GREEN RADIO
CAST:
Rani Mukerji : Amrita
Abhisek Bachchan : Raj
Shahid Kapoor : Ness
Rani Mukerji : Amrita
Abhisek Bachchan : Raj
Shahid Kapoor : Ness
Sayup-sayup
terdengar suara gaduh diluar. Amrita membuka matanya dan melirik jam. Sudah
pukul tujuh rupanya. Terlambat bangun tapi berusaha tetap santai.
“ Pagi…” sapa
Sheera teman satu kostnya.
“ Ada apa ramai sekali
diluar?” Tanya Amrita heran.
“ Biasa…ada yang
ketauan selingkuh sama anak kost disini, istrinya marah-marah.” Jawab Sheera
santai. Amrita hanya geleng-geleng kepala.
Pukul delapan
tiga puluh dia berangkat kerja. Amrita bekerja di sebuah radio sebagai pengiar.
Namanya Green Radio. Dia sudah sangat tenar dikalangan pencinta radio tersebut.
Bahkan banyak yang mengidolakan dia dan memintanya jadi artis, tapi dia
menanggapinya dengan candaan atau tertawa saja.
“ Hai..jumpa
lagi dengan Amrita disini…hhhhh sepertinya alam sedang bersahabat…dan untuk
menemani hari kalian..kita awali dengan lagu romantis untuk orang yang kita
sayangi…Koi Tumsa Nahin…dari film Kriss…enjoyed…” Amrita memulai siarannya.
Selain memutar lagu-lagu favorit penggemar, Amrita juga menerima curhatan dari
para pendengar. Untuk kemudian dicarikan solusinya bersama. Setelah lagu
selesai..dia kembali menerima penelepon. Penelepon pertama request lagu ini itu
dan seterusnya.
“ Penelpon
ketiga…hallo my green love songs….” Sapa Amrita.
“ Hay…aku …ada
masalah..” ujar si penelepon.
“ Katakan…siapa
tahu aku juga pendengar lain bisa bantu.” Ujar Amrita dengan santai.
“ Aku ingin
melamar seseorang, tapi takut mengutarakannya.” Lanjut si penelepon.
“ Oke…tadi siapa
namamu…begini…jika sudah yakin…dan dia juga mencintaimu…kenapa harus takut…katakana
saja terus terang….itu akan lebih baik..dan wanita itu akan merasa dihargai.”
Amrita tersenyum lucu, mau melamar saja Tanya dulu di radio.
“
Baiklah…Amrita…menikahlah denganku……..” ujar si penelepon..
“ Apa???” Amrita
tercengang.
“ Masa kau tak
kenal aku…” si penelpon tertawa.
“ Rajveer???? Ya
Tuha.aan…” Amrita jadi malu sendiri. Semua yang mendengarkan tersenyum dan
terharu mendengarnya. Mereka berteriak “ ayo..terima Amrita…” meski Amrita tak
mendengar mereka.
“ Ya….Raj….”
ujar Amrita malu-malu. Seluruh karyawan dan orang-orang yang ada di Green Radio
bertepuk tangan dan berdiri. Rupanya Raj ada disana.
Raj dan Amrita
memang sudah lama menjalin cinta. Hampir dua tahun lamanya. Dan baru kali ini
mereka berkomitmen menikah. Mereka persiapkan segala kebutuhan pernikahan.
Meski Amrita tak memiliki orang tua, tapi dia merasa bahagia karena kini akan
memiliki keluarga.
Hari yang
ditunggu dan amat sacral itu datang. Didampingi Sheera dan teman-temannya
Amrita. Airmatanya meleleh merasa terharu dan sedih karena tak satupun
keluarganya yang hadir. Setelah acara resepsi dan lain-lain,…pengantin baru pun
bisa menikmati bulan madunya.
“ Pagi..mam…”
Raj memeluk ibunya.
“ Pagi…sayang.”
Jawab ibunya. Mereka duduk untuk sarapan bersama. Namun wajah sang ibu mertua masih
kurang bersahabat, seperti dulu masih pacaran.
Amrita tak lagi
menjadi penyiar karena permintaan ibu Raj. Demi pernikahannya dia pun menuruti
keinginan sang mertua. Namun semakin sering bersama di rumah, bukan semakin
akrab, malah semakin timbul permasalahan. Mulai dari masakan Amrita yang kurang
cocok dengan perut ibu Raj, hingga masalah sepele seperti menaruh barang yang
menurut sang mertua bukan pada tempatnya.
“ Kenapa aku
merasa mami belum juga bisa menerimaku?” ujar Amrita ketika sedang mengobrol
sebelum tidur.
“ Jangan suka
berlebihan, itu Cuma perasaanmu saja. Mami orangnya lucu, asik dan memang
terkadang cepat marah. Namanya juga orang tua.” Bela Raj.
“ Raj…jujur,
semakin aku ada dirumah kami makin tak harmonis. Sebaiknya…aku siaran lagi aja
ya…” pinta Amrita.
“ Sayang, hargai
mami..dia ingin kau menemaninya di rumah.” Perdebatan pun kian sengit. Yang
satu membela dan yang satu merasa tak dibela. Mereka jadi sering ribut ketika
Raj pulang kantor.
Tiga bulan
berlalu, semua belum ada perubahan. Sikap mami makin menyakitkan Amrita.
Terlebih ketika makan malam ini…
“ Raj…kau tahu
Sneha yang dulu mami jodohkan denganmu? Dia sudah punya anak dua. Hebat. Mami
kesepian di rumah…setiap hari seperti sendiri.” Ujar mami.
“ Mungkin Sneha…pakai
system computer…heheh..” canda Raj.
“ Bercanda
lagi..kau tak tak dengar mami kesepian!!!”
“ Mam…kan ada Amrita…memang
tak pernah mengobrol??” Raj berusaha menenangkan.
“ Tanyakan saja
sendiri.” Ujar mami ketus. Amrita langsung kenyang mendengarnya, dia langsung
berdiri dan masuk kamar. Raj langsung mengejarnya. Keributan kembali terjadi.
“ Dengar…aku
menyayangi mami…seorang ibu tak akan berbekas…tapi istri..bisa menjadi mantan
istri…jadi kumohon hargai ibuku.” Raj terlihat marah. Amrita berusaha membela
diri namun Raj malah tidur dan tak mau dengar lagi. Amrita hanya bisa menangis.
Pagi pun mulai diawali dengan keributan ketika
sarapan. Amrita sudah sangat emosi dan mulai berani bicara.
“ Ibu ini memang
tidak menyukaiku atau memang aku sangat buruk?” Tanya Amrita. Sang ibu langsung
menangis dan pergi. Melihat itu Raj marah pada Amrita.
“ Dengar,
menyakiti mami sama dengan menyakiti ibumu. Seandainya ibumu masih ada…mungkin
dia bisa mengajarimu.” Ujar Raj dengan penuh kekesalan.
“ Raj…bisakah
kau melihat masalah ini dari sudutku? Aku memang yatim piatu yang tak mendapat
pengajaran orang tua…tapi….aku tak menyangka kau akan …sekejam ini..” Amrita
tersesak dengan tangisannya ketika bicara.
“
Sudah…sudah…!!! Kita akhiri saja semua ini. Aku lelah…” Raj langsung menemui ibunya
dan menenangkannya. Setelah itu dia pergi ke kantor tanpa menemui Amrita dulu.
Kata-kata kita
akhiri saja terus terngiang. Pikiran Amrita jadi sangat kacau. Dia langsung
mengemas pakaian dan memesan taksi.
“ Suami
kerja…malah mau kelayapan juga..” ujar mami dengan ketus. Amrita berhenti dan
memandang mami.
“ Mam..maafkan
aku jika tak bisa menjadi menantu yang sesuai keinginanmu…semoga mami
mendapatkan apa yang mami inginkan setelah aku pergi.” Amrita langsung pergi
tak mendengarkan lagi ocehan mami yang mengira Amrita hanya ingin mengadu domba
dia dan anaknya dengan pergi dari rumah.
Sheera memeluk
Amrita yang datang dengan linangan airmata. Dia seperti sudah tak perlu
bertanya lagi tentang apa yang terjadi. Dan ketika sore, Raj pulang membawa
bunga mawar dengan maksud meminta maaf pada istrinya. Namun Amrita tak ada
dimanapun. Dia tahu pasti ke rumah Sheera, dan besok ketika sudah tenang dia
pasti pulang. Disisi lain..Amrita mengira Raj sudah tak perduli padanya karena
tak lagi mencarinya. Bahkan tak menelepon sama sekali.
Esok hari..Raj
menemui Sheera yang satu kantor dengannya. Dia menanyakan Amrita, dan ternyata
Amrita kembali bekerja de Green Radio. Raj menemuinya untuk memintanya pulang.
’Jika memang
ingin bekerja lagi..tak apa..tapi kau pulang ya.” Bujuk Raj.
“ Apa…kita tidak
lebih baik mencari rumah sendiri. Kita menata rumah tangga kita berdua..” pinta
Amrita. Ketegangan kembali terjadi karena Raj tak ingin meninggalkan ibunya
yang sendirian. Adu mulut kembali terjadi…
“ Jadi….apa
maumu sebenarnya Amrita? Apa…kita berpisah saja??” Tanya Raj dengan menahan
kemarahan.
“ Raj…”
“ Ok, jika itu
maumu.” Raj langsung pergi dengan kesal. Mobilnya bagai di trek balapan secepat
kilat meninggalkan Green Radio. Amrita hanya bisa pasrah dengan keadaan yang menimpanya.
Tak butuh waktu
lama, perceraian mereka dikabulkan. Walau cinta masih menyelimuti, Amrita
berjalan menghampiri Raj dan memeluknya untuk terakhir kalinya. Kini hari-hari
terasa sepi. Meski tiap hari memecahkan masalah orang di radio, pada kenyataan
dia tak mampu memecahkan masalah diri sendiri.
Waktu terus
berjalan, kehidupan kembali seperti semula. Seperti biasa hari minggu Amrita
jogging dengan Sheera ke taman. Mereka duduk di bangku taman, dan masih
teringat dulu Raj sering bersama mereka duduk disana. Kini tak ada lagi.
“ Capuccino…”
Sheera menyerahkan gelas pada Amrita. Amrita berdiri dan hendak membuang tisu
tiba-tiba…bruuuk…sebuah sepeda menabraknya..
“ Sorry…” ujar
orang itu. Dia turun dan membantu Amrita bangun.
“ Hmmm tidak
sehat wanita minum kopi…” ujarnya. Amrita cemberut, sudah ditabrak sok
nasihatin lagi. Dia membantu Amrita duduk di bangku.
“ Jadi…ini
tanggung jawabmu..malah menasihati.” Sheera kesal.
“ Maaf…tapi
kakimu hanya terkilir, nanti juga sembuh.” Ujar pria itu tersenyum.
“ Sotoy…” sheera
semakin sebel.
“ Maaf namaku
bukan sotoy..tapi…Ness, Dr. Ness Srivastav.
Pria itu mengulurkan tangan. Tak lama diapun berpamitan.
Sheera memapah
Amrita menuju motor mereka, Amrita masih sedikit terpincang-pincang.
“ Bia kubantu.”
Ujar Ness.
“ Kau lagi..”
Sheera kesal betul dengan pria itu. Meski cute dan menggemaskan tapi kesan
pertama bagi dua gadis ini dia menyebalkan.
“ Tidak apa. Aku
tadi melamun…maaf merepotkanmu.” Amrita angkat bicara.
“
Suaramu..seperti tak asing.” Ness memandang
Amrita dengan seksama.
“ Suaranya yang
tak asing kenapa kau memandang wajahnya??” Sheera meledek. “ Dia Amrita…penyiar
Green Radio…” lanjut Sheera.
“ Ohh…wow, apa
aku bisa curhat disini? Di radio aku malu.” Candanya.
“ Kau dokter
tapi …..” Sheera memandang Ness dari atas
kebawah. Mereka tertawa dan malah jadi berteman.
Siaran hari ini
rata-rata ABG yang curhat, semua tentang pacar. Selesai siaran Amrita pulang
dan menunggu taksi, kakinya masih pincang hingga tak bisa naik motornya.
“ Jemputaaan
datang…” tiba-tiba Ness datang.
“ Kau..untuk apa
menjemputku.”
“ Sebagai
permintaan maaf. Boleh kan?”
Tanya Ness. Amrita mengangguk. Mereka mengobrol menghabiskan waktu bersama.
“ Pacarmu pasti
banyak ya Ness..kau dokter…cukup tampan…dan
periang.” Amrita membuka obrolan.
“ Sayang sekali
salah. Mereka lari karena tiap kami kencan, ada telepon untuk mengobati orang
sakit…dan aku tak bisa menolak mereka…jadi..para gadis malas pacaran denganku.”
Jawab Ness. Amrita tertawa. Hampir setiap hari Ness
menjemput Amrita. Hingga teman-temannya selalu teriak jemputaaan ketika Ness tiba.
Seperti hari
ini, Amrita baru selesai siaran. Temennya sudah bilang ada yang menjemput.
“ Hai Ness…”
Amrita malah jadi terkejut melihat siapa yang menunggunya. “ Raj…??”
“ Oh….bukan aku
yang kau harapkan???” Tanya Raj sambil tersenyum.
“ Tidak juga.
Apa kabar..?” Amrita mengulurkan tangan.
“ Baik. Aku
ingin melihat keadaanmu..syukurlah…jika sudah
ada…” Raj terlihat tak ingin mengutarakan. Hati mereka memang masih
saling mencintai. Amrita sangat berharap Raj memintanya kembali. Begitu juga
Raj, namun ego mereka mengalahkan cinta yang masih menyala dalam keterbatasan.
Amrita mengantar
Raj sampai di depan. Tak lama Ness datang,
mereka langsung pergi ke pinggir pantai dan menikmati matahari tenggelam.
“ Siapa pria
tad?? Maaf…” kata Ness.
“ Mantan
suamiku. Aku janda…” jawab Amrita sembari meminum juice di tangannya.
“
Oh..janda…selamat ya…hehehe maaf…aku bercanda. Jangan merasa malu dengan
statusmu..biasa saja..” Ness tertawa dan
terlihat santai.
“ Kau tak malu
berteman denganku?”
“ Sangat
malu..kau orang tenar, aku hanya seorang dokter yang…hehehe..” Ness selalu tersenyum.
“ Apa kau selalu
tersenyum dan tak pernah sedih Ness?”
“ Kau tidak
sedang siaran, jangan Tanya terus. Hahaha..ok..aku memang begini. Yang
pasti..jangan bersedih Amrita..aku akan selalu menghiburmu..aku senang dengan
persahabatan kita ini.” Jawab Ness sambil terus bercanda. Amrita jadi tersenyum
juga.
Setiap hari
mereka menghabiskan sore dengan mengobrol di tepi pantai. Tak jarang Sheera juga
ikut. Dan tak jarang pula Ness harus pulang
duluan karena ada pasien yang sangat membutuhkannya. Waktu berjalan dengan
cepat. Namun Raj seolah tak tergantikan. Meski sering datang mengunjungi, tapi
tetap seperti sulit untuk mengutarakan bahwa mereka ingin kembali bersatu.
Egois…egoiss…
Amrita
dikejutkan dengan kerumunan orang-orang di depan Green Radio. Ternyata ada
perdebatan tentang sengketa tanah yang dipakai Green radio dan beberapa
pertokoan disekitarnya. Amrita jadi tak bisa siaran, karena seluruh orang
disana akan mengadakan demo ke NS hospital.
“ Tidak siaran?”
Tanya Ness.
“ Mereka mau
berdemo, jadi aku pulang saja.”
“ Demo apa?”
Tanya Ness lagi.
“ Tentang
sengketa tanah. Aduh aku bosan. Kita makan saja ya…” Amrita langsung masuk ke
mobil Ness.
Esoknya semua
kembali berdemo, karena kemarin pemilik rumah sakit tak ada. Kali ini mau tak
mau Amrita ikut. Walau dia hanya diam saja di tengah kerumunan. Pemilik rumah
sakit keluar dan sudah disiapkan pengeras suara. Betapa terkejutnya Amrita, dia
adalah Ness. Bagai sadar dengan pandangan
Amrita, Ness memandang Amrita juga.
Amrita lari dari
kerumunan. Dan dia mengira Ness mendekatinya
untuk mencari tahu masalah tanah Green radio dan sekitarnya.
“ Amrita…!!!!”
teriak Ness dan berusaha mengejar. Para demonstran diam dan saling memandang.
“ Aku tak
menyangka kau sangat licik Ness. Kau
manfaatkan aku untuk semua ini….” Ujar Amrita. “ Jangan pernah temui aku lagi.”
Amrita berbalik dan lari. Ness mengambil
pengeras suara dan dia berteriak
“ AKU MENCINTAIMU
AMRITA…aku tak peduli dengan tanah dan semuanya…tapi kumohon kembalilah…”
Para demonstran
berpandangan karena bingung dan senang akhirnya Ness
mengalah akan tanah mereka. Tapi Amrita tak peduli dan langsung pergi dengan
airmata yang meleleh di pipi.
“ Kau ini aneh,
masa tak menyadari kalau Ness itu menyukaimu.”
Sheera mengelus rambut Amrita.
“ Tak ada yang
bisa menggantikan Raj dihatiku.”
“ Jadi…kau akan
menunggu ibunya meninggal gitu??? Bagaimana kalau Raj lebih dulu??” Sheera
kesal bukan main. “ Katanya ingin menemukan soulmate…tapi tertutup terus.”
Sheera terus marah-marah.
“ Haruskah
kucari belahan jiwaku…??? Aku merasa itu adalah Raj.” Amrita terus mengingat
Raj. “ Tapi semua pria sama. Hanya menyakitiku.” Lanjutnya.
Ness berusaha menemui Amrita, namun
Amrita selalu menolak dan menghindar. Andai bertemu, dia langsung lari dan
segera bersembunyi. Sungguh diluar dugaan Ness
selama ini, hubungan baiknya dengan mudah porak poranda.
Pagi ketika
hendak berangkat kerja phonsel Amrita berdering.
“ Amrita….ini
Raj. Mami di rumah sakit. Dia ingin bertemu denganmu.” Ujar Raj. Amrita
langsung menuju rumah sakit. Hatinya bertanya-tanya, ada apa…meski tak pernah
cocok, tapi Amrita sangat menghawatirkannya.
“ Amrita sudah
datang bu…” Raj menghampiri ibunya. Ness yang
sedang memeriksa ibu Raj menoleh ke arah Amrita. Mata mereka sempat saling
bertemu namun Amrita segera berpaling.
“ Nak…maafkan
mami…mami jahat padamu. Mami sadar…mami selama ini egois dan takut kehilangan
kasih sayang Raj. Sekarang…kembalilah pada Raj…mami tak mau dia sendirian andai
mami pergi…” rintih mami sambil memegang tangan Amrita. Raj menatap Amrita di
seberang tempat tidur. Mereka berpandangan, lalu mami menyatukan tangan
mereka., sedang Ness terdiam dan langsung
pergi. Dia memerintahkan dokter lain mengawasi mami.
“ Suster..dokter
Ness dimana ruangannya?” Tanya Amrita.
“ Oh..beliau
baru saja berangkat ke Delhi.
Hari ini hari terakhirnya disini.” Jawab suster. Amrita terkejut dan mengejar
keluar rumah sakit namun sudah tak ada.
“ Amrita….” Raj
berdiri di belakang Amrita yang kebingungan..
“ Raj…aku…aku
tak bisa kembali padamu. Aku mencintai orang lain…aku bahagia dengan orang
itu…dan aku….” Amrita menitikkan air mata.
“ Aku tahu….aku
bisa lihat itu. Dokter Ness mungkin masih di stasiun. Ayo kuantar…” ujar Raj.
Dia tahu semua dari Sheera.
“ Tapi…”
“ Aku memang terluka dan cemburu…tapi apa artinya
memilikimu jika kau tak lagi mencintaiku…jika jiwamu pergi dengan orang lain…” Ness menarik tangan Amrita dan langsung tancap gas menuju
stasiun.
Mereka mencari Ness. Dan Ness duduk termenung menahan sedih yang bagai
menusuk tubuhnya. Ness naik ke kereta yang
akan segera berangkat, ketika di dalam kereta dia melihat Amrita dan Raj. Raj
juga melihat Ness dia lari dan menghampiri Ness
dan mengetuk jendelanya.
Kereta mulai
berjalan pelan. Raj dan Amrita berusaha mengejar. Ness
mulai sadar dengan apa yang terjadi. Dia berdiri di pintu kereta.
“ Dokter
bodoh…dia kemari untukmu!!!” teriak Raj yang terus berlari bersama Amrita.
Ness tersenyum dan mengulurkan
tangannya…
“ Naiklah..dan
pergilah…” Raj memegangi tangan Amrita dan terus berpegangan ke besi di pintu
kereta. Sedikit-demi sedikit Amrita meraih tangan Ness
langsung ditarik ke atas kereta. Tangan kirinya terlepas dari tangan Raj. Dia
menatap Raj yang berhenti berlari dan melambaikan tangan pada mereka.
“ Terima kasih
Raj….” Teriak Ness. Raj mengangguk dan tersenyum puas. Walau hatinya cemburu
namun dia tetap tabah.
“ Seandainya kau
dari kemarin tak lari..tak perlu mengejar kereta kan?”
canda Ness.
“ Maaf…aku baru
sadar jiwaku kau bawa pergi setelah kau pergi..tak mungkin ketika kau ada.”
Amrita tersenyum dan memeluk Ness. Kereta
semakin kencang meluncur meninggalkan Mumbai…..
THE END………….
Comments
Post a Comment