CHORI CHORI.. sequel
cast: Rani Mukerji n Ajay Devgan.. (semua karakter sm dg di filmnya)
Pernikahan
Ranbir ( Ajay Devgan ) dan Khusi (Rani Mukherjee) berjalan mulus. Akhirnya
mereka resmi menikah setelah ganjalan demi ganjalan dalam kisah cinta mereka
teratasi. Kini mereka tinggal melangkah dalam mengarungi rumah tangga yang bagi
sebagian orang bukan perkara mudah. Dimana dua karakter harus disatukan. Ya
Ranbir yang super dingin dan Khusi yang periang akan mengarungi kisah cinta
dalam indahnya pernikahan.
Menurut orang,
malam pengantin adalah malam yang diidamkan para pengantin. Tapi benarkah?
Ranbir mendekati
Khusi yang terlihat sedang melepas perhiasan dari tubuhnya.
“ Kau tahu?
Ketika kau mencoba pakaian ini…aku sangat terpesona..” ujar Ranbir sambil
membantu melepas anting dan kalung.
“ Jadi…Cuma
karena itu?” Khusi cemberut dengan manja. Ranbir tersenyum manis.
“ Tidak cuma
itu, banyak hal yang membuat aku sadar aku mencintaimu..dan soal Pooja..dia
hanya obsesiku..bukan cintaku..” jawab Ranbir membuat Khusi bahagia dan
merebahkan kepalanya di dada Ranbir. Ranbir menariknya hingga merebahkan diri
di tempat tidur.
“ Ranbir….” Ujar
KHusi dengan manja.
“ Ya..Khusi…”
Ranbir tersenyum tak sabar.
“ Aku biasa
tidur dengan Jonathan saja.. aku merasa kurang luas tidur denganmu.. Kau di
bawah saja dulu ya…” Khusi bangun dan memeluk Jonathan. Ranbir hendak protes
tapi Khusi sudah menaruh bantal, guling dan selimut tebal di lantai.
“ Tapi ini
malam…”
“ Please
darling…good night…hihihi” Khusi tertawa dan masuk ke selimut tebal. Ranbir
langsung menjatuhkan diri di kasur tipisnya dan berusaha tidur.
Semalaman Ranbir
tak bisa tidur, berulang kali dia bangun dan menoleh ke arah istrinya yang
tengah pulas memeluk jonathan. Ingin rasanya Ranbir membuang Jonathan tapi dia
takut Khusi marah.
Pagi menjelang.
Ranbir membuka tirai kamar, matahari membangunkan Khusi yang masih
menggeliat-geliat.
“ pagi
jonathan…” sapa Khusi sambil mencium jonathan. Ranbir terlihat cemburu dan
memandang Khusi dengan kesal.
“ Pagi suamiku…”
Khusi memeluk Ranbir dan mencium pipinya.
Ketika membuka
pintu, makanan dan minuman sudah tersedia di meja. Ibu Ranbir sengaja
menyiapkan makanan buat mereka.
Ranbir masih
terlihat kesal ketika makan.
“ Nak, ada apa?”
tanya ibunya.
“ Hanya kurang
tidur.” Jawab RAnbir.
“ haha itu wajar
…” canda pamannya. Ranbir tetap tanpa ekspresi.
Khusi asyik bersenda
gurau dengan keluarga yang lain. Sedang Ranbir sibuk menggambar gedung terbaru
pesanan bosnya.
Malam demi malam
dilalui Ranbir dengan guling dan kasur tipis di lantai. Sedang Khusi asyik
memeluk jonathan dalam selimutnya. Ranbir bangun dan tanpa pikir panjang dia
mengambil jonathan lalu membuangnya ke jendela. Setelah itu dia tidur lagi.
“ Aaaaaaa…..”
Khusi histeris di tempat tidurnya. Ranbir langsung bangun dan panaik.
“ Jonathan
hilang Ranbir…” Khusi terlihat sedih dan mencari jonathan di setiap sudut.
“ Mungkin dia
keluar sebentar untuk mencari udara segar.” Ujar Ranbir santai.
“ Kya??” khusi
melotot seolah dia faham maksud Ranbir. Dia langsung lari ke arah jendela, dan
benar saja jonathan tergeletak di bawah jendela. Khusi langsung turun mengambilnya.
“ Kau bukan anak
kecil yang pantas cemburu pada sebuah boneka..” Khusi marah luar biasa.
“ Khusi….”
Ranbir berusaha menjelaskan. Tapi Khusi tak peduli dan terus menghindar dengan
wajah kesal.
Ranbir
mengangkat kopernya ke mobil.
“ Aku akan
kembali dalam seminggu.” Ujar Ranbir yang kembali harus bekerja. Tapi Khusi
cuek dan terus saja seperti mengajak bicara Jonathan. Ranbir hanya
menggelengkan kepala dan langsung tancap gas dengan mobilnya.
“ Dasar
cemburuan…” Ujar Khusi sambil menatap mobil Ranbir yang semakin jauh. “ tapi
pasti aku akan merindukanmu…” bisik Khusi.
Ranbir melihat
seorang wanita yang tengah membetulkan mobilnya di pinggir jalan. rupanya
Pooja, mobilnya mogok.
“ Pooja?” sapa
Ranbir.
“ Hai… mobilku…”
Pooja terlihat gerogi. Ranbir mencoba melihat keadaan mesinnya.
“ Sepertinya
turun mesin, biar kuantar dan kau hubungi mekanik saja.” Ujar Ranbir sambil
menarik tangan Pooja. Pooja masih menaruh hati pada Ranbir yang dia relakan
untuk Khusi. Selama dalam perjalanan mereka saling diam dan tak berani bicara.
“ ehmmm
bagaimana kabar Khusi?” tanya Pooja mencoba membuka obrolan.
“ Selalu ceria…”
jawab Ranbir sambil tersenyum.
“ Kau bahagia
sekali menikah dengannya… dan aku…” Pooja tertunduk. Ranbir menoleh ke arah
Pooja.
“ Dan kau…?”
“ Aku mencoba
bahagia sama seperti kalian…” jawab Pooja. Ranbir tersenyum.
Ranbir dan Pooja
tinggal di hotel yang sama. Pooja selalu menemui Ranbir dan mengajak makan
bersama setiap pagi sebelum mereka ke tempat kerja masing-masing. Ranbir seolah
menemukan tawa baru bersama Pooja yang dulu mengacuhkannya. Dalam kesepiannya
tanpa Khusi, Ranbir mulai menjadikan Pooja tempatnya berekeluh kesah. Sikap
Pooja yang dewasa, membuatnya nyaman menceritakan masalahnya.
Pagi ini Pooja
datang dengan sarapan yang telah dia pesan. Dia ingin membuat kejutan untuk
Ranbir.
“ Morning….”
Pooja menarik selimut Ranbir. Ranbir tersenyum dan langsung mendekati Pooja
yang menyerahkan juice campur susu segar.
“ Terima kasih…”
ujar Ranbir.
“ Hanya itu?”
Pooja tersenyum manis. Ranbir mengerutkan dahi dan memandang Pooja. Pooja mulai
mendekat mesra dan Ranbir diam saja…
“ Adegan yang
sangat romantis…” Khusi berdiri di pintu kamar. Ranbir dan Pooja terkejut bukan
main.
“ Jika dulu aku
pura-pura sakit hati melihat kalian berdua..kali ini aku tak bisa memaafkanmu
Ranbir.” Khusi lari sambil menangis.
Ranbir menarik
tangan Khusi dan memegangnya dengan erat.
“ Aku tidak
mungkin melepasmu untuk kedua kalinya.” Ujar Ranbir memandang Khusi. Dia ingat
ketika Khusi marah dan akan pulang ke Mumbai ketika di desa.
“ Pooja…”
“ Pooja hanya
teman bagiku. Ketika seorang istri tak menjalankan tugasnya, maka setan akan
menggoda sang suami untuk wanita lain.” Ujar Ranbir tertunduk sedih. Khusi
menyadari kesalahannya dan mulai mendekat.
“ Maafkan aku
Ranbir, aku egois…” katanya sambil memeluk Ranbir.
“ Kalo begitu,
jonathan nanti akan tidur di bawah kan? Dan aku diatas?” canda Ranbir. Khusi
mencubit perut Ranbir sungguhan hingga kesakitan.
KHusi:
Diam diam aku mulai malu..
Hati bergetar dan tak karuan ketika kau didekatku..
Perlahan lahan aku menjauh lalu kau mendekatiku
kembali
Aku semakin gelisah…
Kau adalah pangeran impianku..
Berikanlah cintamu padaku..
Kemarilah.. datanglah dalam tarian cintaku…
Kau adalah pangeran impianku..
Yang diam diam membawaku bersamamu..
*seperti biasa rani nari sendiri dengan centil, ajay
ttp cool
Tanpamu… duhai kekasihku.. aku tak dapat memjamkan
mata
Walau aku selalu menggodamu membuatmu kesal
Sesungguhnya aku tak sanggup berpisah denganmu
Cinta ini sudah mendarah daging
Aku bagai gila sejak jatuh cinta padamu
Katakana ini salah siapa …
Tetaplah di dekatku.. jangan marah padaku
Jika kau hilang aku akan mencarimu dalam hatiku
Karena kau lah kekasih hatiku.. pangeran impianku…
Ranbir mencubit
hidung Khusi yang masih saja nakal meski merayunya…
Aaaaaaaaa… (Khusi
berdendang sambil menjauh dari Ranbir, RAnbir mengejarnya dan memeluknya)
Ranbir:
Sihirmu.. telah memikat si kaku ini
Cinta mu telah memenjarakan si dingin ini
Jangan kau hancurkan cinta terindah ini
Lihatlah aku sangat takut kehilanganmu
Penjarakanlah aku dalam hatimu..
Sembunyikan aku dalam pikiranmu..
Agar aku tak pernah jauh darimu..
Kembalilah.. karena kau adalah kebahagianku..
Kau adalah pengantin impianku…
***
Tiga bulan
kemudian…
Khusi
muntah-muntah di pagi hari. Dia menarik handuk yang sedang dipakai Ranbir dan
dia pakai untuk muntahnya. Ranbir hanya bisa menarik nafas karena tak bisa
melarangnya.
“ Kau sakit?”
Tanya Ranbir. Khusi malah melotot dan melempar handuk ke RAnbir.
“ Pergi kau, ini
semua gara-gara kau.” Khusi turun ke ruang tamu.
“ Apa salahku?
Selalu aku yang salah..” Ranbir membetulkan kerah kemejanya. Khusi sibuk
menyiapkan sarapan.
“ Sepertinya aku
hamil…” ujar Khusi pelan.
“ What????”
Ranbir tertawa dengan wajah jayusnya dan langsung mengangkat Khusi dengan
bahagia.
“ Turunkan jika
aku jatuh bagaimana??” teriak KHusi. Ayah dan ibu Ranbir datang seperti biasa.
Dan mereka sangat bahagia mendengar KHusi hamil. Mereka langsung berpesta dan
membagi-bagikan manisan.
Hari-hari
pasangan ini penuh bahagia. Khusi yang manja selalu membuat ulah mengerjai
suaminya. Sedang Ranbir yang dingin dan penuh tanggung jawab selalu menuruti
keinginan istrinya. Seperti hari ini, Khusi ingin makan eskrim ditempat dimana
mereka dulu menikmati eskrim. Lagi-lagi Khusi memaksa Ranbir untuk mengemutnya
pelan-pelan, tidak menggigitnya.
Hari yang
ditunggu tiba. Ketika itu Khusi sedang asyik menyiram tanaman. Tiba-tiba
perutnya mulas dan melilit. Khusi menjerit kesakitan. Ranbir yang sedang
menggambar langsung lari panic hingga semua alat gambarnya berantakan.
“ Ada apa
Khusi…?” katanya panic
“ Ih.. kau masih
belum mengerti. Aku akan melahirkan..” teriak Khusi. Ranbir langsung
menggendong Khusi, lalu dibantu duduk di mobil. Ranbir langsung ngebut menuju
rumah sakit. Karena rumah mereka dipuncak bukit, butuh waktu sedikit lama
kesana. Khusi terus mengerang kesakitan bahkan terus meremas lengan RAnbir.
“ Bertahanlah..
dan jangan menarik aku begini. Aku jadi susah menyetir.” Ujar Ranbir.
“ Kau piker aku
mau begini? Harus bagaimana lagi menahan sakit ini? Lagipula ini ulahmu!”
“ Hah.. sakit
saja masih bawel apalagi tidak.”
“ Kau
benar-benar tidak bertanggung jawab…”
“ Aku membawamu
ini karena tanggung jawab…”
“ Sudah diam..”
“ Kau yang
diam…”
“
Ranbiiiiiiiiiirrr…” teriak Khusi sambil memegangi perutnya. Ranbir makin
khawatir dan mencoba tetap konsentrasi.
Tiba di rumah
sakit Ranbir berlari menggendong Khusi yang mulai berdarah ke dalam ruangan
bersalin. Suster dan dokter mulai bersiap.
“Ada mau di
dalam atau diluar?” Tanya dokter.
“ Diluar saja..”
ujar Ranbir dengan wajah penuh ketakutan.
“ Aku mau kau
temani…” ujar Khusi lirih dengan wajah lelah. Ranbir tak kuasa menolak
keinginan Khusi. Bagaimana jika ini terakhir kali melihatnya, segala macam ada
dalam pikiran Ranbir. Dengan mencoba mengumpulkan keberanian Ranbir duduk di
samping Khusi dan memegang erat tangan dan punggungnya.
Dokter meminta
Khusi tenang menunggu kontraksi karena sudah waktunya. Wajah Ranbir benar-benar
lucu ketika ketakutan. Dan ketika dokter meminta Khusi mendorong bayinya Ranbir
terus berteriak.
“ Ayo Khusi.
Kamu bisa.. ayooo..” katanya dengan wajah pucat.
“ Kau berisik
sekali… diam.. ini semua gara-gara kau..” teriak KHusi.
“ Kau masih
mengajakku berdebat…”
“ Sudahlah.. ayo
ulangi lagi..” dokter terlihat kesal dengan pasangan suami istri aneh ini.
Setelah berjuang
beberapa menit akhirnya tangis bayi terdengar keras di ruang bersalin.
“ Selamat..
bayinya laki-laki..” ujar dokter.
“ Syukurlah
laki-laki..”
“ memang kalau
perempuan kenapa?” ujar Khusi lirih..
“ Takut cerewet
sepertimu..” ujar Ranbir berbisik. Khusi cemberut dan mencubit pinggang Ranbir.
Ranbir tertawa dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.
Keluarga RAnbir
sangat bahagia. Mereka bergantian menginapdi rumah Khusi dan Ranbir agar ada
yang membantu pasangan baru punya anak ini. Khusi benar-benar merasa istimewa
berada dalam lingkungan keluarga Malhotra yang penuh cinta.
“ Kenapa
menangis?” Tanya ibu mertuanya.
“ Aku ingat
orang tuaku bu..” ujar Khusi menyeka airmata.
“ Nak.. mereka
pasti sepertimu, bahagia ketika kau lahir.. dan kami bahagia karena memiliki
putri seperti dirimu..” ujar ibu mertua.
“ Bu.. maafkan
aku jika belum menjadi menantu yang baik..”
“ heheh ibu
bahagia denganmu nak. Kau bawa keceriaan di rumah kami. Sekarang kau bawa
RAnbir baru untuk kami…” ibu mertua memeluk Khusi.
Ranbir kembali
bekerja. Mau tidak mau dia bertemu kembali dengan Pooja. Pooja mengucapkan
selamat atas kelahiran putra RAnbir. Meski dia masih terlihat berharap akan
Ranbir. Dan setiap Khusi tahu RAnbir bertemu Pooja, mereka akan bertengkar.
“ Kau selalu tak
bisa menolak Pooja.”
“ Aku hanya
menenemani dia pulang. Kasian dia wanita dan sendirian.”
“ Alasan..”
“ Seharusnya kau
tak cemburu seperti itu..” ujar Ranbir. Tapi KHusi malah membanting pintu
kamar.
Dan kemarahan
Khusi meledak ketika meminta RAnbir menjemputnya di swalayan, dia malah
dijemput pamannya karena Ranbir mengantar Pooja yang sakit ke dokter. Khusi marah besar.
“ Penting mana
Pooja atau aku dan anakmu?” Khusi bediri di depan pintu.
“ Khusi… dia
sakit. Aku tak bisa membiarkan dia mengendarai mobil. Kau baik-baik saja dan
ada paman…”
“ Memangnya
tidak ada taksi.?”
“ hmmm itu
mmmmm” Ranbir baru terpikir soal taksi. Khusi langsung menangis di kamar. Dia
sebenarnya ketakutan RAnbir masih mencintai Pooja. Dia sadar betul kisah
cintanya diawali dari scenario membuat Pooja cemburu pada RAnbir. Maka untuk
membuktikan cinta Ranbir, dia pergi ke rumah bibinya dengan bayinya ketika
Ranbir bekerja. Orang tua RAnbir pun tak ada yang tahu kepergiannya.
Ranbir marah
besar ketika membaca isi pesan di kulkasnya bahwa Khusi pergi ke rumah bibinya.
Dia merasa KHusi terlalu berlebihan dan pencemburu.
“ jangan harap
aku menyusulmu.” Ujar Ranbir sambil menendang meja. Kabar itu pun tercium oran
tua Ranbir. Mereka membujuk Ranbir untuk menjemput Khusi, tapi Ranbir menolak.
Sedang bibi Khusi pun meminta Khusi pulang tapi dia tak mau sampai Ranbir
menjemputnya. Bibi Khusi menelepon keluarga RAnbir dan menceritakan
kekhawatiran Khusi soal Pooja. Mereka jadi berfikir bagaiman membujuk dua hati
keras batu ini untuk saling memahami.
“ Khusi tak akan
kembali sebelum kau menjemputnya.” Ujar ibu.
“ Dan aku tak
akan menjemputnya. Dia harus bersikap dewasa.” Ujar Ranbir tegas.
“ Dia takut
kehilanganmu.” Ujar ayah, baru kali ini dia begitu lembut. Ranbir menoleh pada
ayahnya.
“ Jadi laki-laki
harus tegas. Jangan plin plan. Kau boleh baik pada Pooja, tapi tak selalu harus
ada untuknya. Kau harus bisa membaca isi hati Pooja yang masih menginginkanmu.”
Ujar Ayah. Ranbir terdiam, dia menutup matanya membayangkan dari awal bertemu
Khusi, bersandiwara, dan jatuh cinta.
“
Pergilah..nak.. bawa menantu kembali..” ujar nenek. Ranbir mengangguk dan
memeluk neneknya memohon restu.
Di sisi lain
KHusi selalu memandang ke pintu pagar. Berharap Ranbir datang menjemputnya.
“ Ini adalah
ujian pernikahan nak. Tak mudah menyatukan dua manusia beda karakter. Kalian
harus saling memahami. Jangan hanya ingin difahami satu sama lain.” Ujar Bibi.
“ Aku tahu bi..
aku amat takut kehilangan RAnbir. Dan sepertinya ya, aku kehilangan dia.. dia
tak datang menjemputku..sudah satu minggu..” Khusi menitikkan airmata.
“ Ketika kau
memilih Ranbir harusnya kau sudah siap dengan segala resiko yang ada. Kau tahu
persis seperti apa kisah cinta kalian sebelumnya. Tenanglah..dia pasti datang.
Membawamu.. membawa pergi dirimu dan tak akan diam-diam lagi..” bibi memeluk
Khusi yang menangis.. (theme song chori chori sad ya hihihihi)
Mobil Ranbir
melaju cepat menuju kota paman dan bibi Khusi. Di tengah jalan lagi-lagi betemu
Pooja yang memintanya mengantar ke dokter.
“ Kau sakit
lagi? Mana mobilmu?” Tanya Ranbir ketus.
“ Aku sakit
Ranbir, mana bisa mengendarai mobil.”
“ Aku carikan
taksi.” Kata Ranbir.
“ Tidak usah.
Aku pikir teman bisa membantu.” Pooja langsung berjalan. Ranbir tak tega dan
memintanya naik ke mobil. Sampai di kota Pooja tak mau turun dari mobil. Dia
terang-terangan mengatakan jatuh cinta pada Ranbir. Ranbir tak mau banyak
bicara lagi. Dia turun dari mobil dan naik bis menuju kota paman Khusi.
Tiba di terminal
bis sudah malam. Tak ada kendaraan ke desa dimana KHusi berada.
Khusi
benar-benar menangis karena Ranbir tak juga datang. Dia mengira Ranbir telah
melupakannya. Atau kembali memilih Pooja, karena orang tua Khusi telah
mengatakan Ranbir akan datang tapi tak juga datang. Padahal harusnya sudah
sampai. Khusi menutup pintu dan masuk kamar memeluk anaknya sambil menangis.
Dia tak tahu Ranbir tengah berjalan kaki
bahkan kadang berlari menyusuri jalan menuju rumahnya.
Ranbir tiba di
rumah Khusi tepat jam satu malam. Dia tak berani mengetuk pintu karena pasti
semua orang sudah tidur. Dia memilih duduk dan tidur di teras sembari memijit
kakinya. Sang bayi seperti mengetahui kehadiran ayahnya. Dia menangis di malam
hari tak biasanya. Sudah diberi susu dan lainnya dia tak berhenti menangis.
Khusi bingung dan membangunkan bibinya.
“ mungkin
panas.. coba buka jendela kamar..” ujar bibi. Khusi membuka jendela kamarnya.
Dia berbalik dan kembali ke jendela ketika melihat kaki di teras.
“ Ranbir…” Khusi
langsung lari ke luar dan membuka pintu. Ranbir yang menyandar langsung
terjatuh dan bangun.
“ Ranbir….”
Khusi berkaca-kaca. Ranbir hanya tersenyum manis.
“ Kapan kau
datang? Kenapa tak mengetuk pintu? Kenapa malah tidur disini?”
“ Hmmmm yang
mana dulu yang harus kujawab?” Tanya Ranbir memandang Khusi. Khusi malah
menangis sambil memukul dada Ranbir dan memeluknya.
“ Dasar wanita..
tak datang menangis, datang juga menangis..” canda pamannya. Bibi hanya
tersenyum manis.
“ Ranbir
berjanjilah… kau tidak akan pernah meninggalkanku ..” ujar Khusi.
“ Aku
berjanji…aku akan mati dalam pelukanmu…”
“ Itu terlalu
ekstrim… ganti janjinya…” Khusi merebahkan kepalanya di dada Ranbir.
“ Hmmm kalau
begitu… aku berjanji hanya akan melihat dirimu saja..”
“ Nanti ibu dan
nenek jg kakak bagaimana???” Khusi tersenyum menggoda suaminya.
“ Kau saja yang
berjanji.” Ujar Ranbir.
“ Aku
berjanji…hanya jatuh cinta sekali, dan menikah sekali itupun denganmu…” ujar
KHusi… ranbir memeluknya dengan erat dan mereka akhirnya belajar saling
melengkapi karakter mereka. Hingga pernikahan terasa indah dibalut cinta dan
saling memahami. Dibumbui canda dan tawa dalam romantisme, dan tentu saling
melengkapi satu sama lain.
THE END…
Wah.. bagus sekali...andaikan lebih panjang ya..maunya dari awal ranbir dan khusi bertemu... suka sekali.... bagussss
ReplyDelete