Sering Sakit Kaki Ketika Menginjak Lantai Saat Bangun Pagi Hari? Hat-hati!
Ini adalah pengalaman pribadi dan yang saya alami hingga saat ini.
Berawal dari hamil anak ke 2, tahun 2012, saya selalu merasa lemas dan
jika jalan kaki saya pegal luar biasa.
Namanya sedang hamil, pasti tersangkanya adalah bawaan hamil. Akhirnya disarankan ini itu oleh banyak orang.
Saya pun nurut aja.
Ada yang bilang banyakin minum kalsium, jadi selain vitamin dari dokter yang salah satunya ada kalsium, saya rutin mengonsumi vitamin tulang yang ada di iklan televisi.
(Uniknya saat hamil anak ke 4 dokter melarang saya minum itu karena dosis yang terlalu tinggi)
Bahkan ada yang menganjurkan rutin minum minuman yang mengandung ion tinggi. Saya juga turuti.
Sialnya, masih juga sakit setiap kali bangun tidur, apalagi jalan di rumah. Seperti ada duri yang menancap tiba-tiba di telapak kaki. Sakit, tapi hanya bisa sabar karena ... itu dia, menganggap bawaan hamil saja.
Rasa sakit baru sedikit hilang ketika memakai sendal jepit yang kebetulan dari karet dan empuk.
Apesnya, mengingat saran orang tua zaman old dan juga tetangga kiri kanan, bahwa kalau hamil harus banyak jalan dengan TELANJANG KAKI. Saya manut juga.
Alhasil makin sakit dan lemas tak terkira.
Dokter kandungan juga sama, mengira efek kehamilan saja. Jadi dokter bilang, "bergerak sesuai kebutuhan ya, Bu. Jangan pakai istilah harus sering gerak, harus banyak jalan. Ga harus gitu. Lakukan semua kegiatan asal nyaman, seperlunya, karena melahirkan normal butuh tenaga besar. Jangan sampai ibu banyak gerak, malah ga ada tenaga saat harus mengejan."
Setelah hari itu saya kurangi jalan kaki tanpa alas kaki, lagipula karena sering mengeluh sakit tiba-tiba seperti tertancap duri ... suami juga menganjurkan tetap pakai sandal. Dan semakin besar kehamilan semakin sakit. Seiring tekanan pada kaki akibat perut yang dan berat badan yang semakin meningkat.
Singkat cerita, paska melahirkan rasa sakit itu hilang. Jelas, makin menyangka karena efek bawaan hamil.
Lalu hamil anak ke 3, kondisinya berulang. Bahkan lebih parah dari sebelumnya, sampai ketika menginjak ubin pertama kali saat bangun pagi, itu sakit sekali. Ga bisa jalan.
Suami awalnya hanya bilang, "sabar, mam. Mungkin bawaan hamil kaya anak ke dua."
Saya pun sabar hingga melahiran. Bahkan ga pernah jalan-jalan apalagi ga pake sandal. Hanya kegiatan rutin belanja sayuran, jalan kaki. Karena memang rasa sakit itu berkurang ketika saya memakai sendal.
Namun setelah melahirkan, rasa sakit itu masih bertahan dan semakin parah. Bahkan saya menangis saat menginjak lantai, ketika baru bangun tidur.
Suami panik dan akhirnya memanggil tukang urut. Karena mengira keseleo dan sejenisnya.
Tukang urut pertama, menyangka kolesterol. Hanya dipijiat dan dipantang makan ini itu.
Hasilnya? Semakin sakit.
Tukang urut ke 2, mengira asam urat. Sampai-sampai ditekan-tekan dan di suruh bentur-benturkan tumit ke lantai.
(Belakangan baru sadar ini malah memperparah keadaan).
Tukang urut ke 3, mengira pengapuran tulang. Memberi obat konon herbal, tapi malah membuat mata saya bengkak.
Akhirnya saya lelah dan meminta suami meluangkan waktu ke dokter spesialis tulang. Karena alasan kami memilih tukang urut adalah selain bisa dipanggil ke rumah juga karena suami sibuk kerja. Sedangkan dokter spesialis tulang hampir kesemuanya praktek pagi.
Akhirnya datanglah kami ke rumah sakit yang saya pilih paska googling terlebih dahulu. Mengandalkan insting membaca nama sang dokter sepertinya dokter ini mumpuni.
(Oke, abaikan kebiasaan saya membaca karakter seseorang dari nama dan wajah π¬.)
Meski menggendong bayi dan menuntun dua anak kami lainnya, akhirnya bertemu juga dengan dokter yang cantik dan berasa lihat Dr. Naina istrinya Veer Nanda, duh abaikan juga kalimat ini.
Setelah dipersilahkan duduk, dokter spesialis tulang mulai bertanya keluhan. Saya ceritakan dari mulai hamil anak ke dua hingga kondisi saat hamil anak ke tiga dan pasca melahirkan.
Sang dokter hanya manggut-manggut lalu berkata, "maaf ... bisa taruh kaki ibu di kursi sebelah? Saya mau lihat tumitnya," katanya dengan senyuman.
Saya nurut setelah si bayi diambil alih suster.
Sang dokter tersenyum dan meminta saya duduk seperti biasa lagi.
"Oke, fix ibu mengalami penipisan jaringan tumit. Atau istilah medisnya plantar fasciitis."
"Waah, padahal saya sempat googling juga lho, dok. Dan memang nemu tentang ini. Tapi kan saya bukan altet, bukan juga pengangkat beban, apalagi usia saya juga masih dibawah 30 tahun." Saya hampir tak percaya.
"Betul, penyakit ini umumnya dialami atlet dan orang usia lanjut. Kaget saya juga, ibu yang masih muda bisa kena. Tapi kondisi kasat mata tumit ibu jelas sudah menipus sebalh. Dan memang ... penyebabnya tidak selalu karena dua hal tadi." Dokter tersenyum.
"Ga harus operasi kan?" Spontan saja pertanyaan itu keluar. Jelas, itu paling ditakuti siapa saja bukan?
"Nah saya jelaskan ya. Jadi, selain dialami atlet dan manula, sakit tumit juga bisa karena sering memakai heels yang tidak nyaman, sandal atau sepatu keras dan tidak nyaman tapi dipaksakan. Banyak berjalan dengan alas kaki yang tidak sesuai dengan countour kaki. Banyak kan sekarang, asal keren ga peduli dia sakit kakinya tapi maksain dipake si sepatu atau sandal tersebut?" Dokter menatap saya dengan serius.
"Saya banget, dok. Zaman belum nikah kalau mumet suka jalan kaki ga jelas tujuan. Udah kaya ngukur jalan. Sering beli sepatu atau sandal dengan tujuan keren dan ga samaan ama orang lain. Padahal iya sandal atau sepatu itu ga nyaman pas dipakai." Saya hanya bisa menyesali masa lalu.
Dokter tersenyum, "Nah ... mulai hari ini, di rumah juga pakai sendal ya. Usahakan yang empuk pijakannya."
"Pengobatannya?"
"Bisa sih fisioterapi, tapi tidak terlalu berpengaruh. Makanya saya hanya akan menyarankan uang buat beli obat atau terapinya dibelikan sandal yang empuk saja ya." Tutup sang dokter.
Akhirnya saya pun mulai rajin membaca apa itu plantar fascitiis.
Berikut tulisan yang saya baca dari web ALODOKTER
Plantar fasciitis adalah penyakit yang terjadi pada jaringan yang menghubungkan tumit dengan jari kaki yang disebut plantar fascia. Jaringan ini berfungsi sebagai peredam getaran, penyangga telapak kaki, dan membantu seseorang untuk berjalan. Terlalu banyak tekanan pada kaki akan menimbulkan cedera atau robek pada jaringan tersebut. Cedera ini kemudian akan memicu peradangan dan nyeri pada tumit.
Gejala Plantar Fasciitis
Penderita plantar fasciitis umumnya merasakan nyeri tumit, namun ada juga yang merasakan sakit di bagian tengah kaki. Sakit yang dirasakan seperti rasa tertusuk atau rasa terbakar yang menjalar dari tumit.
Rasa sakit lebih sering muncul di pagi hari saat penderita melangkah setelah bangun tidur, saat berdiri dalam waktu yang lama, saat berjinjit, naik tangga, atau bangun dari duduk.
Penderita umumnya tidak merasa sakit saat beraktivitas, namun setelah aktivitas selesai, rasa sakit akan dirasakan dan kaki dapat menjadi bengkak.
Penyebab Plantar Fasciitis
Plantar fasciitis disebabkan oleh tekanan pada plantar fascia. Tekanan tersebut terjadi berulang sehingga menimbulkan cedera atau robekan kecil pada jaringan tersebut, dan menimbulkan nyeri serta pembengkakan.
Beberapa faktor yang bisa membuat plantar fascia menjadi cedera adalah:
● Plantar fasciitis umumnya menyerang individu berusia 40 hingga 60 tahun.
● Obesitas. Kegemukan bisa menyebabkan tekanan berlebihan pada plantar fascia.
● Olahraga yang banyak memberi tekanan berlebih pada tumit, seperti lari jarak jauh, aerobik, dan balet.
● Profesi tertentu. Guru, pekerja pabrik, atlit, tentara, dan profesi lain yang pekerjaannya mengharuskan mereka berdiri dalam waktu lama.
● Masalah pada kaki. Bentuk kaki yang terlalu rata atau terlalu melengkung, cara berjalan yang tidak normal, serta jaringan sendi pergelangan kaki (tendon Achilles) yang tegang.
● Penyakit lain. Infeksi bakteri pada organ lain (artritis reaktif) dan ankylosing spondylitis dapat memicu timbulnya plantar fasciitis.
● Jenis sepatu. Penggunaan sepatu dengan sol yang terlalu lunak dan tidak menopang telapak kaki dengan baik, juga bisa memicu terjadinya plantar fasciitis.
Diagnosis Plantar Fasciitis
Dokter akan menjalankan pemeriksaan fisik, terutama pada lokasi yang menimbulkan nyeri pada kaki. Pemeriksaan penunjang umumnya tidak selalu diperlukan, namun dokter dapat meminta pemeriksaan dengan Rontgen atau MRI untuk memastikan tidak ada patah tulang atau saraf terjepit.
Pengobatan Plantar Fasciitis
Banyak penderita plantar fasciitis sembuh dalam beberapa bulan dengan istirahat, peregangan, dan mengompres area yang sakit menggunakan es. Penderita juga bisa mengonsumsi obat pereda rasa sakit, seperti paracetamol atau ibuprofen, untuk meredakan nyeri dan pembengkakan akibat penyakit ini.
Dokter mungkin akan menyarankan penderita untuk menjalani fisioterapi guna meregangkan plantar fascia dan tendon Achilles, serta penguatan otot pergelangan kaki dan tumit. Penggunaan plester penyangga (plester atletik) juga bisa disarankan untuk menopang bagian telapak kaki. Dokter juga akan menyarankan penggunaan penyangga kaki (splint) pada malam hari untuk meregangkan otot betis dan telapak kaki saat penderita tidur, atau penggunaan sol sepatu khusus (orthotic) untuk membantu membagi beban secara merata pada kaki.
Jika sakit belum hilang setelah beberapa bulan, dokter dapat menyarankan prosedur penyuntikkan obat kortikosteroid atau platelet rich plasma (PRP) ke area yang nyeri. Kortikosteroid hanya berguna untuk mengurangi nyeri secara sementara dan tidak digunakan untuk jangka panjang. Sedangkan untuk penyuntikkan PRP, yaitu darah yang diambil dari tubuh penderita dan diproses untuk disuntikkan kembali ke daerah yang nyeri, masih membutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai manfaat dan risikonya.
Beberapa prosedur lainnya yang dapat dilakukan bila nyeri terus dialami oleh penderita adalah:
● Extracorporeal shock wave therapy. Prosedur ini mengarahkan gelombang suara pada area yang sakit untuk merangsang penyembuhan. Umumnya prosedur ini ditempuh jika plantar fascia tidak sembuh dengan obat-obatan dan fisioterapi. Efek samping yang mungkin muncul dari pengobatan ini adalah nyeri, bengkak, memar, dan mati rasa pada kaki.
● Pembedahan. Beberapa kasus membutuhkan bedah untuk melepaskan jaringan plantar fascia dari tulang kaki. Prosedur ini hanya dilakukan jika nyeri yang dirasa sudah sangat parah dan prosedur pengobatan lain tidak membuahkan hasil. Risiko efek samping dari pembedahan dapat berupa melemahnya otot telapak kaki.
Komplikasi Plantar Fasciitis
Agar tidak berkembang ke nyeri tumit kronis, segera kunjungi dokter jika Anda mengalami gejala plantar fasciitis. Nyeri tumit kronis bisa mengubah cara berjalan sehingga menyebabkan cedera pada punggung, pinggul, lutut dan kaki.
Komplikasi lain yang mungkin muncul akibat pengobatan plantar fascitis adalah:
• Penyuntikkan kortikosteroid bisa melemahkan atau memutuskan jaringan plantar fascia.
• Bedah bisa menimbulkan komplikasi infeksi dan perdarahan pada kaki, serta efek samping yang mungkin muncul dari obat bius yang diberikan.
Terakhir diperbarui: 10 Juli 2018
Ditinjau oleh: Dr. Tjin Willy
Link sumber: https://www.alodokter.com/plantar-fasciitis
Nah, setelah itu saya jadi memiliki kebiasaan unik. Setiap kali ke toko akan menekan-nekan permukaan sendal. Sampai ditatap dengan ekspresi aneh oleh SPGnya.
Jika empuk, saya akan membelinya.
Yang akhirnya entah berapa koleksi sandal empuk tersebut, hanya saja tidak ada yang benar-benar awet.
Penipisan jaringan tumit saya menyebabkan tulang tumit tak terlindungi, sehingga sandal sebelah kanan saya mudah cekung permukaannya dan tidak nyaman lagi.
Ini juga yang membuat dokter spesialis tulang dapat dengan mudah menemukan penyebab dari keluhan saya, karena tumit kanan saya lebih parah dan tampak tipis, kecil daripada tumit kiri saya. Dan rasa sakit ketika tidak memakai alas kaki juga lebih besar.
Lalu bagaimana sekarang? Ya, rasa sakitnya sudah tidak terasa lagi. Tapi tetap menjaga kenyaman kaki dengan selalu memakai alas kaki yang empuk dan sesuai dengan bentuk telapak kaki. Juga melakukan peregangan ketika bangun tidur. Tidak langsung turun ke lantai.
Ada trauma yang membekas jika ingat bagaimana rasa sakitnya. Karena jika tidak ditangani dengan baik, akan menjadikan jalan kita selalu jinjit atau tulang menonjol keluar.
Saya pernah melihat orang dengan kondisi seperti itu.
Saya pun rajin browsing mencari merk sandal dan sepatu yang benar-benar nyaman dan empuk. Akhirnya menemukan sandal dengan merk Fitflop.
Namun sayang, ketika mengecek harganya amazing sekali. Maka saya pun mencari produk KW. Apesnya meski empuk tetap saja terasa kasar dan bikin lecet. Terpaksa membeli HEEL PAD SILICON untuk membuatnya lebih nyaman. Harganya? Silahkan googling saja ya.
Tidak sampai disitu, heel pad yang hanya extension menjadikan benda itu kadang sulit saya temukan ketika dalam keadaan terburu-buru. Dan akhirnya nekat beli si fit**p original ketika ada diskon besar-besaran di sebuah marketplace.
Akhirnya, saya pun hanya punya 3 sandal dan 1 sepatu saja. Jadi ... istilah wanita senang mengoleksi alas kaki dan memakainya di acara yang berbeda, ga berlaku buat saya hihi.
Karena ke manapun, acara apapun akan memakai satu sendal saja. Yang satunya cadangan. Sedang sepatu hanya dipakai saat olahraga.
Nah, jadi ... intinya, jika merasa ada keluhan baiknya segera konsultasikan dengan ahlinya. Jangan demi menghemat atau karena takut divonis macam-macam, lalu menduga sendiri dan melakukan pengobatan tanpa diperjelas dahulu jenis penyakitnya apa.
Apalagi saat ini banyak sekali obat dan pengobatan mengatasnamakan herbal. Sah-sah saja, jika percaya. Hanya tetap saja bukan? Untuk memastikan jenis penyakit tentu dokter yang lebih kompeten menentukan setelah melalui serangkaian pemeriksaan.
Andai tidak pecaya dengan satu dokter, ragu ... jangan malas untuk mencari second opinion atau pendapat kedua, ketiga dan seterusnya untuk memastikan kondisi yang sesungguhnya, dan tindakan apa yang harus dilakukan.
'Ingat, sehat itu murah, sakit itu mahal.'
Saya setuju dengan kalimat diatas. Bahwa sehat itu murah selagi kita menjaga dan mensyukuri sehat itu. Dan sakit itu mahal, karena untuk kembali pada kondisi sehat ... tak jarang kita harus mengeluarkan biaya yang tak sedikit.
Jadi, mulai hari ini ... banyak mengamati diri, membaca dan jangan anti dengan dokter.
Jangan pakai istilah, "Saya mah ga mau apa-apa ke dokter."
Come on! Hanya untuk periksa kenapa tidak? Jika tidak yakin dengan pengobatannya kita kan berhak menolak, bahkan bisa tidak meminum obatnya.
Oke, ini hanya secuil kisah tentang penyakit mahal yang saya alami. Bukan bangga, tapi jangan sampai ada yang mengalaminya bahkan andai sudah tua sekalipun. Karena penyakit ini bisa dialami siapa saja tanpa disadari. Seperti sepele, padahal jika tidak ditangani berbahaya.
Menyebutnya penyakit mahal karena untuk membuatnya tidak kambuh, saya harus menggunakan sendal atau sepatu yang nyaman, yang tentu sebanding dengan harganya juga. Oke, tak usah dibahas. Takut dikira pamer. Netizen aka pembaca kan sering salfok π
Tapi, jika ada yang mengalami hal serupa dan bingung pakai alas kaki merk apa yang nyaman. Silahkan komen saja.
Tenang, tidak akan saya katakan, "bisa beli di saya."
No! Saya ga jualan sendal atau sepatu. Hanya menjadi PEMILIH untuk dua benda yang dipakai sebagai alas kaki ini.
Akhir kata ... terima kasih. Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan. Aamiin
*nulis ini karena sempat kumat hari kemarin π’π’
Namanya sedang hamil, pasti tersangkanya adalah bawaan hamil. Akhirnya disarankan ini itu oleh banyak orang.
Saya pun nurut aja.
Ada yang bilang banyakin minum kalsium, jadi selain vitamin dari dokter yang salah satunya ada kalsium, saya rutin mengonsumi vitamin tulang yang ada di iklan televisi.
(Uniknya saat hamil anak ke 4 dokter melarang saya minum itu karena dosis yang terlalu tinggi)
Bahkan ada yang menganjurkan rutin minum minuman yang mengandung ion tinggi. Saya juga turuti.
Sialnya, masih juga sakit setiap kali bangun tidur, apalagi jalan di rumah. Seperti ada duri yang menancap tiba-tiba di telapak kaki. Sakit, tapi hanya bisa sabar karena ... itu dia, menganggap bawaan hamil saja.
Rasa sakit baru sedikit hilang ketika memakai sendal jepit yang kebetulan dari karet dan empuk.
Apesnya, mengingat saran orang tua zaman old dan juga tetangga kiri kanan, bahwa kalau hamil harus banyak jalan dengan TELANJANG KAKI. Saya manut juga.
Alhasil makin sakit dan lemas tak terkira.
Dokter kandungan juga sama, mengira efek kehamilan saja. Jadi dokter bilang, "bergerak sesuai kebutuhan ya, Bu. Jangan pakai istilah harus sering gerak, harus banyak jalan. Ga harus gitu. Lakukan semua kegiatan asal nyaman, seperlunya, karena melahirkan normal butuh tenaga besar. Jangan sampai ibu banyak gerak, malah ga ada tenaga saat harus mengejan."
Setelah hari itu saya kurangi jalan kaki tanpa alas kaki, lagipula karena sering mengeluh sakit tiba-tiba seperti tertancap duri ... suami juga menganjurkan tetap pakai sandal. Dan semakin besar kehamilan semakin sakit. Seiring tekanan pada kaki akibat perut yang dan berat badan yang semakin meningkat.
Singkat cerita, paska melahirkan rasa sakit itu hilang. Jelas, makin menyangka karena efek bawaan hamil.
Lalu hamil anak ke 3, kondisinya berulang. Bahkan lebih parah dari sebelumnya, sampai ketika menginjak ubin pertama kali saat bangun pagi, itu sakit sekali. Ga bisa jalan.
Suami awalnya hanya bilang, "sabar, mam. Mungkin bawaan hamil kaya anak ke dua."
Saya pun sabar hingga melahiran. Bahkan ga pernah jalan-jalan apalagi ga pake sandal. Hanya kegiatan rutin belanja sayuran, jalan kaki. Karena memang rasa sakit itu berkurang ketika saya memakai sendal.
Namun setelah melahirkan, rasa sakit itu masih bertahan dan semakin parah. Bahkan saya menangis saat menginjak lantai, ketika baru bangun tidur.
Suami panik dan akhirnya memanggil tukang urut. Karena mengira keseleo dan sejenisnya.
Tukang urut pertama, menyangka kolesterol. Hanya dipijiat dan dipantang makan ini itu.
Hasilnya? Semakin sakit.
Tukang urut ke 2, mengira asam urat. Sampai-sampai ditekan-tekan dan di suruh bentur-benturkan tumit ke lantai.
(Belakangan baru sadar ini malah memperparah keadaan).
Tukang urut ke 3, mengira pengapuran tulang. Memberi obat konon herbal, tapi malah membuat mata saya bengkak.
Akhirnya saya lelah dan meminta suami meluangkan waktu ke dokter spesialis tulang. Karena alasan kami memilih tukang urut adalah selain bisa dipanggil ke rumah juga karena suami sibuk kerja. Sedangkan dokter spesialis tulang hampir kesemuanya praktek pagi.
Akhirnya datanglah kami ke rumah sakit yang saya pilih paska googling terlebih dahulu. Mengandalkan insting membaca nama sang dokter sepertinya dokter ini mumpuni.
(Oke, abaikan kebiasaan saya membaca karakter seseorang dari nama dan wajah π¬.)
Meski menggendong bayi dan menuntun dua anak kami lainnya, akhirnya bertemu juga dengan dokter yang cantik dan berasa lihat Dr. Naina istrinya Veer Nanda, duh abaikan juga kalimat ini.
Setelah dipersilahkan duduk, dokter spesialis tulang mulai bertanya keluhan. Saya ceritakan dari mulai hamil anak ke dua hingga kondisi saat hamil anak ke tiga dan pasca melahirkan.
Sang dokter hanya manggut-manggut lalu berkata, "maaf ... bisa taruh kaki ibu di kursi sebelah? Saya mau lihat tumitnya," katanya dengan senyuman.
Saya nurut setelah si bayi diambil alih suster.
Sang dokter tersenyum dan meminta saya duduk seperti biasa lagi.
"Oke, fix ibu mengalami penipisan jaringan tumit. Atau istilah medisnya plantar fasciitis."
"Waah, padahal saya sempat googling juga lho, dok. Dan memang nemu tentang ini. Tapi kan saya bukan altet, bukan juga pengangkat beban, apalagi usia saya juga masih dibawah 30 tahun." Saya hampir tak percaya.
"Betul, penyakit ini umumnya dialami atlet dan orang usia lanjut. Kaget saya juga, ibu yang masih muda bisa kena. Tapi kondisi kasat mata tumit ibu jelas sudah menipus sebalh. Dan memang ... penyebabnya tidak selalu karena dua hal tadi." Dokter tersenyum.
"Ga harus operasi kan?" Spontan saja pertanyaan itu keluar. Jelas, itu paling ditakuti siapa saja bukan?
"Nah saya jelaskan ya. Jadi, selain dialami atlet dan manula, sakit tumit juga bisa karena sering memakai heels yang tidak nyaman, sandal atau sepatu keras dan tidak nyaman tapi dipaksakan. Banyak berjalan dengan alas kaki yang tidak sesuai dengan countour kaki. Banyak kan sekarang, asal keren ga peduli dia sakit kakinya tapi maksain dipake si sepatu atau sandal tersebut?" Dokter menatap saya dengan serius.
"Saya banget, dok. Zaman belum nikah kalau mumet suka jalan kaki ga jelas tujuan. Udah kaya ngukur jalan. Sering beli sepatu atau sandal dengan tujuan keren dan ga samaan ama orang lain. Padahal iya sandal atau sepatu itu ga nyaman pas dipakai." Saya hanya bisa menyesali masa lalu.
Dokter tersenyum, "Nah ... mulai hari ini, di rumah juga pakai sendal ya. Usahakan yang empuk pijakannya."
"Pengobatannya?"
"Bisa sih fisioterapi, tapi tidak terlalu berpengaruh. Makanya saya hanya akan menyarankan uang buat beli obat atau terapinya dibelikan sandal yang empuk saja ya." Tutup sang dokter.
Akhirnya saya pun mulai rajin membaca apa itu plantar fascitiis.
Berikut tulisan yang saya baca dari web ALODOKTER
Plantar fasciitis adalah penyakit yang terjadi pada jaringan yang menghubungkan tumit dengan jari kaki yang disebut plantar fascia. Jaringan ini berfungsi sebagai peredam getaran, penyangga telapak kaki, dan membantu seseorang untuk berjalan. Terlalu banyak tekanan pada kaki akan menimbulkan cedera atau robek pada jaringan tersebut. Cedera ini kemudian akan memicu peradangan dan nyeri pada tumit.
Gejala Plantar Fasciitis
Penderita plantar fasciitis umumnya merasakan nyeri tumit, namun ada juga yang merasakan sakit di bagian tengah kaki. Sakit yang dirasakan seperti rasa tertusuk atau rasa terbakar yang menjalar dari tumit.
Rasa sakit lebih sering muncul di pagi hari saat penderita melangkah setelah bangun tidur, saat berdiri dalam waktu yang lama, saat berjinjit, naik tangga, atau bangun dari duduk.
Penderita umumnya tidak merasa sakit saat beraktivitas, namun setelah aktivitas selesai, rasa sakit akan dirasakan dan kaki dapat menjadi bengkak.
Penyebab Plantar Fasciitis
Plantar fasciitis disebabkan oleh tekanan pada plantar fascia. Tekanan tersebut terjadi berulang sehingga menimbulkan cedera atau robekan kecil pada jaringan tersebut, dan menimbulkan nyeri serta pembengkakan.
Beberapa faktor yang bisa membuat plantar fascia menjadi cedera adalah:
● Plantar fasciitis umumnya menyerang individu berusia 40 hingga 60 tahun.
● Obesitas. Kegemukan bisa menyebabkan tekanan berlebihan pada plantar fascia.
● Olahraga yang banyak memberi tekanan berlebih pada tumit, seperti lari jarak jauh, aerobik, dan balet.
● Profesi tertentu. Guru, pekerja pabrik, atlit, tentara, dan profesi lain yang pekerjaannya mengharuskan mereka berdiri dalam waktu lama.
● Masalah pada kaki. Bentuk kaki yang terlalu rata atau terlalu melengkung, cara berjalan yang tidak normal, serta jaringan sendi pergelangan kaki (tendon Achilles) yang tegang.
● Penyakit lain. Infeksi bakteri pada organ lain (artritis reaktif) dan ankylosing spondylitis dapat memicu timbulnya plantar fasciitis.
● Jenis sepatu. Penggunaan sepatu dengan sol yang terlalu lunak dan tidak menopang telapak kaki dengan baik, juga bisa memicu terjadinya plantar fasciitis.
Diagnosis Plantar Fasciitis
Dokter akan menjalankan pemeriksaan fisik, terutama pada lokasi yang menimbulkan nyeri pada kaki. Pemeriksaan penunjang umumnya tidak selalu diperlukan, namun dokter dapat meminta pemeriksaan dengan Rontgen atau MRI untuk memastikan tidak ada patah tulang atau saraf terjepit.
Pengobatan Plantar Fasciitis
Banyak penderita plantar fasciitis sembuh dalam beberapa bulan dengan istirahat, peregangan, dan mengompres area yang sakit menggunakan es. Penderita juga bisa mengonsumsi obat pereda rasa sakit, seperti paracetamol atau ibuprofen, untuk meredakan nyeri dan pembengkakan akibat penyakit ini.
Dokter mungkin akan menyarankan penderita untuk menjalani fisioterapi guna meregangkan plantar fascia dan tendon Achilles, serta penguatan otot pergelangan kaki dan tumit. Penggunaan plester penyangga (plester atletik) juga bisa disarankan untuk menopang bagian telapak kaki. Dokter juga akan menyarankan penggunaan penyangga kaki (splint) pada malam hari untuk meregangkan otot betis dan telapak kaki saat penderita tidur, atau penggunaan sol sepatu khusus (orthotic) untuk membantu membagi beban secara merata pada kaki.
Jika sakit belum hilang setelah beberapa bulan, dokter dapat menyarankan prosedur penyuntikkan obat kortikosteroid atau platelet rich plasma (PRP) ke area yang nyeri. Kortikosteroid hanya berguna untuk mengurangi nyeri secara sementara dan tidak digunakan untuk jangka panjang. Sedangkan untuk penyuntikkan PRP, yaitu darah yang diambil dari tubuh penderita dan diproses untuk disuntikkan kembali ke daerah yang nyeri, masih membutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai manfaat dan risikonya.
Beberapa prosedur lainnya yang dapat dilakukan bila nyeri terus dialami oleh penderita adalah:
● Extracorporeal shock wave therapy. Prosedur ini mengarahkan gelombang suara pada area yang sakit untuk merangsang penyembuhan. Umumnya prosedur ini ditempuh jika plantar fascia tidak sembuh dengan obat-obatan dan fisioterapi. Efek samping yang mungkin muncul dari pengobatan ini adalah nyeri, bengkak, memar, dan mati rasa pada kaki.
● Pembedahan. Beberapa kasus membutuhkan bedah untuk melepaskan jaringan plantar fascia dari tulang kaki. Prosedur ini hanya dilakukan jika nyeri yang dirasa sudah sangat parah dan prosedur pengobatan lain tidak membuahkan hasil. Risiko efek samping dari pembedahan dapat berupa melemahnya otot telapak kaki.
Komplikasi Plantar Fasciitis
Agar tidak berkembang ke nyeri tumit kronis, segera kunjungi dokter jika Anda mengalami gejala plantar fasciitis. Nyeri tumit kronis bisa mengubah cara berjalan sehingga menyebabkan cedera pada punggung, pinggul, lutut dan kaki.
Komplikasi lain yang mungkin muncul akibat pengobatan plantar fascitis adalah:
• Penyuntikkan kortikosteroid bisa melemahkan atau memutuskan jaringan plantar fascia.
• Bedah bisa menimbulkan komplikasi infeksi dan perdarahan pada kaki, serta efek samping yang mungkin muncul dari obat bius yang diberikan.
Terakhir diperbarui: 10 Juli 2018
Ditinjau oleh: Dr. Tjin Willy
Link sumber: https://www.alodokter.com/plantar-fasciitis
Nah, setelah itu saya jadi memiliki kebiasaan unik. Setiap kali ke toko akan menekan-nekan permukaan sendal. Sampai ditatap dengan ekspresi aneh oleh SPGnya.
Jika empuk, saya akan membelinya.
Yang akhirnya entah berapa koleksi sandal empuk tersebut, hanya saja tidak ada yang benar-benar awet.
Penipisan jaringan tumit saya menyebabkan tulang tumit tak terlindungi, sehingga sandal sebelah kanan saya mudah cekung permukaannya dan tidak nyaman lagi.
Ini juga yang membuat dokter spesialis tulang dapat dengan mudah menemukan penyebab dari keluhan saya, karena tumit kanan saya lebih parah dan tampak tipis, kecil daripada tumit kiri saya. Dan rasa sakit ketika tidak memakai alas kaki juga lebih besar.
Lalu bagaimana sekarang? Ya, rasa sakitnya sudah tidak terasa lagi. Tapi tetap menjaga kenyaman kaki dengan selalu memakai alas kaki yang empuk dan sesuai dengan bentuk telapak kaki. Juga melakukan peregangan ketika bangun tidur. Tidak langsung turun ke lantai.
Ada trauma yang membekas jika ingat bagaimana rasa sakitnya. Karena jika tidak ditangani dengan baik, akan menjadikan jalan kita selalu jinjit atau tulang menonjol keluar.
Saya pernah melihat orang dengan kondisi seperti itu.
Saya pun rajin browsing mencari merk sandal dan sepatu yang benar-benar nyaman dan empuk. Akhirnya menemukan sandal dengan merk Fitflop.
Namun sayang, ketika mengecek harganya amazing sekali. Maka saya pun mencari produk KW. Apesnya meski empuk tetap saja terasa kasar dan bikin lecet. Terpaksa membeli HEEL PAD SILICON untuk membuatnya lebih nyaman. Harganya? Silahkan googling saja ya.
Tidak sampai disitu, heel pad yang hanya extension menjadikan benda itu kadang sulit saya temukan ketika dalam keadaan terburu-buru. Dan akhirnya nekat beli si fit**p original ketika ada diskon besar-besaran di sebuah marketplace.
Akhirnya, saya pun hanya punya 3 sandal dan 1 sepatu saja. Jadi ... istilah wanita senang mengoleksi alas kaki dan memakainya di acara yang berbeda, ga berlaku buat saya hihi.
Karena ke manapun, acara apapun akan memakai satu sendal saja. Yang satunya cadangan. Sedang sepatu hanya dipakai saat olahraga.
Nah, jadi ... intinya, jika merasa ada keluhan baiknya segera konsultasikan dengan ahlinya. Jangan demi menghemat atau karena takut divonis macam-macam, lalu menduga sendiri dan melakukan pengobatan tanpa diperjelas dahulu jenis penyakitnya apa.
Apalagi saat ini banyak sekali obat dan pengobatan mengatasnamakan herbal. Sah-sah saja, jika percaya. Hanya tetap saja bukan? Untuk memastikan jenis penyakit tentu dokter yang lebih kompeten menentukan setelah melalui serangkaian pemeriksaan.
Andai tidak pecaya dengan satu dokter, ragu ... jangan malas untuk mencari second opinion atau pendapat kedua, ketiga dan seterusnya untuk memastikan kondisi yang sesungguhnya, dan tindakan apa yang harus dilakukan.
'Ingat, sehat itu murah, sakit itu mahal.'
Saya setuju dengan kalimat diatas. Bahwa sehat itu murah selagi kita menjaga dan mensyukuri sehat itu. Dan sakit itu mahal, karena untuk kembali pada kondisi sehat ... tak jarang kita harus mengeluarkan biaya yang tak sedikit.
Jadi, mulai hari ini ... banyak mengamati diri, membaca dan jangan anti dengan dokter.
Jangan pakai istilah, "Saya mah ga mau apa-apa ke dokter."
Come on! Hanya untuk periksa kenapa tidak? Jika tidak yakin dengan pengobatannya kita kan berhak menolak, bahkan bisa tidak meminum obatnya.
Oke, ini hanya secuil kisah tentang penyakit mahal yang saya alami. Bukan bangga, tapi jangan sampai ada yang mengalaminya bahkan andai sudah tua sekalipun. Karena penyakit ini bisa dialami siapa saja tanpa disadari. Seperti sepele, padahal jika tidak ditangani berbahaya.
Menyebutnya penyakit mahal karena untuk membuatnya tidak kambuh, saya harus menggunakan sendal atau sepatu yang nyaman, yang tentu sebanding dengan harganya juga. Oke, tak usah dibahas. Takut dikira pamer. Netizen aka pembaca kan sering salfok π
Tapi, jika ada yang mengalami hal serupa dan bingung pakai alas kaki merk apa yang nyaman. Silahkan komen saja.
Tenang, tidak akan saya katakan, "bisa beli di saya."
No! Saya ga jualan sendal atau sepatu. Hanya menjadi PEMILIH untuk dua benda yang dipakai sebagai alas kaki ini.
Akhir kata ... terima kasih. Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan. Aamiin
*nulis ini karena sempat kumat hari kemarin π’π’
edit 2022:
saya memakai sendal fitflop dan sepatu skechers untuk perjalanan keluar rumah dan terasa nyaman.
Saya juga mengalami ini kak baru kmrn konsultasi sama dokter, ini terjadi setelah ak hamil anak kedua, saran dong kak sandal dan sepatu merk apa yg empuk dan nyaman di pakai, thanks ya salam kenalπ
ReplyDeleteSaya juga penderita PF. Saya beli sepatu dan sandal merk Skechers. Empuk dan kuat. Harganya buat saya lumayan mahal sih... 700 ribu ke atas (makanya sering beli klo ada diskon). Ada di planet sport, sport stasion, ada juga khusus toko skechers. Di Bdg di Paskal 23.
DeleteSemangat sembuh buat penderita PF
Alhamdulillah setelah sekian lama googling nemu artikel ini. Saya baru merasakannya 3 bulan dan tak ada perubahan. Ingin ke dokter bingung menjelaskan apa. Terima kasih sharingny mbak. Mohon info merk dan jenis sepatu yg cocok. Thank a lot
ReplyDeleteSy jg penderita PF, sdh lama skl, prnh sembuh total, awalnya diterapi
ReplyDeletedi RS hbs sekian paket terapi g sembuh2, tryt sembuh nya cm dgn terapi di rmh, peregangan spt cara2 di google, kmdn kompres panas dan dingin bergantian, pakai sandal empuk kemana2, sy pakai skechers memory foam. Di store sekitar 600 rb an. Tp di onlen bnyk kok cm separuh hrg hehe, aslii lg, krn sdh beli 6 x jd taulah yg asli d tdk. Tp khusus sepatu cocok yg adidas, ori ya, ultraboost, lmyn mehong hihi, 2,5 jt. Tp tenang itu awet sampai 5 th dipake lari gpp. Sayang nya skr kumat lg gegara keenakan trus pakai sandl flat sembarangan yg g nyaman dan jg krn kegemukan hihi. O oo... Skr balik skecher lg dan terapi lg. Semangatt ya, jgn tiru sy ya, pakailah alas kaki yg nyaman biarpun sdh sembuh