DIL SE MERE... ending
Arjun datang ke rumah Gayatri dan terlihat wanita itu tengah di balkon
termenung.
“ Kupikir kau tak mau melihatku lagi..” ujar Arjun terlihat gugup
hendak menyentuh pundak wanita idamannya.
“ Itu benar..” jawab Gayatri dingin. Arjun menarik nafas dan berdiri
di samping Gayatri lalu menatapnya dengan amat dalam.
“ Tapi...aku hamil..” ujar Gayatri mengejutkan Arjun. Dia semakin
menatap wajah Gayatri yang tertunduk lesu. Tangannya terlihat gemetar hendak
menyentuh tangan Gayatri, tapi tak berani.
“ Lalu?” Arjun terdengar gugup.
“ Menurutmu? Apa harus kugugurkan atau.....”
“ Tidak.. dia tak berdosa... “ ujar Arjun menarik pundak Gayatri yang
kali ini tak terlihat seperti atasannya. Gayatri memandang Arjun yang juga
tengah menatapnya.
“ Kita harus menikah...?” ujar Gayatri pelan. Arjun tersenyum senang
bukan main. Tapi sesaat dia bersedih lagi. dia merasa tak percaya diri, dia
adalah anak buah Gayatri di kantor. Apa kata orang? Apa tidak akan
mempermalukan Gayatri? Arjun sangat bahagia tapi dia dilema dengan kekasih dan
orang tuanya.
Arjun akhirnya menceritakan masalahnya pada orang tuanya. Jelas mereka
kaget bukan main. Mereka tak menyangka anaknya yang terkenal lugu dan baik bisa
melakukan itu dengan bossnya sendiri. Orang tuanya merasa kasian pada Kavita.
Tapi Arjun memaksa mengatakan mencintai Gayatri dan akan tetap menikahinya.
Sedang orangtuanya menganggap Arjun hanya diperalat Gayatri dan mungkin saja
anak itu bukan anak Arjun. Mereka tak bisa menerima Gayatri dan merasa anaknya
terlalu polos untuk menikahi janda seperti Gayatri.
Kavita menangis ketika tahu semua ini. Arjun hanya bisa meminta maaf
dan tak bisa berbuat banyak. Gayatri sendiri masih belum berani menemui orang
tua Arjun. Mereka tetap tak mendapat restu pada akhirnya. Tapi Arjun nekat
tetap menikahi Gayatri yang usianya jauh lebih tua darinya.
*****
Rekan-rekan kantornya terkejut bukan main dengan pernikahan Gayatri
dan Arjun. Mereka tak pernah tahu pasangan ini menjalin kasih. Begitu juga
pimpinan dan teman-teman Gayatri terus menggodanya karena memang mereka tak
menyangka.
“ Jadi.. kau temukan kepuasan itu pada diri Arjun?” canda temannya.
“ Shut up! “ gayatri tertawa di ruang meeting. Semua terus menggodanya
yang akan menikah dengan pria muda atau brownies. Arjun sendiri menjadi buah
bibir karena berhasil menaklukan seorang Gayatri, padahal itu pun sebenarnya
tanpa disengaja. Arjun menjadi amat bersemangat, meski dia sedih orang tuanya
tetap tak memberikan restu padanya.
Tiba di hari pernikahan, acara dibuat dengan sederhana. Hanya
teman-teman dekat yang hadir dan tak ada pesta meriah, mengingat Gayatri pun
seorang janda. Acara berjalan baik dan khidmat, Arjun memakaikan mangal sutra
dan memasang kembali sindoor yang pernah terhapus di kening sang editor ini.
Gayatri tersenyum bahagia diiringi taburan bunga dari teman-temannya. Mereka
hanya menikah di kuil lalu mendaptarkannya ke kantor catatan sipil, dan selesai
menikah, mereka langsung tinggal di rumah Gayatri.
“ Apa sebaiknya kita menemui orang tuaku?” tanya Arjun ketika di
perjalanan.
“ Apa mereka akan menerimaku atau menghinaku?” tanya Gayatri seperti
tak berani menemui mereka. Arjun diam saja dan membawa Gayatri ke rumah orang
tuanya. Sayang, mereka tetap tak bisa menerima Gayatri.
“ Pergilah .. anggap kami bukan orang tuamu lagi.” Kata Ayah Arjun.
“ Setidaknya berikan restu pada pernikahan kami ayah.. pernikahan ini
suci.. juga cucumu..” Arjun terus memohon sedang Gayatri diam saja.
“ Semoga saja itu memang cucu kami. Kalian akan menanggung sendiri
semua ini, sebuah kesalahan besar yang telah kalian lakukan.” Ujar Ayahnya
tegas. Gayatri sempat tersentak
mendengar kata-kata ayah Arjun. Tapi dia berusaha menahan diri untuk
bicara.
“ Orang tua macam apa kau mendoakan keburukan untuk anaknya?
Bagaimanapun aku adalah anakmu, dan dia menantumu, serta janin itu adalah
cucumu..” arjun emosi. Gayatri menariknya dan mengajaknya pergi, dia yang
dewasa sadar tidak baik memaksa ayahnya dalam kondisi emosi. Ibunya hanya
menangis melihat Arjun akhirnya meninggalkan rumah demi istrinya. Sebenarnya
ibunya ingin memberikan restu, tapi suaminya teramat keras.
Arjun menyiapkan makan malam karena Gayatri memang tak pandai memasak.
“ Aku hanya bisa masak ini..” kata Arjun. Gayatri mencicipinya dan
terlihat mengangguk tanda lumayan enak. Mereka makan malam bersama dan saling
bercerita satu sama lain. Menjelang jam sembilan mereka mulai masuk ke kamar
tidur. Arjun mengganti pakaian dengan kaos singlet saja dan celana tidur, lalu
mengecup Gayatri yang tengah menyisir rambutnya.
“ Selamat malam...” kata Arjun. Gayatri terdiam dan memandang Arjun.
“ Malam ini akan dilewati dengan tidur saja?” Gayatri terlihat kesal.
Arjun menoleh dan tersenyum.
“ Memangnya.... kau kan sedang hamil sayang..” ujar Arjun terlihat
kaku memanggil sayang untuk pertama kali.
“ Jika kondisiku baik-baik saja memangnya kenapa?” Gayatri terlihat
kesal sambil menaruh sisir sedikit dilempar. Arjun tersenyum dan mendekati
istrinya. Lalu memeluknya dan menciumnya mesra di pipi. Gayatri terlihat tidak
suka terlebih phonsel Arjun berdering terus. Arjun menghampiri phonselnya di meja
hias dan melihat nama Kavita muncul. Dia menarik nafas dan akhirnya
menerimanya.
“ Aku sudah menikah...” ujar Arjun pada Kavita yang hanya menangis,
lalu menutup teleponnya. Gayatri berjalan dan memeluk Arjun dari belakang
sambil mengelus perut dan dada Arjun dengan sentuhan lembut, lalu meraih
phonselnya dan melemparkannya ke sofa.
$#)$*#$%#$_(%#)%$)*%$#....
*****
Besoknya mereka sudah langsung masuk kerja. Gayatri terlihat tetap
enerjik seperti biasa, dan Arjun jadi lebih segar dan ceria. Semua hasil
jepretannya sempurna. Mereka jarang bertemu di kantor, karena Arjun lebih
sering bertugas di lapangan. Tapi mereka akan pulang bersama, atau bahkan
Gayatri lebih dulu.
Gayatri yang memang sangat profesional tetap bekerja dan meliput
sebuah berita penting langsung di gedung parlemen. Dia kembali bertemu Dev yang
juga bertugas disana.
“ Gayatri...” Dev meraih tangan Gayatri. Dia diam saja memandang Dev
yang terus juga terus memandangnya.
“ Kau tak melihat sesuatu di diriku Dev?” tanya Gayatri. Dev baru
sadar Gayatri telah memakai mangalsutra dan sindoor di kepalanya.
“ Kau.....” Dev terlihat sedih dan penuh penyesalan.
“ Aku tidak bisa melupakanmu... bahkan aku akan berubah demi dirimu..”
Dev terlihat prustasi dan menahan airmata.
“ Sudahlah dev.. kau bahagia dengan pilihanmu, begitu juga aku... ”
Gayatri langsung meninggalkan Dev yang terus bersedih menyesali semuanya.
Terlebih melihat Arjun yang datang menjemput Gayatri di lapangan, dan mereka
terlihat bahagia dengan senyum mengembang di bibir mereka, ketika meninggalkan
tempat itu dengan motornya.
Masa-masa pernikahan mereka berjalan menyenangkan selama lima bulan ke
depan. Namun sayang, suatu hal yang tak diinginkan terjadi. Mumbai masala
mengalami masalah dan tuntutan hukum dari seorang pejabat yang merasa keberatan
dengan pemberitaannya. Alhasil perusahaan media ini pun ditutup sementara.
Gayatri yang tengah hamil tujuh bulan pun harus menganggur dan beristirahat di
rumah. Sedang Arjun yang hanya seorang fotografer kesulitan mendapatkan
pekerjaan baru.
Saat ini mereka masih beruntung tinggal di rumah Gayatri yang nyaman,
namun tanpa penghasilan lebih, Gayatri terpaksa merumahkan pelayan dan
sopirnya. Mobilnya pun terancam dia jual untuk kebutuhan sehari-hari.
“ Jangan, biarkan saja mobil itu di garasi. Aku akan mencoba mencari
pekerjaan. Sementara... makan yang ada dulu saja ya.. “ ujar Arjun mencoba
bertanggung jawab. Gayatri mengangguk, meski hatinya benar-benar bingung dan
ketar ketir dengan keadaan hidupnya.
Dan ya, Arjun kembali sore dengan hasil nihil, dia belum memperoleh
pekerjaan. Gayatri pun nekat memasang iklan menjual mobilnya di internet. Arjun
yang melihat itu merasa tak berguna. Dia keluar rumah paginya dan kembali
mencari pekerjaan. Akhirnya dia memutuskan menjadi tukang foto bayaran di taman
hiburan. Sulit, karena sekarang semua orang sudah memiliki HP dan kamera
canggih. Tapi Arjun tak menyerah, dia berusaha mendapatkan uang dari apa yang
dia bisa.
Dia kembali dengan membawa makanan kesukaan Gayatri dengan wajah
berbinar meski terlihat lelah.
“ Salad? Darimana kau punya uang?” tanya Gayatri heran.
“ Sudahlah.. aku dapat pekerjaan, hasilnya memang lumayan.
Makanlah...demi anak kita..” Arjun memeluk istrinya dari belakang.
“ Tapi Arjun...” Gayatri menoleh dan Arjun malah masuk ke kamar mandi.
Dia guyur kepalanya dan terus berfikir bagaimana caranya agar bisa memenuhi
kebutuhan istrinya. Selama ini, gaji Gayatri lah yang menghidupi mereka.
Arjun berangkat pagi, dan kembali malam demi mendapatkan uang.
Terkadang dia tak mendapatkan sepeserpun. Tapi tetap tersenyum di depan
istrinya. Gayatri menyadari Arjun kesulitan dan terlihat kurus daripada dulu.
“ Kenapa kau masih bertahan denganku?” tanya Gayatri ketika mereka
berada di tempat tidur.
“ Maksudmu? Aku suamimu... tentu akan selalu bersamamu..” jawab Arjun.
“ Sebesar itukah cintamu padaku?” tanya Gayatri seolah ragu. Arjun
memandang Gayatri dan mencoba menyelami apa yang istrinya pikirkan.
“ Aku sekarang tak memiliki apapun Arjun, pada saatnya nanti.. aku pun
akan semakin gemuk dan menua.. apakah kau masih akan mencintaiku?” Gayatri
membolak balik bukunya tanpa membacanya.
“ Kenapa berfikir begitu? Kau pikir aku pria apa? Aku benar-benar
mencintaimu dan bahagia bersamamu...” Arjun meraih pundak Gayatri dan
menidurkannya di pangkuannya. Dia elus lembut rambut dan perutnya bergantian,
menunjukkan betapa dia menyayangi istrinya.
“ Meski aku tak menarik lagi nanti? Bahkan mungkin tak bisa memenuhi
kebutuhanmu lagi?” tanya Gayatri lagi.
“ Kenapa terus membahas hal itu?” Arjun terlihat tidak senang dengan
topik malam ini.
“ Ini pasti terjadi , kita manusia hidup..”
“ Kalau begitu.. aku akan meminta pada Tuhan agar dia memanggilku
lebih dulu.. sebelum kau menjadi apa yang kau takutkan... sebelum kau menu ,
sebelum kau merasa tak cantik lagi, intinya sebelum semua yang kau takutkan
terjadi..” ujar Arjun dengan manis. Gayatri tersenyum memandang wajah Arjun
yang juga tengah menatap dirinya. Dia membenamkan wajahnya di perut Arjun dan
menciumnya.
Arjun mengelus perut istrinya dan menciumnya. Arjun tertidur pulas
karena lelah bekerja.
Gayatri menatap Arjun yang terlihat lelah dan sedikit kurus. Dia
mengelus rambut Arjun, dan ada rasa menyesal telah menyeret Arjun ke dalam
hidupnya. Apalagi orang tua Arjun tak menerimanya, sedang dia baru lulus kuliah
dan baru saja bekerja.
Gayatri menatap langit dari balkon, hatinya berkecamuk. Haruskah dia
tinggalkan Arjun? Atau haruskan dia bertahan dengan Arjun dengan keadaan yang
seperti ini. Dia sendiri tak tahu harus kemana jika nanti berpisah dengan
Arjun, tapi setidaknya dia ingin Arjun bahagia.
Pagi menjelang, Gayatri tertidur di kursi balkon. Arjun terkejut
mendapati istrinya yang tengah hamil tua tidur di balkon. Dia memakaikan
selimut dan menatapnya dalam.
“ Apa hidupmu seperti ini karena aku? Tidak... aku akan kembalikan
kebahagiaanmu... aku akan selalu ada untukmu.. dan anak kita..” bisik Arjun
mengelus kening dan pipi istrinya yang masih terlelap di balkon.
Dia langsung mandi dan menyiapkan sarapan. Meski hanya roti isi telur,
tapi itu sudah lebih baik daripada tidak makan sama sekali. Dia selalu berusaha
menyediakan makanan sehat untuk istri dan janinnya. Dia bahkan kadang rela
lapar di siang hari agar bisa membawa pulang uang ke rumah.
Gayatri terbangun dan langsung menuju dapur. Arjun tengah sibuk
menyiapkan makan di meja dan tersenyum ketika istrinya datang.
“ Harusnya aku yang menyiapkan ini...” Gayatri tersenyum memandang
Arjun.
“ Hmm.. aku senang menyiapkan ini buat istri dan anakku.. feel like
superhero.. superdad..” katanya sambil mengecup kening gayatri dengan tangan
penuh piring dan gelas. Gayatri tersenyum dan duduk lalu membagi roti dan
telur, menuangkan air di gelas dan mereka sarapan dengan penuh keceriaan.
“ Aku merasa hari ini kau lebih ceria..” ujar Arjun menatap Gayatri.
“ ya, aku pikir aku harus kembali seperti dulu. Optimis, dan
dinamis..” Gayatri tersenyum menatap Arjun. Mungkin Arjun tak menyadari sorot
mata Gayatri penuh kebimbangan meski wajahnya terasa ceria. Dan tepat jamu
tujuh, Arjun berangkat bekerja dengan motornya.
Gayatri bersiap pergi. Dia berdandan rapi dan berniat menemui orang
tua Arjun. Dia ingin Arjun kembali pada orang tuanya.
Tiba di rumah Arjun ayahnya tetap bersikeras menolaknya, meski sang
ibu berusaha memintanya agar setidaknya biarkan Gayatri masuk.
“ Tidak apa bu.. aku kemari hanya ingin mengembalikan Arjun.
Maksudku... aku memang tidak pantas untuknya. Tapi aku tidak tahu cara untuk
melepaskannya.” Ujar Gayatri duduk di kursi luar.
“ Nak... “ ibu Arjun terlihat sedih.
“ Kami sudah tak peduli dengan anak bodoh itu. Sebaiknya kau pergi
darisini. Meski kau hamil besar, aku tetap tak peduli. Kalian sudah
menghancurkan harapanku. Kau tau? Aku ingin anakku jadi fotografer hebat, yang
bisa mengangkat derajat kami. Dan bisa berbangga hati dengan profesinya.
Sekarang?” ayah Arjun terlihat emosi. Istrinya terus menenangkannya agar tak
menyakiti Gayatri yang hamil tua.
“ Aku tahu.. “ jawab Gayatri tegas. “ Untuk itu aku kemari. Aku akan
menyakitinya, agar dia kembali pada kalian.” Gayatri menahan airmatanya. Lalu
berpamitan pergi pada ibunya Arjun yang masih peduli padanya.
Di jalan dia bertemu Kavita mantan kekasih Arjun. Dan ibunya
memperkenalkan mereka.
“ Pantas Arjun amat mencintaimu, kau sangat cantik.” Ujar Kavita.
Gayatri tersenyum dan menggeleng. Dia tak tahu harus bicara apa pada Kavita,
tapi Kavita dengan ramah mengajaknya bicara sambil menunggu taksi tiba.
Tiba-tiba Gayatri merasa mulas. Wajahnya pucat dan terlihat binggung.
“ Kau baik-baik saja?” tanya Gayatri.
“ Perutku...” ujar Gayatri. Kavita panik begitu juga ibu Arjun. Mereka
makin gelisah menunggu taksi yang tak juga datang.
“ Kau tak keberatan naik bajaj?” tanya ibu dengan tegang. Gayatri
mengangguk. Dan kavita langsung lari ke arah kerumunan para tukang bajaj.
Mereka segera meluncur ke rumah sakit terdekat. Keringat terus mengucur dari dahi,
leher bahkan seluruh tubuh Gayatri. Bukan Cuma karena kepanasan, tapi juga
karena kontraksi perutnya.
Tiba di rumah sakit Gayatri langsung dilarikan ke ruang ICU karena
ketubannya hampir habis.
“ Tolong keluarganya tandatangani surat ini. Dia harus dioperasi.”
Ujar dokter. Kavita dan ibu terlihat bingung. Kavita yang memegang phonsel
Gayatri langsung menghubungi Arjun.
“ Ya sayang...” kata Arjun yang tengah memotret di taman hiburan.
“ Ini kavita, Gayatri di rumah sakit.” Ujarnya panik.
“ Apa yg terjadi? Kenapa kau bersamanya?” Arjun sedikit curiga, panik
dan kalut.
“ Tadi kami bertemu di rumah orangtuamu. Dan dia akan melahirkan.
Suaminya harus tanda tangan surat perjanjian dengan rumah sakit. Cepat datang,
tak ada waktu aku jelaskan.” Kavita panik. Arjun langsung lari menuju parkiran
motor. Dia starter motornya dan segera melesat. Dia kembali menelpon Kavita dan
menanyakan rumah sakit mana. Hatinya kacau, panik, kalut dan bimbang.
Kavita menemui dokter dan mengatakan suaminya masih dalam perjalanan.
Gayatri terlihat lemas dan pucat.
“ Lakukan saja yang terbaik untuk anakku dokter.. dia akan mengerti.”
Katanya lirih.
“ Ini masalah peraturan nyonya.” Ujar dokter. Phonsel Gayatri berdering
kembali mendapat panggilan dari Arjun. Dia ingin bicara dengan Gayatri.
“ Aku baik-baik saja... “ isak Gayatri terharu.
“ Dengar sayang.. aku sedang di perjalanan, kau harus tenang.. “ arjun
seperti tak karuan. Dia bicara pada dokter dan meyakinkan dia menyetujui proses
operasi apapun yang terjadi.
“ Gayatri... aku mencintaimu...” bisik Arjun ketika dokter menyetujui
operasi dijalankan tanpa tanda tangan Arjun.
“ Aku juga mencintaimu... jangan panik. Fokus, jangan sampai terjadi
sesuatu padamu di jalan..” ujar Gayatri tersenyum.
“ Ya, aku harus tiba disana demi istri dan anakku kan...?” ujar Arjun
dengan terus memacu motornya. Gayatri tersenyum dan memberikan phonselnya pada
Kavita. Dokter meminta mertua Gayatri dan Kavita keluar. Mereka menunggu dengan
cemas di luar ruang operasi.
*****
Dokter keluar dan memberitahu keduanya sehat dan selamat. Kavita dan
ibu Arjun sangat bahagia. Tak lama Arjun datang dengan berkeringat dan tampak
penasaran.
“ Anakmu sudah lahir... dia tampan sepertimu..” ujar ibunya. Arjun
langsung memeluk ibunya dan masuk ke ruang Gayatri. Dia melihat Gayatri tengah
memejamkan mata beristirahat. Arjun meraih tangannya dan mengecupnya lembut.
“ Arjun...” bisik Gayatri. Dia membuka mata dan memandang Arjun dengan
wajah lelah.
“ Anak kita... terima kasih..” bisik Arjun seperti tak kuasa bicara.
Gayatri tersenyum dan mengelus pipi Arjun sambil tersenyum. Bayinya sendiri
masih di rawat di inkubator karena lahir dengan berat dibawah seharusnya. Lama
mereka hanya saling diam berpelukan.
Kavita dan ibunya masuk membawa makanan untuk Arjun.
“ Arjun minum dulu..” kata Kavita menyerahkan air mineral botol.
Gayatri hanya tersenyum dengan manis melihat itu. Ntah apa yang ada dalam
pikirannya. Akhirnya mereka keluar dan membiarkan Gayatri beristirahat. Gayatri
memejamkan mata, dari sudut matanya terlihat lelehan bening mengalir. Sedang
Arjun berada di ruang perawatan bayi, matanya berkaca-kaca melihat putra
pertamanya. Dia bahagia bukan main, meski dia masih muda, tapi dia telah
menjadi ayah.
Lima hari di rumah sakit, akhirnya Gayatri kembali ke rumahnya bersama
Arjun. Sebagai suami yang amat mencintai istrinya, Arjun benar-benar
bertanggung jawab dan menunjukkan itu. Pagi dia memasak, mencuci bahkan
menyiapkan segala kebutuhan istri dan anaknya. Lalu berangkat bekerja. Gayatri
benar-benar tak tega melihat itu. Dia selalu teringat kata-kata ayahnya, Arjun
harusnya jadi fotografer ternama dan sukses.
“ Aku buka internet, ada lomba fotografi. Hadiahnya cukup besar dan
menjanjikan.” Ujar Gayatri menunjukkan sebuah iklan lomba.
“ Menurutmu aku harus ikut?” tanya Arjun.
“ Ya, aku yakin kau bisa.” Gayatri optimis. Arjun tersenyum dan
berjanji akan melakukannya. Temanya bebas tentang apa saja. Tapi dia
benar-benar buntu tak tahu harus mencari tema apa. Setiap hari dia memotret apa
saja yang menurutnya menarik dan artistik juga indah. Bisa kucing yang sedang
berkelahi, orang-orang di jalanan, kejadian tak terduga di jalanan, bahkan foto
Gayatri ketika menimang anaknya dan mengajaknya bermain di sofa.
Arjun memandang hasil foto-foto yang dia anggap bagus. Dia aka
mendaftarkan beberapa karyanya di lomba tersebut.
“ Sayang.. aku akan memberikan hasil foto-fotoku pada panita
perlombaan, semoga tidak lama prosesnya...” ujar Arjun mencium Gayatri yang
tengah merapikan pakaian, lalu pergi dengan motornya. Gayatri terdiam dan dia
segera ke kamar mengambil anaknya.
“ Ini adalah kesempatan ayahmu membahagiakan orang tuanya. Kita akan
pergi ke tempat lain. Dimana ayah tidak terganggu oleh kita.. oke..” gayatri
mencium putranya dan segera menggendong anaknya dan tas yang telah dia siapkan.
Dia pergi meninggalkan rumah, berharap Arjun mewujudkan cita-citanya.
“ Semoga kau sukses Arjun.. aku mencintaimu... “ Gayatri menatap
rumahnya dan segera pergi darisana.
*****
Arjun kembali sore hari. Dia melihat rumahnya sepi, dia masuk dan
ternyata dikunci. Dia pun tak memiliki kunci cadangan hingga tidak bisa masuk.
Hampir dua jam dia diam di depan rumah berharap Gayatri pulang, tapi tak
kunjung datang. Dia mencoba kembali menghubungi phonselnya tapi tetap tak bisa
dihubungi. Dia berjalan ke arah samping dan mencoba mencari sesuatu petunjuk.
Namun tak ada. Gayatri benar-benar tak meninggalkan pesan apapun. dia akhirnya
tidur di kursi depan rumahnya.
Pagi menjelang Gayatri tetap tak ada. Dia makin panik, tapi dia tak
tahu harus kemana. Dia menemui orang tuanya dan bertanya apa Gayatri kesana,
tapi mereka pun tak tahu.
“ Sudah kukatakan, dia bukan wanita baik-baik.” Ujar Ayahnya. Arjun
tak peduli dan berniat lapor pada polisi.
“ Arjun..” ibu mengejarnya keluar. Ibunya menceritakan ketika Gayatri
datang ke rumah mereka, ayahnya menceritakan soal impian Arjun menjadi
fotografer terkenal. Ibunya berpendapat Gayatri pergi karena ingin Arjun
mewujudkan itu. Arjun terlihat sedih dan dia kembali menemui ayahnya.
“ Aku tak akan menemui ayah sampai aku menemukan istriku... itu
janjiku ayah.. sebagai seorang ayah, harusnya kau mengerti bahwa aku sudah
memiliki tanggung jawab pada keluargaku, sama seperti kau bertanggung jawab
padaku dan ibu. seharusnya kau berikan aku restu dan doa, bukan mendoakan
kehancuran rumah tanggaku.” Arjun keluar dan kembali mencari Gayatri. Dia
kembali ke rumah tapi Gayatri masih tetap tidak ada.
*****
Dia menyewa sebuah rumah kecil untuk dirinya sendiri. Setiap hari dia
mengecek rumah Gayatri, berharap Gayatri dan anaknya telah kembali. Dia masih
tetap bekerja di taman hiburan dan tak lagi peduli dengan perlombaan. Wajahnya
semakin terlihat kumel dan kurus. Waktunya lebih banyak dia habiskan mencari
istrinya daripada bekerja. Setiap hari dia bertanya pada tiap orang dengan
menunjukkan foto Gayatri dan anaknya. Tapi tak ada yg tahu dimana Gayatri
berada.
Arjun mendapat surat pemberitahuan fotonya masuk sepuluh besar, dan
akan diperlombakan lagi untuk mendapatkan hadiah utama. Dia hanya tersenyum,
batinnya lebih memikirkan kondisi anak dan istrinya.
“ Kasus yang membelit mumbai masala akhirnya berakhir, dan perusahaan
itu bisa beroperasi lagi..” itulah kutipan berita di televisi ketika Arjun
makan di sebuah warung. Dia langsung menghubungi Amrita dan bertanya tentang
hal itu. Dan Amrita mengiyakan, walau dia tak tahu pasti apa pegawai baru
seperti Arjun akan direkrut kembali atau tidak. Ketika hendak mematikan
teleponnya, Arjun mendengar suara tangisan bayi dari suara telepon Amrita. Dia
langsung membayar dan lari dengan motornya menuju rumah Amrita.
“ Siapa?” tanya Gayatri pada Amrita.
“ Suamimu..” jawab Amrita. Gayatri terdiam dan terlihat menahan
perasaannya. Dia hanya tersenyum dan mengganti pakaian bayinya. Selama ini dia
tinggal di apartemen Amrita. Dan berencana akan kembali ke rumahnya jika Arjun
telah melupakannya.
Bel berbunyi, Amrita membuka pintu dan dia terkejut melihat Arjun.
Arjun langsung mendorong pintu dengan penuh dan memaksa masuk.
“ Siapa Amrita..?” tanya Gayatri dan menoleh. Dia melihat suaminya
berdiri dengan wajah dingin dan menahan airmatanya.
“ Arjun???” gayatri terlihat gelisah dan merasa bersalah.
“ Kenapa? Kenapa Gayatri???” Arjun langsung bertanya sesuai
pertanyaannya selama ini dalam hatinya. Gayatri mundur dan menarik nafas
menenangkan dirinya, lalu menidurkan bayinya di tempat tidur.
“ Ayo..” Arjun langsung menarik Gayatri dan berniat menggendong
anaknya.
“ Arjun...” Gayatri berusaha menjelaskan. Tapi dia tetap mengemasi
barang-barang Gayatri dan berniat mengajaknya kembali.
“ Arjun.. dengarkan aku... aku ingin kau mencapai cita-citamu dan juga
orang tuamu. Aku ingin kau menjadi fotografer sukses tanpa terbebani aku.”
Gayatri meraih tangan Arjun, Arjun menoleh seketika dan memandang istrinya
dengan wajah kesal, sedih, bahagia..semua bercampur jadi satu.
“ Sukses??? Gayatri..bagaimana aku bisa sukses tanpa wanita hebat
sepertimu di sisiku? Bukankah di balik kesuksesan seorang pria ada wanita
tangguh yang mendampinginya???” Arjun menatap Gayatri dengan dalam. Dia diam
saja dan berusaha tak menangis.
“ aku tahu, tapi sepertinya aku bukan wanita seperti itu. Dengar, aku
membebanimu, aku menjeremuskanmu, aku menghancurkan impianmu, impian orang
tuamu. Aku menjauhkanmu dari orang tuamu, aku telah menghancurkan hidupmu...”
ujar Gayatri menatap Arjun dengan tajam.
“ Aku hanya tahu aku adalah suamimu, dan kau adalah istriku. Aku
bertanggung jawab penuh padamu dan anakku. Susah senang akan kita jalani
bersama, pahit manis akan kiat telan bersama, bahkan aku siap jika aku hanya
mengalami susah dan pahit untukmu dan anakku.” Jawab Arjun dengan wajah penuh
rasa cinta.
“ Arjun...” Gayatri langsung kelu mendengar jawaba suaminya.
“ Kau masih punya kesempatan memperbaiki masa depanmu, dan menemukan
wanita yang lebih layak dariku..” ujar Gayatri tertunduk. Arjun mengangkat dagu
istrinya dan menatapnya dengan dalam.
“ Kau masih ketakutan suatu saat aku akan mencampakkanmu?” tanya Arjun
dengan berkaca-kaca.
“ Bukankah aku selalu berdoa... agar Tuhan memanggilku lebih dulu
sebelum kau mengalami hal itu...” jawab Arjun. Gayatri langsung menutup mulut
Arjun dengan tangannya. Dia menggelengkan kepalanya, dan airmatanya mulai
meleleh dari mata mengaliri pipinya. Dia tak menyangka arjun benar-benar
mencintainya.
“ jangan melihat usiaku Gayatri.. tapi lihatlah cintaku, lihatlah
ketulusanku, lihatlah tanggung jawabku, sampai kapanpun, kalian berdua adalah
tanggung jawabku.. aku suamimu..” lanjut Arjun mengelus pipi Gayatri dan
menghapus airmatanya. Gayatri tak kuasa lagi menahan tangis, dia tak menyangka
pria muda ini benar-benar suami yang dia dambakan selama ini. Dia benamkan
wajahnya di leher Arjun dan tangannya memeluk erat Arjun seolah tak ingin
terpisah lagi. arjun tersenyum dan membelas pelukan istrinya lalu mengecup pipi
Gayatri teramat dalam.
“ Aku mencintaimu.. sampai kapanpun...” bisik Arjun. Gayatri semakin
merapatkan pelukannya, seolah ingin menunjukkan betapa dia amat merasa bahagia,
menunjukkan betapa dia beruntung dan tak ingin lagi kehilangan Arjun.
Amrita tersenyum senang melihat mereka kembali bersatu. Arjun mengecup
kening Gayatri yang terus menatap matanya dengan mesra. Dan setelah mereka
kembali ke rumah, mereka juga menemui orang tua Arjun. Arjun meminta maaf pada
ayahnya, bagaimanapun dia tetaplah anak, dan yakin kemarahan ayahnya karena
cinta. Ayahnya pun luluh melihat buah cinta mereka yang polos dan akhirnya
memberikan restu pada mereka.
******
Arjun mendapatkan juara dua lomba fotografi. Dia mendapat hadiah cukup
besar. Dan dia belikan kembali mobil Gayatri yang dulu telah dijual. Gayatri
senang bukan main, bukan karena mobilnya kembali, tapi karena Arjun benar-benar
menunjukkan rasa cintanya. Apalagi foto yang dikirim Arjun adalah fotonya
dengan anaknya ketika sedang bermain-main. Gayatri semakin mencintai Arjun,
begitu juga sebaliknya.
Mumbai masala kembali beroperasi. Gayatri tetap bekerja dengan alasan
dia harus mengembalikan ekonomi mereka demi anaknya. Arjun setuju, arjun pun
kembali bekerja disana sebagai fotografer. Setiap hari mereka mengantarkan anak
mereka ke rumah ibunya untuk diasuh, lalu dijemput di sore hari dan malam
mereka habiskan bertiga. kini mereka semakin bahagia.
“ Oke, malam ini kita meeting. Semua team harus berkumpul jam tujuh
ya..” ujar Gayatri memberitahu anak buahnya. Dia menelepon mertuanya dan
mengabarkan tidak bisa mengambil anaknya untuk malam ini. Ibunya mengerti dan
Gayatri menarik nafas lega.
Tepat jam tujuh semua masuk ruang rapat, Gayatri duduk dekat dengan
pimpinan dan berhadapan dengan Amrita, di samping Amrita adalah Arjun yang juga
ikut meeting malam ini. Mereka serius membahas planning jangka panjang dan masa
depan perusahaan tersebut.
“ Gayatri.... menurutmu bagaimana? Ada pendapat?” ujar atasannya.
Gayatri mengangkat wajahnya dan menjelaskan detail pendapat dia. Arjun terkesan
melihat istrinya begitu cerdas dan sangat percaya diri. Dia tersenyum manis tak
berkedip memandangnya. Pimpinan mengangguk-anggukan kepala dan bertanya ada ide
lain? Semua diam. Gayatri menoleh ke arah Arjun yang sedari tadi memandangnya.
Dia memberi isyarat agar Arjun hentikan itu. Tapi arjun malah mengedipkan
matanya. Gayatri melotot dan memberi isyarat jangan lakukan, Arjun malah
mengecupkan bibirnya dari jarak jauh. Gayatri menunduk dan tersenyum
menggelengkan kepalanya. Amrita yang sadar itu langsung minta bertukar duduk
dengan Arjun, dengan alasan mau bicara dengan orang di samping Arjun. Akhirnya
mereka berhadapan. Pimpinan sibuk membaca proposal rencana Gayatri, sedang
Gayatri terlihat sibuk menulis sesuatu. Arjun yang nakal membuka sepatunya dan
kakinya mulai bergerilya menggoda kaki Gayatri. Gayatri tersenyum dan diam saja
pura-pura tak peduli. Arjun kembali beraksi dan kali ini kakinya jauh mengelus
hingga ke betis dan dia rebahan di kursi. Gayatri terus tersenyum dan memberi
isyarat “ diam jangan nakal”, tapi suaminya malah tertawa nakal.
Pimpinan menoleh pada Gayatri yang sedang melotot ke Arjun.
“ Ada apa?” tanyanya.
“ Tidak ..” kata Gayatri mendelikan matanya ke arah Arjun. Selesai
rapat, jam sepuluh malam semua pulang. Gayatri masih merapikan mejanya ketika
semua telah pulang dan sepi. Arjun menghampiri dan langsung memeluknya dari
belakang.
“ Arjun ini kantor.. hentikan.” Gayatri berusaha tetap merapikan
mejanya meski Arjun terus menggodanya.
“ Aku menunggu saat ini sedari tadi......” bisik Arjun. Gayatri
menoleh dan mereka bertatapan.
“ Nanti saja di rumah..” bisik Gayatri kembali merapikan map. Arjun
mengambil map dan melemparnya ke meja lalu mendorong Gayatri ke kursi.
***********
Tiba di rumah Arjun langsung merebahkan diri di tempat tidur. Dia amat
lelah dan Gayatri langsung mandi karena merasa gerah. Gayatri keluar hanya
memakai handuk di badan dan kepalanya. Arjun menoleh dan tersenyum melihat
istrinya tengah mengeringkan rambut dengan handuk.
“ Dulu aku begitu gugup melihatmu dalam keadaan seperti ini...” ujar
Arjun mengecup hidung Gayatri.
“ Sekarang???” tanya Gayatri menggoda sambil menatap bibir Arjun.
“ Sekarang semakin gugup karena .................”
“ Karena?????” tanya Gayatri penasaran. Arjun tidak menjawab dan tidak
membiarkan istrinya terus bertanya..
“ I love you...” bisik gayatri
manja.
“ I know... kau mengatakan itu
sejak tadi di kantor.” Ujar Arjun. Gayatri mencubit dada Arjun hingga menjerit
keras. Arjun kembali mendekat namun Gayatri langsung mendorongnya.
“ Cukup.....” dia menarik selimut.
“ Besok kita harus menjemput anak kita.. jadi cepat tidur..” Gayatri
menarik Arjun masuk ke dalam selimut dan memeluknya erat. Terasa hangat di
malam yang dingin dan menjelang pagi. Mereka menikmati malam mereka tanpa
gangguan anak mereka. Dan akhirnya Gayatri menemukan apa yang dia cari, apa
yang dia impikan, dari pria yang mungkin tak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Semua keinginan dan hasratnya seolah terpenuhi dengan sempurna bersama Arjun
yang lebih muda darinya.
The end...

Comments
Post a Comment