HONGKONG NIGHT....



Holiday.. semua pasti suka.. tentu, seperti dilakukan Pooja Sinha (Rani Mukherjee), dia akan mengunjungi Hongkong untuk liburan kesekian kalinya.
“ Jangan Tanya kenapa ke hongkong, aku bosan denga Eropa.” Pooja langsung menutup mulut teman-temannya dengan gayanya. Mereka hanya angkat alis dan mengucapkan “semoga liburanmu menyenangkan..”
Ya, untuk  pertama kalinya ke hongkong, membuat Pooja begitu excited. Hampir tiap liburan dia akan berjalan-jalan mengunjungi berbagai Negara. Dan kali ini giliran hongkong.

“ Semoga perjalanan anda menyenangkan..” ujar pramugari yang membantu Pooja memakai sabuk pengaman. Pooja tersenyum dan langsung sibuk baca Koran. Pesawat melesat menuju hongkong… Pooja menikmati perjalanan dengan music dari film-film bollywood favoritnya. Sesaat semua baik-baik saja dan menyenangkan. Dan tiba di bandara hongkong. Seorang pria menghampirinya..
“ Nona maaf.. ini tas anda?” Tanya pria itu.
“ Bukan …” kata Pooja tersenyum. (anggap aja dialog inggris ya hihihihi).. si pria mengangguk dan langsung pergi. Pooja heran, kenapa pria itu seperti iseng saja bertanya soal itu. Pooja yang sudah melewati alat detector langsung mengambil tasnya. Pria tadi terlihat berusaha mendekatinya lagi, tapi Pooja malah takut dan langsung lari mencari taksi. Lalu menuju hotel terdekat.
“ HHH pria aneh..  “ gerutu Pooja ketika tiba di hotel. Dia menikmati istirahat siangnya..
*******
Tiba-tiba segerombolan pria berbaju hitam masuk dan mengobrak abrik kamar Pooja. Pooja histeris, apalagi mereka membawa senapan laras panjang, bahkan sejenis AK47. Pooja yang tengah tidur hanya terdiam dan menahan nafas ketika diminta tidak teriak.
“ Katakan dimana berlian itu?” ujar salah satu dari mereka.
“ Berlian? Berlian apa?” Pooja bingung.
“ Aku melihat pria di bandara memasukkan berlian ke tasmu, untuk menghindari petugas.” Herdik orang itu dalam logat mandarin yang khas. Pooja terkejut bukan main.
“ AKu tidak tahu. dia hanya bertanya dan aku tidak mengiyakan..” Pooja terus ketakutan. Mereka terlihat saling member kode dan akhirnya pergi secepat kilat. Pooja langsung menghubungi pihak hotel.
“ Pengamanan macam apa ini?” teriak Pooja dengan penuh ketakutan.
“ Apa anda terlibat mafia.? Jika ya mohon tinggalkan hotel ini.” Ujar manajer.
“ Hey aku turis, dan aku tidak kenal mereka.” Terika Pooja kesal.
“ Maaf.. silahkan tinggalkan hotel kami..” manajer hotel tak mau ambil resiko. Pooja tak berdaya, dia keluar hotel dan hendak ke kantor polisi. Namun lima orang pria berpakaian preman menghadangnya dan meminta barang yang sama, berlian. Pooja histeris karena bingung. Namun tak ada yang menolong. Hingga serentetan tembakan dari mobil serba hitam menghabisi para preman tadi. Pooja seperti sesak, di syok melihat mayat bergelimpangan dengan darah di mana-mana di sekelilingnya. Beberapa pria berbaju hitam turun dan menariknya ke mobil mereka. Pooja tak berdaya dan pingsan.
*****
Pooja siuman, dia tidak tahu berada di mana. Dia seperti di sebuah gudang, dengan tumpukkan peti seperti bekas senjata atau barang-barang berat lainnya. Pooja ketakutan dan menangis.
“ Bekerjasamala… dimana berliannya?” Tanya seorang pria dengan setelan putih dan sepatu putih pula.
“ Please.. jika aku tahu aku pasti berikan pada kalian. Aku hanya turis disini.. aku tidak tahu.. buat apa aku harus bertarung nyawa hanya demi berlian? Aku lebih menyayangi nyawaku..” rintih Pooja sembari berlutut.
“ Mr. Chen.. sepertinya gadis ini memang tidak sadar akan barang yang dimasukan dalam tasnya.” Ujar seroang dari mereka. Mr. Chen (Chow Yun Fa) terlihat berfikir keras memandang Pooja yang ketakutan.
“ Kau benar.. tapi dia sudah terlanjur mengetahui tempat kita.. bagaimana cara menghilangkan ingatannya?” ujar Mr. chen. Pooja terkejut bukan main.
“ Mr. Chen.. aku berjanji aku akan langsung kembali ke india dan akan melupakan tempat ini. Aku juga tidak ingat jalan kemari karena pingsan bukan.. please.. “ Mata Pooja berbinar meski berair mata.

Mr. Chen terlihat berdiskusi dengan anak buah kepercayaannya (Daniel Wu) panggilannya Rocky. Akhirnya mr. chen mengijinkan Pooja keluar dari tempat itu dengan kawalan Rocky. Pooja ditutup matanya ketika menaiki mobil yang akan membawanya keluar dari markas mafia Chen. Rocky terlihat duduk di samping Pooja dan memandangnya dari samping.
“ Ternyata gadis india sangat cantik…” ujar Rocky mengelus rambut Pooja. Pooja amat risih dan berusaha menghindar.
“ Hahaha.. why? Kau tidak suka pria hongkong?” ujar Rocky dengan nakal.
“ Please… kau diminta tuanmu untuk mengantarkan aku ke bandara.” Ujar Pooja berusaha tenang.
“ Chen sangat percaya padaku… aku bisa saja minta kau sebagai hadiah..” Rocky mulai liar. Pooja kebingungan dan takut.
“ Aku tahu dimana berliannya..” ujar Pooja. Rocky terkejut.
“ Jangan bercanda..” ujar Rocky.
“ Ya, aku membuangnya disuatu tempat karena takut.” Ujar Pooja. Rocky langsung meminta anak buahnya menghentikan mobil. Rocky meminta semua anak buahnya pergi dan dia hanya berdua dengan Pooja mencari berlian itu.

Pooja terus pura-pura mengingat tempat dia membuang berlian. Padahal dia hanya mencari celah untuk lolos dari Rocky. Tiba di sebuah pos polisi Pooja membuka jendela dan berteriak Help… Polisi langsung sigap mengejar mobil Rocky. Rocky marah dan menarik rambut Pooja agar tidak lagi berteriak ke arah jendela mobil.
Kejar-kejaran tak terhindarkan. Bahkan Pooja harus berulang kali teriak dan sport jantung karena mobil yang Rocky kendalikan tak tebang pilih jalan. Asal lolos dari polisi dia hantam apa saja yang menghlanginya.

Lolos dari Polisi, Rocky berhenti dan menarik Pooja ke sebuah kebun kosong. Pistol dia arahkan ke kepala Pooja. Pooja pasrah, dia tak menyangka liburannya menjadi akhir dari hidupnya. Pooja memejamkan mata dan hanya kata-kata…moom.. yang terdengar.
“ Rocky…” suara chen membuat Rocky terkejut dan Pooja lega. Chen memandang Rocky yang terlihat bengis.
“ Aku hanya ingin menghabisi gadis india ini. Dia berbohong soal berlian. Dia tahu tapi tidak mau megnatakan.” Ujar Rocky.
“ Tidak.. sungguh aku tidak tahu. aku hanya berpura-pura agar lolos dari dia.”
“ Diamm!!” teriak Rocky kesal dan lagi-lagi menodongkan senjatanya pada Pooja.
“ Tenang Rocky… anak buah kita sudah menemukannya. Jadi gadis ini benar… lepaskan dia.” Ujar Chen berbalik. Tapi tanpa di duga, Rocky menembak Chen namun didorong Pooja hingga hanya mengenai punggung Chen. Anak buah Chen banyak yang membelot rupanya. Perang antar anggota tak terhindarkan. Rocky yang berhasil mempengaruhi anak buah Chen yang lainnya menguasai pertempuran. Chen dan anak buahnya yang setia terdesak, terlebih Chen dalam kondisi tertembak.
“ Mr. Chen.. pergilah.. aku yang akan menghadapi Rocky.. “ ujar salah satu abdi setianya.
“ Lee Hua??” Chen terlihat tidak tega.
“ Rocky harus mati, tapi anda yang harus membunuhnya. Pergilah…” Lee Hua bersiap keluar dengan senjata AK47 di tangannya. Pooja yang ikut bersembunyi diberi kode oleh Chen untuk lari dalam hitungan ketiga. Dan ya, dalam hitungan ketiga Lee keluar dan membabi buta menembaki Rocky dan anak buahnya tentu dia sendiri habis diberondong peluru banyak orang. Chen dan Pooja berlari menjauh menyusuri hutan untuk meloloskan diri.

Chen rubuh di tengah jalan. Usianya yang mendekati 60th memang membuatnya terlihat payah ketika terluka. Padahal dulunya sangat gagah dan meksi luka sebanyak apapun sangat kuat. Tapi faktor usia sepertinya membuat dia harus pasarah..
“ Ambil pisau ini.” Chen memberikan pisau pada Pooja.
“ Untuk apa?”
“ Keluarkan peluru dari punggungku.”
“ Tidak.. aku tidak bisa..”
“ Cepat! Kau ingin mati disini atau jadi budak nafsu Rocky? Jika tidak keluarkan pelurunya..” teriak Chen. Namun sayang, anak buah Rocky sudah ada yang datang, terpaksa Chen menghajar mereka dulu dengan jurus kung funya. Meski dia terus menahan sakit di punggungnya.
“ Lakukan sekarang…!” teriak Chen. Pooja dengan gemetar merobek baju putih Chen yang sudah penuh darash. Dengan berusaha konsentrasi Pooja mencongkel peluru di punggung Chen. Chen kesakitan dan meringis hebat. Peluru akhirnya jatuh dan Chen mulai mengatur nafasnya kembali. Pooja melepas syal di lehernya dan mengikat punggung Chen dengan Shalnya.
“ Terima kasih…” ujar Chen terlihat tenang. Dia duduk dan bersemedi seolah mengumpulkan kekuatan. Anak buah Rocky muncul yang lainnya lagi. kali ini Chen langsung menghajarnya dan berjibaku melawan mantan pengabdinya yang kini membelot. Pooja hanya histeris di balik pohon.
“ Jika kau hanya berteriak dan lemah maka kau akan mati sia-sia..” ujar Chen. Tapi Pooja memang bingung tak tahu harus berbuat apa. Setelah anak buah Rocky habis, Chen mengajak Pooja lari kembali.

Tiba di sungai yang bening. Chen langsung minum air sungai itu diikuti Pooja. Pooja merendam kakinya yang mulai perih karena lecet dengan sepatu terus menerus.
“ Apa rencanamu?” tanya  Chen.
“ Kembali ke India. Tidak ada yang lain.” Ujar Pooja lebih tenang.
“ Baiklah.. aku akan mencoba membantumu kembali ke India. Tapi caranya…?”
“ Aku harus ke kantor konsulat India disini. Aku yakin mereka sedang mencariku sekarang.” Pooja mantap. Chen mengangguk dan langsung menceburkan diri ke sungai untuk membersihkan dirinya.
“ Kau tidak ikut mandi?” tanyanya enteng. Pooja menggeleng.
“ Setelah mengantarku, apa rencanamu?” tanya Pooja.
“ Membunuh Rocky…” jawab Chen enteng.
“ Tidakkah kau ingin hidup normal seperti orang lain? Seperti pria pada umumnya?” tanya Pooja heran.
“ Hidup normal? Laki-laki pada umumnya?” Chen naik ke batu diamana Pooja duduk dan memandang Pooja. Kali ini dia terlihat fresh dan bersih, meski berumur wibawanya terlihat kuat.
“ Ya, pria umumnya akan berkorban  untuk keluarganya.. mencari nafkah , pergi kala matahari terbit diiringi doa dan lambaikan anak istri, kembali di sore hari dengan pelukan dan kerinduan anak dan istri. Tidakkah kau ingin seperti itu?” Pooja balas memandang Chen. Chen memalingkan pandangan dan tersenyum.
“ Aku tidak pernah melihat itu. Pria umumnya yg kulihat dari kecil adalah ayah angaktku. Dia bisa melawan ratusan orang dengan dua senjata di tangannya. Dia bisa membinasakan banyak orang, dan ditakuti banyak orang.”
Pooja menggeleng-gelengkan kepalanya.
“ Di usiamu harusnya kau sudah memiliki anak dan mungkin cucu.” Pooja tersenyum kecil. Chen terdiam dan memandang Pooja.
“ Aku tidak pernah melihat wanita. Banyak yang bilang mereka indah, tapi mereka juga melemahkan… Karena itu aku tidak pernah ingin kenal wanita..” ujar Chen.
“ Ibumu adalah wanita…” Pooja balas memandang Chen seolah menantangnya. Mereka saling diam memandang. Dan Chen seperti kalah karena lebih dulu memalingkan wajahnya.
“ Wanita itu melemahkan…” ujarnya dengan tersenyum.
*****
Konsulat India di Hongkong kedatangan interpol juga polisi India yang mencari keberadaan Pooja. Inspektur Saksena (Amir Khan) terlihat membaca data-data dimana terakhir kali Pooja terlihat. Dan menurut saksi yang tidak mau menyebutkan namanya, mereka melihat gadis india diculik mafia Chen. Mafia yang sulit terjamah hukum karena memang sangat licin.

Pooja baru saja terbangun dari tidurnya di atas batu tepi sungai. Matanya memandang air jernih yang beriak-riak.
“ Mandilah..aku akan berjaga di sana.” Chen berjalan meninggalkan Pooja yang akhirnya melepas sebagian pakaian untuk mandi. Pooja terlihat menikmati dinginnya air dan berulang kali mencuci wajahnya… sedang Chen asik mengumpulkan buah-buahan untuk di makan. Chen kembali dan dia melihat Pooja yang keluar dari air sungai dan terlihat natural dan cantik. Chen menarik nafas
“ Wanita hanya melemahkan saja…” bisiknya sembari mengupas buah yang langsung dia makan. Pooja menghampiri Chen dan ikut makan.
“ Luka mu sudah membaik?”
“ Laki laki sejati tidak pernah kalah dengan luka.”
“ Jangan sombong.. kemarin kau hampir mati.”
“ Itu karena ada wanita bersamaku…” jawab Chen enteng. Pooja tersinggung dan langsung bangkit meninggalkan Chen yang hanya tersenyum sinis.
Chen mengikutinya dari belakang. Pooja masih kesal dan terus berjalan.
“ Baiklah maafkan aku…” Chen menarik tangan Pooja. Pooja berhenti dan menoleh namun Chen sepertinya tak suka berpandangan dengannya.
“ Ayo.. “ chen bergerak mengikuti sungai mencari jalan keluar. Akhirnya mereka tiba di pinggir desa. Dengan menumpang bisa mereka menuju kembali kota Hongkong.

Pooja dan Chen mampir di sebuah toko. Chen menyuruh Pooja membeli pakaian baru dan sepatu baru. Setelah cocok dan dipakai, tanpa basa basi Chen menodongkan pistol pada si penjual dan tak membayar. Pooja kesal bukan main dan dia terus protes sepanjang jalan.
“ Telah hilang seorang gadis India bernama Pooja Sinha ….” Sebuah televisi di toko ekeltronik menayangkan tentang Pooja. Pemilik toko langsung menghampiri Pooja dan memintanya menunggu untuk menunggu polisi datang menjemputnya. Chen berjaga di luar dengan topi menutupi matanya berharap tak ada yang mengenalinya. Namun sial, anak buah Rocky  justru lebih dulu datang menjemput Pooja. Toko pun habis diobrak abrik mereka yang tak kenal ampun membabi buta dengan senjatanya. Chen yang berada disana akhirnya mengejar dan berkelahi kembali dengan mantan anak buahnya untuk menyelematkan Pooja. Dengan dua pistol di tangannya dia membabi buta menembaki anak buah Rocky dan Pooja hanya histeris di balik mobil ketakutan. Chen menarik Pooja dan membawanya lari kembali.
“ Jika kau diam saja maka kau mati!!! Ambil ini!!” teriak Chen kesal. Pooja terlihat menangis menatap Chen. Mereka masuk ke sebuah rumah susun yang tampak kumuh untuk bersembunyi.
“ Aku tidak tahu bisakah memenuhi janjiku membawamu ke konsulat India. Jadi peganglah pistol ini untuk perlindungan.” Chen terlihat dingin.
“ Aku tidak mau jauh lagi darimu … tetaplah bersamaku.. kau ikut ke India saja. Aku yakin ini aman.” Ujar Pooja.
“ Kau tidak tahu siapa aku. Aku penjahat.. aku mafia.. yang telah lemah.. oleh cinta..” ujar Chen memalingkan wajahnya. Pooja mencoba meraih wajah Chen agar melihat padanya tapi  Chen tetap menepis tangannya. Terus berulang-ulang dan Chen akhrinya berdiri melihat keluar.
“ Ini pertarungan ku dengan Rocky. Dia telah datang. Kau pergilah melalui jendela.” Ujar Chen.
“ Tidak..aku tidak mau meninggalkanmu.. kita akan tetap bersama meski harus mati juga bersama.” Pooja berdiri di samping Chen.
“ Jangan bodoh… kau masih bisa menjadi wanita pada umumnya, menantikan suamimu pulang kerja dan menciumnya.”
“ Dan kau? Tidakkah inginkan itu?” tanya Pooja.
“ Bagiku cukup.. meski harus mati saat ini. Karena setidaknya aku pernah jatuh cinta..”
Pooja terkejut dan hanya memandang wajah Chen dari samping.
“ Pergilah Pooja, bawa mimpimu..aku akan menjaga mimpimu.. “ Chen mamandang Pooja dengan dalam. Pooja menitikan airmata dan berjalan mundur ke arah jendela. Dia membuka jendela namun dia kembali.
“ Aku tidak bisa pergi tanpamu.” Pooja memeluk Chen dari belakang dengan erat. Chen memejamkan matanya seolah ingin memuaskan dirinya yang selama ini tak tersentuh wanita dan cinta. Chen memegang erat tangan Pooja dan berbalik.
“ Kau takut kehilangan ayahmu? “ chen masih sempat bercanda. Pooja meninju dadanya sambil tersipu. Chen mendekat dan untuk pertama kalinya dia tahu kehangatan kecupan seorang wanita. Hingga pintu didobrak dari luar oleh Rocky. Chen berbalik dan menembakkan pistolnya ke arah anak buah Rocky.
“ Pergilah…” hanya itu yang dia ucapkan dan mendorong Pooja ke arah jendela. Pooja keluar dari jendela dan menyeimbangkan diri agar tak terjatuh ke bawah. Dia mulai mencapai balkon dan naik lalu lari dari tempat itu. Sedangkan Chen mati-matian melawan Rocky dan anak buahnya mempertaruhkan nyawanya.

Polisi tiba di lokasi. Terlihat inspektur saksena dan polisi hongkong lainnya mulai merangsek masuk ke rumah susun. Pooja dicegat anak buah Rocky, namun beruntung polisi menyelamatkannya. Terdengar suara tembakan makin keras ditempat dimana Chen berada. Pooja menceritakan apa yang terjadi pada polisi. Pooja diamankan keluar dan duduk di mobil. Dia melihat barang-barangnya ada di mobil. Dia mengambil kotak kosmetiknya dan membukanya. Sebuah berlian sebesar telur ada disana. Tapi dia tak ingat bagaimana orang itu menaruhnya. Pooja keluar mobil dan melihat beberapa anak buah Rocky berjatuhan dari jendela. Hingga sebuah tembakan dahsyat dari senapan otomatis membuatnya merunduk ke belakang mobil. Tak lama terasa senyap, sepi… polisi keluar dengan membawa beberapa tahanan yang hampir semuanya terluka parah. Pooja berlari menuju rumah susun lagi tapi dihalangi petugas.
“ Ijinkan aku bertemu Chen…”
“ Dia berbahaya nona.. tapi dia sudah dilumpuhkan polisi..”
“ Apa??? Dia tidak bersalah!!!” teriak Pooja mendorong petugas dan lari ke atas kembali. Dia dapati Chen dan Rocky dalam kondisi terluka parah. Rocky sepertinya telah mati. Pooja mendekati Chen yang tergeletak di lantai. Pooja menyentuh tangan Chen dan Chen membalas dengan erat.
“ Kau masih hidup…” isak Pooja.
“ Hanya untuk melihatmu terakhir kalinya..”
“ Tidak kumohon…” bisik Pooja. Pooja mengeluarkan berlian yang ada di kotak riasnya.
“ Ini yang kalian rebutkan.. aku tidak sadar masih menyimpannya karena memang tak tahu ditaruh dimana oleh orang itu.” Pooja menyerahkan berlian dan Chen menelannya.
“ Berlian ini memiliki kutukan , siap saja yang memegangnya akan menemukan kesulitan dalam hidup. Dan kau mengalminya.. sekarang biarlah dia ada dalam tubuhku untuk selamanya.…” katanya dengan suara hampir habis tapi masih sempat tersenyum khas. pooja tidak mengerti maksud Chen. Namun dia tak peduli dan langsung memeluk tubuh Chen, Chen membalas pelukan Pooja namun hanya beberapa saat tangan itu terlepas dari tubuh Pooja.

Ketika polisi bertanya tentang berlian itu Pooja tetap bungkam, dia mengubur rapat-rapat semuanya begitu juga kisahnya dengan Chen. Dia kembali ke India dengan kenangan indah yang memilukan. Cinta di Hongkong yang penuh duka, dan cinta yang tak kan pernah kembali….

THE END….

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Majarani

Aku bukan mandul, tapi ada yang memasang IUD tanpa sepengetahuanku!