SEDIKIT LAGI CINTA ending
Setelah kejadian itu, Rhea malah selalu menghindari Veer. Dia merasa
telah mempermainkan perasaan pria berbadan tegap itu. Entah kenapa malam itu
dia diam saja dengan apapun yang Veer lakukan padanya. Kara berulang kali
mengatakan Veer menghubunginya tapi Rhea selalu tak mau membahasnya.
“ Ada apa dengan kalian?” tanya Kara mulai curiga.
“ Minggu depan aku akan pulang ke Simla untuk istirahat sejenak.” Ujar
Rhea. Kara terus bertanya ada apa dan apakah ada hubungannya dengan Veer, tapi
Rhea tetap bungkam.
“ Sedikit lagi kau akan jatuh cinta padanya..” ujar Kara. Rhea terdiam
dan memandang Kara.
“ Hey.. aku bukan wanita gampang jatuh cinta.” Ujar Rhea kesal.
“ Terserah... semakin kau menghindarinya, semakin kau akan memikirkan
dia.. dan semakin magnet dari pikiranmu itu akan menarik perasaan cintamu.”
Kara so bijak. Rhea langsung menginjak tumpukan baju yang sedah dirapihkan
Kara. Jelas saja Kara ingin sekali melemparnya dengan gelas di sampingnya.
“ Dasar gadis tua..” bisik Kara.
“ What?” Rhea menolah.
“ No what what ..huh!” Kara langsung manyun.
Sementara itu, Veer yang putus asa menghubungi Rhea tak kehabisan ide.
Dia menghubungi nomor customer service dimana Rhea bekerja. Berulang kali dia
matikan karena yang menerima telponnya bukan Rhea. Hingga telepon ke tiga puluh
kali akhirnya dia mendengar suara yang selalu dia rindukan.
“ Customer care..dengan Rhea ada yang bisa dibantu?” ujar Rhea. Tapi
Veer diam saja, senyum mengembang di bibir tipisnya. Rhea seperti sadar siapa
yang menelepon dan langsung terlihat bingung.
“ Lupakan aku Veer....” katanya sambil mematikan teleponnya dan
tiba-tiba saja airmatanya menetes. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan
menunduk lesu. Sedang Veer hanya memandang kosong sambil terus mencari ide agar
bisa bicara langsung dengannya.
Kara memberitahu Veer bahwa Rhea akan ke Simla hari ini, bahkan sudah
di stasiun. Veer langsung lari menuju stasiun dan mencari Rhea.
“ Kita bicara seperti layaknya manusia dewasa.” Ujar Veer berdiri di
hadapan Rhea.
“ Harusnya kau faham dari sikapku, itu sudah sangat dewasa.” Rhea
menutup majalah di tangannya.
“ ini tak adil..”
“ Karena itu lupakan aku..” kata Rhea memandang Veer.
“ kau sungguh-sungguh?” tanya Veer tak percaya.
“ Kita hanya berciuman.. tidak lebih. Dan itu tidak sengaja. Jadi
lupakan saja..” rhea langsung berjalan meninggalkan Veer menuju keretanya.
“ Lebih dari itu Rhea.. kita saling menyelami diri kita, kita saling
menyatukan detak jantung kita.. jangan bohongi perasaanmu Rhea..” teriak Veer,
tapi Rhea tak peduli terus berjalan. Phonselnya berdering dan dia sibuk
menerima telepon sambil berjalan di pinggir peron. Kereta cepat akan melintas
tapi dia masih tak menyadarinya. Veer panik dan lari secepat mungkin lalu
menarik Rhea dari pinggir menghindari kereta. Naas, kaki kanan Veer membentur
kereta yang berjalan cepat hingga mereka berdua terpental ke dekat kursi tunggu.
Veer masih sempat menahan tubuh Rhea agar tak terbentur kursi.
Semua panik dan berlarian ke arah mereka. Veer terlihat kesakitan dan
darah mengalir dari kakinya.
“ Veer???” Rhea panik bukan main. Namun Rhea pun jatuh pingsan karena
nafasnya terasa sesak, dia sempat melihat kaki Veer berlumuran darah.
*****
Rhea mencari tahu keberadaan Veer, tapi Kara bilang dia sudah pulang
lebih dulu. Aneh, Rhea masih ingat ketika darah mengalir dari kaki kanan Veer.
Mana mungkin dia pulang lebih cepat dari dirinya yang hanya pingsan karena
asma?.
Rhea mencoba menghubungi phonselnya tapi tak aktif. Dia mulai cemas.
“ katakan Kara, apa yang terjadi padanya.” Ujar Rhea emosi.
“ Aku tidak tahu Rhea... ketika aku tanya pihak rumah sakit katanya
sudah pulang.” Kara terlihat ikut bingung. Rhea memejamkan mata dan berusaha
tenang. Dia benar-benar merasa bersalah. Dia terus mencari tahu kepada
orang-orang terdekat Veer.
“ Ahh... tanya Nikhil...” teriak Kara sambil mengacungkan tangannya ke
wajah Rhea.
“ Siapa Nikhil?”
“ OMG.. apa kau hilang ingatan Rhea? Apa kau ....” Kara langsung diam
memandang polos Rhea dengan mata bulatnya.
“ Jangan tampilkan muka jelekmu itu..” teriak Rhea. Kara langsung
mundur dan menarik nafas lalu tertawa. Dia terus berjoget-joget ria meledek Rhea
yang dia anggap telah kemakan omongannya sendiri dan sesuai tebakannya dia
akhirnya jatuh cinta pada Veer. Rhea menggelengkan kepala dan langsung keluar
dari kost an mereka. Sebenarnya dia ingin menghubungi Nikhil, tapi dia amat
sakit hati dan kecewa plus malu setengah mati pada pria itu..
Percaya atau tidak, bahkan diapun tidak percaya dengan apa yang dia
lakukan, ya dia rajin datang ke stadion untuk menonton pertandingan Mumbai
warrior, berharap bertemu Veer dan menyelesaikan semuanya, tapi Veer tidak
main. Bahkan sudah lima kali pertandingan dia tak terlihat di lapangan. Berita
mulai bermunculan tentangnya, dimana dia, ada apa dan kenapa.
“ Ya Tuhan.. sebenarnya apa yang terjadi padanya..?.” bisik Rhea
menatap lapangan yang mulai sepi. Rhea pun kembali bekerja seperti biasa, tapi
dia masih tak bisa melupakan Veer.
*****
“ Akhirnya... singa Mumbai kembali ke lapangan...” teriak reporter
terdengar dari televisi yang sedang ditonton Kara.
“ Veer...comeback!” teriak Kara. Rhea langsung lari ke depan televisi
dan mereka menonton bersama. Veer terlihat bersiap memukul bola, dan yap....
dia memukulnya amat jauh. Semua lari, begitu juga Veer berlari. Semua bersorak
begitu juga Kara dan Rhea terus menyemangati Veer . Namun sayang ketika hampir
kembali ke tempat semula, tiba-tiba dia terjungkal. Dia memegangi kaki kanannya
dan mengisyaratkan agar ditandu ke pinggir lapangan. Semua berdiri merasa
terkejut dan iba melihat Veer meringis yang tampak di layar stadion. Rhea
langsung berdiri dan tersadar dengan apa yang terjadi. Dia bergegas menuju
stadion yang memang tak terlalu jauh jaraknya. Dia berusaha menemui Veer, tapi
dia sudah tak memiliki hak ekslusif lagi untuk bisa masuk ke tempat itu seperti
dulu. Rhea sedih dan terus menendang apa saja yang dia temui di jalanan.
Semua headline berita memberitakan kejadian yang meimpa Veer di
lapangan. Dan juru bicara mumbai warrior mengatakan kaki Veer mengalami cedera
serius.
“ Tulang kaki kanannya retak akibat kecelakaan. Dia sudah menjalani
perawatan dan operasi tapi tidak juga dapat sembuh. Pertandingan tadi adalah
percobaan dari segala usaha kami dan tim dokter. Dan ternyata dia tak mampu
kembali. Dan kami dengan berat hati mengumumkan dia pensiun dini. Baik dari tim
ini, maupun tim nasional.”
Semua orang langsung berduka, bagaimanapun dia adalah kapten timnas
dan sangat luar biasa di lapangan. Berulang kali membuat home run. Rhea terdiam
berfikir, ya.. sebenarnya apa yang membuat Rhea ingin bertemu dengannya? Sudah
bertemu mau bilang apa? Rhea jadi benar-benar bingung. Akankah kemunculannya
malah menyakiti dan membuat Veer kembali terluka? Atau malah merasa terobati.
Dia jadi dilema dan galau setengah mati. Dan diam-diam, Rhea kembali menonton
pertandingan kriket, tidak...dia hanya berusaha masuk ke stadion, menunggu
semua orang keluar setelah pertandingan.
Pertandingan usai, semua keluar dengan tertib. Kini stadion tampak
lengang, hanya beberapa petugas kebersihan tengah menjalankan tugasnya. Rhea
diam saja dan berharap ada kesempatan masuk ke ruang official atau menemui
teman Veer agar bisa dipertemukan. Dia berdiri dan matanya kembali ke arah
lapangan ketika melihat seorang pria berjalan ke tengah lapangan dengan tongkat
kriket di tangannya.
Veer menatap lapangan lalu melempar bola ke atas dan memukulnya.
Berulang kali dia lakukan hingga keringat bercucuran di wajahnya. Pukul.. dan
terus memukul seolah ingin melampiaskan kekesalan atau bahkan frustasi. Nafas
Veer amat cepat dan setelah terdiam sejenak, dia kembali melempar bola dan
memukulnya. Rhea berhasil turun ke lapangan dan mencoba mendekati Veer.
“ Veer...” sapanya. Tapi Veer diam saja, seoalh tak mendengar. Dia
terus memukul dan memukul bola.
“ Veer...” Rhea memanggil lebih keras. mengetahui kedatanag Rhea Veer
malah semakin keras dan cepat memukul bola-bola yang dia lemparkan sendiri.
Seperti tak lelah, memungut bola di keranjang lalu dia lempar dan dia pukul
terus berulang kali.
“ Aku tahu.. semua ini karenaku.. maafkan aku..” ujar Rhea . tapi sang
pria tetap diam dan terus memukul bola. Rhea mendekat dan meraih pundaknya,
tapi dia tak menggubris. Rhea berusaha menarik pundaknya agar menoleh padanya
tapi tak mampu karena kalah postur tubuh.
“ Veer!!!!!!!!!!!!!” teriak Rhea sekuat tenaga sambil menarik kaos
Veer sekuat mungkin dan yap....tangan kiri Veer menghantam badan Rhea. Dia
langsung jatuh ke belakang dan memandang Veer dengan bibir melebar hendak
menangis.
“ Ada yang bisa kubantu?” ujar Veer mengatur pernafasannya dengan
keringat bercucuran di pipi, dahi dan lehernya.
“ Kau bilang harus selesaikan ini secara dewasa.” Rhea berdiri sambil
membersihkan bajunya.
“ Apa yang harus diselesaikan?” tanya Veer lagi.
“ Bisakah kau berhenti membuat pertanyaan?”
“ Bisa.. kau yang bilang, aku harus melupakanmu. Lalu kenapa
mencariku?” tanya Veer lagi. rhea diam menarik nafas.
“ Aku khawatir karena melihat kakimu berdarah ketika itu.” Jawab Rhea
datar.
“ Oke, dan kau sudah tahu jawabannya... lalu?” Veer masih so jual
mahal. Rhea kesal dan dia langsung berbalik hendak pergi.
“ kenapa kau jual mahal sekali Rhea.., apa susahnya mengatakan aku mencintaimu Veer..”
teriak Veer sambil kembali memukul bolanya. Rhea berbalik dan mendekat lagi.
“ Hey pemain kriket!! Kau benar-benar sama membosankan sama dengan
permainanmu! Kau pikir kita anak muda yang harus selalu mengobral kata aku
cinta kamu, aku sayang kamu.. sadarilah umurmu!” teriak Rhea kesal bukan main.
Veer berhenti bermain dan dia menoleh lagi. tapi kemudian dia kembali bermain
dan hanya tersenyum kecut.
“ Veer... kau benar-benar menyebalkan. Apa susahnya kau katakan
menikahlah denganku?!” teriak Rhea semakin kesal.
“ owh.. apa aku tidak salah dengar? Kau melamarku Rhea?” canda Veer
sambil tertawa geli. Rhea malah semakin kesal dan mengambil beberapa bola di
lapangan lalu dia lempar-lemparkan ke badan dan wajah Veer yang diam saja.
“ Dasar otak kerdil! Badanmu saja yang besar! Kau yang harus melamar
aku!!! Bodoh.. bodoh!!” teriak Rhea seperti menjerit-jerit. Veer malah senang
melihatnya dan dia menarik tangan Rhea hingga badan mereka bersentuhan. Mata
mereka berpandangan.
“ Jangan macam-macam..obatku tertinggal di rumah.” Ujar Rhea dengan
wajah takut tapi penasaran. Veer tersenyum. Airmata Rhea meleleh tiba-tiba,
bukan takut asmanya kambuh, tapi dia amat terharu karena akhirnya dia bisa
bertemu orang yang dia cari.
“ Kau pikir aku mau apa?” tanya Veer lembut. Rhea menggeleng pelan.
Namun mata Rhea kembali melebar ketika wajah Veer mendekat. Dia menendang kaki
Veer dan ugh..itu kaki kanan yang terluka. Veer langsung histeris dan menjauh
sambil meringis lalu duduk menahan sakit. Rhea panik dan lari bersimpuh di
hadapan Veer.
“ kau baik-baik saja? Maaf aku lupa ...” Rhea memandang Veer dengan
wajah bersalah. Veer memandang matanya. Dia tersenyum bahagia melihat cinta di
mata wanita itu.
“ Aku sangat bahagia.. karena akhirnya aku bisa memiliki tatapan mata
indah ini..” bisik Veer. Rhea tersipu .
“ Kakimu...” Rhea mengunci bibirnya soal sangat sedih. Veer malah
tersenyum menarik Rhea semakin dekat.
“ Aku rela kehilangan apapun, asal mendapatkanmu...”
“ Gombal....” Rhea tertunduk malu, sedang Veer mengecup keningnya.
Tiba-tiba rintik hujan turun. Rhea memandang langit dan wajahnya mulai
basah oleh tetesan hujan.
“ Ayo berteduh..” Veer hendak bangkit, tapi Rhea menahan tangannya.
Rhea menatap mata Veer dengan dalam. Mereka bertatapan penuh makna. Hujan
semakin deras membasahi mereka, tapi mereka masih saling diam, saling
memandang, ntah apa yang mereka pikirkan..atau bingung dengan apa yang harus
dilakukan..
Kara yang sedari tadi melihat dari bangku penonton di sisi tribun yang
lain tersenyum.
“ Bodoh.. buang-buang durasi saja hanya saling memandang...
huffffhhhh” dia terus merekam moment itu.
“ I love you...” bisik Veer dengan bibirnya yang basah oleh air hujan.
Rhea menggeleng, dia mendorong Veer hingga tubuhnya basah oleh air hujan di rumput
lapangan...
“ Owwww....Rhea?????.” Kara langsung menutup matanya sambil tertawa...
“ Dasar kau.. diam-diam ternyata.... hahaha..” dia mematikan
handycamnya... Kara berjalan meninggalkan tempat itu dengan senyuman bahagia.
Meninggalkan dua manusia yang tengah ......menurut kalian????
THE END....

Comments
Post a Comment