MARDAANI.. by MajaRani



Kejahatan merajelela di kota. Pencurian, pembunuhan, peredaran senjata gelap, semakin meresahkan. Polisi semakin bingung dibuatnya. Terlebih para penjahat yang tertangkap memilih bungkam atau bahkan bunuh diri di sel daripada harus mengungkap komplotan mereka. Bagi mereka, tertangkap atau tidak, jika buka mulut maka akan tetap mati. Komisaris benar-benar dibuat tak berkutik.

Kabar buruk pun tiba, jika polisi tak mampu menangani maka pemerintah akan memerintahkan tentara nasional turun tangan. Dimana harga diri polisi kalau sudah begini. Komisaris pun mengumpulkan semua pemimpin setiap kepolisian yang ada dan yang terbaik.
“ Ini benar-benar diluar dugaan. Pemerintah tak lagi mempercayai kita.” Ujar komisaris menarik nafas dalam.
“ Kita bisa menyelesaikannya.. kita bisa menanganinya.” Ujar inspektur Vikram (John Abraham).
“ Jika hanya slogan semua orang juga bisa.” Komisaris terlihat putus asa. Semua terdiam memandang satu sama lain.
“ Serahkan padaku..” ujar seorang polisi wanita yang sedari tadi tak banyak bicara. Namanya Naina Saksena (Rani Mukerji). Semua menoleh tak percaya dengan yang mereka dengar.

Ya, inspektur naina bisa dibilang sangat imut dan kecil. Bahkan tak terlalu tinggi dibanding polisi lainnya, tapi memang ketika bertugas dia diluar kemampuan polisi lainnya. Beberapa penjahat telah dia taklukan termasuk anggota geng dari daerahnya berada.
“ Kau...” komisaris seperti ragu.
“ Hmm jangan melihat nama manisku. Aku tak semanis itu..” ujar Naina tersenyum manis penuh keyakinan.
“ Aku tahu, tapi kau tak tahu yang akan dihadapi.”
“ Adakah pengecualian untuk tugas seorang polisi. Jika aku bisa membungkam bandit-bandit di daerah, kenapa bandit ini tak bisa? Aku tahu bukan hal mudah, dan bukan hal tidak mungkin juga.” Katanya dengan pasti. Semua saling memandang dan Naina tersenyum.
“ Jika aku gagal.. aku akan memakai saree putih dan berhenti jadi polisi.” Canda Naina. Semua tersenyum terhibur.
“ Baiklah.. kutugaskan kau. Pemerintah minta dalam waktu 1minggu ada hasil yang bisa dilaporkan.” Ujar komisaris. Naina berdiri dan memberi hormat. Inspektur Vikram benar-benar terkesan dibuatnyya. Dia pun bersedia membantu Naina dalam bertugas. Mereka akan jadi partner yang luar biasa.
************
Naina tiba di rumahnya. Dia melihat deretan mobil mewah berjajar di halaman rumahnya. Dia tersenyum memandang satu persatu mobil itu. Ya, dia hari ini dilamar pengusaha kaya Dev Verma. Tepatnya orang tua mereka yang menginginkan pernikahan mereka. Tapi Naina sendiri belum pernah bertemu dan diberi kesempatan untuk mengobrol. Karena tugas dan rapat dia jadi terlambat hampir satu jam.

Naina memang ditugaskan di udaipur dan orang tuanya tetap di mumbai. Karena itu dia tidak pernah tahu kejadian apa di rumahnya.
“ Maaf terlambat..” Naina masuk ke dalam rumahnya yang langsung disongsong ibunya.
“ Kami sudah menunggu lama...” ujar ibunya. Naina memberi salam pada keluarga Verma, dan pandangannya berakhir pada seorang pria yang duduk paling ujung dengan jas dan kemeja putih aga terbuka kancingnya. Hingga dadanya terlihat sebagian. Naina tersenyum dan memberi salam dari jauh. Dia mengangguk dengan tanpa ekspresi.

Setelah basa basi mereka mulai bicara soal perjodohan. Dan dev diberikan kesempatan untukk bertanya apa saja pada Naina.
“ Anda polisi.. bagian?” tanya Dev
“ Kriminal..”
“ Kriminal? Berurusan dngan penjahat?” Dev terlihat kaget dan memasang muka aneh.
“ Ya.. dan aku harus meyelesaikan kasus penyelundupan dan perampokan bank-bank yang terjadi saat ini.”
“ Apa aku tidak salah dengar?” dev tampak tak suka.
“ Ada masalah?” tanya Naina sudah menebak arah bicara Dev.
“ Aku ingin istri yang setia menanti aku pulang bekerja. Menantiku, mengurus anak-anakku dan menyambutku ketika aku tiba. Bukan yang...”
“ Dan semua keingnan anda tak akan terwujud jika kejahatan masih terjadi di kota. Narkoba, senjata ilegal akan mengancam masa depan anak-anak kita.” Naina jadi tegas.
“ Aku tahu.. tp itu aku tak harus tahu. Itu urusan penegak hukum.”
“ Dan akulah penegak hukum itu..”
Semua saling berpandangan mendengar debat dua orang yang hendak dijodohkan.
“ Dan jika kau tak seperti keinginanmu atau gagal menangkap mereka??..”
“ Aku mengerti tuan Verma... aku persilahkan kau mencari wanita lain..” Naina tersenyum manis. Semua menarik nafas panjang dan saling memandang. Dev mengangguk-angguk memandang Naina yang memandang orang tuanya.

Keluarga Verma berpamitan. Mereka berjanji tetap berhubungan baik meski perjodohan ini batal. Setelah mereka pergi, ibu Naina kesal bukan main. Tapi ayahnya terus membela dan membenarkan tindakan naina. Dia penegak hukum, tidak bisa melepaskan tanggung jawab hanya demi pernikahan saja.

****
Naina dan Vikram mulai menyusun strategi. Dan dalam tiga hari beberapa dari para penjahat dapat ditangkap. Mereka dijauhkan dari benda apapun yang akan membuat mereka bunuh diri.
“ Percuma kami bicara, kami akan mati juga.” Ujar mereka.
“ Dan kematian kalian akan berguna bagi rakyat.. tidak sia-sia seperti teman-teman kalian yang lain.” Ujar Naina dengan tajam. Mereka saling memandang.
“ Itu artinya kami berhianat.”
“ Kau sudah menghianati negara dan masyarakat juga saudaramu sendiri.” Ujar Naina sambil berpangku tangan. Naina membiarkan mereka terikat di dalam ruangan bawah tanah.
“ Kau yakin mereka akan bicara?” tanya Vikram. Naina mengangguk, dia yakin hanya butuh waktu.

Esoknya Naina terkejut karena dua orang itu mati di sel yang dijaga ketat. Tak ada siapapun bisa kesana. Tapi bagaimana mereka bisa tertembak seperti dari jarak dekat? Adakah orang dalam kepolisian yang berhianat? Naina memeriksa setiap tubuh para penjahat itu. Tangan salah satu diantara mereka terkepal kuat, seperti memegang sesuatu. Terpaksa Naina meminta bagian forensik mengambil benda itu dengan cara paksa. Ternyata hanya sebuah kancing dari sebuah baju. Tapi Naina yakin ini sebuah petunjuk. Dia menyimpan kancing itu baik-baik.

Selanjutnya dia kembali beraksi menaklukan para penjahat jalanan dan mencari tahu keberadaan boss besar mereka. Tak mudah baginya untuk menemukan penjahat itu. Hingga salah satu dari mereka yang tertangkap membocorkan bahwa mereka akan mencuri plakat pencetak uang lama yang akan dpamerkan di Delhi. Naina langsung meminta ditugaskan ke Delhi dan mengawal barang itu disana.

***
“ Naina...” ujar pria berjas hitam dan dengan ciri khas kemeja yang terbuka.
“ Tuan Verma..” naina tersenyum mengulurkan tangan.
“ Kau disini....”
“ Bertugas..” dengan gesip menjawab.
“ oh... semoga sukses..” ujar Dev sambil mengulurkan tangan.
“ Oya.. ibu bilang kau sudah akan menikah dengan gadis pilihanmu. Selamat... aku turut senang..” ujar Naina lagi.
“ Ya.. akhirnya aku menemukan yang cocok. Aku harap kau datang. Dia gadis biasa.. gadis desa. Tapi bisa membuatku terhibur. Dan tentu akan jadi ibu rumah tangga yang baik.” Ujar Dev optimis.. Naina tersenyum dan mengangguk. Lalu mereka berpisah karena Naina harus bertugas mengawal acara ini.

Di sudut lain, ada orang yang terus mengawasi Naina. Naina dengan siapa berbicara bahkan ketika makan pun terus diawasi seseorang.
“ Sudah ada tanda-tanda orang itu akan muncul?” tanya Vikram.
“ Aku rasa dia orang berpengaruh dan penting. Jadi dia tidak akan muncul seperti pencuri turun dari atap mengambil alat cetak itu. Tapi dia mungkin telah bertemu dengan kita juga.” Ujar Naina meneguk teh tariknya. Vikram tersenyum memandang bibir Naina yang memang ranum dan indah. Naina menoleh pada Vikram yang masih terpesona olehnya.
“ Vikram...” Naina mengejutkan Vikram yang langsung berkedip dan tersenyum gelisah. naina tersenyum manis. Dan entah kenapa dia ingin mencurahkan isi hatinya pada Vikram.
“ Kau kenal Dev Verma?” tanya Naina. Vikram mengangguk dan mengatakan siapa Dev, seorang pengusaha kaya India.
“ Aku ditolak olehnya.” Ujar Naina mengaduk-aduk cangkirnya.
“ Apa?” Vikram tak percaya
“ Kami dijodohkan. Tapi ketika dia tahu aku polisi. Dia membatalkan lamarannya.” Naina memandang Vikram yang tak berkedip. Vikram tertawa sinis.
“ Pria sombong dan bodoh seperti dia tak perlu kau sesali.” Vikram terlihat tidak senang padanya.
Ya Dev terkenal angkuh meski kaya dan dianggap bermartabat. Terkadang terlalu jelas menunjukkan kekayaan dan jika tidak senang tidak sungkan mengatakannya di depan umum.

Mereka kembali ke pameran dan kembali memeriksa setiap pos. Menanyakan semua polisi yang tersebar di setiap sudut, baik yang berbaju preman maupun yang berseragam.
Acara dimulai, alat cetak uang kuno yang berharga triliunan itu dipamerkan. Tapi tak ada tanda-tanda penjahat itu muncul.
“ Aku rasa dia merubah tujuannya..” bisik Naina pada Vikram. Vikram terdiam memandang sekeliling, karena acara telah usai. Naina berpamitan ke toilet sebentar. Disana dia bertemu lagi Dev yang sedang menelepon calon istrinya di koridor dekat kaca terbuka. Naina memang sedikit kecewa tapi dia sadar tak pantas cemburu. Naina membasuh wajahnya dan keluar, Dev masih masih disana sambil tertawa.
“ Sepertinya semua aman berkat anda.” Ujar Dev menutup teleponnya.
“ Hmm..” Naina tampak tak semangat, entahlah tiba-tiba saja dia seperti kehilangan mood.
“ Oya...inspektur Naina...”
Bukkkkk!!!!!!!!!!!!
Tiba-tiba saja Naina rubuh di hadapan Dev. Matanya melotot tanda menahan sakit.
“ Naina?” Dev menjadi panik. Terdengar beberapa tembakan diruang pameran. Dev yang panik menarik Naina ke dekat toilet dan berniat sembunyi. Darah segar keluar dari perut Naina. Rupanya dia ditembak dari jarak jauh oleh senjata canggih. Dev gelagapan dan ketakutan melihat darah mengalir dari perut Naina. Naina terus berusaha bicara meski terlihat sesak dan kesakitan.
“ Vik..r...” dia seperti ingin bicara tapi nafasnya amat sesak. Tangannya mencengkram tangan dev dengan kuat.
“ Apa yang harus aku lakukan?” Dev tampak panik. Naina semakin menahan sakit dan tangannya semakin kuat mencengkram tangan Dev menandakan menahan rasa yang amat sakit. Dan seketika terlepas.
“ Naina!!!” Dev terkejut dan terlihat kebingungan.

Di ruang pameran, para penjahat itu tidak mengambil alat cetak uang yang dipamerkan. Justru menembakinya hingga hancur. Semua tamu berhamburan ketakutan. Mereka menembaki apa saja yang ada disana. Vikram berusaha melawan mereka begitu juga polisi yang ada.
“ Naina!! Naina!!” Vikram menghubungi alat kontak Naina tapi tak ada jawaban. Vikram mulai cemas. Dia terus menembaki para penjahat dan bergerak ke arah toilet. Setelah aman di koridor dia lari mencari Naina.
“ Naina!!” teriak Vikram.
“ Kami disini..” ujar Dev. Vikram terkejut melihat Naina tertembak. Dia syok bukan main.
“ Panggil ambulance.. “ ujar Dev tegang namun sedikit tenang daripada tadi. Vikram langsung lari keluar dan ternyata baku tembak pun telah berakhir, para penjahat telah kabur dan entah apa tujuan mereka.

Naina membuka matanya. Dan memgang perutnya yang sakit bukan main.
“ Aku sudah mengeluarkan pelurunya..” ujar Dev sambil tersenyum. Naina segera memeriksa tubuhnya yang memang tak lagi terkancing pakaiannya.
“ Kau..”
“ Darurat... kau pingsan dan sesak karena peluru itu. Dan..ya... maaf.. aku.. membuka..pakaianmu.” ujar Dev gugup. Naina segera memasang kancing bajunya dan masih meringis kesakitan. Dev menyerahkan paracetamol yang selalu dia bawa untuk sedikit mengurangi rasa sakit. Naina meminumnya dan merebahkan diri di dnding. Dia memejamkan matanya, sedang Dev memandangnya hampir tak berkedip. Tangan Dev meraih kening Naina dan mengusap keringatnya. Mereka saling berpandangan cukup lama, tangan Dev satu lagi mengelus tangan Naina yang masih memegang perutnya. Naina heran, kenapa Dev jadi berubah drastis begitu baik padanya.
“ Tidak Naina.. kau tidak boleh menyukainya. Dia milik orang lain.. dia hanya iba padamu.. “ jerit Naina dalam hati. Dia menutup matanya mengatur nafas sebaik mungkin.
Tiba-tiba dia amat sesak dan gelagapan karena pikirannya membuat lukanya sakit. Dev langsung mengangkat punggung Naina posisi duduk dan mengurut bagian dada dan punggungnya. Naina ingin mencegah tapi dia terlalu sesak. Dan bibir dev pun terasa hangat di bibirnya meski meniupkan udara segar ke mulutnya. Lama bibir mereka bersentuhan membuat Naina malah gelisah terlebih tangan dev mengelus leher hingga ke pundak dan lengan.

“ Naina..” Vikram terkejut melihat pemandangan yang ada. Dev langsung merenggangkan diri dan memberitahu naina sesak. Vikram langsung memasangkan alat ke wajah Naina dan memasang tabung oksigen yang dia bawa dengan tim medis. Lalu Naina ditandu dibawa ke ambulance. Vikram melangkah pergi dan kembali menoleh pada Dev. Terliihat rasa cemburu di wajahnya, terlebih tahu Dev sempat menolak Naina dan hari ini malah melebihi batas di matanya.

****
Naina siuman setelah 8 jam pingsan lagi. racun dari senjata itu memang seperti berfungsi melemahkan syaraf sesaat. Naina duduk dan merenggangkan otot-otot tubuhnya juga kepala. Dokter mengatakan dia masih harus istirahat. Tapi dia tak peduli dan langsung menelepon komisaris. Dia khawatir pemerintah benar-benar melimpahkan semua ini pada militer.

Tapi beruntung tidak, mereka percaya pada kemampuan Naina. Naina pun lega dan istirahat sebaik mungkin agar pulih. Namun dia kembali teringat pada Dev. Entah kenapa Dev begitu beda ketika dia terluka. Cara Dev memegangnya dan memperlakukan dirinya benar-benar membuatnya tak bisa melupakan pria itu. Tapi Naina hanya bisa tersenyum kecut, mengingat Dev akan segera menikah dengan wanita lain.

Dua hari Naina nekat kembali ke Mumbai. Ditemani Vikram dan beberapa anak buahnya mereka naik pesawat menuju Mumbai kembali.
“ Kau yakin tidak butuh istirahat banyak?” tanya Vikram cemas. Naina mengangguk dan memijat lehernya yang terasa kaku karena terus terbaring. Vikram tersenyum melihat sebagian dari keindahan Naina itu.
“ Kau sudah sehat?” tanya seseorang. Naina menoleh, dan.. ya Dev disana. Naina mengangguk sambil tersenyum. Berusaha tak peduli agar tak jatuh dalam lingkaran yang namanya cinta bertepuk sebelah tangan. Sedang Dev duduk di samping Naina dan menatapnya penuh cemas.
“ Terima kasih tuan Verma.. jika tidak ada anda.. mungkin saya tinggal nama.” Ujar Naina tersenyum tanpa berani melihat ke arah Dev, yang tanpa dia tahu terus memandangnya.
“ Aku senang kau baik-baik saja..” jawabnya singkat. Vikram terlihat tidak senang dan meraih tangan Naina. Tapi Naina tidak suka dan melepasnya lalu berdiri.
“ Mau kemana?” Tanya Vikram.
“ Cari kopi.. kepalaku pusing..” Naina tersenyum meninggalkan mereka.

Pesawat ke Mumbai telah menanti. Mereka langsung naik dan ternyata Dev duduk tepat di samping Naina. Kebetulan yang membuat Naina tidak suka, dia berusaha melupakan Dev malah terus bertemu.
“ Semakin menghindar semakin ada kesempatan..” ujar Dev melepaskan jasnya.
“ Maksudmu?” tanya Naina. Dev tersenyum khas sambil menggulung kemejanya.
“ Kau berusaha menghindariku kan?” katanya dengan lembut. Naina mengernyitkan alis.
“ Sikapmu jelas sekali berusaha menjauhiku.. dan sedang memikirkan aku.” Lanjut Dev.
“ Aku lebih memikirkan penjahat yang menembakku.” Jawab Naina.
“ Owh..” Dev tersenyum manis memandang Naina.
“ Lalu kenapa tak pernah menatap wajahku seperti dulu?” tanya Dev. Naina menarik nafas dan memandang Dev.
“ Karena.. kau milik orang lain..”
“ Kau menyukaiku?”
“ Apa?” Naina terkejut.
“ Maksudku....” Naina menarik nafas. “ Dulu aku memandangmu karena ingin tahu siapa pria yang dijodohkan denganku. Sekarang kita bukan siapa-siapa..” Naina mengusap hidungnya karena salah tingkah. Sedang Dev terus memandang mata, hidung, bibir dan apapun yang ada di wajah polisi itu. Naina menoleh dan segera memalingkan wajah lagi sambil memejamkan mata berharap tidur dalam penerbangan ini.

Pesawat mulai menerobos awan-awan dan angin yang kencang. Dev kembali menoleh pada Naina yang masih memejamkan matanya. Dia meraih tangan kanan Naina dan menggenggamnya. Naina terbangun dan menarik tangannya namun Dev memegangnya erat.
“ Kau bilang telah menemukan wanita idamanmu.. kenapa kau kurang ajar terhadapku?” Naina mulai keras karena kesal. Dev menoleh dan menatap tajam Naina.
“ Kau benar.. dia adalah kau..”
“ Bullshit!” naina menarik paksa tangannya.
“ Kau bilang dia gadis biasa.. gadis desa dan.. hhhhh... jangan pernah menyakiti hati perempuan manapun Dev..” Naina memandang Dev.
“ Kau benar.. tapi beberapa hari ini aku menyadari satu hal.. aku mencintaimu.. “
Naina tersenyum tak percaya. Dev memandang keluar kaca memandang awan-awan yang tenang.

Tiba di bandara Mumbai, Dev masih memandang Naina yang tak peduli padanya dan langsung menuju mobil jemputannya.
“ Tuan...” ujar sopir dan asisten Dev. Dev langsung mengikuti mereka dan pulang ke rumahnya. Dia ungkapkan pada orang tuanya yang pada akhirnya jatuh cinta pada Naina. Jelas orang tuanya keberatan mengingat dulu devlah yang memutuskan menolak pertunangan itu. Terlebih mereka sudah terlanjur melamar gadis yang disukai dev sebelumnya. Dev tetap memaksa. Dan mengatakan akan mengatasi semuanya. Asal orang tuanya mau melamarkan Naina lagi.
“ Aku menginginkannya..” ujar Dev memandang langit yang biru.
***

Naina memandang dirinya di cermin. Dia ingat bagaimana bibirnya bersentuhan lembut dengan Dev. Seketika dia manarik nafas dalam dan memejamkan mata, berusaha melupakan kejadian itu.
“ Naina.. ayoo berangkat.” Ujar ibunya. Naina segera berdandan dan memakai saree biru yang lembut. Hari ini dia akan menghadiri pernikahan temannya sekaligus akan dikenalkan pada pria pelamar berikutnya.

Tiba di tempat pesta, dia langsung memasang senyuman terbaik. Dev yang juga datang dengan orang tuanya langsung tersenyum manis melihatnya. Dia langsung mendekat, tapi sebelum sampai pada Naina, seorang pria lebih dulu menepuk pundak Naina dan mereka terlihat akrab (Fardeen Khan). Naina terlihat tertawa lepas dengan pria itu. Bahkan ketika semua menari dan bercanda, pria tadi menarik Naina dan mereka menari bersama. Saat itu Dev merasa cemburu dan kembali duduk, hanya memandang wanita idamannya menari dan menyanyi dengan pria lain.

“ Akhirnya Naina juga akan menyusul Dev.. dia setuju menikah dengan Shidart.” Ujar Ibu Naina pada ibu Dev. Seketika Dev bagai tercambuk, dia tersenyum pahit, karena dialah yang menolak ketika itu. Bahkan ketika hendak pulang mereka sempat berkumpul di tempat parkir menunggu mobil masing-masing, baik Dev maupun Naina tak berani saling melihat.
“ Naina.. bagaimana jika besok kita makan malam?” ujar Shidart sambil tersenyum manis.
“ Aku.. aku tidak bisa janji. Kau tahu aku dikejar deadline seolah kemanan kota Mumbai. Maksudku.. aku ada tugas.” Ujar Naina yang tiba-tiba merasa ada yang tak beres melihat beberapa orang diluar dan juga sopir yang mobilnya yang tiba-tiba mengarah cepat padanya. Dia langsung mengeluarkan pistol dari balik rok sareenya dan mendorong orang tuanya ke pinggir lalu menghadang mobil itu dan menembak si sopir yang tak lagi sopirnya.

Terang saja kepanikan terjadi dan semua orang yang hadir berhamburan. Vikram yang sedari tadi diluar langsung masuk dan baku tembak kembali terjadi antar polisi dan penjahat. Si penjahat rupanya benar-benar mengincar nyawa Naina.
“ amankan keluargamu.” Ujar Vikram mendekati Naina. Naina mundur dengan keluarganya mendekati mobil.
“ Naina..!” teriak Shidart dan mendorong Naina ke mobil. Dia menghalangi tembakan yang ditujukkan pada Naina.
“ Shid??” Naina panik bukan main. Dia melihat si penembak lari dengan mobil. Vikram melarangnya mengejarnya tapi Naina tak peduli. Dia mengambil mobilnya dan langsung ngebut mengejar mobil itu. Dengan penuh amarah dia menghantam belakang mobil si penembak berulang-ulang.
“ Kau ingin aku mati? Kau yang akan mati.” Ujar Naina dengan geram. Dia mengeluarkan kepalanya dan menembak ban mobil si penembak hingga mobil itu jungkir balik. Naina yang masih memakai saree keluar dan tetap siaga dengan pistolnya. Pelan-pelan dia buka pintu mobil itu namun sial, dia sudah lari meski dalam keadaan terluka.

Naina menarik nafas penuh kesal dan kembali ke tempat pernikahan. Namun sayang, Shidart tak tertolong dan meninggal di tempat.
“ Maafkan aku.. kenapa kau menyelamatkan aku?” ujar Naina berkabung menatap Shidart yang diangkat ke mobil ambulance.
“ Ada apa ini naina? Kenapa seperti kau yang diincar mereka?” ibu Naina panik.
“ Tidak.. itu kebetulan. Sudahlah.. Birju, kawal orang tuaku.” Ujar Naina langsung naik ke mobil Vikram dan mereka menuju kantor polisi.
“ Sepertinya benar dia menginginkan kau mati?” ujar Vikram.
“ Semua penjahat itu pecundang.. dan aku yakin mereka tdak akan selamat dari tanganku.” Naina amat geram.
*****

Naina memeriksa hasil rekaman CCTV, terlihat jelas orang berhamburan dan Dev terlihat lari ke dalam ruangan bersama keluarganya. Lalu beberapa penjahat menyerang Naina dan polisi lain. Dan satu yang menembak Shidart terlihat berdiri dari dekat parkiran belakang. Naina mengulang beberapa kali video itu.
“ Kau sempat masuk ke dalam ruangan?.” Ujar naina pada Vikram.
“ Dari kemarin kau selalu katakan ada orang dalam. Kau pikir itu aku??” Vikram kesal merasa dicurigai.
“ Kita tidak pernah tahu siapa lawan kita. Bisa kau, bahkan komisaris. Tapi semua harus ada bukti. Tenang saja..” Naina tersenyum dan berniat pulang.

Tiba di rumah ibunya benar-benar cemas. Sebahaya itukah pekerjaan anaknya?
“ Apa tidak sebaiknya kau berhenti jadi polisi nak? Kau anak kami satu-satunya.” Keluh ibu. Naina memandang ibunya dan tersenyum.
“ Andai aku mengundurkan diri pun ... aku sudah terikat sumpah bu.. aku mengabdi pada negara. Aku tahu ibu takut.. tapi doa mu akan jadi kekuatanku.. Tuhan akan menjagaku seperti doamu.” Peluk Naina. Ibu hanya menarik nafas dalam-dalam.

Tiga hari dari kejadian itu, Naina dapat bocoran bahwa akan ada penyelendupan senjata baru untuk para penjahat. Naina menyiapkan strategi dengan anak buahnya. Kali ini dia ingin benar-benar menangkap sang penjahat utama yang dikenal lihai dan jago tembak.
Naina menyamar jadi pelayan bar untuk memudahkan pengawasan.

Tak lama, terlihat pria berjas hitam dan kemeja hitam duduk di sofa VIP. Ditemani para bodyguardnya dan mereka terlihat menunggu seseorang. Tak lama pria bule masuk dengan membawa tas aga besar. Mereka bercakap-cakap serius. Naina terus mengawasi mereka dan meminta anak buahnya menawarkan minum. Polisi itu mendekat dan tiba-tiba bertabrakan dengan seseorang dan alat komunikasinya terlihat. Tanpa ampun dia ditembak dan terjadi kepanikan.
“ dia polisi..” ujar pria bule itu mengambil kembali tasnya. Tapi pria yang menembak tadi langsung menodongkan senjata dan meminta tas itu. Sementara Naina berusaha membidik pria itu dengan pistolnya, meski kikuk karena banyak orang berlarian. Tapi pria itu melihat dari kacamata pria pertama tadi dan langsung merunduk ketika Naina melepaskan tembakan. Alhasil dia lolos dengan tas itu dan si pria tadi mati.

“ Shit..” Naina mengambil pistol satu lagi dan lari mengejar pria tadi. Beberapa kali Naina melepaskan tembakan tapi selalu meleset.
“ Vikram kau dengar aku? Dia lari ke arah gang kecil.” Ujar Naina sambil terus mengejar pria itu. Sedikit keteteran mengingat dia wanita dan tak terlalu langsing. Pria tadi langsung memakai topeng dan sembunyi di belakang gerobak sampah lalu menyiapkan pistolnya. Naina tiba dan dia memandang sekeliling jalanan mencari pria itu.
“ naina!!!” teriak Vikram. Naina tiarap karena sadar ada peluru ke arahnya. Naina mengambil pistol di kakinya dan membalas tembakan dengan tembakan beruntun dari dua pistol. Si penjahat kembali lari dan Naina mengejarnya, kali ini Naina sempat menembak kakinya dan dia pincang. Pistolnya terlepas karena dia tersandung barang-barang yang berserakan. Naina semakin dekat dengan tetap menodongkan pistol.
“ Menyerahlah...” ujar Naina tegas. Mata pria itu memandang Naina dengan tajam. Dia menggeleng dan menarik kain spanduk yang melintang hingga menutupi Naina.

Dia kembali lari dan Naina terus mengejarnya. Dan di jalanan yang cukup ramai dia terlihat pincang menuju ke sebuah mall dengan lift terlihat keluar. Naina terus mengejarnya dan dia naik ke atas.
“ Habis kesabaranku...” ujar Naina dia meminta senapan laras panjang dan membidik jarak jauh. Matanya terlhat bersinar dan dalam hitungan detik dia melepaskan tembakan. Pria itu rubuh dan polisi berlarian memburunya.

Pria itu masih memegang tasnya dan orang-orang histeris panik. Naina membalikan wajah pria yang telah melepas topengnya itu.
“Shiddart???” Naina terkejut bukan main. Bukankah Shiddart kemarin tertembak? Naina segera meminta ambulance. Dia tak pandang waktu langsung menginterogasi petugas ambulance yang membawa Shidart kemarin ketika di duga meninggal.
“ Aku tidak tahu nyonya, aku hanya mengantar sampai rumah sakit.” Ujar sopir itu. Naina kembali menginterogasi orang-orang di rumah sakit, ketika itu banyak korban terluka hingga mereka luput dan seolah lupa pada shidart.
****
Naina membuka isi tas yang diperebutkan sebelumnya. Ternyata sebuah senjata baru yang terdiri dari senjata kimia. Senjata itu juga yang sempat dia rasakan hingga seolah mati pelan-pelan. Tapi yang ini lebih canggih, dimana peluru sangat kecil dan dapat ditembakan dari jarak cukup jauh.
“ Ini yang dipakai menembak para tahanan?” bisik Naina pada Vikram. Vikram mengangguk, begitu juga komisaris dan lainnya saling memandang.
“ Orang itu mengincarku.. beberapa kali aku gagalkan kejahatannya. Mungkin dia pun ingin membunuhku dengan ini..” ujar Naina menarik nafas. Dia sadar, dia diincar, dia bisa mati kapan saja.

Naina keluar dari kantor polisi menuju mobilnya. Dia memandang sekelilingnya, dia merasa sedang diawasi.
“ Hai..” ujar Dev dari belakang. Naina terkejut bukan main.
“ Dev? Mau apa kesini?” tanya Naina heran dan segera masuk ke mobilnya diikuti Dev. Naina segera memasang kaca yang memang anti peluru.
“ Wooow.. mobil dalam keadaan tertutup rapat..” bisik Dev.
“ Ya, karena aku tidak mau kau jadi korban karena dekat-dekat denganku.”
“ Maksudmu?”
“ Kau benar Dev.. kau tidak pantas untukku. Penjahat itu mengincar nyawaku. Aku tidak mau kau jadi korban karena selalu di dekatku. Hhhh menikahlah dengan gadis yang akan selalu menantimu pulang dari bekerja. Sama seperti impianmu sebelumnya..” ujar Naina panjang lebar. Dev tersenyum.
“ Awalnya aku takut... tapi sekarang tidak. Kalaupun aku mati.. aku mati disampingmu.. menatapmu..” ujar Dev mesra..
“ ini bukan film romantis Dev.. ini masalah hidup dan mati. Kumohon.. aku tidak ingin merasa bersalah padamu.” Ujar Naina terlihat cemas.
“ Kau cemaskan aku?” tanya Dev memandang mata Naina yang menatap kosong. Naina menoleh dan mereka saling menatap dalam. Dev terasa makin dekat dan Naina hanya bisa diam, hingga sebuah tembakan ke arah mobil mereka mengejutkan keduanya. Untung kaca antipeluru hingga mereka aman. Naina melihat ada pengendara motor yang berbaju serba hitam.
“ pasang sabuk pengamanmu.” Ujar Naina langsung menstarter mobilnya dan mundur dengan cepat lalu mengejar motor itu.

Dev tampak panik dan berusaha tenang meski Naina menyetir dengan cepat bahkan menabrak apa saja yang menghalangi.
“ Naina..” Dev terus berisik dan mengganggu konsentrasi Naina.
“ Kau bisa menyetir?” tanya naina dengan terus matanya tertuju pada objek yang kebetulan di jalanan sepi tengah malam. dev faham dan segera bergeser ke kursi Naina yang mulai berdiri membungkuk kepalanya keluar dari kaca mobil. Dia membidik pengendara motor dengan pistolnya dan tembakan dia lepaskan mengenai ban motornya. Dia terjatuh namun nekat melompat ke sungai yang deras dan cukup dalam.
“ Sial..” bisik Naina kembali masuk dan duduk. Dia segera berdiri kembali dan membuka pintu mobilnya. Dev tersenyum senang dibuatnya.
“ Aku tidak pengecut kan? Aku bisa mendampingimu setiap saat mengejar penjahat. Woow seru sekali.” Katanya tertawa kecil. Naina menahan tawa dan berbalik memandang Dev.
“ Ibumu pasti khawatir. Pulanglah..”
“ Hey.. aku bukan bayi..” ujar Dev. Naina menarik nafas, dia semakin sadar, Dev serius mengejarnya bahkan rela dalam bahaya demi dirinya.
“ I love you..” bisik Dev dan mencium pipi Naina yang tengah berfikir. Dev langsung masuk ke dalam mobil dan memberi isyarat agar Naina masuk. Naina tersenyum dan memandang sekeliling lalu masuk dan mereka pergi.
****

Kabar baik datang. Pemerintah sangat terkesan dengan pencapaian kepolisian di bawah pimpinan inspektur Naina. Ya beberapa penjahat kelas berat termasuk Shiddart telah terbunuh. Selama ini ternyata Shiddart lah yang menembaki para tahanan dari jarak jauh dengan senjata super canggih yang seperti suntikan beracun. Semua seperti mendapat titik terang, meski otak di balik semua ini belum terungkap. Naina tidak seceria lainnya, dia tetap berfikir “ kenapa orang itu selalu tahu dimana posisi dia berada?” ya, penjahat itu seolah tahu semua kegiatan Naina. Baik kegiatan kepolisian maupun pribadi. Yang selama ini tahu jadwalnya tentu hanya komisaris dan Vikram juga beberapa anak buahnya.

“ Hey.. semua memujimu.” Senggol Vikram. Naina menoleh dan tersenyum pada semua orang.
“ Ada yang mengganjal?” tanya komisaris heran melihat senyuman Naina tidak lepas.
“ Tidak apa-apa..” dia berusaha menutupi instingnya. Komisaris dan Vikram mengangguk dengan wajah penasaran dan Naina berusaha santai di depan kedua orang yang dicurigainya.

Naina kembali ke rumah dengan lelah dan jenuh. Selama perjalanan dia terus memikirkan kasus-kasus yang dihadapinya. Shiddart, penembak rahasia lalu apa shiddart yang menembaknya ketika di Delhi. Dan apakah semua berakhir dengan Shiddart mati? Ah... dia benar-benar lelah. Tiba-tiba dia ingat Dev. Satu-satunya orang yang akhir-akhir ini bisa membuatnya tersenyum lebar. Seperti pemanis dalam lautan kepahitan. Naina tersenyum dan ketika mobilnya memasuki area rumah, terlihat banyak mobil disana. Naina turun dan masuk, kali ini Dev berdiri di pintu menyambutnya. Semua berdiri tersenyum ke arahnya.
“ Dev?” Naina heran karena semua terlihat bahagia.
“ Kami baru saja memutuskan tanggal pernikahan kalian.” Ujar ibu.
“ Apa?” Naina heran.
“ Dev bilang kau setuju...” lanjut ibunya. Naina menoleh pada Dev yang tersenyum puas. Naina tersenyum serba salah hingga Dev memeluknya di depan banyak orang. Keluarga mereka sangat senang melihatnya dan pernikahan akan segera terjadi.
****
Beberapa hari berlalu tanpa adanya gangguan keamanan membuat semua berjalan mulus. Sesekali ada kejahatan tapi tak sampai menyita waktu. Komisaris pun memberikan ijin cuti satu minggu pada Naina setelah menikah. Tapi Naina masih saja sering masuk untuk mengecek semua pekerjaannya.
“ Besok hari pernikahan kita dan kau masih datang kemari?” ujar Dev duduk di meja Naina di kantor polisi.
“ Hey.. disini aku inspektur, bukan calon istrimu. Duduk yang sopan.” Ujar Naina sambil berdiri memasukan map ke dalam file kabinet. Dev segera menarik kemejanya tapi Naina sigap menepis dan Dev berusaha menarik bagian lainnya.
“ Dev? Kau mulai cekatan..?” Naina memandang heran Dev.
“ Aku pikir sebentar lagi aku akan menikahi polisi jagoan, rasanya harus memiliki sedikit keahlian beladiri juga agar bisa mengalahkannya di arena nanti.” Dev mengedipkan kedua matanya. Naina tersipu malu dan berbalik dengan hati bahagia. Dia tak menyangka akhirnya Dev begitu mencintainya.

Hari pernikahan tiba. Penjagaan ketat dilakukan kepolisian selama acara. Dan semua berjalan lancar tanpa hambatan. Komisaris terlihat senang meski Vikram sudah jelas kecewa. Naina dan Dev menjamu tamu beberapa saat hingga akhirnya pergi berdua dengan mobilnya.
Dev sudah menyiapkan tempat yang tenang dan indah di pinggir pantai. Cottage yang mengarah ke pantai dan tentu penjagaan yang ketat tidak sembarangan orang bisa masuk, bahkan dengan uangnya Dev membuat hanya dia dan Naina saja di tempat itu.

Naina memandang pantai yang sedikit berombak. Sedang Dev keluar dari kamar mandi dan langsung merangkul pinggang Naina, serta membenamkan wajahnya diantara rambut Naina. Deburan ombak seolah menandakan gejolak perasaan mereka, dan angin seolah hembusan nafas mereka.

Dev mengelus rambut Naina yang terdiam dengan wajah dibantal, dia memandang istrinya yang seolah tak kuat membuka mata pun. Lama Dev diam dan akhirnya mengajaknya bicara.
“ Kau baik-baik saja?” tanyanya.. Naina hanya mengangguk dan membalikan badannya. Dia pandang Dev dengan dalam terlihat beda dengan Naina sang polisi pemberani.
“ Kau sungguh-sungguh mencintaiku kan Dev?” dengan suara pelan. Dev tersenyum dan mengelus rambut Naina.
“ Tentu.. jika aku berhianat.. kau boleh membunuhku..” ujar Dev. Naina langsung mengelus pipi suaminya. Entah kenapa ada rasa kegalauan dihati Naina malam itu. Atau mungkin hanya belum terbiasa hidup dengan pria yang baru dia kenal beberapa hari saja. Dev berbaring di sampingnya dan memeluk erat hingga mereka terlelap dan berpetualang ke alam mimpi.
****
Kehidupan mereka tampak sempurna, meski berbeda profesi amat mencolok. Naina tetap sebagai polisi yang berurusan dengan kejahatan, dan Dev sebagai pengusaha. Naina kini lebih memiliki banyak pengawal di rumahnya, selain dari kepolisian juga dari anak buah khusus Dev yang dikategorikan swasta. Mereka tinggal di sebuah apartemen mewah karena Dev ingin menikmati kehidupannya dengan Naina berdua saja.

Tiga bulan dari pernikahan, tak ada tanda-tanda si penjahat itu mengacau. Naina merasa heran dan mengatakan semua itu pada suaminya.
“ kau ini aneh.. semua penjahat takut pada istriku. Wajar mereka membubarkan diri.” Puji Dev sambil meraih tangan Naina dan menciumnya.
“ Tidak.. aku merasa ada yang tak beres.” Ujar Naina.
“ Ayolah.. ini malam kita.” Bisik Dev lembut di telinga Naina. Naina tersenyum manis.

Telepon Naina berdering keras, Naina segera melepaskan diri dari Dev karena yang menyala nomor khususnya dengan timnya yang dia buat untuk tetap mencari tahu para penjahat itu. Dev terlihat kesal ketika Naina memilih berbicara dengan anak buahnya. Apalagi melihat Naina mengganti pakaian dan mengikat rambutnya tanda akan pergi.
“ Naina...” Dev memberi isyarat tidak senang. Naina menarik nafas dan menatap Dev.
 ada tahanan yang mati lagi, dan dia anak buah dari penjahat itu. lalu yang sedang dikejar anak buahku pun mati begitu saja. Aku harus kesana. Aku mulai menemukan titik terang. Doakan aku..” Ujar Naina dengan berat. Dev terlihat kesal tapi tak bisa mencegah. Naina mencium pipi Dev dan segera keluar menuju mobilnya.

Tiba di lokasi Naina memeriksa keadaan korban. Anak buahnya memberikan bukti yang ditemukan. Kancing yang sama dengan yang ditemukan di tangan tahanan dulu. naina mendapat laporan lagi, bahwa ada pengiriman senjata ilegal lagi dari pelabuhan. Dia pun segera menuju pelabuhan dan disana terlihat beberapa orang tengah memindahkan barang-barang dikawal oleh para preman berbaju hitam dan bersenjata. Naina mempersiapkan senjatanya dan vikram berteriak.
“ Polisi.. angkat tangan!” teriak Vikram. Mereka terkejut dan bukan menyerah malah menembaki polisi. Baku tembak terjadi dan Naina melihat sosok yang berusaha dilindungi oleh mereka. Naina pergi ke arah lain dan mengejar mereka ke sebuah gudang. Setelah saling tembak dan berkelahi dengan pengawalnya, Naina menodongkan senjata ke pria bertopeng itu. Pria itu membuka topengnya.
“ sudah kuduga” Naina melemparkan kedua kancing yang selalu dia bawa. Ya, selama ini dia memperhatikan bentuknya sangat mirip dengan kancing yang dipakai komisaris dan pernah tertangkap hilang bagian atasnya. Namun sebuah benturan benda tumpul menghantam kepala Naina dari belakang hingga dia tak sadarkan diri. Komisaris tertawa sinis dan Naina dibawa dari tempat itu.

Naina mulai sadar, tangan dan kakinya terikat dan tergeletak di lantai. Dia memandang sekeliling dan terlihat dua orang tengah berdebat. Komisaris terlihat tunduk pada pria itu. Bahkan dia membela diri dengan mengatakan telah membunuh banyak tahanan demi kelompok mereka. Dan selalu memberitahu dimana Naina berada bahkan menakut-nakuti Naina dengan menembakinya setiap ada kesempatan. Kerjasamanya dengan Shidart di pesta dan banyak lagi pekerjaannya selama ini.
“ Tetap saja bodoh.. karena akhirnya anak buahmu malah tahu tentang dirimu.” Ujar pria itu. Naina berusaha merangsek meski badannya terikat tali. Komisaris terus membela diri, namun sebuah letusan pistol membuatnya bungkam. Naina tersentak ketika komisaris ambruk dan darah mengalir dari kepalanya. Dia mati ditembak orang itu, Naina benar-benar bingung dan ada rasa takut dalam hatinya untuk pertama kali. Dia teringat Dev yang dia tinggalkan dan akhirnya dia disekap.

Komisaris sangat rapi dalam pekerjaannya. Bahkan dengan mengangkat Naina, itu adalah triknya agar kasus ini tak ditangani militer yang sudah pasti menyulitkannya. Dia mengira dengan ditangani Naina yang seorang perempuan, akan mudah dibereskan dan ditakut-takuti. Tujuan utama mereka jelas, kelompok kejahatannya agar tetap eksis. Menjual senjata, membunuh bayaran bahkan penjualan obat-obat terlarang. Karena Naina justru mereka semakin sulit bergerak, hingga target merekapun berubah, yaitu menyingkirkan Naina.

Pria itu menendang papan yang menghalangi Naina untuk melihat.
“ Dev????” Naina terkejut bukan main melihat si penjahat yang membunuh komisaris.
“ Dev??? Siapa dia? Kekasihmu?” tanyanya dengan bengis dan matanya terlihat merah. Wajahnya benar-benar mirip dengan Dev, bedanya dia terlihat bengis dan kejam.
 Dia menarik kerah baju Naina agar bisa berdiri. Naina terlihat menahan sakit di tangan dan lehernya. Pria yang mirip dengan Dev itu memandang Naina dengan tajam.
“ Siapa Dev?” tanyanya lagi. naina diam saja tak menjawab. Anak buahnya yang lain datang dan memberi tahu dev adalah suaminya.
“ Owh.. suami tercinta.. pasti dia sedang merindukanmu..” ujar si penjahat dengan sinis dan bengis. Naina tak kuasa bicara apapun ketika lehernya dicekik oleh si penjahat cukup kuat. Di memejamkan mata, pasrah jika harus mati saat itu juga. Si penjahat memandang Naina yang tak berdaya dengan penuh nafsu dan kebencian.
****
Di sisi lain Vikram terus mencari Naina yang diculik. Dia malah menemukan mayat komisaris yang dibuang anak buah si penjahat. Vikram yang panik langsung meminta bantuan militer, dan saat itu juga tentara India dikerahkan mencari Naina dan mencari tahu tentang kejahatan komisaris yang ditemukan dengan pakaian serba hitam ciri khas kelompok penjahat itu.

Sementara itu airmata Naina menetes mengingat Dev. Kesetiannya diuji dan dicabik-cabik si penjahat.
“ Boss.. militer India mulai mendekati tempat ini.” Ujar anak buahnya. Si penjahat terkejut namun terlihat amat siap berperang.
“ siapkan perangkap.”
“ Kita tidak bisa melawan boss..mereka sangat banyak.” Lanjut anak buahnya.
“ Pasang perangkap dan ambil opsi terakhir.” Katanya berdiri dan memandang Naina yang tak bergerak lagi. Dia memandang Naina cukup lama lalu pergi melarikan diri dengan anak buahnya. Setelah dirasa si penjahat jauh, Naina berusaha melepaskan ikatan tangannya. Dia melihat bom aktif telah terpasang di ruangan itu. Dia bangkit dengan sisa tenaga yang ada dan berusaha keluar dari tempat itu. Tubuh mungilnya berusaha mengangkat bobotnya yang terasa amat berat agar mampu berlari cepat sebelum bom itu meledak. Vikram yang yakin Naina ada di tempat itu mendobrak pintu dimana Naina tengah berusaha membukanya.
“ Bom..” Cuma satu kata dari mulut Naina sebelum tak sadarkan diri. Vikram berteriak mundur sambil menggendong Naina bersama anak buahnya. Ledakan dahsyat terjadi dan mereka terpental. Naina semakin terluka parah dan benar-benar hampir mati.

****
Tiga hari Naina tak sadarkan diri . hanya Dev yang terus menemaninya. Dan akhirnya dia mulai sadar, maka militerpun langsung mengintrogasinya perihal keterlibatan komisaris dengan kejahatan yang terjadi. Naina menceritakan setiap yang dia tahu.
“ Kau lihat siapa yang membunuh komisaris?” tanya pimpinan militer. Naina tertegun, dia menoleh pada Dev yang sedari tadi menemaninya. Naina menggeleng.
“ Aku tidak lihat. Dia memakai topeng.” Ujar Naina berat.
“ Baiklah.. anda beristirahat saja. Kasus ini kami ambil alih.” Ujar pimpinan militer. Vikram terlihat tak berdaya, dan Naina pasrah. Tapi dia masih menyimpan banyak kegundahan, terlebih ketika mengingat wajah penjahat itu begitu mirip dengan suaminya.

Dua bulan berlalu, Naina terus menyelidiki apa yang membuatnya penasaran. Bahkan dia mulai menyelediki suaminya sendiri. Dia langsung teringat wanita yang dicintai oleh dev ketika itu. Dia mencari tahu melalui ibunya Dev dan akhirnya mendapatkan alamatnya.

Naina mendatangi perkampungan sedikit kumuh tersebut. Dia bertanya tentang Payal Mishra.
“ Payal? Dia sudah meninggal beberapa waktu lalu.” Ujar orang itu. Naina terkejut dan meminta diantar pada orang tua Payal.
“ Ya, putriku sudah meninggal.” Jawab ayahnya.
“ Sakit?” tanya Naina.
“ Entahlah.. mungkin dia syok ketika dev verma memutuskan tidak menikahinya.” Jawab ayahnya. Naina semakin penasaran.
“ Ketika itu tuan Verma datang kembali dan mengatakan tidak bisa menikahi Payal. Anakku histeris dan marah karena kecewa. Lalu dev verma memeluknya. Setelah itu dia diam dan hanya menangis. Tak lama dia masuk kamar dan dia meninggal.” Papar ibunya. Naina mengangguk dan meminta maaf telah mengorek luka lama. Dia kembali ke rumah dan memandang foto pernikahannya.

Rangkulan Dev membuyarkan lamunannya. Seperti biasa mereka sangat mesra saling memamerkan cinta mereka.
“ Dev.. jika aku membuat pengakuan besar.. apa kau akan memaafkanku?” tiba-tiba Naina mengangkat kepala Dev dan memandangnya.
“ Tentu. Aku mencintaimu dengan segenap jiwaku.. apapun itu aku akan dengar dan akan memaafkanmu..” bisik Dev dengan penuh kasih sayang.
“Sebenarnya aku melihat wajah penjahat itu.” Naina memandang kosong. Dev menoleh dan memandang wajah Naina yang terlihat gundah.
“ Wajahnya... persis denganmu..” ujar Naina. Dev melotot dan malah tertawa. Dia mengira Naina sedang membuat lelucon atau sedang mengerjainya.
“ Aku serius dev.. dan dia.. dia..” Naina terasa sesak dan menahan emosi di hatinya.
“ Dia ... aku... “ Naina tak kuasa mengutarakannya. Dev memandang Naina dan seolah mengerti maksud istrinya.
“ Aku sudah tahu.. hanya aku tak ingin menyakitimu. Lupakanlah....” bisik Dev tetap tegar sambil kembali memeluk Naina.

Naina lega dan tersenyum. Dia benar-benar merasa beruntung menikah dengan Dev.
“ Apa dia sepeti ini juga?” bisik dev menggigit telinga Naina persis si penjahat itu. Naina seketika tersentak dan mendorong tubuh Dev. Dev tersenyum dan tertawa geli sekali.
“ Kau?” Naina terlihat emosi dan membetulkan kemejanya. Dev tersenyum dan terlihat aneh. Tertawanya sinis namun terlihat mengambang, seolah diantara kejahatan dan kebaikan.
“ Dimana suamiku?” Naina mengambil pistol dari lacinya dan mendongkannya pada Dev. Dia mengira si penjahat membunuh Dev dan dia berpura-pura menjadi Dev. Dengan wajah penuh amarah Naina kembali menanyakan dimana suaminya berada.
“ Rasanya tidak adil.. kau membuat pengakuan besar, artinya kau amat mencintaiku Naina. Maka aku pun harus membuat pengakuan besar.” Ujarnya memandang Naina dengan mata yang sama, sedikit memerah karena menahan emosi, persis ketika di gudang itu.
“ Aku telah membunuh dev verma..” katanya. Naina tersentak kaget dan hampir menembakan pistolnya. Tapi dengan sigap direbut oleh Dev dan mengunci tangannya.
“ Aku membunuhnya. Aku membunuhnya ketika kau terluka di pameran di Delhi.” Ujar Dev dan kembali Naina terperanjat. Naina benar-benar tak mengerti dengan yang dia dengar. Dev membuang pistol Naina dan mengunci tangan Naina sekuat tenaganya agar tak melawan.
“ Ketika itu aku melihat kau berbicara dengan pria idiot itu, aku terkejut dia begitu mirip denganku. Awalnya aku inging menghabisimu dengan sekali tembakan, tapi aku urungkan. Aku pikir akan lebih mudah jika aku sedikit mempermainkanmu sebelum kubunuh. Aku gunakan senjata racun sesaat agar aku bisa masuk dalam kehidupanmu.”
Naina menahan airmata dan nafasnya yang terasa sesak. Seketika pengakuan itu membuatnya benar-benar menjadi selemah lemahnya wanita. Kenapa dia bisa tidak menyadari semua itu.

“ dan saat kau tak sadarkan diri, dev bodoh itu tengah ketakutan bahkan tak berani menyentuhmu sedikitpun. Lalu aku menemuinya, dia terkejut dan aku menembaknya. Di dadanya.. ya di dadanya.. Lalu menggantikan posisinya. Aku keluarkan peluru dari tubuhmu. Dan aku rangkai sedemikian rencana agar kau jatuh cinta.” Lanjut Dev. Naina mengingat kembali masa lalu, ya..Dev terlihat ketakutan ketika itu, tapi kemudian jadi amat berani bahkan mengejarnya seperti mabuk kepayang.
“ Lalu kau bunuh juga wanita desa itu?” tanya Naina sambil rubuh duduk menyandar ke dinding. Dev mengangguk. Dia membunuh gadis itu dengan suntikan ketika memeluknya.
“ tak ada pilihan lain.. Dia bisa menghancurkan rencanaku mempermainkanmu.. dan komisaris bodoh itupun.. mengira kau akan mudah dipermainkan. Ternyata tidak, dan cintaku lah yang sukses..” ujar Dev sambil  mengecup tangan Naina.

 “ Tapi sekarang aku ingin mengakhiri semua ini. Aku jatuh cinta sungguhan padamu. Setelah beberapa kali berniat membunuhmu. Ketika malam pertama kita, maafkan aku telah menodongkan pistol di kepalamu.. tapi aku tak kuasa..” bisik Dev. Naina benar-benar emosi dan terpukul mendengarnya.
“.. setiap kau tertidur.. tapi aku tak pernah mampu melakukannya naina... Aku mencintaimu.. sungguh-sungguh jatuh cinta padamu..” dev memeluk Naina yang mengepalkan tinjunya menahan amarah. Kesabarannya habis dan dia langsung memukulkan tinjunya hingga Dev terpental cukup jauh.
“ Aku ingat sekarang.. itu kenapa aku tak pernah tenang di dekatmu..  bahkan mungkin saja aku mati dengan bom yang kau tinggalkan ketika itu. Tapi kau masih berani bicara cinta??? Dasar bajingan..” Naina mengambil pistol lainnya di laci dan menembaki dev berulang-ulang. Tapi Dev berhasil menghindar.
“ Ya naina.. tapi saat itu aku bersumpah, jika kau mati maka akupun akan mengakhiri hidupku..” ujar Dev dari balik tembok. Masih berusaha menenangkan Naina.
“ Polisi tidak pernah percaya pada penjahat. Dan penjahat tidak pernah menyukai polisi..” Naina mengirimkan kode bahaya pada Vikram dan anak buahnya. Vikram dan pasukannya langsung menuju rumah Naina. Lalu Naina kembali menantang sang penjahat.
“ Hadapi aku.. pecundang..” Naina keluar dari balik meja dan kembali menembaki apa saja di ruangan itu berharap bisa mengenai Dev. Naina yang setengah frustasi dan kecewa tak menyadari dev telah ada di belakangnya dan berusaha mengambil pistolnya. Tapi lagi-lagi Naina menghantamkan tinju dan sikutnya. Dev terjatuh namun bangkit lagi, berulang kali Naina menendang wajah dan perutnya tapi dia tetap kokoh, meski terjatuh dia tetap bangkit lagi. Dev berhasil mendapatkan pistol dan menodongkannya pada Naina, tatapan mereka beradu. Tatapan Naina kini penuh kebencian dan amarah. Sedang Dev terlihat melemah dan akhirnya membuang isi pistol dan kembali memeluk Naina.

“ Aku mencintaimu.. aku bersumpah akan menjadi Dev sesungguhnya.. dan melepaskan kejahatanku.” Bisiknya dengan terus mendekap kuat Naina yang berontak. Tapi dia tetap mendekat Naina dengan kuat hingga Naina tak lagi melawan.
Suara mobil polisi mengejutkan keduanya.
“ Kau memanggil polisi?” tanya Dev terkejut. Naina benar-benar menjad dilematis. Teriakan Vikram yang meminta Dev menyerah membuat Naina amat sakit di ulu hatinya, antara cinta dan amarah menjadi satu. Dev memandang istrinya dan menarik tangannya lari ke atap apartemen dimana heli miliknya berada.
“ Kita akan pergi.. kita akan melarikan diri.. kita hidup bersama.. hanya berdua.. di hutan.. ya.. hanya kita berdua.. “ ujar Dev tampak panik dan tak karuan. Sedang Naina tak bicara hanya mengikuti langkah kakinya. Beberapa tembakan dilepaskan polisi saat melihat Dev menarik Naina ke atas. Mereka mengira Dev menyandera Naina.

Nafas Dev cepat menandakan amat panik dan ketakutan, dan matanya terlihat merah seperti aslinya jika dia tengah emosi. Dia menuju helinya dan menembak petugas yang juga anak buahnya lalu menarik Naina untuk naik. Tapi Naina malah berusaha lari dari heli.
“ Aku tidak bisa menghianati negaraku Dev.. pergilah.. anggap ini hadiah cintaku padamu..” ujar Naina menahan tangis meski airmatanya menggenang. “ Kita tak akan pernah bisa bersama.” Katanya dengan pasti sambil terus melihat ke belakang.
“ Aku tidak akan pergi tanpamu..” Dev malah turun kembali dan memandang Naina yang terus menenangkan dirinya sendiri.
“ cinta ini mungkin takdir.. dan perpisahan kita pun takdir.. kita berada di jalan yang berbeda..” bisik Naina serius. Dev terdiam dan memandang mata Naina yang bagai bersinar terang karena basah dan Seketika meluluhkan hatinya dan amarahnya. Dia memeluk Naina dengan lembut..
“ Tidak.. takdir kita adalah sesalu bersama.. dan aku akan disini untukmu apapun yang terjadi..” katanya dengan lembut. Naina tersenyum manis.. Kecupan Dev terasa hangat di keningnya.
“ I love you..Naina..” bisik Dev kelu, seolah sudah membayangkan hukuman mati yang akan diterimanya. Sesaat mereka saling merasakan kehangatan cinta mereka ditengah terpaan angin yang kencang diatas gedung tinggi.
“ I love you too...Dev” bisik Naina. Dev tersenyum tapi seketika wajahnya berubah seperti merasakan sakit yang sangat. Dia melepaskan pelukannya dan menyadari dadanya telah berdarah karena tembakan dari pistol Naina.
“ Aku mencintaimu... karena itu aku membebaskanmu dari kejahatanmu sendiri ...” ujar Naina kembali menembak dada Dev kedua kalinya. Dev tak percaya dan memandang dadanya yang mengalirkan darah cukup deras. Matanya kembali memerah dan terlihat marah, lalu menarik Naina, namun Naina berusaha menghindar dengan menembak kembali dadanya ketiga kalinya. Dev tetap kuat dan berhasil meraih kemeja Naina, lalu menariknya dengan kuat.
“ Jika aku mati.. kau pun harus mati..kita berd..dua akan mati bersama..” katanya dengan terbata-bata denga wajah menahan sakit.
“ Kita bertiga Dev.. jika itu seharusnya..“ bisik Naina dengan lembut dan melepaskan pistolnya. Dev terkejut dan seketika mendorong tubuh Naina ke belakang hingga terjtuh di atap sedang tubuh dia melayang ke bawah.
“ Deeeevvvvv....!!!!!!” teriak Naina berlari ke ujung gedung. Tapi Vikram menariknya dan Dev tersenyum hingga tubuhnya diterima mobil dibawah sana. Naina berdiri di pinggir gedung dan menatap kosong ke bawah, sedang Dev tak bergerak lagi dan matanya tetap menatap wanita yang dicintainya.
******
Setelah melakukan pencarian, akhirnya mayat Dev Verma asli ditemukan di gudang penyimpanan es. Tubuhnya masih utuh meski telah membeku. Keduanya dibaringkan berdampingan dengan Dev palsu. Benar-benar tak terlihat bedanya.
Naina berjalan masuk ke ruang itu dengan sari putihnya. Semua terkejut melihatnya.
“ Jika aku gagal.. aku akan memakai saree putih.. ” itulah kalimat yang Naina katakan di awal bertugas. Dan faktanya, suksespun dia harus memakai sari putih itu. Dia memandang wajah Dev asli yang pernah dijodhkan dengannya, dia ingat bagaimana pria itu menolaknya karena tak mencintainya sama sekali. Lalu memandang Dev yang menjadi suaminya, betapa jauh berbeda dimana dia begitu mencintainya. jika dia mau, dia bisa membunuhnya kapan saja. Tapi dia tidak melakukannya karena cinta. Airmatanya meleleh deras, begitu juga kedua orang tua Dev asli. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya dan sebagai seorang polisi, dia harus menangis di hadapan banyak orang. Di hadapan anak buahnya dan di hadapan orang tuanya.

Naina mengambil api dari tangan pendeta dan membakarkannya pada tubuh Dev.
“ Aku tetap mencintaimu.. dan akan menjaga anak kita ...” bisiknya sambil tersenyum. Lalu menoleh pada Dev Verma asli dan memberi penghormatan terakhir.
Naina menaburkan abu suaminya seorang diri. Dia mengusap airmatanya, dan memandang matahari yang menguning.
“ Tidak ada yang bisa mengalahkan kekuatan cinta.... tapi cinta bukan segalanya.. dan cinta haruslah sebuah kebaikan..” ucapnya dalam hati, lalu berbalik dan kembali ke rumahnya. Dia kenakan kembali seragam polisinya.
Pemerintah menaikkan pangkatnya dan mengangkatnya menjadi komisaris, tapi dia menolak. Dia menganggap Vikram lebih pantas dengan jabatan itu. Vikram berterima kasih dan meraih tangan Naina.
“ Jangan pernah salah menempatkan cintamu .... matamu bisa salah melihat.. dan hatimu bisa salah merasakan.. gunakan pikiranmu..dia bisa menilai.. aku tak pantas untukmu..” Naina menepuk pundak Vikram. Lalu keluar dari gedung kepolisian dan kembali memandang sekitarnya. Menarik nafas dalam dan merasakan udara yang masih tetap sama meski mungkin dengan cerita yang berbeda..
“Aku kembali..”

THE END...

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Majarani

Aku bukan mandul, tapi ada yang memasang IUD tanpa sepengetahuanku!