Ahana.. the real life...
Ahana (Rani Mukerji), gadis biasa dari desa Rajpur, anak pertama
dari keluarga miskin yang harus berjuang keras agar kebutuhan hidupnya
terpenuhi. Dia bekerja di pasar desa sebagai pedagang sayuran yang dia tanam di
kebun. Penghasilannya tentu jauh dari cukup, tapi dengan rasa syukur, apapun
akan terasa nikmat.
Pagi ini dia
mulai mengayuh sepedanya menuju pasar. Jalan berlubang dia terobos dengan tetap
memamerkan senyuman indahnya sepanjang jalan. Hingga bak saingan sang mentari
yang baru keluar dari sela-sela gunung dan awan.
Sebuah sepeda motor terlihat melaju dengan kecepatan
tinggi meski di jalan seburuk itu. Anehnya ketika berpapasan dengan Ahana,
motor itu mogok. Sang pemilik motor terlihat bingung.
“ Mungkin tak seharusnya kau ngebut.” Ujar Ahana.
Pria itu berbalik dan menatap Ahana.
“ Tushar??” Ahana terkejut memandang pria tinggi itu
(Vivek Oberoi).
“ Ahana…?” pria yang tadinya diam dan dingin itu
berteriak hendak memeluk Ahana. Tapi Ahana mendorong tangannya menghentikan
tubuh Tushar.
“ Maaf… mau kemana?” Tanya Tushar.
“ Berjualan di pasar…seperti biasanya..”
“ hmmm dari kecil kau lakukan itu…. Aku rindu sekali
padamu. Tinggal di desa lain rasanya hampa tanpa gadis pengayuh sepeda..hehehe”
goda Tushar. Ahana tersipu. Tushar mendorong motornya hingga ke pasar dan
mencari tukang bengkel. Dia menemani Ahana berjualan sambil mengenang masa lalu
mereka.
Ahana dan Tushar adalah teman masa kecil. Mereka
sangat akrab ketika di bangku sekolah dasar hingga tingkat pertama. Namun
Tushar pindah ke desa yang jauh mengikuti tugas sang ayah yang pegawai negeri
sipil dan mereka berpisah. Kini ayah Tushar kembali bertugas di desa ini, dan
mereka bertemu kembali dalam cerita lain, dimana mereka telah dewasa.
Ahana dan Tushar makin dekat, tak jarang Tushar
mengantar Ahana ke pasar dengan sepeda motornya. Ayah Tushar memang bijaksana,
dia tak keberatan putranya dekat dengan Ahana. Baginya Ahana adalah tipe gadis
baik yang memang cocok untuk seorang istri. Diantara Ahana dan Tushar akhirnya
tumbuh benih cinta yang semakin besar dengan seringnya disiram oleh
kebersamaan.
Namun cinta mereka tak berjalan mulus. Ayah Ahana
yang memiliki banyak hutang harus membayar hutang pada seorang tuan tanah.
Tushar tak mampu membayarkan karena dia sendiri bukan keluarga kaya raya.
Lagipula Tushar juga baru saja bekerja di kantor desa dimana ayahnya bekerja,
dan tentu gajinya tak terlalu besar. Ahana akhirnya memutuskan untuk bekerja di
kota Mumbai, mengikuti saran paman Himesh yang memang bekerja sebagai penjaga
kantin di sebuah kampus disana. Meski berat berpisah dengan kekasihnya, Ahana
harus merelakan takdir ini demi orang tuanya.
“ Berjanjilah…kau akan menghubungi aku.. aku akan
beli phonsel nanti. Jadi kau bisa menelepon aku.” Tushar menggenggam erat
tangan Ahana di stasiun.
“ Tushar..titip keluargaku ya.. semoga aku disana
berhasil.” Ahana terlihat sedih. Tushar mengangguk. Suara kereta mulai menjerit
meminta Ahana dan penumpang lain masuk dan siap menuju kota sejuta impian.
Ahana berjalan menuju pintu kereta, lalu dia berbalik memandang Tushar yang
berkaca-kaca. Ahana naik ke dalam kereta dan Tushar berlari berharap Ahana
membatalkan niatnya.
“ Ahana…” teriak Tushar sambil berlari menggenggam
besi di pintu kereta.
“ Tushar…. Aku mencintaimu..!” teriak Ahana sembari
melambaikan tangan. Tangan Tushar terlepas dari kereta dan dia hanya mampu
melambaikan tangannya memandang Ahana yang mulai tak terlihat.
Mumbai yang megah menyambut semua pendatang dengan
ragam cara. Ada yang hangat, ada yang meriah ada juga yang tersiksa.. ya tergantung sang pendatang itu memeliki
keahlian atau hanya sekedar mengadu nasib tanpa tujuan jelas. Ahana beruntung,
dia tinggal dengan keluarga paman Himesh. Dia harus rela tidur berjubel dengan
anak-anak paman Himesh di kontrakan kecilnya. Dan besok dia akan memulai
kehidupan baru yang akan merubah hidupnya
180 derajat…..
****
Mumbai University.. tempat dimana mahahiswa kaya yang
berkuasa dan yang miskin tapi cerdas. Tapi disana Ahana hanya seorang penjaga
kantin membantu paman Himesh.
Mobil Ferrari kuning terlihat melesat menuju parkiran
khusus yang sepertinya memang tak ada yang berani parkir di tempat itu. Seorang
pemuda tampan turun dengan dandanan modis dan berkelas. Dia adalah mahasiswa
senior tingkat akhir, anak dari pemilik yayasan kampus ini, namanya Anand
(Imran Khan). Dia terlihat cuek dan dingin tapi tetap ramah jika disapa. Dia bukan
tipe pria so popular yang biasa ada di kampus-kampus. Dia sangat rendah hati,
tapi tak mudah dekat dengan siapapun. Mungkin keekslusifan dirinya di kampus
membuat dia tidak nyaman dengan siapa saja.
Anand duduk di kantin dan memesan roti bakar coklat keju
favoritnya. Ahana berjalan menghampiri Anand dan seorang mahasiswa usil yang
tahu Ahana baru langsung melintangkan kakinya di depan Ahana. Alhasil dia
terjatuh dan rotinya tumpah di meja Anand. Anand menatap Ahana yang sibuk
membersihkan meja, sementara para mahasiswa cekikikan puas melihat Ahan
menderita. Anand memandang Ahana dengan wajah galak, Ahana terdiam memandang
Anand.
“ Maaf.. akan aku ambilkan yang baru..” ujar Ahana.
Anand diam saja. Ahana kembali ke dapur dan memesan lagi roti bakar. Dia mengusap
keringat dengan selendangnya, lelah, amat lelah dia rasakan perjuangan
hidupnya. Setelah mendapat ganti Ahana kembali menuju meja Anand. Dia waspada
dengan kejailan para mahasiswa dan akhirnya tiba di meja Anand dengan selamat.
Anand menikmati rotinya hingga setengah, lalu minum jg hanya setengah. Dia
berdiri dang menghampiri mahasiswa yang menjaili Ahana tadi. Roti dan minuman
tadi dia tumpahkan di atas kepala si mahasiswa jail. Tak ada yang bisa
melarang, dan si korban hanya bisa diam.
Sore telah tiba, gadis si pejuang pun pulang. Dia
menunggu bis di halte kampus. Wajahnya penuh lelah meski tetap tersenyum pada
mahasiswa yang tak malu menyapanya. Bis tiba, dia duduk memandang kosong
melalui jendela. Pandangannya hanya pada satu nun jauh disana, kekasih tercinta
Tushar. Dan Tuhan bak mendengar jeritan hatinya, tiba dirumah dikejutkan dengan
adanya sepucuk surat dari Tushar.
Aku sangat
merindukanmu Ahana..sumpah aku hampir tiap malam memeluk fotomu. O ya gaji
pertama kubelikan phonsel, ini nomornya (skip aja ya), telp aku jika bisa dan
berikan nomor dimana aku bisa menghubungimu. Miss you.. I love you.. Tushar.
Ahana tersipu malu membaca surat sang kekasih. Dia
langsung mencatat nomor phonsel Tushar di kertas kecil dan menyimpannya di
dompetnya. Malampun dia lalui dengan bermimpi bersama Tushar…. (ceritanya
nyanyi ya hihihi)
Pagi menjelang, Ahana ingin cepat tiba di kampus dan
menelepon Tushar dari telepon umum kartu disana. Dia berdiri semangat penuh
senyum ceria di halte bis. Dia tak sadar setiap hari ada yang selalu
memperhatikannya.
“ suittt suiiitt.” Siulan anak berandalan di tempat
itu membuat Ahana risih. Tapi dia tetap diam. Salah satu dari mereka melempar
pinggul Ahana dengan buah apel yang sedang dia makan. Ahana menarik nafas
berusaha tidak marah, karena percuma marah pada para berandalan pikirnya.
“ Wooow.. dia tahan mental juga ya?” celetuk si
preman.
“ Cuma so jual mahal… hey Vikram si ganteng
memanggilmu!” teriak pria yang mengaku namanya VIkram (RAnveer Singh). Ahana
buru-buru naik bis yang kebetulan datang. Mereka malah tertawa meledek Ahana
yang ketakutan.
Masih pukul enam Ahana sudah tiba di kampus. Telepon
umum kartu tujuan pertama dia, dengan pulsa yang sudah dia siapkan sejak lama
dia mulai menghubungi Tushar.
“ Hallo…” suara Tushar membuat Ahana berkaca-kaca.
“ Ini aku.. Ahana..” Ahana mengusap butiran bening di
sudut matanya.
Mereka terlalu banyak saling diam saking gugup dan
bingung, hingga nada tanda telepon terputus membuat mereka menyesal. Ahana
mengusap airmata dan berbalik hendak ke kantin. Dia terkejut ketika sosok
tinggi di depannya tengah memandangnya. Anand terlihat sering memperhatikan
Ahana tapi tanpa bicara sedikitpun. Anand langsung berjalan ke kantin, diikuti
Ahana yang mulai menyiapkan makanan.
“ Pagi sekali nak Tushar..” ujar paman Himesh.
“ Aku sengaja ingin bicara pada paman, aku butuh
orang untuk membersihkan apartemenku. Tidak harus tinggal disana. Cukup sore
sampai jam sembilan malam.” Ujar Anand selalu dingin.
“ Aku bisa…” Ahana langsung menyambar. Anand memandang
Ahana dan memandang paman Himesh.
“ Ya, Ahana memang butuh pekerjaan lain. Disini
gajinya tak seberapa. Dan harus membiayai adiknya.” Ujar paman Himesh.
“ Ok, nanti aku beri alamat apartemenku ya..” anand
langsung beranjak. Ahana bahagia bukan main. Dia akan segera mendapatkan uang
tambahan. Sedang Anand menyimpan senyum manis ketika meninggalkan kantin,
tangannya dikepalkan bak telah melakukan keberhasilan sebuah misi.
Jam telah menunjukkan pukul tiga. Ahana pamitan untuk
melakukan tugas barunya. Dengan kartu nama Anand di tangan dia menuju halte bis
dan langsung menuju lokasi. Security yang sudah tahu langsung menyerahkan kunci
apartemen Anand. Ahana masuk dan …ternyata ruangannya sudah sangat rapi, bersih
dan teratur. Terlihat sekali Anand pria yang berkelas dari barang-barang yang
ada, serta sangat disiplin dari caranya menaruh barang-barangnya. Ahana hanya
membereskan beberapa majalah di kursi, lalu membersihkan jendela dan kamar
mandi. Semua semakin terlihat bersih dan nyaman.
Jam tujuh Anand datang, dia membawa Pizza dua dus dan
mengajak Ahana makan.
“ Aku bawa saja ke rumah ya, anak-anak paman pasti
senang.” Ujarnya. Anand yang hendak melahap sepotong pizza jadi berhenti.
“ Bawa saja semua.” Ujar Anand.
“ Tapi..”
“ Aku bisa membelinya lagi.. o ya kau bisa masak?”
tanya Anand.
“ Masakan india sudah pasti aku bisa..” Ahana
tersenyum.
“ oke, besok aku siapkan uang di meja kau belanja
saja apa yang harus dibeli untuk makanan yang bisa kau buat. Aku ingin
mencoba.” Ujar Anand singkat sembari berdiri dan menuju kamar mandi. Ahana
menarik nafas, ternyata Anand sangat baik dan lembut, tak seperti di kampus
sangat dingin dan cuek.
Jam sembilan Ahana pulang, dan senyum bahagia
mengembang dibibirnya dengan dua dus
pizza di tangan. Turun dari bis Vikram cs seperti biasa tengah berkumpul
di halte. Mereka lagi-lagi bersiul ketika Ahana lewat. Teman vikram merebut
pizza di tangan Ahana.
“ wooow pizza…” katanya dengan tanpa rasa bersalah
langsung dilahap saja.
“ apa kau tidak malu mengambil makanan untuk orang miskin?”
tanya Ahana.
“ Kita juga orang miskin..hahahah” preman satu
sekenanya menjawab.
“ Kalian bukan miskin, tapi kalian memiskinkan diri
sendiri dengan bersikap malas.” Ahana kesal.
“ Hey.. tidak usah ceramah. Chotu berikan pizzanya.
Asal kau tahu….kami bukan malas, tapi kami menikmati hidup hahahah” ujar Vikram
sembari memberikan dus pizza yang satunya lagi ada Ahana. Ahana tak menjawab
dan langsung pergi meninggalkan mereka. Vikram menyusulnya dan berjalan di
samping Ahana sambil bersiul siul.
“ Kenapa kau ikuti aku?” Ahana mempercepat langkah.
“ Kau takut ya padaku? Jangan memandang orang dari
penampilan, tapi lihat dari hati..aku tersinggung.” Ujar vikram.
“ Kau punya hati?” tanya Ahana enteng. Vikram menarik
tangan Ahana dan menaruh di dadanya. Ahana terdiam dan Vikram memandang Ahana
dengan sangat dalam. Ahana langsung menarik tangannya dan berlari meninggalkan
Vikram. Wartel yang dia tuju, dia langsung menelepon Tushar.
“ Aku merindukanmu… “ ujar ahana tanpa basa basi.
“ Pasti ada pria yang menggodamu ya?” Tushar menerka
dengan tepat.
“ Aku tidak bisa berpaling darimu, dan ketika ada
pria menggodaku maka aku ingin langsung berlari kepelukanmu. Agar dunia tahu
aku ini milik Tushar…” ujar Ahana berlinang airmata.
“ Sudahlah..aku percaya kau wanita paling setia…
bagaiman pekerjaanmu?” tanya Tushar mengalihkan pembicaraan.
“ Aku dapat pekerjaan baru, membersihkan apartemen.”
“ Hati hati.. apartemen sangat pribadi… jangan sampai
terjadi hal-hal yang tidak diharapkan.” Tushar cemas.
“ tenang saja.. Anand sangat baik.. aku percaya itu.”
“ Anand? Pria.???” Tushar terkejut.
“ Hey..kau bilang percaya aku paling setia..” Ahana
tersenyum bahagia Tushar cemburu.
“ Ya…tentu..aku percaya padamu..”
“ OK sudah dulu..aku harus pulang..” ahana menutup
telepon dan langsung pulang membagikan pizza pada keluarga paman Himesh.
Setiap hari Ahana melakukan rutinitasnya dengan penuh
semangat dan suka cita. Anand yang diam-diam menaruh hati pada Ahana memang
sangat baik. Dia memakan apapun yang dimasak oleh Ahana. Meski semapat ada yang
membuatnya alergi, tapi lagi-lagi Ahana mengobatinya dengan cara tradisional.
“ Ini gaji pertamamu…” Anand menyerahkan amplop cukup
tebal.
“ sepertinya banyak sekali?” Ahana heran.
“ awalnya kan hanya membersihkan rumah, tapi masak
juga. Jadi ya aku tambahi..” Anand tersenyum.
“ Akhirnya..aku bisa beli phonsel.. ups..” Ahana
tersipu malu.
“ Phonsel? Buat apa?” anand tersenyum geli.
“ Untuk menghubungi keluargaku di desa..dan…” Ahana
tersenyum.
“ dan????” Anand penasaran.
“ Kekasihku…” ujar Ahana. Anand langsung menarik
nafas panjang dan tersenyum pahit.
“ Ini phonsel lamaku, pakai saja.” Anand menyerahkan
phonsel lamanya dari laci. Ahana bahagia bukan main sampai ingin memeluk Anand,
tapi dia tersadar dan hendak menyentuh kaki Anand, tapi Anand menolak dan ikut
menunduk hingga mereka berbenturan, Ahana dan Anand tertawa lepas.
Komunikasi Ahana dan Tushar makin lancar berkat
phonsel dari Anand. Setiap hari Ahana akan memberitahukan kegiatannya melalui
sms pada Tushar. Begitu juga sebaliknya, mereka makin sulit untuk dipisahkan.
Dan Anand hanya bisa memendam perasaannya, tanpa berani mengutarakan apalagi
berusaha merebutnya dari Tushar.
“ Aku pamit dulu…” Ahana menemui Anand yang baru saja
mandi.
“ Masih hujan deras… sebaiknya kau menginap saja malam
ini.” Anand memandang keluar yang memang hujan deras.
“ tidak usah.. paman pasti bingung. Lagipula besok
aku harus ke kampus lebih awal, lebih dekat dari rumah paman.” Ahana memaksa.
“ Aku antar ya…”
“ Tidak usah.. sungguh Anand kau terlalu banyak membantuku.
Aku sudah terbiasa kan pulang malam meski hujan?” Ahana menolak dan terus
menolak. Hingga Anand mengijinkan dia pulang. Sebelum pulang Ahana sempat
mengirimkan pesan pada Tushar dia kehujanan dan sedang menunggu bis. Tak lama
bis datang dan Ahana langsung naik. Tiba di halte tujuan hujan semakin deras.
Ahana berdiri di halte memandang sekeliling yang mulai sepi seseorang
memayunginya dari belakang.
“ Kau?” ahana berbalik dan Vikram disana.
“ Aku antar ya?” ujar Vikram.
“ Tidak usah.”
“ Kau ini kenapa? Selalu melihatku dengan negatif.”
Ujar Vikram.
“ Maaf aku hanya…. Baiklah..” Ahana bersedia diantar
memakai payung Vikram. Jalanan menuju perkampungan memang cukup sepi jika
malam, meski kadang satu dua mobil lewat tapi malam ini hujan amat deras hingga
orang tak mau keluar. Ahana dan Vikram saling diam selama perjalanan, sedang
Anand melihat ke jendela hujan makin deras. Entah kenapa perasaannya tidak
tenang dan tak karuan. Dia putuskan untuk menyusul Ahana.
“ Sepi sekali ya….” Ujar vikram. Ahana diam saja dan
terus berjalan. Namun Vikram malah melambat dan berhenti. Ahana jadi kehujanan
dan berlari ke arah Vikram.
“ Hey kenapa?” teriak Ahana karena suaranya tak
terdengar oleh hujan. Vikram tersenyum dan melemparkan payungnya. Mereka berdua
kehujanan.
“ Apa maksudmu dengan semua ini?” Ahana heran melihat
tawa Vikram. Dia mulai sadar apa yang terjadi, Ahana langsung lari berusaha
menjauh dari Vikram. Sedang Vikram tertawa dan mengejar Ahana……
Apa yang akan terjadi???????????????
Bersambung…….
*********
Anand memacu mobilnya dengan cepat di jalan raya yang
basah, dia terus mengingat jalanan menuju rumah paman HImesh. Dia pernah
membuntuti AHana diam-diam, tapi dia sedikit lupa karena memang jarang melewati
wilayah itu. Sedang Ahana berlari sekuat tenaga di derasnya hujan. Dia semakin
tak kuasa berlari terlebih ketika petir keras terdengar dia berhenti dan
menutup telinganya. Vikram menarik tangannya.
“ dengar apa salahku kenapa kau mengejarku?” Ahana
ketakutan.
“ Hey memang aku kenapa?” Vikram selengean.
“ Ambil semua barangku… lihat ini phonsel mahal.
Ambilah tapi jangan ganggu aku lagi…” teriak Ahana sembari menyerahkan tasnya
yang juga basah kuyup. Vikram malah tertawa geli dan mengusap wajahnya yang
diguyur hujan, sedang Ahana terus mundur berusaha menjauh dari Vikram.
“ Aku mohon… biarkan aku pergi…” isak ahana.
“ Pergilah…. Tapi setelah….” Vikram menarik Ahana ke
pelukannya. Ahana berusaha melawan dan meronta, tapi tenaga Vikram lebih besar
terlebih dibantu setan yang terus menggodanya. Ahana terus memohon dan berusaha
melawan agar terlepas dari pelukan iblis malam itu. Ahana mencakar wajah Vikram
dan Vikram yang kesal langsung menampar wajah Ahana hingga jatuh tersungkur di
jalanan yang tergenang air. Ahana sudah tak punya tenaga lagi untuk melawan, Vikram dengan leluasa melakukan niat
bejatnya tanpa peduli dengan tangis permohonan Ahana. Teriakan Ahana tak ada
yang mendengar karena memang jalanan sangat sepi dan suara hujan juga petir
membuat orang tak dapat mendengar apapun dari rumahnya.
Anand akhirnya menemukan halte dimana Ahana dulu
turun. Dia langsung belok menyusuri jalanan menuju perkampungan. Dia melihat
seoran pria melintas berlawanan arah dengannya, dia adalah Vikram. Tak lama
Anand melihat Ahana yang masih tergolek di jalalan dan berusaha bangun.
“ Ahana…” Anand langsung berhenti dan menghambur
meneuju Ahana yang lusuh dengan airmata terus mengalir di pipinya.
“ Ahana.. apa yang terjadi…?” Anand berusaha
membangunkan Ahana yang malah menjerit melihat Anand. Anand melihat semua
barang Ahana utuh, namun beberapa bagian pakaian Ahana terlihat sobek.
“ Sialan!!!!!!!’ teriak Anand dan berdiri mengejar
Vikram yang belum terlalu jauh. Tanpa pikir panjang Anand langsung menendang
Vikram dari belakang hingga tersungkur.
“ Hey apa salahku?” belum lagi Vikram bangkit Anand
sudah menendangkan sepatu mahalnya di wajah Vikram. Vikram berlumuran darah dan
Anand menarik bajunya, mata Anand penuh amarah..
“ Ini untuk Ahana….” Anand mengepalkan tinjunya
sekuat tenaga dan menghujamkannya di wajah Vikram. Vikram langsung pingsan tak
bergerak.
“ Aaaaarrrrrrrrrrggggggggggggggggggghhhh!!!!!’ Anand
masih menendang badan VIkram. Dia rubuh dan menangis di depan tubuh Vikram yang
tak berdaya. Tak lama dia bangkit dan kembali pada Ahana. Ahana ternyata
pingsan dan air hujan bak hampir menelannya. Anand langsung mengangkat tubuh
Ahana dan menuju rumah sakit tanpa memperdulikan Vikram yang juga tergeletak di
jalanan.
****
Anand duduk lemas di bangku rumah sakit. Pandangannya
kosong, beberapa kali dia menarik nafas ketika ingat kejadian tadi. Beberapa
kali juga dia melihat ke arah ruang ICU dimana Ahana dirawat. Hampir satu jam
dokter baru keluar.
“ Dokter…dia baik-baik saja kan?” Anand terlihat
lelah dan cemas.
“ Ya, dia sekarang dalam pengaruh obat tidur. Dia
sempat menjerit ketakutan, sepertinya dia mengalami hal mengerikan. Kami juga
melakukan beberapa jahitan jadi dia akan sadar besok. Anda bisa pulang, perawat
akan menjaganya disini.” Ujar Dokter yang memang sudah kenal dekat dengan
Anand.
“ Aku boleh di dalam? Aku ….” Anand terlihat kikuk.
Sang dokter faham dan mengijinkan Anand
menjaga Ahana.
Anand masuk dan hatinya kembali sakit melihat Ahana
yang terbaring lemah dengan infusan dan selang oksigen di hidungnya. Dia
menatap wajah Ahana yang terlihat pucat, pelan-pelan dia elus rambut Ahana dan
dengan penuh perjuangan melawan rasa takut dia mencium kening Ahana.
Pagi hari Anand langsung menelepon kantin dan
memberitahu paman Himesh kalau Ahana di rumah sakit. Dengan panic paman HImesh
datang dan terus banyak bertanya. Tak
lama Ahana pun sadar, dia melihat sekeliling ruangan.
“ Ahana…ada apa denganmu nak..??” paman Himesh
menghampiri ahana. Ahana menahan tangis, melihat paman Himesh dia ingat orang
tuanya di desa. Anand mengatakan Ahana mengalami kecelakaan di jalan, tida
berusaha menutupi apa yang terjadi. Dia pun berusaha agar Ahana tegar.
“ Paman, aku butuh Ahana full menjaga apartemenku,
jadi dia tidak harus jaga kantin dan akan tinggal bersamaku. Kau keberatan?”
anand memandang ahana yang sedikit terkejut. Paman Himesh menyerahkan semua
keputusan pada Ahana.
“ Itu lebih baik, di kantin kau tak dapat apa-apa.
Dengan bekerja pada nak Anand aku jamin semua hutang ayahmu akan segera
terbayar.” Paman Himesh memandang Ahana yang tertunduk. Anand semakin iba
mengetahui keadaan Ahana. Tapi dia berusaha mengalihkan pembicaraan dan
menghangatkan suasana. Setelah paman Himesh pergi baru dia menjelaskan alasan
Ahana tinggal di rumahnya.
“ Aku tidak mau kau bertemu pria berengsek itu lagi.
Aku akan melaporkannya pada polisi.” Ujar Anand.
“ Tidak Anand, aku tidak mau berhubungan dengan
polisi, akan sangat rumit dan hanya akan membuat aku semakin tertekan mengingat
semua ini…” Ahana tetap tegar meski sebenarnya dia sangat rapuh, tapi lagi-lagi
demi keluarganya dia siap menerjang badai sedahsyat apapun.
Dengan wajah tertunduk lemah Ahana duduk di mobil
Anand. Hari ini dia keluar dari rumah sakit dan langsung tinggal di apartemen
Anand. Anand juga menyerahkan barang-barang dan tas Ahana yang telah rusak
ketika malam itu terjadi. Ahana memandang phonselnya dan mengeluarkan sim card
lalu menangsi mengingat Tushar.
“ Aku tak pantas lagi untukmu…” isaknya dan melempar
sim card ke tempat sampah.
“ Jika Tushar tidak tahu kejadian ini, aku yakin dia
akan tetap menerima mu.” Anand memandang kosong.
“ Kau benar, tapi aku tak ingin membohonginya.
Biarlah dia mendapatkan wanita lain yang lebih layak bukan aku yang kotor
ini..” Ahana berulang kali mengusap airmata yang terus dan sulit untuk
diberhentikan. Anand hanya tersenyum mempersilahkan apapun keputusan Ahana.
Hari demi hari Ahana lewati dengan belajar melupakan
kenangan pahitnya. Dia mulai bisa tersenyum, dan bercanda bersama Anand. Kuncup
cinta Anand makin mekar pada Ahana, meski tetap dia sembunyikan dengan baik.
Hingga malam itu tiba, Anand dan Ahana makan berdua dengan romantis. Anand
berniat mengutarakan cintanya. Namun tiba-tiba Ahana merasa pusing melihat
lilin. Lalu lilin dimatikan dan lampu dinyalakan.
“ Entah kenapa aku mual melihat ayam ini.” Keluh
Ahana sembari meninggalkan meja makan.
“ Kau baik-baik saja?”
“ Kepalaku sakit” Ahana menyumpal mulutnya.
“ Istirahat saja.” Anand mengurungkan niatnya melamar
Ahana. Dan pagi menjelang, Ahana muntah-muntah di kamar mandi. Anand yang panik
langsung ke apotik.
“ Mana obatnya?” tanya Ahana yang tahu Anand ke pergi
ke apotik. Anand menyodorkan plastik dari apotik. Ahana terkejut melihat
isinya.
“ Aku bilang kau sakit pusing dan sekarang
muntah-muntah, penjaga apotik memberikan itu. Bukan obat.” Anand tersenyum
kecut. Jantung Ahana berdegup sangat hebat, dia amat ketakutan. Bayangan suram
malam itu kembali terlintas, akankah benih yang Vikram tanam tumbuh di
rahimnya???
Di sisi lain Tushar gelisah tak ada kabar dari Ahana.
Dia sering menemui Suman adik Ahana yang masih sekolah tingkat atas. Namun
Suman juga tidak tahu kabar kakaknya. Tushar sering ke rumah Ahana untuk
sekedar mengobrol dengan orang tua Ahana dan mengantar Suman pulang. Tapi dari
obrolan itu tak ada kabar tentang Ahana.
***
Ahana menjerit dan histeris di kamar mandi. Anand
hanya memejamkan mata dan sudah menebak apa yang terjadi. Ahana keluar dari
kamar mandi dengan linangan airmata yang menganak sungai. Anand menyeka sudut
matanya dan langsung memeluk Ahana dengan erat.
“ Menangislah…untuk terakhir kalinya, karena setelah
ini aku akan membuat kau tersenyum setiap saat. Bersama anak kita….” Ujar
Anand. Ahana melepaskan pelukan Anand dan memandang Anand dengan tatapan tak
percaya.
“ Aku
mencintaimu sejak lama… dan tak pernah peduli kau telah kehilangan
mahkota mu. Aku akan bertanggung jawab dengan janin yang ada di rahimmu. Aku
berjanji.” Anand tersenyum yakin.
“ Anand….”
“ Cukup .. kali ini biar aku yang banyak bicara. Aku
sudah tahu kau akan bilang derajat kita beda, status kita beda dan macam-macam
perbedaan dunia, semua itu akan menyatu dalam cintaku.. kau mengerti?” ujar
Anand tegas. Ahana hanya bisa menundukkan wajahnya dan mencoba menguatkan
hatinya.
Kabar Ahana akan menikah tiba di desa Ahana dibawa
oleh paman Himesh. Tushar yang sedang berada di rumah Ahana bagai tertimpa
langit runtuh, hatinya hancur berantakan dan mulutnya bak tersumbat lem.
“ Ahana beruntung, bertemu nak Anand yang kaya raya juga sangat rendah hati dan mencintai Ahana apa adanya..” ujar Paman Himesh, membuat hati Tushar terbakar haibis. Lebih pahit ketika Ahana dan Anand datang ke desa untuk memohon restu pada orang tua mereka. Berulang kali Ahana memandang ke jalanan jelek yang biasa dia lewati dengan Tushar. Cemas kalau-kalau Tushar melintas di jalan yang sama. Dan benar saja sebuah sepeda motor yang tak asing lagi melintas, tapi bukan rasa takut kali ini yang melintas. Ahana heran karena Sumanlah yang naik motor bersama Tushar.
“ Ahana beruntung, bertemu nak Anand yang kaya raya juga sangat rendah hati dan mencintai Ahana apa adanya..” ujar Paman Himesh, membuat hati Tushar terbakar haibis. Lebih pahit ketika Ahana dan Anand datang ke desa untuk memohon restu pada orang tua mereka. Berulang kali Ahana memandang ke jalanan jelek yang biasa dia lewati dengan Tushar. Cemas kalau-kalau Tushar melintas di jalan yang sama. Dan benar saja sebuah sepeda motor yang tak asing lagi melintas, tapi bukan rasa takut kali ini yang melintas. Ahana heran karena Sumanlah yang naik motor bersama Tushar.
Motor Tushar berhenti di depan rumah Ahana, tak lama
mobil Anand juga tiba dan parkir di jalan besar beberapa meter dari rumah
Ahana. Keluarga Ahana menyambut meriah Anand. Sedang Tushar diam saja memandang
Ahana yang tak mau melihat ke arahnya. Ayah memperkenalkan semua yang ada di
sana.
“ Ini nak Tushar.. teman masa kecil Ahana.” Ujar
Ayah. Anand menoleh dan memandang pria yang sering dia dengar namanya dari
mulut Ahana. Anand mengulurkan tangan.
“ Senang sekali semua berkumpul disini.” Ujar paman
Himesh.
“ Tentu, aku memang sengaja mengantar Suman setiap
hari.. ya kan Suman?” Tushar tersenyum pada Suman yang tersipu malu. Ahana
melihat pemandangan ini tidaklah baik, dia sadar Tushar hanya dendam padanya.
Ahana menemui Tushar diam-diam, dia meminta tak
macam-macam pada adiknya.
“ Hebat, baru beberapa bulan di kota sudah bisa
mengancam. Bukan Cuma itu, sudah bisa menambang kekayaan dengan jalan singkat.”
Ujar Tushar ketus.
“ Tushar… aku tahu kau kecewa padaku, tapi anggaplah
ini takdir.”
“ takdir???? Kya ? kemana selama ini kata-kata
manismu ..aku mencintaimu tushar, rindu dan semua kegombalan dirimu??? Aku
tidak menyangka kau serendah itu Ahana. Hanya demi harta. Aku tahu aku tak
mampu membayar hutang ayahmu, tapi aku mohon…..hargai dirimu sebagai wanita
terhormat.” Tushar langsung pergi meninggalkan ahana yang hanya bisa menarik
nafas dalam tanpa bisa lagi menangis, airmatanya bak kering….
Ahana kembali ke Mumbai untuk persiapan pernikahan,
namun diluar dugaan orang tua Anand menolak mentah-mentah Ahana. Anand mencoba
menjelaskan bahkan mengaku sebagai ayah dari anak yang Ahana kandung.
“ Tidak! Aku yakin kau tak sebejad itu Anand. Jangan
mengada-ngada.” Teriak ayah Anand.
“ Itu benar ayah, sebaik apapun aku..kami setiap hari
bersama dalam sebuah apartemen, semua orang bisa menebak apa yang terjadi.”
Ujar Anand kembali berbohong.
“ Aku tetap tidak percaya. Jika dia bisa bersamamu
maka tidak menutup kemungkinan dia bisa bersama orang lain. Dia bukan wanita
baik-baik.” Teriak ayah Anand. Ahana tak kuasa lagi mendengar semua
pertengkaran Anand dan ayahnya. Ahana lari keluar bungalow dan terus menahan
tangisnya yang semakin menyesak.
“ Aku rela kehilangan semua kemewahan ini ayah… demi
anak dan istriku.” Anand berjalan meninggalkan bungalow juga.
“ Ingat Anand, aku akan benar-benar mencoret namamu
dari keluarga ini!” teriak sang ayah. Anand tetap berjalan dan menggandeng
Ahana meninggalkan rumah orang tuanya kembali ke apartemen.
Waktu terus melaju dengan cepat. Kehamilan Ahana
memasuki usia tujuh bulan, dia dikejutkan dengan kedatangan adiknya Suman dan
Tushar. Suman memang mendapat beasiswa di salah satu kampus nasional di Mumbai,
sedang Tushar hanya mengantarnya ke Mumbai. Suman langsung menempati tempat
kost yang sudah dia pesan jauh-jauh hari. Dan Tushar berencana bekerja di
Mumbai, bahkan sudah diterima di sebuah perusahaan cukup besar.
“ Aku mohon Tushar, jika kau memang mencintai adikku,
jagalah dia.. demi Tuhan jangan sematkan dendammu untukku padanya..” Ahana
menemui Tushar di sebuah caffe.
“ hmmmmm aku tidak janji. Aku bosan jadi Tushar yang
baik hati.” Tushar terlihat kesal.
“ Tushar… aku mohon, aku rela melakukan apa saja agar
kau tidak menyakiti hati adikku..” Ahana berlutut di hadapan Tushar.
Orang-orang saling berbisik melihat kejadian itu.
“ Andai kau tahu betapa hati ini sakit sekali Ahana..
tidak akan sembuh hanya dengan berlutut seperti itu..” Tushar bangkit dan meninggalkan
Ahana. Ahana mengejarnya hingga ke parkiran. anand yang sudah diberi tahu Ahana
kalau dia sedang bersama tushar tiba. Tushar makin kesal ketika Anand datang.
Dia semakin mengeluarkan kata-kata kasar pada Ahana.
“ Lihat tuanmu sudah datang, jangan lagi peduli
padaku..terserah aku mau apakan adikmu..”
“ Tushar… maafkan aku…” rintih Ahana memegangi
perutnya yang terkontraksi. Anand yang kesal langsung menyeret Tushar dan
memintanya menjaga kata-katanya. Adu mulut diantara mereka tak terelakan. Bahkan
Anand hampir memukul wajah Tushar jika saja tak mendengar rintihan Ahana. Tapi
Ahana malah berlari meninggalkan mereka, Anand mengejarnya dan masih memegang
tangan Tushar.
“ Lepaskan aku!” teriak Tushar. Anand yang kesal
akhirnya buka mulut.
“ Kau akan menyesal jika terjadi sesuatu yang buruk
pada Ahana. Kau tidak tahu betapa hidupnya dilalui dengan kepahitan, anak itu
bukan anakku…tapi hasil dari perbuatan bejat seorang preman.” Anand langsung
lari meninggalkan Tushar yang bagai disambar petir untuk kesekian kalinya.
Tushar ikut berlari mengejar Ahana. Anand melihat kerumunana orang dan ternyata
Ahana tergeletak dengan terus mengerang memegangi perutnya dan darah segar
mengalir di kakinya. Anand panik dan langsung menggendong Ahana, Tushar yang
tiba langsung lari ke arah mobil Anand dan membukakan pintu lalu mereka menuju
RS.
Tiba di RS mereka terlihat kacau terlebih ketika
diminta tanda tangan surat pelaksanaan operasi, dokter menanyakan suami Ahana
dan mereka berebut tanda tangan. Namun Tushar mengalah karena memang Anand
memiliki biaya untuk penanganan Ahana. Dan Anand akhirnya menceritakan
kronologis kejadian demi kejadian yang menimpa Ahana tentu yang dia ketahui
saja. Tushar langsung lemas dan memukul mukul dinding rumah sakit lalu rubuh
dan menangis bak anak kecil. Hatinya terkoyak mengetahui betapa menderitanya
Ahana selama ini. Anand hanya duduk di samping Tushar yang masih menyesali
perbuatan dan keadaan yang terjadi, hingga dokter keluar dari ruang operasi.
“ Selamat tuan-tuan, anak dan ibunya selamat. Bayinya
seorang perempuan. Cantik seperti ibunya.” Ujar dokter. Tushar dan Anand
berpelukan, sang dokter bingung melihat keduanya mengucapkan selamat satu sama
lain. Ahana masih terbaring di tempat tidur, sedang bayinya dalam inkubator.
“ Maafkan aku Ahana. Aku sudah tahu semuanya…” ujar
Tushar ketika Ahana sadar. Ahana hanya tersenyum manis.
“ Kudoakan kau bahagia dengan Anand. Aku ikhlas…
sungguh…” Tushar menggenggam erat tangan Anand dan Ahana. Tushar memberikan
alamat dia di Mumbai, dan berharap diundang di hari pernikahan mereka. Tushar
pun melangkahkan kaki meninggalkan masa lalu yang akan dia kubur dalam-dalam.
Ahana sudah bisa pulang ke apartemen begitu juga
bayinya. Namun dia semakin tertekan ketika ibu Anand datang dan lagi-lagi tak
percaya anak itu anak Anand. Dengan tetap berusaha tegar Ahana mengemas
barang-barang dan meninggalkan apartemen, hari itu Anand sedang kuliah jadi
tidak tahu jika Ahana pergi meninggalkan apartemen. Dia baru tahu ketika
security memberitahu Ahana pergi. Dan sudah pasti tujuannya adalah stasiun
satu-satunya tempat untuk bisa kembali ke rumah orang tuanya.
Benar saja, Ahana tengah duduk menanti kereta datang.
Anand mengambil barang-barang Ahana dan berjalan. Tapi Ahana tidak mencegah.
“ Ahana…” Anand kesal.
“ Itu semua dari uangmu..jika harus kau ambil lagi
aku tak keberatan.”
“ Ahana..masa kau tidak mengerti? Aku tak ingin kau
pergi!” teriak Anand.
“ Percuma Anand. Kita tak bisa bersatu. Aku terlalu
hina untukmu dan keluargamu, aku juga tidak bisa terus menerus membebani
hidupmu.” Ahana terlihat tegar.
“ Ahana… aku mohon…”
“ Apalah artinya pernikahan kita jika aku saja tidak
pernah mencintaimu, aku tidak bisa terus menerus membohongi hatimu juga hatiku
bahwa aku tidak mencintaimu. Ditambah tanpa restu orang tuamu.” Isak Ahana.
“ Aku akan kembali ke desa, aku akan membesarkan
anakku sendiri, aku akan menerjang apapun yang menghalangiku kelak, aku
sendiri, tak harus lagi melibatkan orang baik sepertimu…. Anand kau pria
sempurna, kau tampan, baik hati juga kaya raya, kau bisa mendapatkan wanita
manapun…kau pria sempurna..” ujar Ahana tersenyum dan mengelus pipi Anand.
“ Aku tak kan sempurna tanpamu…” Anand merangkul
Ahana bak anak kecil.
“ Aku pergi Anand…” Ahana melepaskan rangkulan Anand.
Anand mencium sang bayi.
“ Pergilah… tapi tunggulah aku disana, aku akan
datang menjemputmu setelah aku terbebas dari materi orang tuaku.” Anand
menghapus airmatanya. Ahana hanya tersenyum sembari mengangkat tas bawaannya.
Ahana naik ke atas kereta yang akan segera berangkat. Anand meminta kuli
mengangkat barang-barang Ahana ke atas kereta. Ahana memandang Anand yang masih
tetap saja murung. Ahana naik dan kereta telah membunyikan tanda akan
berangkat. Anand semakin gelisah dan memegang erat tangan Ahana.
“ Ahana… berjanjilah..kau akan menanti aku. Jaga anak
kita..” Anand berjalan mengikuti laju kereta yang pelan dan kemudia mulai
terasa cepat.
“ Selesaikan kuliahmu! Dan jangan telat makan..”
teriak Ahana karena kereta semakin cepat dan tangan mereka terlepas. Anand
lemas dan hanya melambaikan tangannya.
“ Aku berjanji akan membawamu kembali ke Mumbai dan
ke dalam kehidupanku Ahana.. aku berjanji.. biarlah jarak dan waktu ini akan
menguatkan cintaku, dan menumbuhkan kerinduan dirimu padaku… selamat jalan…”
bisik Anand sembari berjalan perlahan meninggalkan stasiun………
THE END…
So sad mba... :'(
ReplyDeleteOh Ahana,,, Siapa nama putrimu ?
hahahahaha kamu mau jadi anak ahana??? kan sama tuh kadang so polos hahahaha
ReplyDeleteJiahhaaaa buddiiirrr,,, Tenang kalau uda make mangal sutra mah ngak akan polos lagi, hikshikshiks
DeleteQ jadi anaknya Samar Meera aja,,, ngak pas ujan2 nanamnya... hahahahaha
udah, anak ahana aja wkwkwkwkw
Deletemaja : lnjutan diary of love blm ya?
ReplyDeleteudahh ga sanggup duduk n ngetik.. mang aslinya blm slsai ceritanya
Delete