CHORI CHORI CHUPKE CHUPKE .. sequel by fans
Masih ada yang ingat ending chori chori chupke chupke? Ya, Madhu
akhrinya menyerahkan anaknya pada Priya dan pergi. Dan ini kelanjutannya, tentu
versi saya hehe..
7 tahun kemudian...
Anak Raj dan Madhu, atau lebih diketahui orang Raj dan Priya kini
telah berusia tujuh tahun. Dia sangat tampan seperti Raj, dan kepribadiannya
yang sedikit periang seperti Madhu, dianggap orang seperti Priya yang memang
juga periang di mata mereka. Kehidupan mereka amat bahagia, satu sama lain
saling mengisi. Priya istri yang sangat baik, dan Raj begitu mencintai
istrinya.
Suatu hari di pesta ulang tahun Sameer, putra Raj dan Priya semua
berkumpul bahagia. Kakek menanyakan apa hadiah yang ingin dimiliki oleh Sameer.
“ Hmmm apa ya? Aku ingin adik...” teriak Sameer. Semua bertepuk tangan
bahagia dan setuju. Sedang priya langsung tersenyum kecut dan memandang Raj.
Raj menggandeng pundak Priya dan memintanya tetap ceria seperti biasa.
Dan setelah pesta usai, Raj dan Priya masuk ke kamar mereka. Priya
terlihat gundah dan gelisah.
“ Ada apa sayang?” tanya Raj lembut memeluknya dari belakang.
“ Entah kenapa aku merasa bersalah, pada keluargamu, pada Sameer.
Andai mereka tahu yang sesungguhnya bagaimana?” tanya Priya.
“ Tidak akan ada yang tahu jika kau tetap bersikap biasa.” Raj membalikan
tubuh Priya.
“ Priya, sekarang Sameer adalah anakmu, jadi lupakanlah soal itu.
Ayolah...” Raj mengecup kening Priya yang tersenyum gundah.
*****
Di sekolah Sameer sangat cerdas. Dan hari ini Priya berjanji akan
mengajaknya jalan-jalan ke taman bermain sebagai hadiah ulang tahun. Priya dan
Sameer masuk ke sebuah mall besar dan mereka memilih mainan sebelum ke arena
bermain.
“ Priya...” sapa seseorang dari belakang. Priya menoleh dan dia
terkejut bukan main.
“ Madhu?” priya menatap madhu dengan tajam. Madhu tersenyum dan
mengangguk.
“ Kau .?? disini/?...” Priya terlihat bingung.
“ Aku sedang berjalan-jalan di kota ini. Tiba-tiba saja aku ingat
kalian. Dan Tuhan amat baik mempertemukan kita.” Jawabnya tenang. Jauh dengan
sikap madhu yang dulu. Priya tersenyum dan memeluknya.
“ bu, aku mau yang ini..” ujar Sameer memperlihatkan sebuah mobil
control.
“ Tentu sayang..” ujar Priya menghampirinya. Madhu langsung tertuju
pada Sameer. Jika keibuannya langsung muncul. Dia memandang Sameer dengan haru
dan sedih.
“ priya.. dia...” katanya dengan terbata-bata. Priya dilema, dia
memandang Sameer lalu menoleh pada Madhu dan mengangguk.
“ Ya, dia anakku Madhu..” jawab Priya. Madhu mengangguk dan menitikkan
airmatanya.
“ Hi.. kau sudah besar ya?” madhu memandang Sameer lalu memeluknya.
“ Ini siapa bu?” tanya Sameer. Priya menarik nafas memandang Madhu.
“ aku teman ayah dan ibumu.. terakhir bertemu saat kau dilahirkan.. “
ujar Madhu. Priya tersenyum manis mendnegar jawaban Madhu.
Priya yang mang sangat ramah akhirnya mengajak Madhu mampir ke
rumahnya.. Raj yang baru datang sempat terkejut melihat Madhu.
“ Kenapa kau ajak dia ke rumah?” bisik Raj pada Priya.
“ Raj.. dia ibu dari anak kita juga kan?”
“ Sameer anakmu priya..” ujar Raj sedikit kesal. Priya hanya tersenyum
mendengar kekesalan suaminya. Sedang Madhu amat bahagia bisa berkumpul dengan
keluarga Malhotra yang hangat. Terlebih dia bertemu lagi Raj, pria yang dia
cintai.
Awalnya semua berjalan mulus, dan Madhu diterima dengan baik. Namun
suatu malam, Raj dan Priya tengah berdiskusi di kamar.
“ Aku harap Madhu segera pergi, ini tidak baik untuk kehidupan kita.”
Ujar rAj.
“ Kenapa? Dia tidak mengganggu sayang.. dia hanya ingin meluangkan
waktu dengan Sameer. Sebagai seorang ibu, aku bisa memahami itu..” Priya mengelus
kening dan rambut Raj.
“ Priya, aku takut lama-lama dia berniat mengambil Sameer. Karena
Sameer darah dagingnya...” ujar Raj cemas.
“ Tidak akan.. percalah...” priya memeluk Raj. Sameer yang ada di
dekat pintu mendengar semua itu. Bagaimanapun, di usianya dia sudah faham
pembicaraan orang tuanya. Dia menangis dan berlari ke kamar kakek neneknya.
“ Ada apa sameer?” neneknya panik.
“ Ayah bilang aku bukan anak ibu, tapi anak tante Madhu..” isaknya.
Jelas saja kakek dan neneknya amat terkejut. Priya dan Raj yang sempat
mendengar tangisan Sameer langsung lari keluar kamar dan mereka benar-benar tak
menyangka dengan semua ini.
“ Raj, bisa kau jelaskan?” ujar kakeknya dengan wajah cemas dan pucat.
Raj memandang sang kakek yang sudah renta dan khawatir soal jantungnya. Raj
memeluk kakeknya dan mengangguk pelan. Sang kakek langsung syok dan rubuh.
Semua panik namun dia masih bisa mengendalikan diri.
“ Aku baik-baik saja... jelaskan yang sesungguhnya...” ujar kakek
dengan memandang pada Priya.
Akhirnya Priya menceritakan semuanya. Dan saksinya adalah paman dokter.
Semua sangat sedih dan terharu, sedih dengan keadaan priya, dan terharu dengan
pengorbanan Madhu. Ibu langsung memeluk Madhu, begitu juga kakak ipar dan
lainnya. Hanya Raj yang memeluk Priya yang menangis.
Dan, semua berbalik seratus delapan puluh derajat. Orang-orang kini
lebih peduli pada Madhu daripada Priya. Bahkan Sameer jelas-jelas telah
mengakui Madhu lah ibunya, dan hanya ingin tidur dengannya. Meski begitu, Priya
tetap tersenyum dan bersikap baik-baik saja.
“ Raj, sebaiknya kau ambil keputusan. Memilih madhu atau priya.” Ujar
ibunya.
“ Apa maksud ibu?” raj sangat terkejut.
“ Raj, madhu adalah ibu dari sameer. Dia bisa memberikan keturunan
pada mu lebih banyak. Sedang priya? Dia tak akan memberikanmu apa-apa lagi.”
ujar kakak ipar.
“ Tidak, aku amat mencintai Priya.. sampai kapanpun.” Ujar Raj dengan
hati gundah.
“ Demi cintamu kau menyakiti hati seorang ibu, tidak banyak ibu.
Berapa ibu yang akan tersinggung jika tahu akan hal ini? “ ujar ayahnya.
“ lagipula Sameer sekarang lebih dekat dengan ibu kandungnya..” tambah
kakak ipar.
“ Ini sudah ada perjanjiannya,..” ujar Raj.
“ faktanya madhu tidak menerima uang itu kan? Dia mencintaimu Raj, dia
juga mencintai anaknya. Dia berkorban untukmu. Sadarkah kau itu?” ujar ibu
lagi. priya yang mendengar semua itu langsung menitikkan airmata. Dia tak kuasa
lagi mendengarkan dan langsung pergi ke kamarnya. Lalu melihat ke kamar Sameer
dimana tengah tidur pulas dengan Madhu.
Ketika dia kembali ke kamar dia mendapati Raj tengah termenung di
tempat tidur. Priya duduk di sampingnya. Raj menoleh dan meraih tangannya lalu
menciumnya.
“ Aku sudah mendengar semua pendapat keluargamu.” Ujar Priya.
“ Kumohon.. jangan terpengaruh Priya...”
“ Tidak.. itu benar. Apa yang bisa aku berikan padamu? Tidak ada
raj... sedang madhu? Cinta, keturunan, semua dia bisa berikan. Cinta tanpa
keturunan itu hampa, dan aku si pemilik hampa.” Priya menggenggam erat tangan
suaminya.
“ Cukup.. kita tidur saja..” Raj membaringkan Priya dan memeluknya.
Airmata Priya masih meleleh di pipinya, dan Raj terus menghapusnya.
“ Tidak mungkin aku biarkan kau menangis sepanjang malam , setiap
saat.. tidak priya.. aku sangat mencintaimu...” bisik Raj sambil mendekap erat
Priya.
*****
Seluruh keluarga Raj berkumpul dan meminta Raj pulang segera dari
kantor. Priya duduk disamping ibu mertuanya. Dan semua terlihat memasang wajah
serius. Raj masuk dan melihat keanehan yang ada.
“ Kita mulai saja... “ ujar ayah Raj.
“ Raj, kami memutuskan bahwa kau harus menikahi Madhu..” ujar ibunya
dengan tetap menggenggam tangan Priya. Wajah Raj langsung berubah kesal dan tak
percaya dengan apa yang dia dengar.
“ Priya telah menyetujuinya, jadi tidak ada masalah. Ini demi kebaikan
bersama. Kau, Priya, Madhu, juga Sameer...” ujar kakeknya.
“ Ini tidak adil. Aku bukan anak kecil lagi yang bisa kalian
perlakukan demikian. Pernikahan itu masalah serius.” Ujar Raj emosi.
“ Justru itu, kau harus bertanggung jawab juga pada Madhu.” Ujar
ayahnya. Raj tak bisa berkata banyak. Sedang Priya terdiam tak memandangnya
sedikitpun.
“ Priya...” Raj memanggil nama istrinya. Priya mengendalikan diri dan
menahan tangis lalu memandang Raj dengan tersenyum, lalu mengangguk. Raj
benar-benar tak percaya dengan semua kenyataan yang ada. Sedang Madhu tersenyum
bahagia, akhirnya dia bisa menikah dengan pria yang dia cintai selama ini.
“ Ini adalah kedua kalinya aku menyiapkan kamar untuk suamiku
sendiri....” jerit batin Priya ketika menghias kamar pengantin untuk Raj dan
Madhu. Kakak iparnya, yang merupakan istri dari kakaknya datang menghampiri.
“ Priiya, kau yakin dengan semua ini?” tanyanya gusar. Priya menoleh
dan memandang kakaknya. Kali ini dia tak kuasa menahan tangis.
“ Biarkan aku menangis dihadapanmu kak, tapi tidak dihadapan Raj dan
keluarganya..” bisiknya sambil memeluk sang kakak.
“ Apa tidak sebaiknya kau bercerai saja? Dengar, bukan tidak mungkin
setelah ini, kau akan mereka campakan dan lupakan..” bisik kakak iparnya lagi.
priya terdiam, dia benar-benar dilematis. Dia masih amat mencintai Raj, tapi
dia juga tak rela sebenarnya Raj menikah lagi. tapi dia tak mau berpisah dengan
Raj.
“ Saat ini mungkin Raj masih peduli padamu, bagaimana jika anak kedua
Madhu lahir. Mungkin kau benar-benar tersingkir. Baiknya kau renungkan lagi..”
kaka ipar langsung meninggalkan Priya sendirian.
Pernikahan masih satu minggu lagi, tapi persiapan segala hal telah
dilakukan. Termasuk kamar pengantin, pelaminan dan lain-lain. Priya ikut sibuk
menata setiap sudut dengan seksama.
“ Priya..” madhu menemui Priya. Mereka saling diam untuk beberapa
saat.
“ Kau yakin baik-baik saja?” tanya Madhu. Priya mengangguk.
“ Semua akan baik-baik saja madhu.. percalah..” Priya menepuk pundak
Madhu. Dia langsung pergi dan mengatur kebutuhan lainnya. Padahal di belakang
banyak orang, dia sering mengusap airmatanya.
Bersambung....
Priya berniat membeli perlengkapan lainnya. Ketika itu hujan turun
deras, Priya ingat, Raj akhirnya bisa memiliki anak setelah membiarkannya
berdua saja dengan Madhu. Priya meminta sopir mengantarkan barang ke rumah
keluarga Malhotra.
“ Nyonya mau kemana?” tanya sopir.
“ Aku akan ke kuil dulu.” Ujar Priya. Sopir menurut dan langsung
pergi. Priya berjalan di tengah hujan dengan membawa payung menuju kuil yang
lumayan jauh darisana. Dia melihat ke kanan dan kiri ketika akan menyeberang,
setelah dirasa aman, dia berjalan. Angin berhembus kencang hingga payungnya tak
terkendali. Priya berusaha mengendalikan payungnya, namun naas, sebuah mobil
dengan kecepatan tinggi menghantam tubuhnya. Priya terpental hingga beberapa
meter. Darah mengalir menyatu dengan air hujan. Dompetnya tergerus air dan
masuk ke gorong-gorong hingga menghilang. Sang pengemudi mobil langsung panik
dan turun. Dia masih melihat Priya meringis dan bergerak.
“ Dia masih hidup...” ujarnya dengan segera menggendong tubuh Priya
dan membawanya ke dalam mobilnya.
“ Sudah kubilang kan jangan terlalu ngebut.” Ujar istri laki-laki itu
(Vidya Balan).
“ Maaf sayang, kita akan sekalian membawanya ke rumah sakit.” Ujar suaminya
(Abhisek Bachchan). Mereka langsung menuju rumah sakit. Sementara Priya masuk
ICU, istri dari pria tadi masuk ruang bersalin.
“ Tuan Avinash, apa anda keluarga dari korban di ruang ICU tadi?”
tanya dokter. Avinash bingung, dia langsung mengangguk.
“ Kondisinya kritis, dia koma.” Ujar dokter. Avinash benar-benar
ketakutan, dia juga masih panik karena istrinya belum ada kabar dari ruang
bersalin.
“ Tuan Avinash, maaf.. kami hanya bisa menyelamatkan bayinya. Istri
anda mengalami trauma dan pendarahan. Hingga dia tak tertolong.” Ujar dokter
yang menangani istri Avinash. Dia lemas dan menangis sambil berlari ke ruang
bersalin.
“ Vidya....” katanya dengan penuh pilu. Suster menyerahkan bayi
mereka.
“ Bangun Vidya.. lihat anak kita...” ujarnya dengan suara amat sedih.
Dokter memintanya tenang dan mengurus semua surat-surat yang harus
diselesaikan.
Avinash melewati ruang perawatan Priya yang masih tak sadarkan diri.
Dia lalu mengurus pembakaran istrinya dan kembali ke rumah sakit untuk
bertanggung jawab atas priya.
“ Sebenarnya saya menabrak wanita ini, saya tidak kenal dia.” Ujar
Avinash pada dokter.
“ Sebaiknya kau lapor polisi.” Ujar dokter yang juga teman dekatnya.
“ Tidak, jika aku dipenjara bagaimana nasib anakku?” tanyanya lagi.
“ Begini saja, aku akan mengurus wanita itu, setelah pemeriksaan
terakhir kemungkinan dia amnesia. Aku yakin sekali. Dia sempat sadar beberapa
saat dan tak mengenali dirinya. Aku akan menjadikan namanya Vidya. Nama
istrimu.” Ujar dokter Shidart.
“ Kau gila?” Avinash tak bisa menerima.
“ Avinash, pilihan ada di tanganmu.” Ujar shidart. Avinash terdiam
memandang Priya yang masih tak sadarkan diri. Dia memang tak tahu harus
menghubungi keluarganya, karena tak satupun identitas ditemukan. Avinash
akhirnya setuju, dan Priya yang masih koma, dipindahkan ke rumah sakit Delhi,
dimana Avinash tinggal.
*****
Priya atau sekarang Vidya terlihat tengah mengasuh anaknya. Avinash
datang dan membawa boneka.
“ Lihat itu ayah...” ujar Priya. Avinash langsung menggendong putrinya
dan terlihat sangat sayang.
“ Terima kasih sudah menjaganya. Kau masih sakit, sebaiknya istirahat
saja.” Ujar Avinash.
“ Aku ini ibunya kan? Kenapa kau bicara begitu?” Priya heran.
“ Aku tidak mau kau terlalu lelah, kan ada suster khusus untuk
Saira..” ujar Avinash mengelus rambut Priya.
“ aku sudah sehat.” Kata Priya memeluk Avinash dari belakang. Avinash
tersentak dan merasa risih, bagaiamanapun Priya adalah orang lain.
“ Besok kita akan ke dokter, memastikan kondisimu. Oke..” Avinash
mengelus pipi Priya dan berlalu. Priya heran, selama ini selalu seperti
diperlakuakan seperti orang lain. Bukankah dia istrinya? Dan namanya Vidya?
*****
“ Ya, nyonya Vidya sudah pulih. Semua hasil pengecekan oke.” Ujar
dokter. Priya tersenyum memandang Avinash yang risih dengan gandengan tangan
Priya.
“ Terima kasih dokter.” Ujar Priya dan Avinash. Mereka pulang dan
selama perjalanan, Priya terus merebahkan diri di pundak Avinash, membuat
Avinash makin salah tingkah.
Dan malamnya Priya memeluk Avinash ketika tidur, Avinash langsung terbangun
dan berpura-pura mau minum.
“ Sebenarnya ada apa? Kau tidak seperti suami pada umumnya. Kau tidak
pernah menceritakan bagaiaman hubungan kita selama ini, sebelum aku hilang
ingatan. Apa kita cinta kita sudah habis? Hingga kau begitu dingin padaku?” tanya
Priya berdiri di belakang Avinash.
Avinash benar-benar bingung, dia takut jika diberitahu Priya akan
sakit lagi, dan jika dia tak memberitahu maka akan terjadi hal yang terlarang
antara dirinya dan Priya.
“ Aku... aku... aku hanya tak ingin kau sakit lagi sayang.” Ujar
Avinash berbalik dengan senyuman. Priya memandang Avinash.
“ Kau bohong. Ceritakan yang sesungguhnya.” Ujar Priya.
“ Aku tak melihat ada fotoku di rumah ini. Aku tak melihat ada foto
pernikahan kita. Sebenarnya ada apa?” tanya Priya.
“ Sebenarnya....” Avinash terlihat gugup. Saira menangis dan Priya
akhirnya memilih ke kamar Saira. Dia gendong Saira seperti anaknya sendiri,
hingga tertidur kembali dan terlihat nyaman. Avinash makin galau dan makin
bingung. Dia menelepon Shidart dan meminta bantuannya.
Avinash membawa Priya kembali ke Mumbai, berharap dia pulih
ingatannya. Dan Avinash mengajaknya ke dekat kuil dimana dia tertabrak. Mereka
berdoa disana dan Priya melirik Avinash yang masih berdoa. Setelah selesai
mereka berjalan kaki menuju hotel yang tak jauh dari lokasi itu. Raj yang baru
pulang dari kantor melihat sosok Priya tengah berjalan di trotoar.
“ Priya....” Raj sangat bahagia dan langsung turun dari mobilnya.
“ Priya....kemana saja kau sayang..” Raj memeluk Priya, sedang Priya
mendorongnya karena kaget dan bingung.
“ Maaf Tuan, anda jangan memeluk istri orang lain sembarangan.” Ujar
Priya. Raj heran dan menatap ke arah Avinash. Avinash malah gugup, dia senang
karena bertemu orang yang mengetahi masa lalu Priya.
“ Siapa kau?” tanya Raj memandang Avinash. Avinash memandang Raj, dia
yakin Raj yang akan memecahkan masalahnya. Avinash tak sempat menjelaskan
karena Priya yang merasa risih langsung pergi meninggalkannya ke hotel.
“ Aku tinggala di hotel dekat sini. Kita bertemu untuk penjelaskan
masalah ini.” Ujar Aninash tenang. Raj menarik nafas dan dia bersedia bertemu.
Tanpa sepengetahuan Priya, Raj dan Avinash bertemu. Avinash
menjelaskan semua kejadian dari aal hingga akhir. Dan Raj amat terpukul, dia
akhirnya bertemu Priya. Tapi dia hilang ingatan bahkan tak mengenalinya lagi
meski mereka saling mencintai. Raj menceritakan kejadian ini pada keluarganya,
mereka amat terkejut dan hampir tak percaya. Mereka sempat mengira Priya memang
lari karena ingin membiarkan Raj bahagia dengan Madhu.
Tanpa ada yang tahu, Madhu menemui Priya di hotel.
“ Anda siapa?” tanya Priya heran ketika mereka berhadapan. Madhu
menatap Priya yang terlihat beda.
“ Namaku Madhu. Aku ibu dari anak ini.” Ujar Madhu menunjuk saira.
“ Jangan bercanda nona, dia anakku. Aku tak faham maumu apa, jadi
silahkan keluar.” Priya kesal dan bangkit.
“ Kau tidak ingat? Kau tidak bisa hamil. Lalu kau biarkan aku dan
Avinash tidur bersama. Lalu aku hamil, dan melahirkan anak ini. Tapi aku
mengatakan pada semua orang kalau ini anakmu.” Ujar Madhu lantang. Priya
menoleh dan memandang Madhu dengan tajam.
“ Kau tahu masa laluku?”
“ Ya, bahkan kau kecelakaan karena suamimu akan menikahiku. Kau pergi
dari rumah, lalu mengalami kecelakaan.” Ujar Madhu. Priya terlihat berfikir dan
berusaha mengingat masa lalu. Tapi dia tak kuat. Dia kesakitan hingga histeris
menangis dan terjatuh.
“ Priya....” Madhu panik. Priya bangkit lagi dan meminta Madhu
meninggalkannya.
Sorenya Priya mengajak Saira ke taman. Avinash masih menemui shidart
di Rumah Sakit, dan membiarkan Raj menemui Priya untuk memberitahukan banyak
hal.
“ Priya...” raj menyentuh pundak Priya. Priya langsung menoleh dan
tentu saja mundur menjauh.
“ Kau sungguh tak ingat aku..? kita saling mencintai dan kita sangat
bahagia ketika itu... ayolah..” Raj terlihat sedih namun berusaha tersenyum.
“ Namaku Vidya. Maaf tuan, kenapa anda begitu memaksa aku Priya?
Mungkin kau salah orang.” Priya tetap mengelak. Avinash dan Shidart yang
memperhatikan dari jauh terus berdoa agar Priya mengingat Raj.
“ Priya.... kau tahu? Kita bertemu di pesta pernikahan teman kita.
Saat itu kau mengerjaiku seolah sudah punya anak. Lalu ketika melamarmu, aku
mengira akan dijodohkan dengan kakak ipar. dan setelah menikah.. kita
menghabiskan waktu bersama di Swiss.. lalu kau hamil. Dan...kecelakaan membuat
kau tak bisa hamil lagi. saat itulah kau meminta aku menikah lagi. tapi
bagaimana bisa? Aku mencintaimu...” Raj terlihat berkaca-kaca. Priya terdiam
memandang Raj, dia mencoba mengingat masa lalu. Tapi dia gagal.
“ Oh Tuhan.. sungguh aku tidak ingat... maafkan aku tuan, tapi mungkin
kau salah orang.” Priya berbalik dan berjalan meninggalkan Raj.
“ Priya...kemudian kita memiliki anak. Dari Madhu..”
“ Madhu????” Priya memotong ucapan Raj.
“ Ya, Madhu akhirnya memberikan anak untuk kita...”
“ Saira benar anak Madhu? Wanita itu....” Priya teringat Madhu yang
kemarin menemuinya.
“ Sudahlah omong kosong apa yang kalian mainkan...” Priya langsung
meninggalkan tempat itu. Raj menarik nafas dalam dan menoleh ke arah Avinash
dan Shidart.
****
“ Kita akan kemana?” tanya Priya pada Avinash.
“ Pesta ulang tahun pernikahan temanku.” Jawab Avinash. Mereka tiba di
rumah keluarga Malhotra, dan Priya memandang sekeliling taman di sekitar tempat
itu. Dia seperti mengingat sesuatu, tapi begitu sulit untuk teringat
sepenuhnya.
Semua keluarga Raj diluar menyambutnya. Ibu terlihat menangis begitu
juga kakek dan kakak ipar.
“ Maafkan kami Priya...” ujar kakak ipar memeluk Priya
“ Sebenarnya kalian ini siapa dan kenapa terus memanggil aku Priya?” Priya
memandang semua orang dengan heran.
“ Bahkan kau tak kenal pria tua ini?” tanya kakek dengan sedih. Priya
hanya tersenyum, tapi dia benar-benar tidak ingat.
“ Jika memang dulu aku adalah bagian dari keluarga ini, mungkin Tuhan
memang menginginkan aku tidak lagi menjadi bagian dari keluarga ini dengan
menghilangkan ingatanku.” Priya tersenyum.
“ Bukankah seharusnya Raj sudah menikah dengan Madhu, dan aku hilang.
Mungkin itulah kehendak Tuhan... “ ujar Priya memandang Raj yang terkejut bukan
main.
“ Priya....” Raj langsung histeris dan memegang pundak Priya. Bibirnya
kelu tak bisa menerima begitu saja ucapan Priya.
“ Ini adalah ulang tahun pernikahan kita... aku harap kau kembali..”
Raj berkaca-kaca.
“ Maafkan aku Raj.. aku benar-benar tak ingat dan bingung.” Priya
melepaskan paksa tangan Raj dan meraih tangan Avinash lalu mengajaknya pergi.
Semua menangis karena merasa bersalah atas tindakan mereka terhadap Priya
selama ini. Mungkin ini teguran Tuhan karena telah memaksa Priya membagi cinta
juga suaminya dengan wanita lain.
“ Ibu....” teriak Sameer. Priya tetap berjalan menuju mobil dengan
Avinash.
“ Ibu.. apa kau juga tak ingat padaku... “ Sameer mengejar Priya lalu
meraih tangannya. Priya berhenti dan memandang Sameer.
“ Kau boleh melupakan yang lain. Tapi jangan lupakan aku bu... aku
selalu menangis setiap malam selama kau pergi.. “ isak Sameer memeluk kaki
Priya. Raj memandang Sameer yang terus merengek pada Priya. Priya menangis tapi
dia benar-benar tak ingat.
“ itu benar Priya, aku bukan suamimu. Nama istriku Vidya, dan dia
meninggal ketika melahirkan Saira.” Ujar Avinash. Priya benar-benar tak ingat
apapun. Raj memeluknya dan Priya kembali pada keluarganya. Avinash berpamitan
pergi, tapi Saira menangis memanggil Priya dengan sebutan mama. Priya tak tega
dan langsung menggendongya.
“ Avinash.. aku memang bukan istrimu. Tapi saira sudah seperti anakku
sendiri. Tinggalah sebentar disini, agar Saira tidak menangis. Lagipula dia
sedang sakit.” Kata Priya merasa tak tega. Avinash terdiam.
“ Nanti juga dia akan terbiasa.” Jawabnya tenang.
“ Tidak kawan, kau sudah menjaga istriku dengan baik. Tinggalah
disini. Anggap kami keluargamu.” Raj menepuk pundak Avinash. Akhirnya dia
mengangguk dan tak punya pilihan lain. Sameer juga bahagia memeluk Priya dan
meraih tangan si kecil Saira.
*****
Raj dan Priya kembali bersama. Meski priya masih dingin dan kaku
karena belum ingat apapun. Priya dan Raj memperlakukan Saira sama dengan
Sameer. Avinash melihat Madhu tengah memandang Priya yang bermain dengan Saira
dan Sameer juga Raj. Dia menghampiri dan mengajak ngobrol.
“ Sebenarnya kau apanya Raj?” tanya Avinash. Madhu menoleh dan dia
terlihat sedih.
“ Bukan siapa-siapanya.” Jawabnya singkat.
“ Tapi kau ibu dari Sameer.. aku tak faham. Maaf.. jika pertanyaanku
melukaimu.” Ujar Avinash. Madhu menoleh dan tersenyum. Dia akhirnya
menceritakan yang sesungguhnya. Dan kepergian Priya kala itu karena dia hampir
menikah dengan Raj.
“ Bagiku cukup melihat Sameer bahagia. Esok aku akan pergi.” Kata
Madhu tersenyum. Avinash tersenyum dan mengangguk.
Malam telah larut, tapi priya tidak bisa tidur. Dia hanya memandang
bulan di jendela.
“ Kenapa sayang..?” Raj merangkul Priya dari belakang.
“ Tidak... “ jawab Priya singkat.
“ Tidurlah...” Raj mengelus rambut Priya.
“ Raj, jujur, sampai detik ini aku masih tak ingat apapun. dan aku
merasa asing dengan hubungan kita. Aku lebih merasa dekat pada Avinash.” Ujar
Priya mengejutkan Raj.
“ Apa maksudmu?” Raj langsung bangkit dari tempat tidur.
Priya berdiri dan memandang rembulan.
“ Aku rasa .....aku rasa aku mencintai Avinash...” ujar Priya. Raj
amat shock mendengarnya. Dia tak percaya dengan apa yang dia dengar.
“ Begini.. aku merasa nyaman dengan Avinash. Mungkin Tuhan hanya
menjodohkan kita sebatas ini saja. Dan selanjutnya aku jodohnya. Dan kau
menikah saja dengan Madhu. Dia ibu dari anakmu. Sudah terlalu lama dia
menderita karena ini. Dan Saira sudah menganggap aku ibunya...”
“ Omong kosong...” Raj emosi dan langsung keluar kamar meninggalkan
Priya yang dia anggap terlalu mengada-ngada. Raj menghirup udara segar di
taman. Dan ternyata Avinash juga disana tengah melamun.
Mereka berpandangan dan saling diam. Priya yang menyusul raj
memperhatikan mereka dari pintu.
“ Apa kau mencintai Priya?” tanya Raj pada Avinash. Sontak saja
Avinash terkejut dan memandang Raj.
“ Maksudmu?” Avinash memandang ke arah pintu dimana Priya ada disana.
“ Priya memilihmu... dan ...hhhhh..aku sakit.. tapi.. aku tidak bisa
menyakiti hati Priya. Jika ya dia mencintaimu, dan kau mencintainya... apa boleh
buat...” raj terlihat berkaca-kaca. Avinash terdiam dan berfikir sejenak. Dia
menghampiri Priya dan menariknya ke hadapan Raj.
“ Raj, apa kau tak lagi memandang matanya?” tanya Avinash. Raj menoleh
dengan wajah sedih dan berkaca-kaca.
“ Dia sepertinya sudah kembali ingatannya. Dan hanya menginginkan kau
menerima Madhu. Maaf.. aku tahu kisah kalian dari Madhu.” Ujar Avinash. Raj
memandang Priya yang menunduk dan gelisah.
“ Priya...???”
“ Ini sangat rumit, dan aku sudah putus asa. Aku rasa ini jalan terbaik.
“ jawab Priya. Avinash langsung masuk ke dalam kamar dan mengepak pakaiannya.
Lalu menggendong Saira keluar. Priya berusaha mencegahnya karena kasian pada
Saira.
“ Priya... ini jalan terbaik. Hubungan kalian harus diperbaiki, dan
kehadiran orang ketiga seperti aku tidaklah baik. Saira akan belajar
melupakanmu.” Avinash tersenyum dan mengelus rambut Priya.
“ Aku faham perasaaanmu Avinash, tapi besok saja perginya. Kasihan
anakmu.” Ujar Raj. Avinash berfikir dan akhirnya setuju.
Madhu yang sedari tadi mengawasi mereka pun akhirnya berfikir.
“ Kehadiran orang ketiga seperti aku tidaklah baik..” kata-kata itu
terngiang di telinga Madhu. Ya untuk apa dia terus ada disana, toh Raj tidak
mencintainya. Madhu tersenyum dan kembali ke kamar Sameer. Priya yang sedang
mengelus rambut Samerr menyambut Madhu.
“ Priya, besok aku akan pergi. Terima kasih sudah menerimaku. Dan
maafkan aku.” Kata Madhu.
“ Madhu, kau terlalu banyak berkorban untukku...”
“ Priya, apapun caramu untuk membalas kebaikan aku tidak akan pernah
berhasil. Tapi kau bisa membalasnya dengan menjaga anakku bukan? Itu lebih dari
apapun.” Madhu memeluk Priya.
“ Jangan terus merasa aku telah berkorban untukmu... itu tidak
benar..” bisik Madhu.
Dan paginya, Madhu berpamitan pada semua. Sameer menangis, tapi dia
memang lebih dekat pada Priya. Madhu memintanya menjaga Priya karena dia anak
laki-laki. Madhu berpamitan pada Raj juga keluarganya. Dia akhirnya memutuskan
pergi dan termenung di bandara. Dia tak tahu mau kemana.
“ Mau kopi?” sapa Avinash yang baru saja tiba di bandara juga.
“ Hi.. terima kasih telah membuat aku seperti ini.” Kata Madhu.
“ Apa maksudmu?” tanya Avinash.
“ Aku sadar tak pantas ada dalam kehidupan Raj dan Priya setelah
mendengar kata-katamu semalam. Karena itu aku kuat untuk pergi dan meninggalkan
Sameer.” Ujar Madhu. Avinash tersenyum dan meminta maaf jika itu menyinggung
hati Madhu.
“ Itu sangat bagus Avi, lagipula Sameer sangat menyayangi Priya.. “
“ Lalu kau mau kemana sekarang?” tanya Avinash. Madhu menggeleng.
“ Aku bahkan belum beli tiket kemanapun.” Candanya sambil tersenyum.
Sesaat mereka saling diam lalu saling menoleh bersamaan. Madhu langsung
memalingkan wajah. Saira menangis dan meminta susu. Avinash meminta Madhu
menjaga anaknya sementara dia mencari air hangat.
Tak lama Avinash kembali membawa susu dan memberikannya pada Saira.
“ Mau ikut aku?” tanya Avinash menyerahkan tiket ke delhi pernerbangan
bersamanya. Madhu menoleh dan memandang Avinash.
“ Jangan salah faham.. aku memintamu jadi baby sister Saira. Selama
kau belum mendapatkan tujuan.” Kata Avinash hati-hati. Madhu tersenyum dan
berdiri sambil menggendong Saira.
“ Baiklah..” mereka tertawa bersama.
Di sisi lain setelah kepergian Avinash , Priya duduk di depan semua
keluarga Raj. Dia tersenyum dan menarik nafas dalam sebelum bicara.
“ Maafkan aku, aku memang sudah kembali mengingat kalian beberapa hari
lalu. Tapi aku ingin Madhu dan Sameer bahagia bersama Raj. Karena itu aku
berpura-pura mencintai Avinash.” Ujar Priya tenang. Raj langsung menggandengnya
dan memeluknya.
“ Aku tahu Priya... aku bisa melihat dari matamu. Tapi karena aku
terlalu takut kehilanganmu makanya aku begitu tersiksa.” Ujar Raj. Priya
menoleh dan mengelus pipi Raj.
“ Maafkan aku Raj... aku membuatmu dilema...”
“ Tidak Priya.. itu malah membuat menguatkan cinta ini padamu.. bahwa
hati ini tak salah mencintai.. mencintai seorang wanita yang bisa merasakan
perasaan orang lain, tanpa memikirkan perasaaannya sendiri.” Raj memeluk erat
Priya di depan keluarganya.
Keluarganya tersenyum dan satu per satu dari mereka meninggalkan Raj
dan Priya yang saling menumpahkan rasa rindu dan cinta mereka yang terpendam
cukup lama. Pada akhirnya, cinta tetaplah cinta... ikatan tetaplah ikatan yang
suci yang memenangkan sebuah pertarungan hati...
The end...
Tuhan sang pencipta dunia ini adil
ReplyDeleteWah bagus banget.... sukaaaaaakkkk...
ReplyDelete