PERMAINAN HATI...



Alkisah sebuah kerajaan di India pada tahun beberapa ratus masehi lalu. Tersebutlah raja yang tampan dan penuh karisma. Raja Maharaj Sajan ( Salman Khan). Raja yang masih muda belum memiliki permaisuri, dan itu membuat banyak abdi istana berlomba-lomba mempromosikan puteri mereka padang sang raja.

Raja memiliki adik yang amat dia sayangi. Dia sangat cantik, cerdas dan semua kebaikan hati wanita ada padanya. Namanya putri Nameera  Sajan ( Rani Mukherjee ). Nameera memiliki dua sahabat yang merupakan anak penasihat bernama Sakhsi ( Preity Zinta ) dan anak mahapatih bernama Rakhee ( terserah kalian siapa heheheh klo aku yg pilih takut jd ribut ). Mereka sangat akrab dan selalu bersama kemanapun mereka pergi. Nameera yang paling muda dan adik Raja membuatnya selalu mendapatkan apa yang dia inginkan dari kedua sahabatnya.
“ Aku berharap salah satu dari kalian akan jadi kakak iparku.” Kata Nameera sambil merangkai bunga di vas disambut tawa kedua sahabatnya.
“ Apa Raja akan memilih diantara kami?” tanya Rakhee.
“ Raja pernah menyatakan menyukai salah satu dari sahabatku. Dan aku tak tahu siapa. Dia merahasiakannya.” Ujar Nameera lagi. Kedua sahabatnya jadi menerawang menghayal banyak hal.

“ Salam hormat tuan putri… “ seorang jendral muda nan tinggi gagah membuyarkan tawa canda mereka.
“ Jendral Mahendra Dheera…apa keperluanmu?” tanya Nameera. Jendral Mahendra Dheera ( Abhisek Bachan ) adalah panglima perang terbaik kerajaan. Dia juga sahabat dekat Raja ketika sama-sama berguru pedang pada ahli pedang kerajaan.
“ Anda diminta mendampingi Maharaja menemui seseorang.” Katanya dengan lembut. Nameera langsung pergi meninggalkan kedua sahabatnya.
“ Ada hal penting apa jendral?” tanya Rakhee yang terlihat menaruh hati pada jendral muda itu.
“ Raja akan meminta salah satu puteri pejabat istana jadi istrinya, dan dia meminta putri Nameera memilih salah satu dari mereka.” Ujar jendral. Sakhsi dan Rakhee berpandangan.

Dan tak lama semua abdi istana beserta putrinya berkumpul di aula utama kerajaan. Raja dan putri Nameera duduk di singgasana dengan berwibawa.
“ Aku sudah putuskan…akan menikahimu putrimu penasihat…” ujar raja membuat putrid yang lain patah hati. Rakhee memandang Sakhsi yang yang tersipu malu. Rakhee memang selalu bermimpi menjadi permaisuri kelak. Dan kini pupus sudah.

***
“ Sepertinya…ada yang kecewa?” jendral Mahendra menggoda Rakhee yang tengah duduk di taman istana.
‘ jangan menghinaku jendral….kesempatan bisa datang kapan saja. Lebih menyedihkan dirimu…andai menikahi Nameera pun…kau tetap hanya akan menjadi jendral. Bukan Raja.” Rakhee tersenyum sinis meski terlihat manis.
“ Kita lihat saja nanti….mimpi siapa yang kan jadi kenyataan….” Jendral Mahendra beranjak dan tersenyum.

Pesta meriah nan megah mewarnai kerajaan hari ini. Pesta pernikahan sang penguasa dan kekasih hatinya. Semua terlihat bahagia, tak ada raut sedih satupun meski banyak yang patah hati. Nameera dan Rakhee menari untuk menghibur sang permaisuri Sakhsi. Sakhsi ikut turun dan menari bersama. Dia tersipu dan duduk kembali ketika Maharaja memandangnya dari jauh. Sementara jendral Mahendra seperti terpesona oleh dua penari cantik itu…entah pada sang putri atau Rakhee…

Hari demi hari berlalu, Sakhsi sang permaisuri tetap ramah dan rendah hati pada pelayan dan puteri pejabat lain. Sikapnya yang lembut membuat Raja semakin cinta dan merasa telah tepat memilih pendamping. Terlebih ketika tabib menyatakan permaisuri tengah mengandung penerus kerajaan. Semua rakyat dan penghuni istana kembali berbahagia dan merayakan kehamilan sang permaisuri.
Nameera dan Rakhee selalu memanjakkan permaisuri dan selalu membuatnya senang. Membuat permaisuri sangat bahagia.

Waktu terus berjalan, dan kehamilan sang permaisuri telah menginjak lima bulan. Tepat di hari ulang tahun Raja, kembali mengadakan pesta meriah nan megah. Semua berpesta bagai tanpa beban dan menari sepuasnya. Sakshi memaksa ingin menari dengan kedua sahabatnya meski tabib melarangnya. Dan benar saja, ketika mereka meliuk dan berputar Sakhsi terjatuh. Darah segar mengalir di kakinya. Maharaja sangan panic dan segera membawa permaisuri ke ruang perawatan istana.

Dua jam sang tabib baru keluar dari kamar perawatan.
“ Maaf…baginda…sang penerus tahta tak terselamatkan.” Tabib menunduk lesu. Maharaja menarik nafas dalam dan mengangguk bijak.
‘ Ya, istriku baik-baik saja kan?” tanya Raja lebih menghawatirkan permaisuri.
“ Kondisi rahim yang terbentur..membuatnya lemah…dan….” Tabib menarik nafas panjang.
“ Katakan tabib…” penasihat yang juga ayah Sakhsi penasaran.
“ Kemungkinan dia tak akan bisa mengandung lagi.” Jawab tabib. Semua terkejut bukan main. Tapi Raja tetap tenang dan masuk menemui permaisuri yang tengah berlinang airmata.

“ Aku sudah tahu semua suamiku. Menikahlah lagi…” ujar permaisuri dengan lembut.
“ Aku hanya mencintaimu…”
“ Jangan egois…kau adalah Raja. Penerus kerajaan ini harus keturunanmu.” Sakhsi mengelus pipi suaminya yang menahan tangis.
“ Aku sudah memilih orangnya…” ujar permaisuri juga menahan tangis kesedihannya.

*****
Hari demi hari terlalui penuh kesedihan. Meski Nameera dan Rakhee menghibur permaisuri, tatap saja dia murung. Terlebih dia mendengar bisikan abdi dalam yang menyatakan Sakhsi membunuh penerus kerajaan karena memaksa menari dengan temannya. Sakhsi makin tak kuasa menghadapinya.

Di sisi lain Raja baru saja menerima tamu penting kerajaan lain. Dia membawa hadiah istimewa untuk permaisuri dari kerajaan tetangga. Tapi Raja terkejut hingga menjatuhkan hadiah itu. Dia melihat Sakhsi telah tergolek tak bernyawa di tempat tidur dengan nadi berlumuran darah. Sebuah surat dia genggam erat…
“ Maharaja cintaku….aku tak ingin membenani kerajaan…keberadaanku hanya akan mencegahmu menikah dan memiliki keturunan..maka ini adalah jalan terbaik…”
Maharaja menangis untuk pertama kali dalam hidupnya. Nameera memeluk Sakhsi dengan erat begitu juga Rakhee.

***
Tak butuh waktu lama, Raja mengikuti keinginan Sakhsi menikah lagi. Dan wanita yang disebut Sakhsi adalah Rakhee..sahabatnya sendiri. Raja lebih memilih merayakannya dengan sederhana, karena dia masih mengenang almarhumah istrinya. Rakhee terlihat bahagia mesti dengan pesta yang sederhana, tanpa tamu luar kerajaan dan rakyat.
“ Selamat….akhirnya anda jadi permaisuri…” ujar jendral Mahendra ketika berpapasan dengan permaisuri Rakhee.
“ Kau lihat…? Mimpi siapa yang jadi kenyataan?” Rakhee tersenyum bangga. Jendral Mahendra hanya tersenyum pahit. Dan wajahnya kembali berseri ketika melihat putri Nameera berjalan ke arahnya.
“ Salam tuan putri….” Ujarnya dengan lembut. Putri hanya mengangguk dan berlalu begitu saja…

Raja berencana menjodohkan puteri dengan jendral Mahendra. Jendral Mahendra amat bahagia mendengarnya.
“ Selamat…akhirnya kau juga akan menikah.” Ujar permaisuri Rakhee.
“ Aku…sepertinya belum siap kakak ipar…” ujar Nameera.
“ Kenapa? Jendral Mahendra cukup tampan dan gagah…apa kurangnya dia?” Rakhee heran.
“ Aku …hanya merasa ada yang mengganjal di hatiku…entahlah…tapi hati ini seperti gelisah.” Ujar puteri Nameera. Rakhee hanya tersenyum. Tiba-tiba Rakhee merasa pusing dan jatuh. Nameera segera memanggil tabib, dan tabib menyatakan dia sedang hamil.

Maharaja amat bahagia, juga seluruh istana dan rakyat kembali bersorak. Nameera sedikit heran, pernikahan Raja dan Rakhee baru dua minggu, tapi Rakhee telah hamil. Tapi apapun itu dia tetap ikut bahagia. Mengenai pernikahannya, puteri minta waktu untuk kesiapan hatinya.
“ Apa anda tidak menyukai saya?” tanya Jendral Mahendra menemui puteri secara khusus.
“ Bukan jendral. Aku hanya perlu mempersiapkan diri. Kau tahu…aku bukan tipe wanita yang suka diam dan tunduk begitu saja pada pria.” Puteri tersenyum manis.
“ Tapi senyuman anda semakin membuat saya tidak sabar…” rayu jendral Mahendra membuat puteri tersipu. Tangan jendral meraih tangan puteri dan menciumnya dengan mesra.
“ Ehm..maaf..mengganggu.” Rakhee berdiri diantara tirai. Jendral pamit dan hanya tersenyum hormat pada permaisuri yang dulu sahabatnya.

Menginjak usia kehamilan tujuh bulan permaisuri, Nameera masih belum memutuskan kesiapannya menikah. Itu membuat Raja juga jendral Mahendra sedikit kecewa. Tapi mereka tak bisa memaksa, Raja sangat menghormati hak adiknya.
‘ Kau akan ikut kami berjalan-jalan keluar istana?” tanya Raja pada Nameera.
“ Ada kepentingan apa kita keluar istana?” puteri heran.
“ Permaisuri ingin menghirup udara padang rumput. Dan aku harus memenuhi keinginannya yang mungkin juga keinginan bayi kami.” Ujar Raja. Nameera mengiyakan dan mereka berangkat dengan kereta kuda dan dikawal jendral Mahendra dan tentaranya.

Tiba di tepi hutan, tiba-tiba rombongan berhenti. Rupanya ada sekelompok bandit menghadang mereka. Jendral Mahendra turun tangan melawan mereka.
“ Aneh, jendral masih belum melumpuhkan bandit-bandit jalanan? Bukankah dia panglima terbaik?” Raja heran dan mengambil pedangya.
“ Kakak..sudahlah, lebih baik tetap disini.” Nameera mencegah kakaknya turun tangan, begitu juga Rakhee. Tapi Raja memaksa dengan alasan ingin meregangkan otot-ototnya.
*****

“ Aaaaaaaaaagh…” suara itu tak asing. Puteri keluar dari kereta kuda dan menghampiri arah suara. Dilihatnya Raja tengah menahan rasa sakit dengan pedang menancap di perutnya. Nameera seolah tak percaya dengan yang dia lihat…
“ Lari Nameera…” teriak Raja yang melihat Nameera histeris ke arahnya. “ Lari!”
Jendral Mahendra mencabut pedangnya dari tubuh Raja dan berlari ke arah puteri Namera. Raja rubuh seketika dan puteri Nameera langsung berlari menuju kereta kuda. Tanpa pikir panjang dia ambil alih kendali kereta kuda dan berlari secepatnya.

“ Nameera ada apa? Kau sudah gila? Kecepatanmu bisa membunuh anakku!” teriak Rakhee. Nameera menceritakan apa yang dia lihat.
“ Jangan menghayal, tidak mungkin Raja mati ditangan jendral Mahendra.” Rakhee memegangi perutnya. Rakhee terus berteriak meminta Nameera menghentikan kudanya.
“ Nameera…berhenti..perutuku sakit..” teriak Rakhee. Nameera menghentikan kererta kuda dan menarik Rakhee keluar.
“ Kita harus memberitahu kerajaan tentang semua ini..ayo.” nameera menarik Rakhee.
“ Pergilah….aku tidak mau hidup tanpa maharaja…aku juga tak kuat berlari …” rintih Rakhee. Nameera tetap memaksa dan Rakhee tetap pada pendiriannya.
“ Maafkan aku kakak ipar…aku harus meninggalkanmu disini…agar aku bisa menangkap Mahendra sang penghianat…” Nameera memeluk Rakhee lalu lari ke dalam hutan.

Jendral Mahendra tiba di tempat Rakhee berada.
“ Mana puteri Nameera?” tanyanya sembari turun dari kuda.
“ Dia hampir saja membuat kita kehilangan anak ini..” katanya sembari mengelus perutnya. Puteri yang masih bersembunyi di semak-semak terekejut bukan main. Matanya melotot tak percaya dengan yang dia dengar. Jantung berdegup dan nafas terasa sesak mengetahui penghianatan sang jendral dan permaisuri…..

“ Akan kubalaskan dendammu kak…aku bersumpah atas darahmu yang mereka alirkan …” bisik puteri Nameera yang pelan-pelan meninggalkan tempat itu. Airmatanya terus mengalir dan batinnya terus menjerit. Langkahnya semakin lemah dan tak kuat lagi memacu larinya. Dia rubuh, namun suara hentakan kaki kuda membuatnya bangkit kembali dan menerobos semak berusaha sembunyi dari para tentara penghianat.

“ Dia pasti belum jauh.” Ujar salah satu dari mereka. Puteri menutup mulutnya menahan nafasnya yang terengah-engah takut terdengar para tentara.
“ Hey kau…lihat wanita lari tidak?” tanya salah satu tentara pada pria yang melintas (Shusant Singh Rajput).
“ Dari jenis apa? Harimau? Menjangan atau apa?” tanya pria bertubuh tinggi tegap dengan bulu lembut di wajah dan dadanya.
“ Jangan bercanda! Kami adalah tentara istana.” Herdik sang tentara.
“ Maaf…maaf..aku hanya seorang pemburu, jadi wanita dari jenis itu saja yang kutemui.” Katanya sambil tersenyum.
“ Jika melihat beritahu kami, jendral akan memberimu hadiah besar.”
“ Tentu..tuan…” katanya sambil membungkukkan badan memberi hormat.

Belum jauh tentara pergi, sang pemburu mendengar suara dari semak. Dia langsung mengambil panah dan mengarahkannya ke semak dimana Nameera bersembunyi. Nameera amat ketakutan, tapi dia tak punya pilihan. Dia hanya pasrah…..

Puteri memejamkan matanya, pasrah jika panah sang pemburu menembus tubuhnya. Srekk!
“ Apa kau yang dicari mereka?” tanya si pemburu membuka semak yang menutupi Nameera.
“ Tolong tuan, jangan beritahu mereka. Mereka akan membunuhku…aku adalah saksi ketika mereka membunuh maharaja.” Nameera merapatkan tangan dan menangis.
“ Kau yakin? Maharaja dibunuh pengawalnya sendiri?” pemburu itu heran. Nameera mengangguk dan berjanji akan menceritakan apa yang dia lihat asal lindungi dia dari para pengawal Mahendra.

Setelah dipastikan aman dan pengawal semua kembali ke istana, puteri baru berani keluar dari semak. Tubuh mulusnya penuh goresan tanaman liar dan sedikit perih dan berdarah. Si pemburu mengambil beberapa helai daun liar dan mengunyahnya. Lalu dia muntahkan dan dia oleskan ke tangan sang puteri.
“ Jorok sekali kau!” puteri kesal bukan main.
“ Aku hanya ingin mengobati lukamu. Beberapa tanaman yang melukaimu beracun.” Si pemburu terlihat cuek sementara sang puteri terlihat jijik.

“ Baiklah ceritakan tentang dirimu.” Ujar si pemburu. Nameera mengaku sebagai pelayan Raja yang menemani Raja berjalan-jalan. lalu apa yang dia lihat dia ceritakan pada si pemburu, mulai dari penghianatan Mahendra hingga ternyata permaisuri juga.  Dia minta bantuan si pemburu untuk kembali ke istana dan memberitahu para petinggi istana.
“ Aku janji, aku akan meminta puteri memberimu hadiah besar. apapun yang kau minta akan kumintakan pada puteri.” Ujar Nameera dengan lembut. Si pemburu diam.
“ Baiklah..namaku Shaka…siapa namamu?” ujar Sakha sang pemburu.
“ Namaku…Nameera…” katanya. Selama ini tak ada yang tahu nama asli tuan puteri karena hanya memanggil merekea tuan puteri saja. Sakha mengangguk dan mereka segera menuju istana.

Sore menampakkan suramnya, matahari begitu cepat menutup diri di balik awan. Nameera dan Sakha tiba di gerbang istana. Belum Sakha bicara mereka sudah diserang oleh para pengawal. Sakha mengeluarkan pedangnya dan bertarung membela diri melawan pengawal. Merasa terdesak Sakha lari dan membawa Nameera kembali ke dalam hutan.

Rupanya semua pengawal telah tunduk pada Mahendra yang kini mengambil alih istana. Semua abdi istana tak berkutik dihadapannya.
“ maaf Mahendra…aku ingatkan tindakanmu bisa membawa petaka bagimu.” Ujar penasihat Raja yang juga ayah Shakshi.
“ Sepertinya kau tak cocok lagi jadi penasihat jika aku sudah naik tahta.” Ujar Mahendra.
“ Kau tidak bisa naik tahta. Kau tak memiliki darah keturunan Raja kami.” Penasihat.
“ Kau benar…tapi jika aku menikahi permaisuri..maka akulah Rajanya.” Ujar Mahendra lagi.
“ Sayang sekali, perhitunganmu salah…jika Raja meninggal dan keturunannya belum dilahirkan, maka tahta akan jatuh pada puteri Nameera yang akan bergelar Ratu..” ujar penasihat. Mahendra terkejut dan terlihat kesal. Dia perintahkan menangkap puteri hidup-hidup.

Penasihat dan beberapa abdi istana yang tak berbahaya tidak dipenjarakan. Tapi para jendral dan panglima perang yang setia pada Raja dan puteri Nameera dipenjarakan di bawah tanah. Mahendra memberitahu Rakhee bahwa dirinya tak bisa menikahi Rakhee.
“ Tetap rahasiakan tentang anak ini. Aku harus menikahi Nameera terlebih dahulu..baru menikahimu… Barulah kita akan jadi Raja dan permaisuri.” Ujar Mahendra.
Rakhee tak bisa menolak, dia hanya bisa menunggu puteri tertangkap dan terpaksa dia harus melihat Mahendra tercintanya menikahi Nameera kelak.

***
Sakha membawakan baju untuk Nameera yang dia beli dari warga.
“ Pupus sudah hadiahku…Ini pertolongan terakhirku..” katanya sembari melemparkan baju pada Nameera.
“ Terima kasih Sakha..aku akan tetap berjuang untuk kerajaan. Meski aku sedih harus berjuang tanpa dirimu..” ujar Nameera.
“ Jangan berbasa basi. Aku punya kehidupan sendiri. Dan tak sanggup melawan ribuan tentara istana.” Ujar Sakha. Dia meninggalkan puteri sendiri  di dalam hutan.

Puteri mengganti pakaiannya dengan pakaian rakyat jelata. Dia memang bingung mencari cara untuk bisa masuk ke istana tanpa bantuan orang lain. Dan masalah lain menghadang, perutnya yang belum diisi terus meminta makanan. Dia mencoba memetik buah-buahan yang berpohon tinggi, satupun berhasil didapatnya.
“ Kakak…bagaimana bisa balaskan dendammu jika untuk makan saja aku tak bisa apa-apa…” Nameera menangis membayangkan sosok kakaknya yang selalu menyuapinya ketika dia tak mau makan karena merasa kegemukan. Nameera semakin sedih ketika mengingat teriakkan terakhir kakaknya..lari…lari…

Seseorang menyerahkan ayam hutan bakar dari belakang. Nameera menoleh dan Sakha berdiri di belakangnya.
“ Makanlah…” Shaka menyerahkan ayam itu. Tapi ketika Nameera hendak mengambilnya Sakha menarik kembali ayam itu dan malah menyerahkan pedang.
“ Ambil pedang ini dan lawan aku. Baru bisa makan ayam ini…” Sakha tersenyum sinis.
“ Jika tak ikhlas aku tak akan memaksa.” Nameera melengosa dan hanya mengelus perutnya yang lapar. Sakha tersenyum kecut dan mendekati Nameera.
“ Dengar…untuk membalakan menerobos istana kau harus bertahan hidup di hutan. Dan untuk bertahan hidup disini kau harus bisa menggunakan pedang dan panah. Bukan kecantikan dan perhiasanmu. Baiklah..kali ini aku iba padamu…makanlah.” Sakha menyerahkan ayamnya dan Nameera langsung melahapnya hingga habis tanpa menyisakan untuk Sakha.
“ Buahnya mana?” tanya Nameera seolah di istana. Sakha menunjuk ke atas pohon. Nameera langsung diam dan tersenyum malu. Sakha mengeluarkan panahnya dan memanah buah-buahan hingga berjatuhan. Nameera mencucinya di sungai yang tak jauh dari tempat itu lalu memakannya dengan lahap.

Hari semakin gelap, Nameera mulai merasakan udara dingin yang menusuk ke tulang. Rasa takut akan binatang buas dan berbisa mulai terasa mana kala gelap semakin pekat. Sakha mengumpulkan ranting dan daun lalu membakarnya. Udara sedikit hangat dan terang.
“ Tidurlah, besok kita cari cara menembus istana.” Ujar Sakha. Nameera tak berkata sedikitpun, dia hanya diam di dekat api berusaha menghangatkan tubuhnya. Lagipula siapa yang bisa tidur di hadapan orang asing yang baru dikenal beberapa saat saja.
“ Jikau kau takut aku apa-apakan, kau berjaga saja..dan aku yang tidur.” Ujar Sakha. Dia langsung merebahkan tubuh di pohon besar. Nameera menoleh kesekelilingnya yang gelap. Dia dekati Sakha dan membangunkannya.
“ Sakha…apa kita tidak mengobrol saja…” ujar Nameera yang ketakutan.
“ Aku biasa tidur di malam hari.”
“ Kali ini saja….aku akan ceritakan banyak hal tentang kerajaan…” Nameera memasang senyum manis. Sakha tak bisa menolak.

Nameera menceritakan setiap sudut istana dan keseharian orang-orang disana. Sakha terlihat bosan dengan menggaruk kepalanya. Nameera menyadari dan meminta Sakha bercerita tentang perburuan. Sakha mulai cerita tentang perburuan, awal dia mulai berburu hingga dia menjadi bak raja hutan yang ditakuti semua hewan.
“ Hebat kan? Hewan yang takut padaku bukan aku yang takut mereka.” Sakha menoleh pada Nameera. Rupanya Nameera sudah pulas tertidur di pundak Sakha. Sakha hanya tersenyum dan diapun tidur pulas.

Suara burung membangunkan Sakha dari lelapnya tidur. Dia tak menemukan Nameera disampingnya. Dia panic dan mencarinya ke tepi sungai, rupanya Nameera tengah mandi dan hanya terlihat kepalanya saja dibalik batu. Sakha tersenyum dan mulai mencari makanan untuk hari ini.

Nameera mengusap mukanya yang masih basah. Naluri pria Sakha sempat berdecak kagum melihat kecantikan sang puteri. Tapi Sakha mampu mengendalikan diri dengan baik.
“ Ikan…aku suka ikan.” Nameera hendak mengambil ikan bakar tapi Sakha mengambilnya.
“ Kau harus bisa mengambilnya dariku.” Ujar Sakha.
“ Jika aku tidak makan bagaimana aku bisa berlatih pedang dan panah?” Nameera kesal.
“ Baiklah….aku hanya minta satu hal, panggil aku guru dan aku akan memberimu makan juga melatih pedang dan panah.” Sakha asik melahap ikannya. Nameera memandang kesal, tentu saja dia sangat keberatan. Tapi perutnya memaksanya mau jadi murid Sakha.
“ Guru…Sakha…ajari aku menggunakan pedang dan panah….” Ujar Nameera dengan lembut. Sakha tersenyum dan menyerahkan ikan bakar yang tinggal setengah.

Setiap hari Nameera berlatih menggunakan pedang dan panah. Sakha selalu memarahinya karena Nameera dinilainya lambat mengerti. Nameera selalu memaki Sakha dalam hati dan berandai-andai jika di istana, Sakha akan dia hukum cambuk. Kegiatan pelatihan membuat tangan Nameera lecet dan perih. Nameera menolak latihan pagi ini dan memperlihatkan tangannya. Sakha mengambil daun obat-obatan dan siap memasukkannya ke dalam mulut.
“ Tunggu…biar aku saja yang kunyah.” Nameera masih merasa jijik seperti dulu. Sakha menyerahkan selembar daun dan Nameera langsung mengunyahnya tapi….oek…dia muntah. Rasanya pahit dan getir sekali. Sakha mengambil daun sisanya dan mengunyahnya lalu dia balurkan di kedua telapak tangan sang puteri.

Nameera mendekati sungai dan hendak minum. Tapi dia tak mungkin mengambil air dengan tangannya yang penuh obat. Dia mencoba langsung dengan mulutnya, dan sulit. Sakha malah tersenyum melihat Nameera kesulitan minum. Sakha mendekat dan mengambil air dengan tangannya lalu menyuruh Nameera minum dari tangannya. Sakha terpesona dengan kecantikan sang puteri apalagi ketika bibirnya menyentuh tangannya.
“ Lagi…aku masih haus.” Ujar Nameera. Sakha mengambil air lagi.
“ Terima kasih guru….” Ujar Nameera tersenyum manis. Sakha terdiam dan memandang kosong ke dalam air, entah apa yang ada dipikirannya saat itu ( ada yang tahu??? Hehe)

Hari demi hari terlewati dalam kebersamaan. Sakha mulai merasakan getar cinta yang luar biasa dalam dirinya. Terlebih ketika dia mengajari memanah yang mengharuskan dia memeluk Nameera dari belakang.
“ Lawan aku.” Sakha menyerahkan pedang pada murid cantiknya. Nameera langsung menyerang Sakha dan dia semakin pandai memainkan pedang. Secepat kilat Nameera membuat pedang Sakha terjatuh dan dia mengarahkan pedanganya ke leher Sakha yang terjatuh sambil tersenyum.
“ Guru….hati-hati dengan permainan hati…dia bisa membuatmu kalah dari orang selemah diriku.” Kata Nameera dia seolah tahu penyebab kekalahan gurunya, yaitu terlalu terpesona olehnya. Sakha tersenyum dan menarik tangan Nameera hingga mereka berdekatan.
“ Aku sangat takut kehilangan dirimu….seperti ketika malam mengaburkan wajahmu dari pandanganku…dan seperti siang yang membuatmu mengalihkan pandanganmu dariku…” Sakha menatap lembut Nameera yang tersipu malu.

“ Aku berjanji…jika aku bisa kembali ke istana….aku ingin kau ada disisiku..” ujar Nameera setengah berbisik. Sakha memandang Nameera dengan penuh cinta lalu tiba-tiba dia berdiri.
“ Ayo kita pergi darisini.” Sakha merapikan barangnya.
“ Ada apa guru Sakha…?” Nameera heran. Sakha langsung menarik Nameera.
“ Kau merasakan akan datang binatang buas ya…bukankah mereka takut pada kita?” canda Nameera. Sakha tak bergeming dan terus memepercepat langkahnya.

Suara kaki kuda semakin membuat Sakha memacu langkahnya. Nameera heran dan memandang Sakha yang wajahnya berubah ketakutan. Tiba-tiba orang-orang berkuda telah mengelilingi mereka.
“ Salam hormat…puteri Nameera…” ujar Mahendra. Puteri terkejut bukan main. Dia menghunus pedangya.
“ Terima kasih pemburu..kau penuhi janjimu membawa puteri dalam satu bulan. Dan ini hadiah sesuai perimintaanmu…” ujar Mahendra melemparkan peti emas dan sekarung uang. Puteri Nameera terekejut tak percaya. Pedangnya terjatuh dan airmatanya menggenang untuk kemudian mengalir di pipinya. Sakha hanya terdiam tanpa berani memandang puteri.

Nameera mendekati Sakha dan menarik wajahnya..
“ terima kasih pemburu…telah membawaku kembali ke istanaku…jika merasa kurang dengan hadiahnya…katakana, akan kuberi kau lebih banyak dari ini…” Nameera melepaskan wajah Sakha dengan kasar. Mahendra hanya tersenyum dan mengulurkan tangannya pada sang puteri. Nameera naik ke kuda yang dikendarai Mahendra tanpa seolah menyerahkan diri, lalu pergi secepat kilat meninggalkan Sakha sang pemburu yang diam penuh luka di hati…..

Bersambung……

Sakha terdiam dan rubuh memandang harta yang diberikan Mahendra. Masih ingat dalam benaknya ketika dia meninggalkan puteri pertama kali, dia bertemu dengan Mahendra yang ternyata mengejarnya setelah dari istana. Dia diiming-imingi harta asal menyerahkan puteri. Dan Mahendra meminta waktu satu bulan untuk dapat membawa puteri pada Mahendra langsung ke istana. Tapi rupanya Mahendra telah mencium cerita lain di balik kebersamaan Sakha dan Nameera hingga dia datang langsung menjemput puteri di hutan.

Tiba di istana puteri disambut hangat para petinggi istana. Tapi puteri terlanjur menganggap mereka penghianat dan tak memperdulikan sambutan padanya. Meski penasihat berulang kali memberi isyarat kesetiaannya, tapi terasa sulit mengingat Mahendra selalu disamping sang puteri juga pengawal kepercayaannya.

“ Selamat datang kembali….” Ujar Rakhee ketika Nameera telah berdandan kembali dan kembali ke istana puteri. Nameera hanya menatap Rakhee dengan penuh kebencian.
“ Kenapa? Tidak ingin memelukku juga keponakanmu?” tanya Rakhee
“ Tidak usah bersndiwara lagi. Aku sudah tahu dia bukan darah daging maharaja. Dia adalah buah dosa kau dan Mahendra.” Ujar puteri. Rakhee tersenyum dan mengutarakan kebahagiaannya karena Nameera telah mengetahui semuanya.
“ O ya…aku punya hadiah untukmu dari hutan sana…” ujar Nameera sambil tersenyum. Plaaakkk!!! Tamparan kerasa Nameera mendarat dipipi Rakhee yang menahan amarah.

“ Lakukan sepuasmu menamparku. Jika itu menyenangkanmu untuk saat ini.” Rakhee terlihat kesal dan mengusap pipinya. Nameera tersenyum dan tertawa bahagia.
“ Rakhee…aku tahu kau tak bodoh…tapi kenapa kau bisa dibodohi? Kau kira Mahendra akan menikahimu setelah dia jadi raja? Hah? Hahahaha…” Nameera tertawa geli sekali sambil menatap Rakhee yang terdiam.
“ Setelah dia menikah denganku, Mahendra jadi Raja. Kau pikir dia akan menikahimu dan menjadikanmu permaisuri? Begitu? Dengar…aku adalah ratu, dia jadi raja karena menikahiku. Aku juga bisa memberinya keturunan…aku bisa memuaskannya, lalu untuk apa dirimu?? Kau hanya akan jadi baju pengganti saja. Hehehe…” Nameera tertawa dan meninggalkan Rakhee yang terdiam mendengar ucapannya.

Rakheer terus memikirkan ucapan Nameera. Ya, Mahendra memang berubah, dia tak lagi seromantis dulu. Dan mulai sulit ditemui, beragam alasan dia sampaikan melalui pengawal pribadinya. Rakhee mulai merasakan cita-citanya tak seindah yang dia bayangkan, semuanya lebih indah ketika Sakhsi dan Nameera selalu ada disisinya. Kini dia jadi manusia paling kesepian. Hanya bisa menangis dan memandang lukisan mereka bersama Raja, Sakhsi dan Nameera yang dibuat ketika mereka masih ada.

***
Berita pernikahan Ratu dan Mahendra menyebar ke seantero negara dan kerajaan tetangga. Sakha yang tengah menjual hasil buruan mendengar kabar itu dari pengawal istana yang mengumumkannya pada rakyat. Api cemburu membara dalam dirinya, tapi dia juga menyadari itu kesalahannya. Dia mencari cara agar bisa menyusup ke istana, setidaknya bisa melihat pujaan hatinya untuk terakhir kalinya.

Dengan daging pesanan kerajaan Sakha bisa masuk ke istana. Panah dan pedang dia sembunyikan diantara daging. Dan sempat diketahui koki istana. Tapi sang koki yang setia pada Ratu membantunya untuk menemui Ratu dengan menjadikannya pelayan pengantar makanan. Ketika hendak masuk kamar puteri, dia bertemu Rakhee, Rakhee memandangnya karena merasa aneh dengan pelayan yang gagah dan tampan. Tapi dia cepat berlalu dan membiarkan Sakha masuk.

“ Sarapannya yang mulia…” ujar Sakha. Nameera langsung menoleh dan hafal betul suara itu.
“ Untuk apa kau kemari? Untuk hadiahmu?” tanya Nameera dengan menahan airmata.
“ Benar. Seorang gadis berjanji padaku jika bisa membawanya ke istana, dia akan membantuku meminta apapun pada sang puteri.” Sakha menatap rindu puteri.
“ Rayuan murahan yang memang pantas dimiliki seorang pecundang.”  Puteri membuang muka dan meninggalkan Sakha. Sakha menariknya dan mendekapnya dengan erat.
“ Aku pemburu..selalu memenuhi sumpahku. Sumpahku telah kupenuhi pada Mahendra untuk menyerahkanmu, dan sekarang aku akan memenuhi sumpahku pada hatiku untuk membawamu pergi darisini.” Sakha memeluk erat Nameera yang terharu dan membalas pelukannya.
“ Kenapa begitu lama Sakha….” Nameera menangis dalam pelukan Sakha. Rakhee yang sedari tadi menguping di depan pintu terlihat merencanakan sesuatu.

Hari pernikahan tiba, Nameera menuju pelaminan dimana Mahendra telah menunggu disana. Dilain pihak, Rahkee menemui Sakha dan memberitahu cara menghentikan pernikahan.
“ Lepaskan para jendral di ruang bawah tanah. Mereka akan membantumu menghentikan semua ini.” Ujar Rakhee. Sakha mengangguk dan langsung menuju ruang bawah tanah. Beruntung beberapa dari pengawal masih setia pada Ratu dan tanpa perlawanan membebaskan para jendral.
“ Siapa kau?” tanya salah satu dari jendral.
“ Aku sang pemburu…yang akan memburu mangsaku disini..Mahendra..” jawab Sakha.

Untuk bisa menembus ruang utama tak mudah, Sakha dan yang lain mendapat perlawanan dari pengikut Mahendra. Perang tak terelakan ketika pernikahan Mahendra dan sang Ratu berlangsung. Ikrar pernikahan diucapkan dan resmilah mereka jadi suami istri. Mahendra meminta penasihat mengangkat dirinya saat itu juga jadi raja.
“ Ratu…andalah yang harus memakaikan mahkota ini pada tuan Mahendra.” Ujar penasihat. Melihat mahkota sang kakak, wajah raja kembali hadir dalam pandangan Nameera. Begitu juga ketika dia tewas di tangan Mahendra.

Nameera menghunus pedang pengawal dan mengarahkannya pada Mahendra.
“ Aku akan memakaikan mahkota itu jika kau mampu mengalahkanku.” Ratu melepas kerudung nikah dan melemparnya. Mahendra tersenyum dan tak yakin dengan tantangan Ratu.
“ Kau takut?” tanya ratu dengan tegas.
“ Baiklah istriku…jika itu bisa membahagiakanmu…” Mahendra tersenyum dan mengambil pedang yang lain. Mereka langsung bertarung meski sudah terlihat Mahendra tak melawan dengan sungguh-sungguh, tetap saja ratu kesulitan mengalahkannya.

Sakha dan yang lain semakin mendekati istana utama. Dan ratu terus mengeluarkan kemampuan pedangnya. Meski akhirnya dia kalah dan pedangnya jatuh. Mahendra menarik ratu dan menatapnya mesra.
“ Kau benar-benar wanita luar biasa…pemanasan yang menyenangkan…” Mahendra menggandeng ratu ke singgasana. Dan dengan berat hati ratu memakaikan mahkota raja. Mahendra berdiri dan mengangkat tangannya, semua bersujud memberi hormat padanya.

“ Ampun raja…diluar terjadi peperangan. Tentara banyak yang membelot dan pasukan kita semakin terjepit.” Ujar seorang pengawal.
“ Kurang ajar! siapa yang berani menantang raja Mahendra Dheera….” Teriak Mahendra.
“ Hanya seorang pemburu…” jawab Sakha yang berdiri menghunus pedang di gerbang aula utama. Ratu tersenyum bahagia meski dia kini telah resmi jadi istri Mahendra.
“ Ambil pedangmu dan turun ke medan peperangan..itu jika kau jantan.” Tantang Sakha. Mahendra langsung mengambil pedangnya dan menghampiri Sakha yang sudah bersiap. Merekapun saling menunjukkan kehebatan mereka dan saling serang.

Penasihat dan Rakhee menarik Nameera dan memintanya sembunyi di ruang rahasia selama peperangan berlangsung. Nameera dan para pelayan juga pejabat istana yang sudah tak mampu berperang lari di lorong menuju ruang rahasia. Beberapa hadangan anak buah Mahendar dapat dipatahkan oleh Nameera dengan pedang istana milik kakaknya sang raja.
Rakhee merasakan kontraksi di perutnya,  dia tak kuat lagi berlari dan meminta Nameera meninggalkannya.
“ Pergilah…biarkan aku disini. Mereka tak kan membunuhku.” Ujar Rakhee.
“ Tidak, kau harus ikut denganku…demi anakmu.”
“ Aku tidak kuat lagi…” rintih Rakhee. “ maafkan aku Nameera…hanya itu yang kuharapkan saat ini…” rintih Rakhee yang ambruk dan tak kuasa lagi berdiri.

“ Pelayan, bantu Rakhee melahirkan. Aku akan menghadang mereka.” Nameera mengambil pedang satu lagi dan pergi menyongsong tentara.
“ Nameera…..jangan tinggalkan aku…” rintih Rakhee. Nameera berjuang melawan para pemberontak yang mengejarnya, dan ditempat lain Sakha dan Mahendra masih berusaha saling mengalahkan, sementara Rakhee berjuang antara hidup mati melahirkan anaknya.

Tangis bayi itu terdengar. Nameera memepercepat membabat habis para pemberontak lalu lari ke arah Rakhee yang terlihat lemah.
“ Maafkan aku Nameera…aku memang bodoh…aku menjadi permaisuri..tapi aku kehilangan kau dan Sakhsi…aku menyesal…” tangisnya.
“ Sudahlah…aku memaafkanmu sahabatku…” Nameera menggendong bayi Rakhee.
“ Jagalah dia Nameera….jangan pandang siapa orang tuanya…dan kelak jika dia dewasa…jangan pernah beri tahu siapa orang tuanya..aku tak ingin dia malu …dan sedih..” suara Rakhee semakin terbata-bata.
“ Kau yang harus membesarkannya Rakhee…kita…aku janji.” Nameera mengelus rambut Rakhee. Rakhee hanya menggeleng…
“ Peluk aku dan katakan kau memaafkan aku…agar Sakhsi dan maharaja tahu…mereka telah datang untukku…” Rakhee memeluk erat Nameera. Namun seketika terlepas dan dia telah menemui kematiannya.

Nameera mengambil pedang kerajaan sambil menggendong sang bayi. Dia lari ke medan peperangan dan mengacungkan pedangnya yang berlumuran darah ke atas.
“ Aku ratu kalian…memerintahkan kalian untuk berhenti!!!” teriak Ratu Nameera. Semua berhenti dan memandang sang ratu. Mahendra dan Sakha pun berhenti dan memandang ratu yang terlihat penuh amarah dan semakin tegas.
Mahendra menatap bayi perempuan nan mungil di gendongan sang ratu. Mahendra mendekat tapi ratu mengarahkan pedang padanya.
“ Cukup kuberi kau kesempatan menjadi Raja…semua ini harus berakhir..” ujar Ratu dengan tatapan yang tajam bak mata pedang.

Suara gemuruh terdengar membahana, menara istana rubuh karena kobaran api dan meriam yang ditembakkan terjadi selama peperangan. Reruntuhan itu mengarah pada Ratu dan Mahendra. Dengan cepat Mahendra mendorong tubuh Ratu sejauh mungkin, namun dia tak sempat melarikan diri. Sakha menarik ratu untuk lebih jauh dari reruntuhan, untuk kemudian mengangkat puing-puing yang menimbun Mahendra. Tinggal puing batu yang besar menghimpit Mahendra.
“ Cukup Sakha…” ujar Mahendra. “ istriku…kemarilah…” katanya dengan menahan sakit. Ratu menghampiri Mahendra dan menyerahkan bayi malang itu. Mahendra menangis dan menciuminya meski tangan kirinya masih terjepit puing.
“ Aku bahagia…meski hanya beberapa saat saja jadi pendamping dirimu…cita-citaku kesampaian…aku mati sebagai Raja.” Katanya dengan suara berat.
“ Aku titipkan anak ini padamu….maafkan aku….aku mencintaimu….” Mahendra mengelus pipi Ratu dan mencium tangannya, setelah itu dia menemui ajalnya.

Penasihat mengambil mahkota Raja dan memakaikannya pada sang ratu. Semua tentara dan yang ada di tempat itu bersujud memberi hormat
“ Hidup Ratu Nameera!!!!!” teriak panglima perang. Semua mengikuti sambil mengacungkan tangan mereka. Ratu Nameera hanya tersenyum dengan airmata yang ikut menetes deras. Matanya memandang sekeliling dirinya dan wajah sang kakak dan Sakhsi seolah ikut memberikan ucapan selamat padanya.
Sakha tersenyum dan pelan-pelan menjauh dari istana.
“ Siapa aku? Berani mengharapkan seorang ratu…” gumamnya sambil berlalu dan kembali ke dalam hutan.

Hari berganti hari hingga menjadi minggu. Sakha kembali hidup jadi seorang pemburu. Dia tak lagi berharap sang ratu ingat padanya. Ya, kerajaan dan rakyat lebih penting untuk dipikirkan ketimbang dirinya.
Sakha membakar ikan yang baru saja dia tangkap. Lalu dia mencari buah-buahan. Tapi dia terkejut ketika kembali, ikan bakarnya telah lenyap.
“ Cari ini pemburu?” tanya Ratu Nameera yang asik memakan ikan bakar. Sakha terkejut sekaligus bahagia. Sakha seolah tak berani bicara dan hanya diam memandang sang ratu yang datang dengan atribut kerajaannya.
“ Hmmm… kenapa yang mulia ke hutan tanpa pengawalan?” Sakha mencoba bicara sehormat mungkin.
“ Aku hanya ingin berburu.” Ujar Ratu sambil melahap ikan dan setelah habis dia lemparkan ke sampingnya.
“ Berburu???” Sakha tersenyum heran sambil menatap mesra sang Ratu.
“ Aku sedang berburu pria…untuk ayah …” ujar Ratu sambil senyum menggoda. Sakha tersenyum bahagia dan memasang gayanya ..
“ O..ya???” Sakha tersenyum semakin penasaran…
“ Buruannya sudah dihadapanku….tinggal kutangkap saja…” Ratu mengernyitkan alisnya sambil menggoda Sakha yang tersenyum penuh makna
“ Ternyata sang ratu sudah semakin pintar …nakal ya..…” ujar Sakha sambil  berlari ke arah sang ratu.. dan. *(*(&*^&%*^(&*(&****************************************************************************************************sensor********************************* aku ga berani ceritakan ah. Ko ga enak sendiri ya….. Kalian bayangin aja sendiri. Ntar aku diceramahi bu Ustadzah…repot…..MAINKAN IMAJINASIMU……
THE END…

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Majarani

Aku bukan mandul, tapi ada yang memasang IUD tanpa sepengetahuanku!