MARDAANI karya Hiekma Miya
Starring :
Rani Mukerji : as inspektur Jiya chaudhry
Abhishek Bachan : Vikram Signh
Jishu sengupta : Rajesh kapoor
Imran Khan : Vijay ( polisi Intel )
Shatyaraja : komisaris Prakash ( atasan Jiya )
Amrita Mukherjee : Anjana
Dll…
Siang itu terjadi keributan di salah satu
pasar yang ada di Mumbai, para preman meminta paksa uang dan barang-barang para penjual. Orang-orang pun tak ada yang
berani mendekat atau bahkan melawan para preman itu, Para preman itu juga membawa
senjata tajam seperti pisau dan clurit. Suasana yang mencekam itu membuat para
penjual dan pembeli ketakutan dan mereka hanya bisa pasrah tak ada satu orang
pun yang berani melawan. Saat preman2 itu melancangkan aksinya, tiba2 suara
tembakan terdengar … Duerrrrrr…….. tembakan itu mengenai salah satu gerobak
pedagang buah. Para penjual dan pembeli
yang kaget dengan suara tembakan itu lansung berubah senyum, mereka sedikit
lega bak ada bidadari dari kayangan yang menolong rakyatnya dibumi :D.
“ Hentikan!!! Atau saya tembak kalian! “
.suara serak2 basah tetapi tegas terucap dari seorang polisi wanita yang terus
memegang pistol.
“ ampun..!!!” ucap salah satu preman
“ iya.. tolong lepaskan pistolnya! “ jawab
salah satu temannya yang sedikit ketakutan
Inspektur pun langsung menurunkun pistolnya,
meski begitu ia tetap waspada.
“tangkap mereka!” perintahnya pada teman2
polisinya
Saat polisi-polisi itu hendak menangkap
preman-preman itu, justru salah satu leader dari preman itu menyekap salah satu
pedagang buah , preman itu mengancam jika polisi-polisi itu mendekat maka
mereka akan membunuh pedagang itu.
“jangan mendekat ! atau orang ini akan
mati! “ ancam preman itu sembari mengadahkan pisau di leher si pedagang itu.
Karena tidak ingin terjadi apa-apa, para
polisi itu pun menhentikan langkahnya. Para preman itu terus membawa pedagang
itu hingga mereka memasuki mobil milik salah satu pembeli, setelah itu pedagang
pun dilepaskan , kemudian para preman itu membawa kabur mobil. Para polisi itu langsung mengejar,
tanpa pikir panjang polisi wanita itu langsung mengejar preman itu, bak seorang
pembalap yang professional , polwan itu menyabet jalanan dengan gagah.
Ditembakkannya pistol itu ke ban mobil target. Sampe mobil pun mulai tak
terkendali, dan berhenti , Polwan itu tiba2 sudah di depan mobil2 preman itu.
Disusul dengan polisi polisi lain Polwan itu langsung menangkap preman-preman
itu.
Setibanya di kantor polisi, para preman itu
diintrogasi, dan dikenai hukuman penjara 1 tahun, para preman itu terus
berusaha menyuap petugas, agar hukumannya diringankan. Ada salah satu yang mau
menerima suap itu, tapi dengan tegas sang polwan pun mengatakan ,: “TIDAK!!!” ,
“atau kurang banyak ya? “ Tanya salah satu preman.
“atau kurang banyak ya? “ Tanya salah satu preman.
Hemm, kalo kalian kaya kenapa harus mencuri
dan memalak? , dan apa kalian tidak sayang sama uangnya? Hasil malak yg susah
payah hanya untuk dikasih kan ke polisi? Hemm Royal sekali ya kalian ini.. “
ucap polwan sambil tersenyum sinis namun tetap manis.
“ sudah! Bawa mereka ke sel! Jangan sampe
mereka keluar sebelum 1 tahun! “ perintahnya
“ baik inspektur! “ jawab salah satu polisi
yang kemudian langsung membawa preman2 itu
“ inspektur, anda dipanggil oleh komisaris!
“ polwan itu pun langsung menuju ke ruangan komisaris.
Sesampainya di ruangan, Komisaris Nampak
marah.
“ inspektur Jiya….!!”
“ ya, komisaris ”..
“ anda ini bodoh ya? Kenapa bisa anda
menolak uang yang diberikan preman-preman tadi?”
“ maaf pak…. Tapi hukum itu tidak bisa
dijual belikan”
“ siapa yang mau jual belikan?, kita bisa
menjualnya tapi mereka tak bisa membelinya”
“ ah itu berarti kasih harapan palsu pak ,,
“
“tapi disini saya yang berwenang, jd saya
bebas memakai cara saya sendri.. sekarang silakan anda tinggalkan tempat ini !
“
“Baiiklah . tanpa anda suruh saya juga akan
segera pergi…. Permisi! “
Komisaris pun menatap tajam kepergian jiya,
matanya seperti menyimpan kebencian dan dendam pada polisi wanita yang
berprestasi itu, ia pun tampak geram kalau hanya Jiya lah yang selalu berani
menentangnya.
Pukul 8 malam, jiya pun tiba di rumah,
direbahkannya tubuhnya yang terbilang mungil untuk ukuran seorang polisi.
Nampak sekali kelelahan di wajahnya, lelah fisik bahkan lelah batin itu sudah
menjadi konsumsinya sehari-hari. Diusapnya keringat dan air mata yang tak
sengaja juga ikut menetes. Pikirannya kembali ke perisitwa 5 tahun silam. Jiya
pun hanya bisa menerawang. Tiba-tiba lamunannya pecah saat ia mendengar suara
lembut itu memanggilnya.
“mama….. “ ia memanggil sambil berlari kea
rah jiya
“ Anjana.. kau belum tidur sayang? “
dipangkunya putrid kecilnya itu
“ aku malam ini ingin tidur sama mama”
rengeknya
“ sweet sekali.. baiklah ayo kita tidur!”
Angin malam yang lebih dingin dari
malam-malam sebelumnya, membuat Anjana
tertidur lebih pulas dari biasanya. Sementara itu Jiya belum bisa tidur
juga, dibelai lembut buah hatinya itu. Lagi-lagi air matanya menetes, kejadian
5 tahun lalu kini terbayang lagi. Kalau saja suaminya tak pernah
meninggalkannya mungkin ia tidak akan kerja seberat ini. Dulu saat masih ada
suami pekerjaannya sebagai polisi tidak begitu berat , hanya menjadi polisi
lalu lintas saja. Tapi setelah suaminya menelantarkannya , ia bertekad untuk
jadi polisi yang lebih berat tugasnya, bahkan kini ia bisa menjadi seorang
inspektur itu perjuangannya juga tidak mudah. Setidaknya dengan gelar inspektur
kini kehidupannya tidak begitu kekurangan, bahkan bisa lebih walaupun tidak
lebih banyak saat masih ada suaminya.
Seiring berjalannya waktu kecintaan Jiya pada tugasnya , tidak sekedar
tugas saja tapi juga pengabdian terhadap Negara terutama keluarganya. Meski
begitu jiya tidak pernah kehabisan waktu untuk buah hatinya, karena selama ini
Jiya pintar memanage waktu sehingga ia bisa jadi polisi yang professional.
*****
Sunyi, senyap, gelap bak sebuah tempat
kematian, dengan besi-besi panjang, hitam dan putih di ruangan itu, tempat
tidur yang hanya beralas selembar kain yang kucel. Penjara ini sesak, seperti
tahanan nomor 118 itu, setiap jiya berkeliling memeriksa para tahanan satu
persatu, langkahnya selalu terhenti sejenak pada tahanan nomor 118. Entah
kenapa ia selalu melihat tersangka ini tidak seburuk yang dituduhkan, wajahnya
seperti bukan seorang penjahat, tapi mau bagaimana lagi Jiya hanya seorang
inspektur yang harus menjalankan tugas bukan yang sesuka hati membebaskan
tahanan. Biarpun Jiya Bersikap tegas dan professional ia tetaplah seorang
wanita yang peka, hatinya selalu tak tega melihat tahanan 118 itu. “ aku yakin
jalan kebenaran itu akan segera untukmu “ Jiya hanya bisa membatin.
“ 118, ada tamu untukmu!” panggil salah
seorang polisi
Polisi itu langsung menyuruh tamu itu masuk
ke sel. Jiya yang sedaritadi berdiri menatap tajam mereka berdua di dalam sel.
Ya,, sudah puluhan pengacara yang datang ada yang ditolak ada yang diterima,
kalaupun yang diterima pengacara itu malah meninggalkannya di tengah jalan, padahal
kasusnya belum selesai. Jiya menatap jauh,, “apakah mungkin kali ini pengacara
ini berhasil? “ tandasnya.
Tidak, pengacara itu tampaknya belum bisa
membujuk tahanan itu, pengacara itu keluiar dengan sedkit kekecewaan, Jiya
hanya bisa member senyum dan hormat saja. “ emm sepertinya kau memang harus
lebih bersabar lagi “ jiya hanya mendesah.
Namun salah, ternyata Pengacara itu tidak
jenuh untuk selalu berdiskusi dengan tahanan itu, kurang lebih sudah 2 minggu pengacara
itu terus meyakinkan tahanan itu. akhirnya
mereka sepakat untuk membuka kembali kasus ini. Kasus korupsi 3 tahun yang lalu
, ia dituduh menjadi penenerima suap perusahaan bank nasional di India. Untuk
proses penyelidikan ulang pihak pengacara meminta bantuan kepolisian intel ,
tapi pihak kepolisian belum bisa mengambil keputusan karena harus diskusi dulu
dengan komisaris.
Keesokan harinya, seorang polisi intel
ditemani Jiya dan beberapa polisi lainnya sedang berdidkusi dengan komisaris .
“ tapi kasus ini baru ditutup 1 tahun lalu,
dan kita juga sudah berjanji pada media maupun pemerintah tidak akan membuka
lagi, karena memang kasus ini terlalu ribet saya gak mau ambil resiko” ucap
komisaris dengan gentar
“ justru karena ribet , itu tantangan saya
sebagai polisi intel” . tegas vijay
“ lebih baik anda urus aja kasus lain!” .
perintah komisaris
“ tapi bagaimana dengan tahanan itu? Kami
sudah terlanjur memberinya harapan.” Vijay terlihat mulai putus asa
“ silakan saja kalau pengacara itu mau
membantunya, tapi kita tidak boleh terlibat,, resiko ini terlalu besar, akan
banyak kecaman dari berbagai pihak, ancaman demi ancaman atau bahkan ajang
balas dendam . “ komisaris mulai gelisah
Jiya yang sedari tadi hanya diam, akhirnya
buka suara
“ miris….! Kita sebagai polisi hanya hidup
dengan suap dan ancaman semata. “ jiya menatap komisaris dengan tajam
“ apa maksud anda Inspektur Jiya? “
komisaris mulai meninggikan nada
“ buat apa guna kepolisian kalau Cuma takut
ancaman? Sampai manakah pengabdian kita terhadap Negara? Tugas kita bukan
menentukan benar dan salah, tapi tugas kita membantu Negara dan rakyat untuk
mengungkap kasus . “ ucap jiya geram
‘’ baiklah.. lakukan saja apa yang menurut
kalian benar.. tapi kalau sampai terjadi apa-apa jangan libatkan saya! “ .
komisaris lansung beranjak
“ terimakasih..komisaris.” Ucap vijay
Jiya menatap tajam langkah komisaris,
bahasa tubuhnya seakan menyembunyikan sesuatu.
“ terimakasih inspektur Vijay, sudah
bersedia membantu kasus ini “ ucap pengacara itu
“ sama sama pak Vikram “ balasnya sambil
mengelurkan tangan.
“ aku akan membantumu vijay.” Ungkap Jiya
bersemangat
“ ah bagaimana mungkin Jiya, kau bukan
bagian intel.”
“ ya, aku tau, tapi aku akan membantu saja,
aku janji semua tugas kau yang tanggung jawab, kau tetap yg bertugas utama, aku
mohon Vijay! Ijankan aku!. “
“ emm baiklah. Tapi kau tau kan kalau tugas
intel jauh lebih berat dan beresiko? , apalagi untuk seorang wanita. “
“ kau tau aku kan vijay? Aku bukan wanita sembarangan, lagian kasus
ini selalu aku nantikan selama ini.”
“Baiklah , mulai besok ikuti permainanku !
“
“ haa.. “
“ terimakasih inspektur jiya, semoga dengan
bantuan anda kasus ini segera terungkap :D “.
Jiya tidak banyak bicara, ia hanya
menyunggingkan senyum , walau sedikit tapi tetap manis J
****
Club di mumbai malam ini sangat penuh, 2X
lipat seperti hari biasanya. Kepentingan Mereka hanya untuk bersenag-senang dan
untuk mabuk-mabukan. Hal yang sama terlihat di pojok dekat tangga , 2 pria yang
diduga perantara penjualan saham di Bank Nasional di Mumbai sedang asyik mabuk-mabukan, vijay dengan
saksama terus mengajak pria-pria itu ngobrol sembari menyelidiki kasus.
Penyamaran yang memang hebat, dan mereka tidak curiga sama sekali, sementara
Jiya hanya mengawasi dari jauh. Berhasil!! Informasi pun didapatkan dengan
mudah, selanjutnya mereka hanya tinggal mencari bukti baru untuk menangkap
orang-orang yang mendapat aliran dana.
“ jangan senang dulu! Tugas kita masih
mencari siapa Raja korupnya”. Ucap Vijay tegas
“ kau benar Vijay, tapi setidaknya kita
sudah mulai menemukan bukti-bukti yang mengarah. “ jawab Jiya optimis
“ baiklah, kalau begitu aku harus ketemu
pak Vikram, aku duluan ya! Kau bisa pulang sendiri kan? “
“ baiklah, sudah terbiasa sendiri kok, aku
juga harus ke kantor dulu, hari ini jadwalku mengawasi sel”
Vijay pergi menemui Vikram, sementara Jiya
dengan jeli dan tegas mengawasi tahanan satu persatu. Tibalah di tahanan 118,
kali ini Jiya memberanikan diri masuk ke sel itu. Pada awalnya tahanan itu
tidak ingin bercerita tapi dengan desakan jiya akhirnya ia menceritakan semua
kronologinya, ia hanya terjebak, sama sekali ia tidak terlibat korupsi, tapi
karena kesalah pahaman ia pun
dijebloskan ke sel. Ia bukan orang yang berduit yang bisa untuk menutup
kasus ini. Ia hanya karyawan biasa yang tidak bisa membeli Hukum. Miris adanya,
tahanan 118 hanyalah 1 dari segelinciran orang yang kalah dalam hukum, Dan bagi
mereka yang berduit hanya tinggal duduk manis sembari membagi-bagikan uang ke
aparat hukum. kasarnya, mereka
menaburkan uang ke kantong aparat hukum bagaikan menabur duri di atas tanah. Tidak hanya itu, bahkan disaat banyak
pengacara yang memenangkan clientnya dengan uang masih ada orang seperti Vikram
yang justru menomor sekiankan uang, baginya kebenaran di atas segalanya, oleh
karena itulah tahanan 118 itu untuk pertama kalinya begitu percaya pada kuasa
hukumnya itu. Jiya yang sedari tadi
mendengarkan dengan saksama gak banyak bicara, ia hanya bisa berjanji dalam dirinya kalau ia akan menyelesaikan
kasus ini.
setelah cukup lama mereka berbicara, akhirnya Jiya meninggalkan sel obrolanpun hanya diakhiri dengan senyumannya yang khas .
setelah cukup lama mereka berbicara, akhirnya Jiya meninggalkan sel obrolanpun hanya diakhiri dengan senyumannya yang khas .
Sementara itu di ruang komisaris , terlihat
Komisaris sedang asyik menelpon.
“ baiklah ,, kau kirim saja ke rekeningku
ya! “ komisaris berbicara dengan semangat
“ iya tenang saja aku gak bodoh aku g akan
membiarkan kasus itu berlarut lagi, karena aku sudah terlanjur janji kalo kasus
itu sudah ditutup 1 tahun yang lalu” lanjutnya.
Komisaris masih terlihat serius ngbrol di
telpon, saking seriusnya ia sampai tidak sadar bahwa sepasang mata itu sedang
mengawasinya. Jiya pun geram, kecurigaan itu
makin bertambah setelah tanpa sengaja ia mendengar obrolan komisaris.
Langkah jiya terasa lebih berat, sepanjang
perjalanan pulang ia terus-terusan curiga terhadap komisaris, tiba-tiba
pikirannya buyar setelah ada mobil berhenti di sampingnya, jiya pun menoleh.
“selamat malam inspektur Jiya, ”
“ oh,, selamat malam tuan Vikram “
“ apa anda mau pulang? Kok sendirian aja? “
“ ya sambil mengawasi jalan juga, siapa tau
ada keributan “
“ anda ini bisa saja, sudah mari naik!”
“ baiklah , tuan.. “
“ baiklah , tuan.. “
Selama diperjalanan mereka banyak
membicarakan kasus penyelidikan itu, sudah ada sedikit kemajuan untuk kasus
korupsi ini. Obrolan pun berlanjut ke hal-hal yang lebih pribadi, dalam rangka
perkenalan yang lebih intim agar ke depannya kerjasama bisa terjalin dengan
baik.
“bagaimana kalau kita makan dulu, anggap
saja sebagai tanda terimakasih karena sudah mau membantu kam. “ ajak Vikram
“ oh tidak, terimakasih tapi putriku sudah
menungguku di rumah”
“ putrimu? Jadi anda?? “ Vikram terlihat
sedikit kaget
“ haa, putri kecilku yang berusia 6 tahun”
“lalu suami anda? “
“ aku seorang single parent”
“ sorry,, aku tidak tahu”
“ tidak apa-apa, anda bukan orang pertama
yang bilang seperti itu”
“ wah saya kagum sama anda inspektur jiya,
dari info yang diperoleh dari rekan-rekan kepolisian anda, anda ini termasuk salah 1
polisi yang berprestasi” puji vikram
“ditambah lagi, anda berani sekali
mengambil pekerjaan yang memang bukan tempat anda, ikutan dalam tugas intel itu
juga berat loh. Salut saya “ tambahnya
“belum lagi anda harus mengurus anak
seorang diri, wah baru kali ini saya menemukan seorang polisi yang tangguh dan
unik seperti anda. Vikram tak henti-hentinya melontarkan pujian
“ saya tidak sehebat itu tuan Vikram” ucap Jiya merendah
“haha,.. ngomong-ngomong kenapa anda
antusias sekali dalam penyelidikan ini ? “
“ simple, saya hanya mengabdi ke Negara,
menyelamatkan yang benar dan menangkap yang salah.” Jiya menjawab dengan senyum
khasnya itu.
“ lalu anda sendiri, kenapa ingin
menyelesaikan kasus ini, bahkan sampai anda tidak mementingkan bayaran.”
Lanjutnya
“simple juga, karena sebagai pengacara saya
harus membela yang benar, bukan sekedar memenangkan kasus yang salah.” Ungkap
Vikram
“ Dan apa anda tau, apa yang terpenting
dibutuhkan dalam dunia kerja selain Skill? “ Lanjutnya
“ entahlah.. apa itu tuan? “
“ Moral dan Kejujuran” ucap Vikram tegas
“ banyak orang yang ahli dibidangnya, tapi
jarang sekali org yang ahli sekaligus bermoral, contoh nyata adalah para
koruptor itu. Miris sekali ! .”
Sejenak Jiya terdiam, ia masih mendalami
betul maksud kalimat barusan. Ada kekaguman tersendiri darinya untuk Vikram.
Ternyata masih ada juga orang yang peduli seperti Vikram.
“ satu lagi tuan, selain Moral dan
jujur juga harus memiliki sikap peduli .”
“seperti yang dikutip oleh penulis best
Seller Tere Liye :
“ Negeri ini Rusak bukan karena makin
sedikitnya orang baik, tapi semakin sedikitnya orang yag tidak mau peduli” .
Timpal Jiya
“ ya saya setuju. Kalau begitu senang bisa
kerjasama dengan anda “ Vikram pun bersalaman dengan Jiya
Mobil terus melaju, sama dengan halnya hati
Jiya dan Vikram yang mulai melaju. Timbul perasaan kagum satu sama lain,
seperti terjadi sesuatu di hati yang tak mampu mereka deskripsikan.
****
Hari terus berganti, hingga perkenalan Jiya dan Vikram telah memasuki hitungan 1 bulan. Semakin hari mereka semakin dekat, semakin intim. Tidak hanya itu, hubungan baik terjalin antara Vikram dan Anjana ( putri Jiya ), suasana itu terlihat saat Jiya, Vikram dan Anjana saat jalan-jalan keliling kota ,sepintas mereka bertiga seperti ayah,ibu dan anak yang terlihat bahagia, namun baik Jiya maupun Vikram tak kunjung juga menyadari, entah mereka memang tidak menyadari atau berpura-berpura untuk tidak menyadarinya? Yang pasti kontak mata mereka saat beradu tak mampu menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya.
Hari terus berganti, hingga perkenalan Jiya dan Vikram telah memasuki hitungan 1 bulan. Semakin hari mereka semakin dekat, semakin intim. Tidak hanya itu, hubungan baik terjalin antara Vikram dan Anjana ( putri Jiya ), suasana itu terlihat saat Jiya, Vikram dan Anjana saat jalan-jalan keliling kota ,sepintas mereka bertiga seperti ayah,ibu dan anak yang terlihat bahagia, namun baik Jiya maupun Vikram tak kunjung juga menyadari, entah mereka memang tidak menyadari atau berpura-berpura untuk tidak menyadarinya? Yang pasti kontak mata mereka saat beradu tak mampu menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya.
Sementara itu kasus penyelidikan
korupsi Bank Nasional Mumbai pun masih
terus dilakukan, kini Vijay berhasil menemukan bukti-bukti yang mengindikasi
bahwa aliran penerima dana yang paling besar adalah 2 pelaku yang juga ikut
menanamkan saham. Saat tim Intel berniat
mengajukan surat penangkapan untuk ke-2 orang tersebut, Komisaris justru
berniat menunda-nunda kasus. Mereka sempat debat kecil dengan Komisaris, tapi
Komisaris tetep kekeh ma keputusannya, dengan alas an bukti kurang akurat dan
kondisi media yang sedang tidak Fokus dan sebagainya. Akhirnya dengan Terpaksa
kasus ini mengalami penunduan lagi. Jiya yang mendapat kabar buruk ini pun
segera menyusul ke kantor.
Sesampainya di kantor Vijay pun
menceritakan semua kronologinya. Jiya Geram, hampir saja ia lepas control, ia
sudah benar-benar tak tahan dengan komisaris itu.
“sudahlah Jiya, percuma posisi kita ini
dibawah dia jadi kita tidak bisa berbuat lebih” ucap Vijay yang mencoba
menenangkan suasana.”
Setelah Jiya sedikit tenang , Jiya juga
menceritakan pada Vijay semua kecurigaannya terhadap komisaris. Vijay terkejut
dengan cerita Jiya, akhirnya Vijay membagi tugas dengan Jiya. Jiya bertugas
mengawasi komisaris dan Vijay terus mencari bukti baru.
2 minggu kemudian , Vijay berhasil
mengumpulkan semua bukti. Komisaris pun sudah kehabisan ide untuk menahan
kasus ini. Vijay Pun akhirnya menangkap
kedua pelaku yang dicurigai menerima aliran dana Bank nasionaL Mumbai.
Sementara itu, Jiya tidak bisa ikut
menangkap dua tersangka itu, lantaran hari ini adalah penerima rapor Anjana,
Jiya tidak pernah absent untuk urusan sekolah Anjana, meskipun ia sibuk dengan
tugas kepolisian tapi ia tak npernah kehabisan waktu untuk putrinya. Itulah
hebatnya Jiya seorang polisi yang sangat professional. Sesibuk-sibuknya Jiya haketkatnya tetap seorang ibu yang harus
tetap mengutamakan keluarga.
Pembagian rapor telah usai, dan Anjana
tahun ini meraih juara umum kembali. Jiya semakin bangga pada putrinya,
dicarinya putri kesayangannya itu untuk memberikan berita bahagia ini. Saat ia
menemukan Anjana, terlihat putrinya sedang menangis.
“ Kamu kenapa menangis nak?” tanyanya
lembut
“ aku sebel ma, teman-temanku menghinaku,
bilang kalau yang datang ke sekolah hanya mama terus karena aku gak punya
seorang ayah seperti mereka . “ isak Anjana
“ Sayang.. kata siapa kau tak punya ayah? Mama kan juga bisa jadi ayahmu, nyatanya mama bekerja terus, mama juga polisi yang kuat kayak laki-laki, mama juga bisa berantem.. emm dan mama juga bisa…… “ belum sempat dilanjutkan Anjana langsung beranjak sambiul berteriak
“ Sayang.. kata siapa kau tak punya ayah? Mama kan juga bisa jadi ayahmu, nyatanya mama bekerja terus, mama juga polisi yang kuat kayak laki-laki, mama juga bisa berantem.. emm dan mama juga bisa…… “ belum sempat dilanjutkan Anjana langsung beranjak sambiul berteriak
“ beda ma.. mama tetap saja seorang ibu
bukan seorang ayah” Anjana semakin menangis dan langsung lari
Jiya yang berusaha hendak mengejar
tiba-tiba langkahnya seperti berat, pedih. Ia hanya mampu menangis, sakit itu
belum hilang. Bayangan akan suaminya masih begitu jelas, bagaimana dulu ia dan
anjana dicampakkan. Ia sadar Anjana mulai mengerti, pertama kalinya lihat air
mata putrinya merindukan seorang Ayah membuatnya semakin sakit. Jiya mungkin
sudah kebal dengan air mata penghianatan suaminya, tapi ternyata jauh lebih
menyakitkan ketika ia melihat air mata putrinya. Mungkin ia bisa memafkan
suaminya, tapi ia tak bisa memaafkannya sebagai ayah Anjana yang telah membuat putri
kecilnya menangis.
Jiya gelisah, sedari tadi ia hanya
mondar-mandir menunggu Anjana pulang. Dari tadi siang Anjana belum pulang,
namun sebenarnya ia tidak begitu khawatir setelah mendapat bahwa Anjana bersama Vikram, tapi biar begitu
naluri seorang ibu kalau udah malam begini anaknya belum pulang juga belum bisa
tenang. Tiba-tibal bel bunyi, sontak Jiya langsung berlari membukakan pintu.
“ maaf Jiya, aku baru bisa mengantarkan Anjana pulang sekarang” ucap Vikram
“ maaf Jiya, aku baru bisa mengantarkan Anjana pulang sekarang” ucap Vikram
“ iya tidak apa-apa, terimakasih sudah mau
menemani Anjana seharian ini.” Jiya langsung menggendong Anjana
“ iya sama-sama, lagian aku senang bisa menemani
Anjana, dan mungkin Anjana kecapean sampe ia tertidur pulas.”
“ sekali lagi terimakasih Vikram.”
Vikram pamit pulang, jiya langsung membawa
Anjana ke kamarnya.
“ Jiya, bibi mau bicara!” panggil seorang wanita dari balik pintu
“ Jiya, bibi mau bicara!” panggil seorang wanita dari balik pintu
Pembicaraan di ruang tamu itu pun nampak
sedikit serius.
“ Kamu memang harus segera akhiri semua ini
Jiya, sudah 5 tahun bibi tidak pernah
lihat kau tersenyum sebahagia dulu. Saatnya kau bahagia Jiya.” Ungkap bibi
“ maksud bibi ? “ jiya seolah tak mengerti
“bibi lihat Vikram pria yang baik, dan
sepertinya memang terjadi sesuatu diantara hati kalian.”
“ untuk saat ini aku tidak kepikiran untuk
menjalin hubungan yang lebih bi, aku sudah cukup bahagia dengan hidupku
sekarang bi” Jiya tersenyum pahit
“kau memang tidak bisa berbohong Jiya” bibi
mengeggam tangan Jiya
“ ah,, sudahlah bi… aku bisa urus diriku
tanpa suami aku juga bisa melindungi diriku sendiri.”
“ kau mungkin memang bisa Jiya, tapi
Anjana? Dia gak bisa melulu sendirian, dia butuh seorang ayah! “
Kata-kata bibinya tadi terus terngiang dikepala Jiya, bayangan Vikram
tiba-tiba terlintas, sedikit senyum yang ia torehkan, membayangkan indahnya
sebuah pernikahan , membayangkan betapa bahagianya Anjana jika ia memiliki
seorang ayah. Tapi bayangan itu buru-buru ia hapus, ia langsung teringat
kejadian 5 tahun silam , betapa jahat suaminya. Tatapan Jiya yang penuh
kebencian dan kesedihan, rasa sakitnya sudah berbicara lebih. Sehingga
lagi-lagi air matanya lah yang berbicara, air mata itu adalah bentuk dari rangkaian kata yang tak mampu terlontar .
“ maafin mama Sayang, bukan mama tak mau
melihatmu bahagia , mama takut kalo kebahgianmu ini adalah sebuah kepedihan
yang tertunda nantinya. “ Jiya menangis sambil mengelus kening putrinya
“ ayah kandungmu saja meninggalkan kamu
nak, lalu bagaimana dengan ayah tirimu kelak?” lanjutnya
“ mama tidak apa-apa kalu suatu saat nanti
harus sakit hati lagi, tapi mama gak bisa kalau lihat kamu mengalami hal ini
lagi sayang.” Air matanya tumpah
****
Hari ini adalah sidang kesekian
kalinya tersangka yang dituduhkan
menerima aliran dana dari Bank Nasional Mumbai, setelah 3 tahun dipenajara
dengan tuduhan terlibat korupsi akhirnya
hari ini adalah penentuan baginya. Bukti yang menguatkan bahwa tersngka yang
sesungguhnya adalah kedua lelaki pemilik saham yang ditangkap 2 minggu yang
lalu oleh Vijay dan Kawan-kawan.
Sementara itu Jiya bertugas menjadi
pengawas jalannya proses sidang, dilihatnya Vikram yang begitu lantang dan
tegas membela clientnya. Sedaritadi dari
awal sampai akhir Jiya hanya melihat ke arah Vikram. Hakim mengetuk palu dan
memutuskan bahwa tahanan nomor 118 alias Ajay Sharma dinyatakan tidak bersalah
dan dibebaskan. Semua orang standing upllos, termasuk Jiya, dan tanpa sengaja
Vikram juga sedang melihat ke arah Jiya, mereka hanya saling melempar senyum.
Ruang siding pun sudah mulai sepi hanya
tersisa Jiya dan rekan-rekan polisinya yang bertugas. Saat Jiya hendak
meninggalkan ruang siding, ia memergoki komisaris dengan salah satu utusan dari
Bank Nasional Mumbai.
“ maaf tuan, tapi saya udah mencoba
mencegahnya, tapi saya juga tidak punya alasan lain lagi. “ “
“ dasar kerjamu tidak becus, saya sudah bayar kamu loh! “ laki-laki itu pun marah dan langsung meninggalkan ruang sidang
“ dasar kerjamu tidak becus, saya sudah bayar kamu loh! “ laki-laki itu pun marah dan langsung meninggalkan ruang sidang
Jiya pun menemukan bukti lagi, dengan
merekam perbincangan tadi . komisaris juga dapat disangka kalau ia juga
terlibat kasus itu.
Sementara
di sebuah café ternama di Mumbai Vikram
sedang menunggu Jiya, mereka janji untuk ngobrol bersama.
“sorry Vikram, aku terlambat , tadi masih
banyak urusan dengan komisaris.”
“tidak masalah jiya, duduklah!.” Ucap
vikram sambil menarikkan Kursi
“ ngomong-ngomong katanya untuk
perayaan karena kau telah berhasil
memenangkan kasusmu , lalu mana yang lain? “ Jiya Nampak sedikit bingung
“ sudahlah Jiya, sekarang hanya ada kita
berdua disini.” Ucap Vikram sambil memengan tangan Jiya
Sontak Jiya langsung melepaskan tangannya,
tak bisa disembunyikan kalau Jiya sebenarnya gugup.
“ emm… sekali lagi selamat ya,, kerjamu
sungguh bagus Vikram.” Puji Jiya
“ semua ini juga berkat kerjasama kita
Jiya, tapi sepertimu belum selesai ya , karena kalian masih harus mencari siapa
dalang dari kasus ini.”
“iya kau benar. Dan itu berarti kerjasama
ini juga telah berakhir.”
“kerjasama boleh berakhir, tapi hubungan
ini tidak boleh berakhir.” Ucap vikram sambil menatap Jiya
Jiya seolah bertanya-tanya ( hubungan ) disini seperti apa, Jiya mencoba
menerawang. Entahlah ia juga tidak mengerti, yang ia tahu hubungan ini begitu
rumit. Hubungan yang special tapi tidak ada yang saling mengungkapkan dan
saling jujur.
****
Ramai pemberitaan dimana-mana tentang
tertangkapnya dua tersangka kasus korupsi Bank Nasional Mumbai, Berita ini
menjadi konsumsi publik selama kurangf lebih 1 pekan terakhir ini. Ada yang lega
dengan berita ini namun juga ada yang tak kalah geram karena dedengkot
koruptornya masih diburu.
“ Sialan!!! Aku tak bisa tinggal diam, aku
harus melakukan sesuatu! “ ujarnya Geram
dan penuh emosi
Sementara di tempat yang berbeda Jiya sedang mengawasi komisaris yang
sedang berkunjung ke kantor pusat Bank Nasional Mumbai, style komisaris Nampak
beda tidak lagi memakai seragam polisinya, tapi memakai Jas lengkap dengan
dasinya. Rapid an terlihat elegant. Jiya sungguh tak menyangka dengan apa yang dilihatnya,
namun Jiya sudah belajar ilmu dari polisi intel trik-trik apa saja yang harus
diapakai Jiya agar tidak ketahuan dan ia masih mencoba control. Jiya langsung
melancarkan aksinya, dengan berbagai penyelidikan akhirnya Jiya menemukan bukti
bahwa komisaris adalah salah satu pemegang saham di Bank Nasional Mumbai.
****
Sore itu Jiya sedang mengajak Anjana
jalan-jalan kesebuah taman di Mumbai,
penyelidikan kasus korupsi itu cukup membuat Jiya penat, masih belum banyak
bukti kalau komisaris juga ikut terlibat. Sejenak Jiya tak mau memikirkan ide
dulu, biarkan sejenak ia bersenang-senang dengan putrinya. Tiba-tiba lamunan
Jiya buyar, ternyata Anjana sudah tidak ada disampingnya, Jiya pun langsung
mencari Anjana dipenjuru taman , terlihat Anjana sedang asyik bermain dengan
seorang pria. Pria itu taka sing baginya , tatapan Jiya berubah jadi tatapan
yang penuh kebencian.
“Ayo Anjana ! kita pulang! “ Jiya langsung
menarik tangan Anjana
“ enggak mau ma, aku mau sama ayah!”
teriaknya
“ dia bukan ayah kamu!” bentak Jiya
Rajesh kapoor , laki-laki yang telah meninggalkan Jiya dan Anjana kini
kembali lagi , ia terus berusaha meminta maaf dan berusaha menebus
kesalahannya.
“ mungkin maaf saja tidak cukup Jiya, aku
menyesal. Aku rela menanggung apapun asalkan ijinkan aku kembali” Rajesh
memohon
“ waktu itu juga kan keluarga kita lagi
sulit-sulitnya ekonomi , makanya kuputuskan untuk pergi Jiya. Dan sekarang aku
udah sukses aku siap menanggung semua hidup kalian” lanjutnya
#plak….. Jiya menamparnya
“ kalau kau meamg cari nafklah di luar
sana, mana? Tak sedikitpun uang kau kirim, aku sudah 5 tahun jadi tulang
punggung. Cukup! Jangan kau usik kami lagi! “
Jiya pun meninggalkan Rajesh dengan penuh
kebencian.
****
1 bulan setelah Jiya dan Vijay tau kalau
komisaris adalah salah satu pemilik saham, mereka belum juga dapat menemukan
bukti yang mendukung soal terlibatnya komisaris. Akhirnya mereka berdiskusi
untuk pembagian tugas selanjutnya. Saat mereka berdiskusi tiba-tiba Jiya pamit
pulang, ia dapat kabar bahwa putrinya kecelakaan. Setibanya di Rumah sakit ,
Jiya yang panic dan sedaritadi menangis langsung ditenangkan oleh bibinya.
Dipastikan Anjana akan baik-baik saja. Dokter pun keluar
“ dokter bagaimana keadaan putri saya? “
tanya Jiya cemas
“ untunglah cepat-cepat ditolong, Anjana
sempat kehilangan banyak darah tapi ayahnya langsung mendonorkan darah untuk
Anjana “ Dokter menjelaskan sambil menunjuk rajesh
“ lalu berapa biaya rumah sakitnya dokter?
“
“ itu urusan dengan administratornya saja,
lagian tadi tuan Rajesh sepertinya sudah melunasinya.”
“terimakasih Dokter.. “
“ya .. saya pergi dulu. Semoga Anjana cepat
sehat “ dokter langsung meninggalkan jiya
Jiya langsung mendekati Rajesh .
“terimakasih… “ ucapnya
“terimakasih… “ ucapnya
“ sudahlah Jiya, mungkin ini semua belum
bisa membayar semua kesalahanku”
“ dan bagaimanapun aku adalah Ayah Anjana “
lanjutnya
“ aku masih butuh waktu lagi untuk berpikir
Rajesh.. “
****
Rumah kediaman Jiya Chaudry kini seperti
hidup kembali , suasana kecerian itu pun kembali lagi. Ada Jiya sebagai ibu,
Anjana sebagai anak dan Rajesh sebagai ayah ditambah bibi yang selalu setia
menemani. Setelah peristiwa kecelakaan Anjana itu, Jiya jadi sering berpikir
dan akhirnya memutuskan untuk menerima Rajesh kembali. Sakit itu memang masih
ada, kenangan pahit itu memang tak bisa dilupakan begitu saja, tapi melihat
tawa Anjana Jiyapun mulai membuka hati untuk pria yang pernah dicintainya itu.
Sementara Vikram yang mengetahui kabar ini,
memutuskan untuk menjauh. Dengan alas an banyak client yang harus dan lain-lain
membuat komunikasi antara Jiya dan dirinya renggang. Sepintas seperti ada yang
hilang dari Jiya, tapi kemudian ia sadar bahwa ia sekarang sudah mulai bahagia
bersama suaminya.
Sementara itu, kasus penyelidikan terhadap
komisaris masih tetap berlanjut, bukti terakhir yang didapat adalah bahwa
Rekeningnya selalu bertambah. Lebih banyak dari jatah sahamnya. Namun bukti itu
belum cukup untuk menangkap komisaris Prakash. Karena belum ada bukti nyata
uang itu darimana.
Saat Jiya hendak melaporkan bukti-bukti
tersebut ke KPK , di jalan tiba-tiba saja ada yang memukulnya dari belakang.
Bruukkk.. Jiya pun pingsan.
tidak manusiawi, tubuh mungil jiya diseret oleh rombongan laki-laki itu. Tidak hanya itu Jiya disekap di sebuah gedung kosong.
saat Jiya membuka mata , ia sadar bahwa dirinya telah diculik.
“ makanya nona Jiya, jangan berani-beraninya sama kami!” bentak salah seorang peculik
tidak manusiawi, tubuh mungil jiya diseret oleh rombongan laki-laki itu. Tidak hanya itu Jiya disekap di sebuah gedung kosong.
saat Jiya membuka mata , ia sadar bahwa dirinya telah diculik.
“ makanya nona Jiya, jangan berani-beraninya sama kami!” bentak salah seorang peculik
“apa mau kalian? “
“ kami ingin anda tutup kasus Korupsi itu!,
kalau tidak nyawa anda taruhannya.” Ancam mereka
Jiya tak bisa berbuat banyak, karena ia
tidak membawa senjata sedikitpun. Jadi susah untuk melawan penculik-penculik
itu. Semakin Jiya mencoba melawan , jiya malah dipukul. Wajah cantiknya sudah
mulai memar, tapi Jiya tetap kuat. Tak peduli berapa banyaknya luka dan memar
di wajahnya ia tetap mau mengabdi pada Negara. Ia tetap kukuh mau mnyelidiki
kasus tersebut. Mereka semakin marah dan semakin anarkis, saat penculik itu
hendak mengeluarkan pistol untuk menembak Jiya. Tiba-Tiba saja ada yang
menembak Pria itu lebih dulu. Pria itu langsung jatuh. Rombongan Vijay dan
kawan-kawan datang untuk menyelamatkan Jiya. Ia lega karena ada yang menyelamatkannya,
tidak hanya itu tapi terlihat Vikram yang membantu menolongnya juga. Vijay dan
kawan-kawan langsung mengejar dan berkelahi dengan para penculik itu. Sementara
Vikram membantu Jiya yang terikat kuat. Setelah itu Vijay melemparkan pistol terhadap
Jiya, Jiya dan VIkram juga ikut menyerang para penculik itu. Merekapun berhasil
mengalahkan para penculik itu. Hanya saja kedaaan Vikram sedikit lebih parah
daripada vijay dan anggota kepolisian lainnya. Luka Vikram cukup parah.
“ kau ini hanya seorang pengacara, kau
bukan seorang kepolisian yang harus ikutan berkelahi tak perlu kau senekat itu
” ungkap Jiya sembari mengobati luka-luka Vikram
“ kau juga nekat Jiya, nyawamu hampir
melayang untuk kasus ini , kau bukan wanita kuat seutuhnya dibalik kekuatanmu
terdapat kelemahanmu ”
“ tidak vikram, ini berbeda , ini sudah
kewajibanku dan ini adalah salah satu resikonya”
“ tidak ada yang berbeda Jiya, ini juga
kewajibanku, kalau alasanmu untuk Negara. Aku juga punya alasan untuk siapa aku
melakukan semua ini.”
Jiya tak perlu bertanya lagi, untuk siapa
Vikram melakukan semua ini , hatinya sudah mengerti hal itu.
“ hentikan Vikram.. cukup! . jangan
membuatku bimbang .. ! . kita hentikan saja semua sandiwara ini, kau berhak
mencari kebahagian lain! “ Jiya pun pergi meninggalkan vikram
Sesampainya di rumah semua orang memeluknya, haru karena ternyata Jiya
masih baik-baik saja. Terutama pelukan dari Rajesh, yang mampu membuatnya
tenang.
“syukurlah kau tidak apa-apa sayang, aku
sangat menkhawtirkanmu. Untung saja Vijay tadi langsung menemukanmu” ucap
Rajesh
“ iya aku tidak apa-apa kok”
Malam itu Jiya tak bisa tidur , pikirannya masih tertuju pada Vikram,
bagaimana bisa Vikram yang bukan siapa-siapa rela mempertaruhkan nyawanya.
Harusnya Rajesh yang melakukan semua ini bukan VIkram. Keluhnya dalam hati
Jiya hanya bisa menangis, mungkin kah ia
sudah tak mencintai Rajesh lagi? Entahlah semau terasa berbeda semenjak ia
mengenal Vikram.
****
Semenjak kejadian itu, Rajesh makin
menunjukkan cintanya itu, ia semakin romantis dan perhatian. Setiap pagi ada
bunga tergeletak di depan rumahnya. Puisi-puisi cinta yang tertulis dikartu
ucapan itu mengingatkan kembali pada saat mereka belum menikah dulu. Rajesh
memang laki-laki yang romantis itulah yang membuat Jiya dulu jatuh cinta
padanya. Jiya sudah memutuskan untuk focus pada keluarganya , dengan tidak ada
lagi Vikram dipikirannya. Kini Jiya dan Vikram sudah tidak ada lagi komunikasi.
Mereka sudah memutuskan untuk memilih hidup masing-masing.
Penyelidikan kasus korupsi itu masih terus
berlanjut, bukti terbaru bahwa komisaris memang menerima dana dari Bank
Nasional Mumbai, jumlah yang diterima juga bagian dari kerugian bank itu.
Berarti bisa dipastikan kalau komisaris juga terlibat. Akhirnya komisaris harus
ditangkap.
Satu minggu setelah penagkapan adalah sidang untuk komisaris, ia mengaku
kalau memang benar ia pemegang saham . tapi untuk aliran dana ia hanya di
transfer katanya adalah uang pinjaman untuk modal. Singkatnya komisaris juga
hanya terjebak, ia tidak tahu kalau uangnya
itu hasil korupsi. Ia pun akhirnya membuka semuanya, sebenarnya ia tahu
siapa dalang dibalik semua ini , hanya sejenak ia tegoda dengan uang suap.
Hukum tidak bisa dibohongi biarpun komisaris tidak korupsi secara tidak
langsung tapi ia sudah terima suap dari hasil korupsi itu juga.
Dengan langkah yang sedikit berat malam ini Jiya dan Vijay hendak
menangkap pelaku sebenarnya , dengan bukti pernyataan komisaris dan bukti-bukti
tertulis lainnya akhirnya pelaku tersebut dapat ditangkap. Penggerebekan
dilakukan disebuah café , dan benar saja Jiya dan Vijay tak sengaja mendengar
obrolan pria itu, pria itu bilang kalau ia memang menjebak komisaris. Jiya yang
semakin geram kemudian ia langsung menghampiri pria itu sambil melemparkan
bukti-bukti tertulis tepat di muka pria itu.
Tertulis nama “ Rajesh kapoor” disetiap
bukti tertulis itu.
“ Cepat tangkap dia!” Jiya dengan tegas
memrintah
“ oh jiya, aku bisa menjelaskan semua ini”
elak Rajesh
“ cepat tangkap! “ Jiya menembakkan
pistolnya ke udara.
Rajesh pun digiring petugas, sementara Jiya
hanya bisa tersenyum pahit. Saat tahu berita ini ia sudah syok, percaya tak
percaya memang itulah kenyataannya. Jiya langsung lemas , ia langsung menangis
dihadapan banyak orang, tak peduli malu, toh ia juga sudah malu dengan perlikau
Rajesh. #bukkkkk… jiya terjatuh.
****
Sudah 10 hari setelah penangkapan Rajesh,
Jiya terbaring di rumah sakit. Bahkan
dokter mengatakan tidak terdeteksi Jiya sakit apa, tapi yang pasti tekanan batin.
Setelah Vikram mendengar berita ini ia
langsung menemui Jiya, ditatapnya mata sayu Jiya. Mukanya pucat , matanya mulai
hitam. Lagi-lagi Jiya menangis dengan tatapan kosong.
“ kau ingat Jiya, aku pernah bilang dibalik
kekuatanmu terdapat kelemahanmu” ucap Vikram
“ dan sekarang aku melihat kelemahan itu
Jiya, dan aku suka melihat kelemahan itu , karena aku mencintai kelemahanmu
juga Jiya, aku tidak hanya mencintai kekuatanmu semata.” lanjutnya
“ apa kau senang melihatku seperti ini
Vikram? Aku sudah hancur vikram” tangisan jiya semakin memuncak
“ bagaimana mungkin aku tersakiti untuk
kedua kalinya ? bahkan kali ini lebih pahit , aku sungguh tak mampu lagi ,,,
bagaimana bisa aku makan dengan uang haram selama ini? Apa kata orang kalau
Anjana punya ayah seorang koruptor? Aku masih bisa menanggung malu, tapi kalau
sampai Anjana yang menanggungnya aku tak tahan!!!! “ Jiya biacara panjang lebar
“ mungkin sekarang kau tak pernah bisa
percaya lagi pada laki-laki, tapi lihatlah aku Jiya, mungkin kau tak bisa
percaya padaku, tapi kau harus percaya pada mata dan hatiku Jiya. “ Vikram
menggenggam erat tangan Jiya
Jiya langsung memeluk Vikram , selama 10
hari ini ia tak pernah bisa percaya pada siapapun tapi hari ini untuk pertama
kalinya ia mulai percaya, bahwa cinta itu masih ada untuk Vikram. Dari dulu
sampai sekarang perasaan itu tak pernah berubah.
****
Hari ini adalah hari penentuan sidang
Rajesh kapoor, Jiya yang ditemani vikram mencoba untuk lebih kuat lagi melihat
jalannya proses sidang ini.
Tok..tok..tok … hakim telah memukul palu
dan memutuskn bahwa Rajesh Kapoor akan dipenjara seumur hidup.
Jiya pun hanya bisa memejamkan mata, itu
artinya seumur hidup Anjana tak bisa
hidup bersama ayah kandungnya. Ditahannya air matanya itu, dipengang erat
tangan Vikram, seolah Jiya meminta kekuatan lebih. Vikram melepas tangan Jiya,
sambil menganggukan kepala. Jiya langsung menemui Rajesh, dipeluknya suaminya
itu, “ bagaimanapun kau tetap seorang ayah Rajesh” Jiya menangis
“ ampuni aku Jiya, aku tak mau meminta
keringanan untuk kasusku biarkan saja aku dihukum” ucap Rajesh
“ aku berusaha memaafkanmu Rajesh” timpal
jiya
“ kau berhak bahagia Jiya, menihkahlah
dengannya ! “ pinta Rajesh
Vikram pun menghampiri JIya dan Rakes,
“ kau jaga Jiya ya bung! “ ucap Rajesh
“ pasti… “ ungkapnya
Rajesh pun segera dimasukkan ke sel, seumur
hidup!
***
3 bulan kemudian, Jiya dan Vikram telah
menikah. Hari ini adalah pelantikan Jiya yang langsung diangkat jadi komisaris.
Berkat keberanian dan prestasi-prestasinya ia langsung mendapat apresiaasi dari
presiden India dengan lagsung menaikkan pangkat dari inspektur langsung ke
komisaris. Jiya Chaudry telah membuka banyak mata banyak orang bahwa hidup itu
tidak melulu harus jadi orang baik dan pintar, tapi bagaimana kita bisa peduli
dan peka terhadap lingkungan sekitar.
Comments
Post a Comment