MARDAANI karya Hiekma Miya



Starring :
Rani Mukerji : as inspektur Jiya chaudhry
Abhishek Bachan : Vikram Signh
Jishu sengupta :  Rajesh kapoor
Imran Khan : Vijay ( polisi Intel )
Shatyaraja : komisaris  Prakash  ( atasan Jiya )
Amrita Mukherjee : Anjana
Dll…

Siang itu terjadi keributan di salah satu pasar yang ada di Mumbai, para preman meminta paksa uang dan barang-barang  para penjual. Orang-orang pun tak ada yang berani mendekat atau bahkan melawan para preman itu, Para preman itu juga membawa senjata tajam seperti pisau dan clurit. Suasana yang mencekam itu membuat para penjual dan pembeli ketakutan dan mereka hanya bisa pasrah tak ada satu orang pun yang berani melawan. Saat preman2 itu melancangkan aksinya, tiba2 suara tembakan terdengar … Duerrrrrr…….. tembakan itu mengenai salah satu gerobak pedagang buah. Para penjual  dan pembeli yang kaget dengan suara tembakan itu lansung berubah senyum, mereka sedikit lega bak ada bidadari dari kayangan yang menolong rakyatnya dibumi :D.
“ Hentikan!!! Atau saya tembak kalian! “ .suara serak2 basah tetapi tegas terucap dari seorang polisi wanita yang terus memegang pistol.
“ ampun..!!!” ucap salah satu preman
“ iya.. tolong lepaskan pistolnya! “ jawab salah satu temannya yang sedikit ketakutan
Inspektur pun langsung menurunkun pistolnya, meski begitu ia tetap waspada.
“tangkap mereka!” perintahnya pada teman2 polisinya
Saat polisi-polisi itu hendak menangkap preman-preman itu, justru salah satu leader dari preman itu menyekap salah satu pedagang buah , preman itu mengancam jika polisi-polisi itu mendekat maka mereka akan membunuh pedagang itu.
“jangan mendekat ! atau orang ini akan mati! “ ancam preman itu sembari mengadahkan pisau di leher si pedagang itu.
Karena tidak ingin terjadi apa-apa, para polisi itu pun menhentikan langkahnya. Para preman itu terus membawa pedagang itu hingga mereka memasuki mobil milik salah satu pembeli, setelah itu pedagang pun dilepaskan , kemudian para preman itu membawa kabur  mobil. Para polisi itu langsung mengejar, tanpa pikir panjang polisi wanita itu langsung mengejar preman itu, bak seorang pembalap yang professional , polwan itu menyabet jalanan dengan gagah. Ditembakkannya pistol itu ke ban mobil target. Sampe mobil pun mulai tak terkendali, dan berhenti , Polwan itu tiba2 sudah di depan mobil2 preman itu. Disusul dengan polisi polisi lain Polwan itu langsung menangkap preman-preman itu.
Setibanya di kantor polisi, para preman itu diintrogasi, dan dikenai hukuman penjara 1 tahun, para preman itu terus berusaha menyuap petugas, agar hukumannya diringankan. Ada salah satu yang mau menerima suap itu, tapi dengan tegas sang polwan pun mengatakan ,:  “TIDAK!!!” , 
“atau kurang banyak ya? “ Tanya salah satu preman.
Hemm, kalo kalian kaya kenapa harus mencuri dan memalak? , dan apa kalian tidak sayang sama uangnya? Hasil malak yg susah payah hanya untuk dikasih kan ke polisi? Hemm Royal sekali ya kalian ini.. “ ucap polwan sambil tersenyum sinis namun tetap manis.
“ sudah! Bawa mereka ke sel! Jangan sampe mereka keluar sebelum 1 tahun! “ perintahnya
“ baik inspektur! “ jawab salah satu polisi yang kemudian langsung membawa preman2 itu
“ inspektur, anda dipanggil oleh komisaris! “ polwan itu pun langsung menuju ke ruangan komisaris.
Sesampainya di ruangan, Komisaris Nampak marah.
“ inspektur Jiya….!!”
“ ya, komisaris ”..
“ anda ini bodoh ya? Kenapa bisa anda menolak uang yang diberikan preman-preman tadi?”
“ maaf pak…. Tapi hukum itu tidak bisa dijual belikan”
“ siapa yang mau jual belikan?, kita bisa menjualnya tapi mereka tak bisa membelinya”
“ ah itu berarti kasih harapan palsu pak ,, “
“tapi disini saya yang berwenang, jd saya bebas memakai cara saya sendri.. sekarang silakan anda tinggalkan tempat ini ! “
“Baiiklah . tanpa anda suruh saya juga akan segera pergi…. Permisi! “
Komisaris pun menatap tajam kepergian jiya, matanya seperti menyimpan kebencian dan dendam pada polisi wanita yang berprestasi itu, ia pun tampak geram kalau hanya Jiya lah yang selalu berani menentangnya.
Pukul 8 malam, jiya pun tiba di rumah, direbahkannya tubuhnya yang terbilang mungil untuk ukuran seorang polisi. Nampak sekali kelelahan di wajahnya, lelah fisik bahkan lelah batin itu sudah menjadi konsumsinya sehari-hari. Diusapnya keringat dan air mata yang tak sengaja juga ikut menetes. Pikirannya kembali ke perisitwa 5 tahun silam. Jiya pun hanya bisa menerawang. Tiba-tiba lamunannya pecah saat ia mendengar suara lembut itu memanggilnya.
“mama….. “ ia memanggil sambil berlari kea rah jiya
“ Anjana.. kau belum tidur sayang? “ dipangkunya putrid kecilnya itu
“ aku malam ini ingin tidur sama mama” rengeknya
“ sweet sekali.. baiklah ayo kita tidur!”
Angin malam yang lebih dingin dari malam-malam sebelumnya, membuat Anjana  tertidur lebih pulas dari biasanya. Sementara itu Jiya belum bisa tidur juga, dibelai lembut buah hatinya itu. Lagi-lagi air matanya menetes, kejadian 5 tahun lalu kini terbayang lagi. Kalau saja suaminya tak pernah meninggalkannya mungkin ia tidak akan kerja seberat ini. Dulu saat masih ada suami pekerjaannya sebagai polisi tidak begitu berat , hanya menjadi polisi lalu lintas saja. Tapi setelah suaminya menelantarkannya , ia bertekad untuk jadi polisi yang lebih berat tugasnya, bahkan kini ia bisa menjadi seorang inspektur itu perjuangannya juga tidak mudah. Setidaknya dengan gelar inspektur kini kehidupannya tidak begitu kekurangan, bahkan bisa lebih walaupun tidak lebih banyak saat masih ada suaminya.  Seiring berjalannya waktu kecintaan Jiya pada tugasnya , tidak sekedar tugas saja tapi juga pengabdian terhadap Negara terutama keluarganya. Meski begitu jiya tidak pernah kehabisan waktu untuk buah hatinya, karena selama ini Jiya pintar memanage waktu sehingga ia bisa jadi polisi yang professional.
*****
Sunyi, senyap, gelap bak sebuah tempat kematian, dengan besi-besi panjang, hitam dan putih di ruangan itu, tempat tidur yang hanya beralas selembar kain yang kucel. Penjara ini sesak, seperti tahanan nomor 118 itu, setiap jiya berkeliling memeriksa para tahanan satu persatu, langkahnya selalu terhenti sejenak pada tahanan nomor 118. Entah kenapa ia selalu melihat tersangka ini tidak seburuk yang dituduhkan, wajahnya seperti bukan seorang penjahat, tapi mau bagaimana lagi Jiya hanya seorang inspektur yang harus menjalankan tugas bukan yang sesuka hati membebaskan tahanan. Biarpun Jiya Bersikap tegas dan professional ia tetaplah seorang wanita yang peka, hatinya selalu tak tega melihat tahanan 118 itu. “ aku yakin jalan kebenaran itu akan segera untukmu “ Jiya hanya bisa membatin.
“ 118, ada tamu untukmu!” panggil salah seorang polisi
Polisi itu langsung menyuruh tamu itu masuk ke sel. Jiya yang sedaritadi berdiri menatap tajam mereka berdua di dalam sel. Ya,, sudah puluhan pengacara yang datang ada yang ditolak ada yang diterima, kalaupun yang diterima pengacara itu malah meninggalkannya di tengah jalan, padahal kasusnya belum selesai. Jiya menatap jauh,, “apakah mungkin kali ini pengacara ini berhasil? “ tandasnya.
Tidak, pengacara itu tampaknya belum bisa membujuk tahanan itu, pengacara itu keluiar dengan sedkit kekecewaan, Jiya hanya bisa member senyum dan hormat saja. “ emm sepertinya kau memang harus lebih bersabar lagi “ jiya hanya mendesah.
Namun salah, ternyata Pengacara itu tidak jenuh untuk selalu berdiskusi dengan tahanan itu, kurang lebih sudah 2 minggu pengacara itu terus meyakinkan  tahanan itu. akhirnya mereka sepakat untuk membuka kembali kasus ini. Kasus korupsi 3 tahun yang lalu , ia dituduh menjadi penenerima suap perusahaan bank nasional di India. Untuk proses penyelidikan ulang pihak pengacara meminta bantuan kepolisian intel , tapi pihak kepolisian belum bisa mengambil keputusan karena harus diskusi dulu dengan komisaris.
Keesokan harinya, seorang polisi intel ditemani Jiya dan beberapa polisi lainnya sedang berdidkusi dengan komisaris .
“ tapi kasus ini baru ditutup 1 tahun lalu, dan kita juga sudah berjanji pada media maupun pemerintah tidak akan membuka lagi, karena memang kasus ini terlalu ribet saya gak mau ambil resiko” ucap komisaris dengan gentar
“ justru karena ribet , itu tantangan saya sebagai polisi intel” . tegas vijay
“ lebih baik anda urus aja kasus lain!” . perintah komisaris
“ tapi bagaimana dengan tahanan itu? Kami sudah terlanjur memberinya harapan.” Vijay terlihat mulai putus asa
“ silakan saja kalau pengacara itu mau membantunya, tapi kita tidak boleh terlibat,, resiko ini terlalu besar, akan banyak kecaman dari berbagai pihak, ancaman demi ancaman atau bahkan ajang balas dendam . “ komisaris mulai gelisah
Jiya yang sedari tadi hanya diam, akhirnya buka suara
“ miris….! Kita sebagai polisi hanya hidup dengan suap dan ancaman semata. “ jiya menatap komisaris dengan tajam
“ apa maksud anda Inspektur Jiya? “ komisaris mulai meninggikan nada
“ buat apa guna kepolisian kalau Cuma takut ancaman? Sampai manakah pengabdian kita terhadap Negara? Tugas kita bukan menentukan benar dan salah, tapi tugas kita membantu Negara dan rakyat untuk mengungkap kasus . “ ucap jiya geram
‘’ baiklah.. lakukan saja apa yang menurut kalian benar.. tapi kalau sampai terjadi apa-apa jangan libatkan saya! “ . komisaris lansung beranjak
“ terimakasih..komisaris.” Ucap vijay
Jiya menatap tajam langkah komisaris, bahasa tubuhnya seakan menyembunyikan sesuatu.
“ terimakasih inspektur Vijay, sudah bersedia membantu kasus ini “ ucap pengacara itu
“ sama sama pak Vikram “ balasnya sambil mengelurkan tangan.
“ aku akan membantumu vijay.” Ungkap Jiya bersemangat
“ ah bagaimana mungkin Jiya, kau bukan bagian intel.”
“ ya, aku tau, tapi aku akan membantu saja, aku janji semua tugas kau yang tanggung jawab, kau tetap yg bertugas utama, aku mohon Vijay! Ijankan aku!. “
“ emm baiklah. Tapi kau tau kan kalau tugas intel jauh lebih berat dan beresiko? , apalagi untuk seorang wanita. “
“ kau tau aku kan vijay?  Aku bukan wanita sembarangan, lagian kasus ini selalu aku nantikan selama ini.”
“Baiklah , mulai besok ikuti permainanku ! “
“ haa.. “
“ terimakasih inspektur jiya, semoga dengan bantuan anda kasus ini segera terungkap :D “.
Jiya tidak banyak bicara, ia hanya menyunggingkan senyum , walau sedikit tapi tetap manis J
****
Club di mumbai malam ini sangat penuh, 2X lipat seperti hari biasanya. Kepentingan Mereka hanya untuk bersenag-senang dan untuk mabuk-mabukan. Hal yang sama terlihat di pojok dekat tangga , 2 pria yang diduga perantara penjualan saham di Bank Nasional di Mumbai  sedang asyik mabuk-mabukan, vijay dengan saksama terus mengajak pria-pria itu ngobrol sembari menyelidiki kasus. Penyamaran yang memang hebat, dan mereka tidak curiga sama sekali, sementara Jiya hanya mengawasi dari jauh. Berhasil!! Informasi pun didapatkan dengan mudah, selanjutnya mereka hanya tinggal mencari bukti baru untuk menangkap orang-orang yang mendapat aliran dana.
“ jangan senang dulu! Tugas kita masih mencari siapa Raja korupnya”. Ucap Vijay tegas
“ kau benar Vijay, tapi setidaknya kita sudah mulai menemukan bukti-bukti yang mengarah. “ jawab Jiya optimis
“ baiklah, kalau begitu aku harus ketemu pak Vikram, aku duluan ya! Kau bisa pulang sendiri kan? “
“ baiklah, sudah terbiasa sendiri kok, aku juga harus ke kantor dulu, hari ini jadwalku mengawasi sel”
Vijay pergi menemui Vikram, sementara Jiya dengan jeli dan tegas mengawasi tahanan satu persatu. Tibalah di tahanan 118, kali ini Jiya memberanikan diri masuk ke sel itu. Pada awalnya tahanan itu tidak ingin bercerita tapi dengan desakan jiya akhirnya ia menceritakan semua kronologinya, ia hanya terjebak, sama sekali ia tidak terlibat korupsi, tapi karena kesalah pahaman ia pun  dijebloskan ke sel. Ia bukan orang yang berduit yang bisa untuk menutup kasus ini. Ia hanya karyawan biasa yang tidak bisa membeli Hukum. Miris adanya, tahanan 118 hanyalah 1 dari segelinciran orang yang kalah dalam hukum, Dan bagi mereka yang berduit hanya tinggal duduk manis sembari membagi-bagikan uang ke aparat hukum.  kasarnya, mereka menaburkan uang ke kantong aparat hukum bagaikan menabur duri di atas tanah.  Tidak hanya itu, bahkan disaat banyak pengacara yang memenangkan clientnya dengan uang masih ada orang seperti Vikram yang justru menomor sekiankan uang, baginya kebenaran di atas segalanya, oleh karena itulah tahanan 118 itu untuk pertama kalinya begitu percaya pada kuasa hukumnya itu.  Jiya yang sedari tadi mendengarkan dengan saksama gak banyak bicara, ia hanya bisa berjanji  dalam dirinya kalau ia akan menyelesaikan kasus ini.
setelah cukup lama mereka berbicara, akhirnya Jiya meninggalkan sel obrolanpun hanya diakhiri dengan senyumannya yang khas .
Sementara itu di ruang komisaris , terlihat Komisaris sedang asyik menelpon.
“ baiklah ,, kau kirim saja ke rekeningku ya! “ komisaris berbicara dengan semangat
“ iya tenang saja aku gak bodoh aku g akan membiarkan kasus itu berlarut lagi, karena aku sudah terlanjur janji kalo kasus itu sudah ditutup 1 tahun yang lalu” lanjutnya.
Komisaris masih terlihat serius ngbrol di telpon, saking seriusnya ia sampai tidak sadar bahwa sepasang mata itu sedang mengawasinya. Jiya pun geram, kecurigaan itu  makin bertambah setelah tanpa sengaja ia mendengar obrolan komisaris.
Langkah jiya terasa lebih berat, sepanjang perjalanan pulang ia terus-terusan curiga terhadap komisaris, tiba-tiba pikirannya buyar setelah ada mobil berhenti di sampingnya, jiya pun menoleh.
“selamat malam inspektur Jiya, ”
“ oh,, selamat malam tuan Vikram “
“ apa anda mau pulang? Kok sendirian aja? “
“ ya sambil mengawasi jalan juga, siapa tau ada keributan “
“ anda ini bisa saja, sudah mari naik!”
“ baiklah , tuan.. “
Selama diperjalanan mereka banyak membicarakan kasus penyelidikan itu, sudah ada sedikit kemajuan untuk kasus korupsi ini. Obrolan pun berlanjut ke hal-hal yang lebih pribadi, dalam rangka perkenalan yang lebih intim agar ke depannya kerjasama bisa terjalin dengan baik.
“bagaimana kalau kita makan dulu, anggap saja sebagai tanda terimakasih karena sudah mau membantu kam. “ ajak Vikram
“ oh tidak, terimakasih tapi putriku sudah menungguku di rumah”
“ putrimu? Jadi anda?? “ Vikram terlihat sedikit kaget
“ haa, putri kecilku yang berusia 6 tahun”
“lalu suami anda? “
“ aku seorang single parent”
“ sorry,, aku tidak tahu”
“ tidak apa-apa, anda bukan orang pertama yang bilang seperti itu”
“ wah saya kagum sama anda inspektur jiya, dari info yang diperoleh dari rekan-rekan  kepolisian anda, anda ini termasuk salah 1 polisi yang berprestasi” puji vikram
“ditambah lagi, anda berani sekali mengambil pekerjaan yang memang bukan tempat anda, ikutan dalam tugas intel itu juga berat loh. Salut saya “ tambahnya
“belum lagi anda harus mengurus anak seorang diri, wah baru kali ini saya menemukan seorang polisi yang tangguh dan unik seperti anda. Vikram tak henti-hentinya melontarkan pujian
“ saya tidak sehebat itu tuan Vikram”  ucap Jiya merendah
“haha,.. ngomong-ngomong kenapa anda antusias sekali dalam penyelidikan ini ? “
“ simple, saya hanya mengabdi ke Negara, menyelamatkan yang benar dan menangkap yang salah.” Jiya menjawab dengan senyum khasnya itu.
“ lalu anda sendiri, kenapa ingin menyelesaikan kasus ini, bahkan sampai anda tidak mementingkan bayaran.” Lanjutnya
“simple juga, karena sebagai pengacara saya harus membela yang benar, bukan sekedar memenangkan kasus yang salah.” Ungkap Vikram
“ Dan apa anda tau, apa yang terpenting dibutuhkan dalam dunia kerja selain Skill? “ Lanjutnya
“ entahlah.. apa itu tuan? “
“ Moral dan Kejujuran” ucap Vikram tegas
“ banyak orang yang ahli dibidangnya, tapi jarang sekali org yang ahli sekaligus bermoral, contoh nyata adalah para koruptor itu. Miris sekali ! .”
Sejenak Jiya terdiam, ia masih mendalami betul maksud kalimat barusan. Ada kekaguman tersendiri darinya untuk Vikram. Ternyata masih ada juga orang yang peduli seperti Vikram.
“ satu lagi tuan, selain Moral dan jujur  juga harus memiliki sikap peduli .”
“seperti yang dikutip oleh penulis best Seller Tere Liye :
“ Negeri ini Rusak bukan karena makin sedikitnya orang baik, tapi semakin sedikitnya orang yag tidak mau peduli” . Timpal Jiya
“ ya saya setuju. Kalau begitu senang bisa kerjasama dengan anda “ Vikram pun bersalaman dengan Jiya
Mobil terus melaju, sama dengan halnya hati Jiya dan Vikram yang mulai melaju. Timbul perasaan kagum satu sama lain, seperti terjadi sesuatu di hati yang tak mampu mereka deskripsikan.
****
Hari terus berganti, hingga perkenalan Jiya dan Vikram telah memasuki hitungan 1 bulan. Semakin hari mereka semakin dekat, semakin intim. Tidak hanya itu, hubungan baik terjalin antara Vikram dan Anjana ( putri Jiya ), suasana itu terlihat saat Jiya, Vikram dan Anjana saat jalan-jalan keliling kota ,sepintas  mereka bertiga seperti ayah,ibu dan anak yang terlihat bahagia, namun baik Jiya maupun Vikram tak kunjung juga menyadari, entah mereka memang tidak menyadari atau berpura-berpura untuk tidak menyadarinya? Yang pasti kontak mata mereka saat beradu tak mampu menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya.
Sementara itu kasus penyelidikan korupsi  Bank Nasional Mumbai pun masih terus dilakukan, kini Vijay berhasil menemukan bukti-bukti yang mengindikasi bahwa aliran penerima dana yang paling besar adalah 2 pelaku yang juga ikut menanamkan saham.  Saat tim Intel berniat mengajukan surat penangkapan untuk ke-2 orang tersebut, Komisaris justru berniat menunda-nunda kasus. Mereka sempat debat kecil dengan Komisaris, tapi Komisaris tetep kekeh ma keputusannya, dengan alas an bukti kurang akurat dan kondisi media yang sedang tidak Fokus dan sebagainya. Akhirnya dengan Terpaksa kasus ini mengalami penunduan lagi. Jiya yang mendapat kabar buruk ini pun segera menyusul ke kantor.
Sesampainya di kantor Vijay pun menceritakan semua kronologinya. Jiya Geram, hampir saja ia lepas control, ia sudah benar-benar tak tahan dengan komisaris itu.
“sudahlah Jiya, percuma posisi kita ini dibawah dia jadi kita tidak bisa berbuat lebih” ucap Vijay yang mencoba menenangkan suasana.”
Setelah Jiya sedikit tenang , Jiya juga menceritakan pada Vijay semua kecurigaannya terhadap komisaris. Vijay terkejut dengan cerita Jiya, akhirnya Vijay membagi tugas dengan Jiya. Jiya bertugas mengawasi komisaris dan Vijay terus mencari bukti baru.
2 minggu kemudian , Vijay berhasil mengumpulkan semua bukti. Komisaris pun sudah kehabisan ide untuk menahan kasus  ini. Vijay Pun akhirnya menangkap kedua pelaku yang dicurigai menerima aliran dana Bank nasionaL Mumbai.
Sementara itu, Jiya tidak bisa ikut menangkap dua tersangka itu, lantaran hari ini adalah penerima rapor Anjana, Jiya tidak pernah absent untuk urusan sekolah Anjana, meskipun ia sibuk dengan tugas kepolisian tapi ia tak npernah kehabisan waktu untuk putrinya. Itulah hebatnya Jiya seorang polisi yang sangat professional. Sesibuk-sibuknya  Jiya haketkatnya tetap seorang ibu yang harus tetap mengutamakan keluarga.
Pembagian rapor telah usai, dan Anjana tahun ini meraih juara umum kembali. Jiya semakin bangga pada putrinya, dicarinya putri kesayangannya itu untuk memberikan berita bahagia ini. Saat ia menemukan Anjana, terlihat putrinya sedang menangis.
“ Kamu kenapa menangis nak?” tanyanya lembut
“ aku sebel ma, teman-temanku menghinaku, bilang kalau yang datang ke sekolah hanya mama terus karena aku gak punya seorang ayah seperti mereka . “ isak Anjana
“ Sayang.. kata siapa kau tak punya ayah? Mama kan juga bisa jadi ayahmu, nyatanya mama bekerja terus, mama juga polisi yang kuat kayak laki-laki, mama juga bisa berantem.. emm dan mama juga bisa…… “ belum sempat dilanjutkan Anjana langsung beranjak sambiul berteriak
“ beda ma.. mama tetap saja seorang ibu bukan seorang ayah” Anjana semakin menangis dan langsung lari
Jiya yang berusaha hendak mengejar tiba-tiba langkahnya seperti berat, pedih. Ia hanya mampu menangis, sakit itu belum hilang. Bayangan akan suaminya masih begitu jelas, bagaimana dulu ia dan anjana dicampakkan. Ia sadar Anjana mulai mengerti, pertama kalinya lihat air mata putrinya merindukan seorang Ayah membuatnya semakin sakit. Jiya mungkin sudah kebal dengan air mata penghianatan suaminya, tapi ternyata jauh lebih menyakitkan ketika ia melihat air mata putrinya. Mungkin ia bisa memafkan suaminya, tapi ia tak bisa memaafkannya sebagai ayah Anjana yang telah membuat putri kecilnya menangis.
Jiya gelisah, sedari tadi ia hanya mondar-mandir menunggu Anjana pulang. Dari tadi siang Anjana belum pulang, namun sebenarnya ia tidak begitu khawatir setelah mendapat  bahwa Anjana bersama Vikram, tapi biar begitu naluri seorang ibu kalau udah malam begini anaknya belum pulang juga belum bisa tenang. Tiba-tibal bel bunyi, sontak Jiya langsung berlari membukakan pintu.
“ maaf Jiya, aku baru bisa mengantarkan Anjana pulang sekarang” ucap Vikram
“ iya tidak apa-apa, terimakasih sudah mau menemani Anjana seharian ini.” Jiya langsung menggendong Anjana
“ iya sama-sama, lagian aku senang bisa menemani Anjana, dan mungkin Anjana kecapean sampe ia tertidur pulas.”
“ sekali lagi terimakasih Vikram.”
Vikram pamit pulang, jiya langsung membawa Anjana ke kamarnya.
“ Jiya, bibi mau bicara!” panggil seorang wanita dari balik pintu
Pembicaraan di ruang tamu itu pun nampak sedikit serius.
“ Kamu memang harus segera akhiri semua ini Jiya, sudah 5 tahun  bibi tidak pernah lihat kau tersenyum sebahagia dulu. Saatnya kau bahagia Jiya.” Ungkap bibi
“ maksud bibi ? “ jiya seolah tak mengerti
“bibi lihat Vikram pria yang baik, dan sepertinya memang terjadi sesuatu diantara hati kalian.”
“ untuk saat ini aku tidak kepikiran untuk menjalin hubungan yang lebih bi, aku sudah cukup bahagia dengan hidupku sekarang bi” Jiya tersenyum pahit
“kau memang tidak bisa berbohong Jiya” bibi mengeggam tangan Jiya
“ ah,, sudahlah bi… aku bisa urus diriku tanpa suami aku juga bisa melindungi diriku sendiri.”
“ kau mungkin memang bisa Jiya, tapi Anjana? Dia gak bisa melulu sendirian, dia butuh seorang ayah! “
     Kata-kata bibinya tadi terus terngiang dikepala Jiya, bayangan Vikram tiba-tiba terlintas, sedikit senyum yang ia torehkan, membayangkan indahnya sebuah pernikahan , membayangkan betapa bahagianya Anjana jika ia memiliki seorang ayah. Tapi bayangan itu buru-buru ia hapus, ia langsung teringat kejadian 5 tahun silam , betapa jahat suaminya. Tatapan Jiya yang penuh kebencian dan kesedihan, rasa sakitnya sudah berbicara lebih. Sehingga lagi-lagi air matanya lah yang berbicara, air mata itu adalah bentuk dari  rangkaian kata yang tak mampu terlontar .
“ maafin mama Sayang, bukan mama tak mau melihatmu bahagia , mama takut kalo kebahgianmu ini adalah sebuah kepedihan yang tertunda nantinya. “ Jiya menangis sambil mengelus kening putrinya
“ ayah kandungmu saja meninggalkan kamu nak, lalu bagaimana dengan ayah tirimu kelak?” lanjutnya
“ mama tidak apa-apa kalu suatu saat nanti harus sakit hati lagi, tapi mama gak bisa kalau lihat kamu mengalami hal ini lagi sayang.” Air matanya tumpah
****
Hari ini adalah sidang kesekian kalinya  tersangka yang dituduhkan menerima aliran dana dari Bank Nasional Mumbai, setelah 3 tahun dipenajara dengan tuduhan terlibat korupsi  akhirnya hari ini adalah penentuan baginya. Bukti yang menguatkan bahwa tersngka yang sesungguhnya adalah kedua lelaki pemilik saham yang ditangkap 2 minggu yang lalu oleh Vijay dan Kawan-kawan.
Sementara itu Jiya bertugas menjadi pengawas jalannya proses sidang, dilihatnya Vikram yang begitu lantang dan tegas membela clientnya. Sedaritadi  dari awal sampai akhir Jiya hanya melihat ke arah Vikram. Hakim mengetuk palu dan memutuskan bahwa tahanan nomor 118 alias Ajay Sharma dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan. Semua orang standing upllos, termasuk Jiya, dan tanpa sengaja Vikram juga sedang melihat ke arah Jiya, mereka hanya saling melempar senyum.
Ruang siding pun sudah mulai sepi hanya tersisa Jiya dan rekan-rekan polisinya yang bertugas. Saat Jiya hendak meninggalkan ruang siding, ia memergoki komisaris dengan salah satu utusan dari Bank Nasional Mumbai.
“ maaf tuan, tapi saya udah mencoba mencegahnya, tapi saya juga tidak punya alasan lain lagi. “ “
“ dasar kerjamu tidak becus, saya sudah bayar kamu loh! “ laki-laki itu pun marah dan langsung meninggalkan ruang sidang
Jiya pun menemukan bukti lagi, dengan merekam perbincangan tadi . komisaris juga dapat disangka kalau ia juga terlibat kasus itu.
     Sementara di  sebuah café ternama di Mumbai Vikram sedang menunggu Jiya, mereka janji untuk ngobrol bersama.
“sorry Vikram, aku terlambat , tadi masih banyak urusan dengan komisaris.”
“tidak masalah jiya, duduklah!.” Ucap vikram sambil menarikkan Kursi
“ ngomong-ngomong katanya untuk perayaan  karena kau telah berhasil memenangkan kasusmu , lalu mana yang lain? “ Jiya Nampak sedikit bingung
“ sudahlah Jiya, sekarang hanya ada kita berdua disini.” Ucap Vikram sambil memengan tangan Jiya
Sontak Jiya langsung melepaskan tangannya, tak bisa disembunyikan kalau Jiya sebenarnya gugup.
“ emm… sekali lagi selamat ya,, kerjamu sungguh bagus Vikram.” Puji Jiya
“ semua ini juga berkat kerjasama kita Jiya, tapi sepertimu belum selesai ya , karena kalian masih harus mencari siapa dalang dari kasus ini.”
“iya kau benar. Dan itu berarti kerjasama ini juga telah berakhir.”
“kerjasama boleh berakhir, tapi hubungan ini tidak boleh berakhir.” Ucap vikram sambil menatap Jiya
     Jiya seolah bertanya-tanya ( hubungan ) disini seperti apa, Jiya mencoba menerawang. Entahlah ia juga tidak mengerti, yang ia tahu hubungan ini begitu rumit. Hubungan yang special tapi tidak ada yang saling mengungkapkan dan saling jujur.
****
Ramai pemberitaan dimana-mana tentang tertangkapnya dua tersangka kasus korupsi Bank Nasional Mumbai, Berita ini menjadi konsumsi publik selama kurangf lebih 1 pekan terakhir ini. Ada yang lega dengan berita ini namun juga ada yang tak kalah geram karena dedengkot koruptornya masih diburu.
“ Sialan!!! Aku tak bisa tinggal diam, aku harus  melakukan sesuatu! “ ujarnya Geram dan penuh emosi
     Sementara di tempat yang berbeda Jiya sedang mengawasi komisaris yang sedang berkunjung ke kantor pusat Bank Nasional Mumbai, style komisaris Nampak beda tidak lagi memakai seragam polisinya, tapi memakai Jas lengkap dengan dasinya. Rapid an terlihat elegant. Jiya sungguh tak menyangka dengan apa yang dilihatnya, namun Jiya sudah belajar ilmu dari polisi intel trik-trik apa saja yang harus diapakai Jiya agar tidak ketahuan dan ia masih mencoba control. Jiya langsung melancarkan aksinya, dengan berbagai penyelidikan akhirnya Jiya menemukan bukti bahwa komisaris adalah salah satu pemegang saham di Bank Nasional Mumbai. 
****
Sore itu Jiya sedang mengajak Anjana jalan-jalan  kesebuah taman di Mumbai, penyelidikan kasus korupsi itu cukup membuat Jiya penat, masih belum banyak bukti kalau komisaris juga ikut terlibat. Sejenak Jiya tak mau memikirkan ide dulu, biarkan sejenak ia bersenang-senang dengan putrinya. Tiba-tiba lamunan Jiya buyar, ternyata Anjana sudah tidak ada disampingnya, Jiya pun langsung mencari Anjana dipenjuru taman , terlihat Anjana sedang asyik bermain dengan seorang pria. Pria itu taka sing baginya , tatapan Jiya berubah jadi tatapan yang penuh kebencian.
“Ayo Anjana ! kita pulang! “ Jiya langsung menarik tangan Anjana
“ enggak mau ma, aku mau sama ayah!” teriaknya
“ dia bukan ayah kamu!” bentak Jiya
     Rajesh kapoor , laki-laki yang telah meninggalkan Jiya dan Anjana kini kembali lagi , ia terus berusaha meminta maaf dan berusaha menebus kesalahannya.
“ mungkin maaf saja tidak cukup Jiya, aku menyesal. Aku rela menanggung apapun asalkan ijinkan aku kembali” Rajesh memohon
“ waktu itu juga kan keluarga kita lagi sulit-sulitnya ekonomi , makanya kuputuskan untuk pergi Jiya. Dan sekarang aku udah sukses aku siap menanggung semua hidup kalian” lanjutnya
#plak….. Jiya menamparnya
“ kalau kau meamg cari nafklah di luar sana, mana? Tak sedikitpun uang kau kirim, aku sudah 5 tahun jadi tulang punggung. Cukup! Jangan kau usik kami lagi! “
Jiya pun meninggalkan Rajesh dengan penuh kebencian.
****
1 bulan setelah Jiya dan Vijay tau kalau komisaris adalah salah satu pemilik saham, mereka belum juga dapat menemukan bukti yang mendukung soal terlibatnya komisaris. Akhirnya mereka berdiskusi untuk pembagian tugas selanjutnya. Saat mereka berdiskusi tiba-tiba Jiya pamit pulang, ia dapat kabar bahwa putrinya kecelakaan. Setibanya di Rumah sakit , Jiya yang panic dan sedaritadi menangis langsung ditenangkan oleh bibinya. Dipastikan Anjana akan baik-baik saja. Dokter pun keluar
“ dokter bagaimana keadaan putri saya? “ tanya Jiya cemas
“ untunglah cepat-cepat ditolong, Anjana sempat kehilangan banyak darah tapi ayahnya langsung mendonorkan darah untuk Anjana “ Dokter menjelaskan sambil menunjuk rajesh
“ lalu berapa biaya rumah sakitnya dokter? “
“ itu urusan dengan administratornya saja, lagian tadi tuan Rajesh sepertinya sudah melunasinya.”
“terimakasih Dokter.. “
“ya .. saya pergi dulu. Semoga Anjana cepat sehat “ dokter langsung meninggalkan jiya
Jiya langsung mendekati Rajesh .
“terimakasih… “ ucapnya
“ sudahlah Jiya, mungkin ini semua belum bisa membayar semua kesalahanku”
“ dan bagaimanapun aku adalah Ayah Anjana “ lanjutnya
“ aku masih butuh waktu lagi untuk berpikir Rajesh.. “
****
Rumah kediaman Jiya Chaudry kini seperti hidup kembali , suasana kecerian itu pun kembali lagi. Ada Jiya sebagai ibu, Anjana sebagai anak dan Rajesh sebagai ayah ditambah bibi yang selalu setia menemani. Setelah peristiwa kecelakaan Anjana itu, Jiya jadi sering berpikir dan akhirnya memutuskan untuk menerima Rajesh kembali. Sakit itu memang masih ada, kenangan pahit itu memang tak bisa dilupakan begitu saja, tapi melihat tawa Anjana Jiyapun mulai membuka hati untuk pria yang pernah dicintainya itu.
Sementara Vikram yang mengetahui kabar ini, memutuskan untuk menjauh. Dengan alas an banyak client yang harus dan lain-lain membuat komunikasi antara Jiya dan dirinya renggang. Sepintas seperti ada yang hilang dari Jiya, tapi kemudian ia sadar bahwa ia sekarang sudah mulai bahagia bersama suaminya.
Sementara itu, kasus penyelidikan terhadap komisaris masih tetap berlanjut, bukti terakhir yang didapat adalah bahwa Rekeningnya selalu bertambah. Lebih banyak dari jatah sahamnya. Namun bukti itu belum cukup untuk menangkap komisaris Prakash. Karena belum ada bukti nyata uang itu darimana.
Saat Jiya hendak melaporkan bukti-bukti tersebut ke KPK , di jalan tiba-tiba saja ada yang memukulnya dari belakang. Bruukkk.. Jiya pun pingsan.
tidak manusiawi, tubuh mungil jiya diseret oleh rombongan laki-laki itu. Tidak hanya itu Jiya disekap di sebuah gedung kosong.
saat Jiya membuka mata , ia sadar bahwa dirinya telah diculik.
“ makanya nona Jiya, jangan berani-beraninya sama kami!” bentak salah seorang peculik
“apa mau kalian? “
“ kami ingin anda tutup kasus Korupsi itu!, kalau tidak nyawa anda taruhannya.” Ancam mereka
Jiya tak bisa berbuat banyak, karena ia tidak membawa senjata sedikitpun. Jadi susah untuk melawan penculik-penculik itu. Semakin Jiya mencoba melawan , jiya malah dipukul. Wajah cantiknya sudah mulai memar, tapi Jiya tetap kuat. Tak peduli berapa banyaknya luka dan memar di wajahnya ia tetap mau mengabdi pada Negara. Ia tetap kukuh mau mnyelidiki kasus tersebut. Mereka semakin marah dan semakin anarkis, saat penculik itu hendak mengeluarkan pistol untuk menembak Jiya. Tiba-Tiba saja ada yang menembak Pria itu lebih dulu. Pria itu langsung jatuh. Rombongan Vijay dan kawan-kawan datang untuk menyelamatkan Jiya. Ia lega karena ada yang menyelamatkannya, tidak hanya itu tapi terlihat Vikram yang membantu menolongnya juga. Vijay dan kawan-kawan langsung mengejar dan berkelahi dengan para penculik itu. Sementara Vikram membantu Jiya yang terikat kuat. Setelah itu Vijay melemparkan pistol terhadap Jiya, Jiya dan VIkram juga ikut menyerang para penculik itu. Merekapun berhasil mengalahkan para penculik itu. Hanya saja kedaaan Vikram sedikit lebih parah daripada vijay dan anggota kepolisian lainnya. Luka Vikram cukup parah.
“ kau ini hanya seorang pengacara, kau bukan seorang kepolisian yang harus ikutan berkelahi tak perlu kau senekat itu ” ungkap Jiya sembari mengobati luka-luka Vikram
“ kau juga nekat Jiya, nyawamu hampir melayang untuk kasus ini , kau bukan wanita kuat seutuhnya dibalik kekuatanmu terdapat kelemahanmu ”
“ tidak vikram, ini berbeda , ini sudah kewajibanku dan ini adalah salah satu resikonya”
“ tidak ada yang berbeda Jiya, ini juga kewajibanku, kalau alasanmu untuk Negara. Aku juga punya alasan untuk siapa aku melakukan  semua ini.”
Jiya tak perlu bertanya lagi, untuk siapa Vikram melakukan semua ini , hatinya sudah mengerti hal itu.
“ hentikan Vikram.. cukup! . jangan membuatku bimbang .. ! . kita hentikan saja semua sandiwara ini, kau berhak mencari kebahagian lain! “ Jiya pun pergi meninggalkan vikram
     Sesampainya di rumah semua orang memeluknya, haru karena ternyata Jiya masih baik-baik saja. Terutama pelukan dari Rajesh, yang mampu membuatnya tenang.
“syukurlah kau tidak apa-apa sayang, aku sangat menkhawtirkanmu. Untung saja Vijay tadi langsung menemukanmu” ucap Rajesh
“ iya aku tidak apa-apa kok”
     Malam itu Jiya tak bisa tidur , pikirannya masih tertuju pada Vikram, bagaimana bisa Vikram yang bukan siapa-siapa rela mempertaruhkan nyawanya. Harusnya Rajesh yang melakukan semua ini bukan VIkram. Keluhnya dalam hati
Jiya hanya bisa menangis, mungkin kah ia sudah tak mencintai Rajesh lagi? Entahlah semau terasa berbeda semenjak ia mengenal Vikram.
****
Semenjak kejadian itu, Rajesh makin menunjukkan cintanya itu, ia semakin romantis dan perhatian. Setiap pagi ada bunga tergeletak di depan rumahnya. Puisi-puisi cinta yang tertulis dikartu ucapan itu mengingatkan kembali pada saat mereka belum menikah dulu. Rajesh memang laki-laki yang romantis itulah yang membuat Jiya dulu jatuh cinta padanya. Jiya sudah memutuskan untuk focus pada keluarganya , dengan tidak ada lagi Vikram dipikirannya. Kini Jiya dan Vikram sudah tidak ada lagi komunikasi. Mereka sudah memutuskan untuk memilih hidup masing-masing.
Penyelidikan kasus korupsi itu masih terus berlanjut, bukti terbaru bahwa komisaris memang menerima dana dari Bank Nasional Mumbai, jumlah yang diterima juga bagian dari kerugian bank itu. Berarti bisa dipastikan kalau komisaris juga terlibat. Akhirnya komisaris harus ditangkap.
    Satu minggu setelah penagkapan adalah sidang untuk komisaris, ia mengaku kalau memang benar ia pemegang saham . tapi untuk aliran dana ia hanya di transfer katanya adalah uang pinjaman untuk modal. Singkatnya komisaris juga hanya terjebak, ia tidak tahu kalau uangnya  itu hasil korupsi. Ia pun akhirnya membuka semuanya, sebenarnya ia tahu siapa dalang dibalik semua ini , hanya sejenak ia tegoda dengan uang suap. Hukum tidak bisa dibohongi biarpun komisaris tidak korupsi secara tidak langsung tapi ia sudah terima suap dari hasil korupsi itu juga.
     Dengan langkah yang sedikit berat malam ini Jiya dan Vijay hendak menangkap pelaku sebenarnya , dengan bukti pernyataan komisaris dan bukti-bukti tertulis lainnya akhirnya pelaku tersebut dapat ditangkap. Penggerebekan dilakukan disebuah café , dan benar saja Jiya dan Vijay tak sengaja mendengar obrolan pria itu, pria itu bilang kalau ia memang menjebak komisaris. Jiya yang semakin geram kemudian ia langsung menghampiri pria itu sambil melemparkan bukti-bukti tertulis tepat di muka pria itu.
Tertulis nama “ Rajesh kapoor” disetiap bukti tertulis itu.
“ Cepat tangkap dia!” Jiya dengan tegas memrintah
“ oh jiya, aku bisa menjelaskan semua ini” elak Rajesh
“ cepat tangkap! “ Jiya menembakkan pistolnya ke udara.
Rajesh pun digiring petugas, sementara Jiya hanya bisa tersenyum pahit. Saat tahu berita ini ia sudah syok, percaya tak percaya memang itulah kenyataannya. Jiya langsung lemas , ia langsung menangis dihadapan banyak orang, tak peduli malu, toh ia juga sudah malu dengan perlikau Rajesh.  #bukkkkk… jiya terjatuh.
****
Sudah 10 hari setelah penangkapan Rajesh, Jiya terbaring di rumah sakit.  Bahkan dokter mengatakan tidak terdeteksi Jiya sakit apa,  tapi yang pasti tekanan batin.
Setelah Vikram mendengar berita ini ia langsung menemui Jiya, ditatapnya mata sayu Jiya. Mukanya pucat , matanya mulai hitam. Lagi-lagi Jiya menangis dengan tatapan kosong.
“ kau ingat Jiya, aku pernah bilang dibalik kekuatanmu terdapat kelemahanmu” ucap Vikram
“ dan sekarang aku melihat kelemahan itu Jiya, dan aku suka melihat kelemahan itu , karena aku mencintai kelemahanmu juga Jiya, aku tidak hanya mencintai kekuatanmu semata.” lanjutnya
“ apa kau senang melihatku seperti ini Vikram? Aku sudah hancur vikram” tangisan jiya semakin memuncak
“ bagaimana mungkin aku tersakiti untuk kedua kalinya ? bahkan kali ini lebih pahit , aku sungguh tak mampu lagi ,,, bagaimana bisa aku makan dengan uang haram selama ini? Apa kata orang kalau Anjana punya ayah seorang koruptor? Aku masih bisa menanggung malu, tapi kalau sampai Anjana yang menanggungnya aku tak tahan!!!! “ Jiya biacara panjang lebar
“ mungkin sekarang kau tak pernah bisa percaya lagi pada laki-laki, tapi lihatlah aku Jiya, mungkin kau tak bisa percaya padaku, tapi kau harus percaya pada mata dan hatiku Jiya. “ Vikram menggenggam erat tangan Jiya
Jiya langsung memeluk Vikram , selama 10 hari ini ia tak pernah bisa percaya pada siapapun tapi hari ini untuk pertama kalinya ia mulai percaya, bahwa cinta itu masih ada untuk Vikram. Dari dulu sampai sekarang perasaan itu tak pernah berubah.
****
Hari ini adalah hari penentuan sidang Rajesh kapoor, Jiya yang ditemani vikram mencoba untuk lebih kuat lagi melihat jalannya proses sidang ini.
Tok..tok..tok … hakim telah memukul palu dan memutuskn bahwa Rajesh Kapoor akan dipenjara seumur hidup.
Jiya pun hanya bisa memejamkan mata, itu artinya seumur hidup  Anjana tak bisa hidup bersama ayah kandungnya. Ditahannya air matanya itu, dipengang erat tangan Vikram, seolah Jiya meminta kekuatan lebih. Vikram melepas tangan Jiya, sambil menganggukan kepala. Jiya langsung menemui Rajesh, dipeluknya suaminya itu, “ bagaimanapun kau tetap seorang ayah Rajesh” Jiya menangis
“ ampuni aku Jiya, aku tak mau meminta keringanan untuk kasusku biarkan saja aku dihukum” ucap Rajesh
“ aku berusaha memaafkanmu Rajesh” timpal jiya
“ kau berhak bahagia Jiya, menihkahlah dengannya ! “  pinta Rajesh
Vikram pun menghampiri JIya dan Rakes,
“ kau jaga Jiya ya bung! “ ucap Rajesh
“ pasti… “ ungkapnya
Rajesh pun segera dimasukkan ke sel, seumur hidup!
***
3 bulan kemudian, Jiya dan Vikram telah menikah. Hari ini adalah pelantikan Jiya yang langsung diangkat jadi komisaris. Berkat keberanian dan prestasi-prestasinya ia langsung mendapat apresiaasi dari presiden India dengan lagsung menaikkan pangkat dari inspektur langsung ke komisaris. Jiya Chaudry telah membuka banyak mata banyak orang bahwa hidup itu tidak melulu harus jadi orang baik dan pintar, tapi bagaimana kita bisa peduli dan peka terhadap lingkungan sekitar.

Comments

Popular posts from this blog

Tentang Majarani

Aku bukan mandul, tapi ada yang memasang IUD tanpa sepengetahuanku!