berteriak memanggil Urvasi dan berniat melompat ke air.
“ Hentikan!” sang raja mencegahnya.
“ Dia tidak bersalah.. dia mengandung putra mahkota. Dia tidak bersalah.. aku harus menyelamatkannya..” Teriak putri Namrata berontak karena dipegangi para pelayan.
“ Apa kau bilang?” raja tirta soma syok bukan main. Putri Namrata mengangguk dan rubuh merasa bersalah.
“ Tidak... Urvasi.. “ sang raja langsung melompat ke air membuat semua orang terkejut. Beberapa jendral ikut menceburkan diri dan mencoba menyelam ke bawah tanah. Tapi mereka tak kuat dan kembali keluar. Begitu juga sang raja. Dia bangkit dan dia kerahkan semua kesaktiannya untuk mendorong air agar segera mengalir ke tempat lain. Maha guru yang mendengar teriakan muridnya langsung datang dan membantunya mendorong air hingga semua rubuh dan tersapu kekutan mereka.

Setelah air surut, semua diperintahkan mencari Urvasi di bawah tanah. Tapi tak satupun tahanan tersisa disana. Semua sudah berantakan tinggal beberapa tahanan tak selamat yang telah tiada. Dan kondisi penjara hancur tapi Urvasi tak ada disana. Mereka terus mencari ke sungai-sungai yang memungkinkan dilewati air dari tempat itu karena memang dindingnya hancur terdorong mengarah ke jurang sungai. Mereka terus mecari hingga merdengar tangisan bayi dari balik batu yang mereka yakini itu adalah putra mahkota raja, anak Urvasi.

Raja lebih dulu sampai dan dia melihat sosok berpakaian ratu tengah telungkup melindungi sesuatu. Dia balikan badan itu dan seorang bayi dengan simbol bulan emas di keningnya serta simbol kerajaan sedang menangis dalam lindungan ibunya.
“ Urvasi..” bahagia dan rasa bersalah menjadi satu. Dia angkat anaknya dan segera diserahkan pada tabib untuk diberi pertolongan. Putri Namrata berusaha menyadarkan Urvasi. Tapi dia tak bergerak juga.
“ Urvasi.. sadarlah.. ini aku..” katanya dengan suara berat.
“ Bangunlah urvasi.. maafkan aku..” bisiknya lembut di telinga Urvasi yang tak bergeming.
“ Guru.. selamatkanlah dia..” ujar sang raja pada maha guru.
“ Semua sudah tertulis. Dan aku sudah peringatkan padamu.. sekarang tinggal hasilnya yang akan kau tuai” ujar sang guru.
Tangan Urvasi mulai bergerak sedikit demi sedikit dan matanya terbuka pelan-pelan. Dia mencari anaknya yang tengah dipakaikan selimut kerajaan oleh tabib.
“ anakku...” bisiknya lirih. Tabib segera memberikan anaknya dan urvasi tersenyum lemah melihat putranya yang gagah telah lahir.
“Dia adalah putra mahkota.. anak kita..” ujar raja dengan suara antara tangis bahagia dan sedih. Urvasi bagai tak peduli. Dia hanya mengelus anaknya perlahan dan memejamkan mata memberinya doa.

“ Urvasi.. lihatlah aku.. aku yang bodoh yang buta karena terlalu mencintaimu..” bisik Raja Tirta dengan suara berat. Mata Urvasi bergerak ke arah pria yang tengah menjadi sandaran tubuhnya yang terluka berat. Berulang kali dia mengaduh kesakitan dan darah keluar dari tempatnya terbaring. Tabib berusaha menolongnya tapi Urvasi seolah menolak. Putri Namrata tidak kuasa melihat penderitaan Urvasi yang seperti dalam keadaan antara hidup dan mati.
“ Bertahanlah..” sang raja berniat menggunakan kesaktiannya.
“ Sanjaya..” suara Urvasi membuat konsentrasi raja Tirta buyar dan tak mampu menggunakan kesaktiannya. Dia tersenyum mengulurkan tangannya ke atas seolah menyambut uluran tangan Sanjaya.
“ Urvasi.. “ raja terus berusaha agar Urvasi melihat ke arahnya.
“ Sanjaya.. “ bisik Urvasi tersenyum. Sang raja mencoba tak cemburu dan terus meminta Urvasi melhat ke arahnya agar dia bisa menyalurkan kekuatannya. Raja  mencoba meraih telapak tangan urvasi untuk dia genggam. Tapi belum dia sampai, tangan urvasi terjatuh dan matanya tertutup rapat. Sedang jiwanya lepas meraih tangan jendral Sanjaya.
“ Tidak... tidak..Urvasi.. bangunlah..” teriak sang raja. Tapi urvasi sudah tak bergerak lagi. dia terus menggoyangkan badan Urvasi dan memeluknya dengan erat.

Putri Namrata yang memeluk anak Urvasi histeris dan mencoba menyadarkannya.
“ Lihat anakmu Urvasi.. bangunlah..” isaknya.
“ Cukup raja .. putri.. dia telah pergi.” Ujar sang guru. Putri Namrata menangis dan memeluk anak Urvasi.
“ Aku bersumpah Urvasi.. aku akan menjaga anakmu seperti anakku sendiri. Aku akan mengasuhnya hingga dia menjadi raja kelak.” Putri Namrata menyentuh kaki Urvasi dan mengelusnya lembut.
Raja Tirta yang terus menangis memeluk jasad Urvasi mengangkat wajahnya.
“ Mulai hari ini.. aku hanya memiliki satu orang istri.. yaitu Urvasi.” Katanya seolah menegaskan menceraikan semua istrinya.
“ Aku akan hidup sesuai keinginanmu. Menderita karena rasa bersalahku, dan ku harap itu akan jadi penghapus kesalahanku padamu. Hingga di kehidupan berikutnya.. kau hanya milikku.. hanya akan jadi milikku.. “ raja Tirta yang gagah kini terlihat lemah dengan tetap memeluk jasad Urvasi.

Setelah kejadian itu, putri Namrata tetap di kerajaan Tirta dan mengasuh putra mahkota. Sedang raja Tirta Soma lebih banyak bersemedi di dekat patung wanita yang dicintainya. Andai saja lebih mempercayai cinta daripada amarah, maka belum tentu penyesalan terasa sangat menyiksa.

*note: cerita ini hanya fiktif belaka. Nama dan tokoh lahir ketika naik motor xixixi. Dan jangan pernah sembarangan mengucap sumpah. Karena bagi kita yang muslim, ada aturan untuk berjanji dan berbakti pada manusia lainnya.
* cerita ini aga melenceng dari yang saya bayangkan karena setiap ide datang di siang hari dan menulis di malam hari. Alhasil setiap kalimat n dialog banyak yang lupa .. :P. Terkadang cinta amat menyakitkan.. (mandang foto rani )

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Majarani

Aku bukan mandul, tapi ada yang memasang IUD tanpa sepengetahuanku!